
Hari pernikahan Mila dan Pangeran Hans pun tiba. Seluruh warga desa berbondong-bondong mendatangi pesta tersebut. Pesta pernikahan termewah sepanjang sejarah kampung itu.
Warga desa menyambutnya dengan sangat antusias. Berbagai hidangan enak tersaji di atas meja dan berbagai hiburan menambah suasana keseruan di pesta tersebut.
Mila dan Pangeran Hans sudah bersanding di atas pelaminan dengan busana pengantin yang memiliki corak dan warna senada. Warna putih kombinasi keemasan yang terlihat begitu cantik dan elegan.
Mila sangat cantik dengan balutan kebaya modern berwarna putih dengan payet warna keemasan. Riasannya pun terlihat sempurna tanpa cela dan membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona. Rambutnya disanggul dengan sedemikian rupa dan sebuah mahkota berhiaskan manik-manik berkilau, membuat Mila tampak seperti seorang putri sesungguhnya.
Pangeran Hans bahkan tak bosan-bosan memandangi wajah istrinya itu. "Kamu cantik sekali. Serius," bisiknya sembari menggenggam tangan Mila dengan erat.
"Kamu juga terlihat begitu sempurna, Pangeran," jawab Mila.
Bukan hanya Sang mempelai yang tampak begitu spesial di hari istimewa itu. Bahkan bi Una dan kedua anak gadisnya pun tak ingin kalah. Mereka pun ikut-ikutan minta dirias oleh MUA tersebut.
"Seharusnya Ibu menyewa MUA amatiran saja, biar Mila kelihatan jelek di hari pernikahannya ini," gerutu Lala sambil memasang wajah masam menatap sang Ibu yang kini berdiri tak jauh dari mereka.
"Ya! Kak Lala benar, Bu! Seharusnya Ibu menyewa jasa MUA amatiran saja. Selain harganya lebih murah, hasilnya pun pasti tidak akan sesempurna ini! Coba lihat! Semua warga desa tampak memuji kecantikannya dan pasti membuat Mila makin besar kepala. Hhh, bikin kesal saja!" timpal Lulu.
Bi Una menghela napas berat. "Mau bagaimana lagi, Lala, Lulu! Ini semua permintaan Hans! Dia bahkan sudah seperti cenayang yang tahu jika Ibu berkata bohong. Ia bahkan tahu berapa harga sewa jasa MUA yang ini. Entah siapa yang kasih tahu, Ibu pun tak mengerti."
"Eh, kamu ingat gak sama kejadian malam itu?" Tiba-tiba Lala teringat kejadian di mana dirinya ketakutan setengah mati setelah melihat sosok mahluk menyeramkan di belakang Mila.
"Kejadian apa?" tanya Lulu bingung, sembari mengingat-ingat.
"Itu! Yang kita lihat mahluk menyeramkan di dalam kamarmu, kamar yang ditempati oleh Mila sekarang!" seru Lala dengan mata membesar.
"Oh iya, yang itu! Ya-ya, aku ingat! Dan apa kamu tahu, aku juga melihatnya bahkan jelas sekali," seru Lulu tak mau kalah.
__ADS_1
"Kalian ini bicara apa, sih?" tanya Bi Una heran mendengar celotehan aneh di antara kedua anak perempuannya itu.
"Begini, Bu. Beberapa waktu lalu aku dan Lulu mencoba merebut kalung milik Mila. Ibu pernah perhatikan gak, kalung milik Mila itu antik dan cantik banget! Aku yakin kalung itu harganya sangat mahal. Pas aku mau rebut itu kalung, tiba-tiba tanganku melepuh! Coba lihat ini." Lala memperlihatkan bekas tangannya yang melepuh.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Bi Una lagi sambil menautkan kedua alisnya ketika melihat bekas luka melepuh di tangan anak gadisnya itu.
"Aku juga tidak tahu, Bu! Kalung itu seperti punya aliran listrik yang sangat kuat. Aku saja sampai terpental. Dan apa Ibu tahu setelah itu?" Lala bercerita dengan sangat antusias.
"Apa?"
"Aku melihat sosok yang begitu mengerikan, Bu. Tepat di belakang Mila. Aku langsung kabur dari ruangan itu tanpa berpikir panjang," sambung Lala.
"Iya, Bu. Aku juga lihat! Posisinya tepat di belakang Mila. Aku pun kabur setelah melihat mahluk itu!" Lulu ikut menimpali dan berhasil membuat Bi Una percaya.
"Nah, kok aku merasa si Hans itu seperti ada sangkut pautnya sama mahluk itu, Bu. Siapa tahu mahluk itu memang temennya Hans. Makanya 'kan dia selalu tahu apa saja yang kita lakukan," celetuk Lala dengan penuh keyakinan.
"Iya, Bu! Aku juga sepemikiran sama Kak Lala," ucap Lulu.
Kedua gadis itu menganggukkan kepalanya. Mengiyakan semua yang dikatakan oleh Ibunya.
Sementara itu.
Di antara banyaknya tamu undangan di hari itu, tampak Rika dan Rangga yang tengah berbaur bersama tamu undangan lainnya. Mereka duduk di salah satu kursi kosong dengan tatapan yang terus tertuju ke arah pelaminan. Di mana Mila dan Pangeran Hans tengah bersanding.
"Mau sedih, tapi ini pilihan Mila. Mau senang, tapi ...." Rika menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Wajahnya tampak sendu ketika menatap sahabatnya yang tengah bersanding di pelaminan bersama sosok mahluk yang berbeda alam.
Rangga menyentuh pundak Rika sembari mengelus-elusnya dengan lembut. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita doakan saja yang terbaik untuk Mila. Semoga keputusan Mila ini tepat dan ia bisa berbahagia bersama lelaki itu," jawab Rangga.
__ADS_1
Rika menghembuskan napas berat. "Apa Mas tau? Mila pernah bercerita kepadaku bahwa Pangeran Hans memang begitu terobsesi kepadanya dan bahkan ia sangat ingin mengajak Mila untuk ikut ke dunianya. Jujur, aku takut, Mas! Aku takut kalau itu benar-benar terjadi!"
"Sudahlah, Rika. Jangan berprasangka buruk dulu. Siapa tahu itu tidak benar. Sebaiknya kita temui mereka. Mila bahkan belum tahu bahwa kita sudah ada di sini," ucap Rangga seraya meraih tangan Rika kemudian membawanya menemui pasangan pengantin itu.
Rika mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah Rangga yang kini menuntunnya menuju pelaminan.
"Rika!" seru Mila dengan mata berkaca-kaca setelah sadar siapa yang datang ke arahnya.
Rika dan Rangga melemparkan senyuman terbaik mereka untuk pasangan pengantin itu. Jika Mila tampak begitu bahagia, berbeda dengan lelaki gaib itu. Wajahnya datar, bahkan tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Mila menoleh ke arah Pangeran Hans kemudian memeluk lengan lelaki itu dengan erat. "Terima kasih, Pangeran! Terima kasih! Aku pikir mereka tidak akan pernah datang," ucap Mila.
"Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku," jawabnya sambil tersenyum menatap Mila.
"Selamat ya, Mil." Rika yang sudah berada di hadapan Mila, segera memeluk tubuh sahabatnya itu dengan sangat erat. Seakan tidak ingin melepaskannya lagi.
"Terima kasih sudah bersedia hadir di pesta pernikahanku yang sederhana ini," sahut Mila, masih memeluk erat tubuh Rika.
"Kamu sahabat terbaikku, Mila. Seandainya kamu berada di ujung dunia sekalipun, pasti akan tetap aku datang dan menemuimu," jawabnya mantap.
"Oh, aku terharu sekali!"
Sementara itu.
"Selamat, Pangeran Hans. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Rangga sambil memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya ke hadapan Pangeran Hans. Padahal saat itu ia begitu ragu dan masih takut berinteraksi dengan mahluk menakutkan itu.
Pangeran Hans tersenyum miring kemudian menyambut uluran tangan lelaki itu. Pangeran Hans bahkan bisa merasakan tangan Rangga bergetar dengan hebat ketika bersalaman dengannya.
__ADS_1
"Jangan takut, Rangga. Lagi pula aku tidak akan menggigitmu," jawabnya sambil menyeringai.
...***...