Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Kebersamaan 2R


__ADS_3

Pernikahan Rika dan Rangga akhirnya selesai. Rangga langsung memboyong Rika ke kediamannya dan menjadikannya seorang Nyonya di rumah yang cukup besar tersebut.


"Huft! Akhirnya kita bisa bernapas dengan lega sekarang. Benar 'kan, Yah?" ucap Ibunda Rangga sembari menoleh ke arah suaminya yang sedang berkumpul di kediaman anak lelakinya itu.


Pria paruh baya itu mengangguk pelan. "Ya."


"Nah, sekarang kalian sudah bebas melakukan apa pun yang kalian inginkan tanpa takut digunjing oleh para tetangga dan kami pun sudah tidak perlu khawatir lagi. Malah sebaliknya, kami ingin kalian memberikan kami cucu secepatnya. Kami sudah tidak sabar ingin menimang seorang cucu. Benar 'kan, Yah?" celetuk Ibunda Rangga sambil tersenyum lebar.


"Ibumu benar, Rangga. Dan Ayah setuju dengan Ibumu,"


Rika dan Rangga saling lempar pandang dengan ekspresi wajah kusut. Mereka bingung harus bagaimana menjawab keinginan kedua orang tuanya itu. Jangankan berpikir untuk mencetak seorang bayi, mereka bahkan bingung apa yang harus mereka lakukan nanti malam.


"Ya, sudah. Ini juga sudah malam dan kami harus segera pulang. Lagi pula Ibu yakin, kalian pasti sudah lelah dan butuh istirahat."


Wanita paruh baya itu melirik jam dinding yang menggantung di salah satu sudut ruangan kemudian bergegas bangkit.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Yah."


"Baiklah."


Akhirnya suasana di rumah itu kembali hening. Hanya ada Rangga dan Rika yang tak bicara satu sama lain. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Rangga menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, sementara Rika masih sibuk membereskan barang-barang bawaannya kemudian merapikannya ke dalam lemari pakaian milik Rangga.


Setelah selesai, Rika pun segera menghampiri tempat tidur. Ia sudah merasa lelah dan butuh istirahat. Rangga tampak serba salah ketika Rika mendekat ke arah tempat tidur mereka.


"Tidurlah di sini." Rangga menepuk kasur empuknya. "Biar aku tidur di sofa," lanjut Rangga sambil tersenyum getir menatap Rika.


Rika menggeleng pelan. "Jangan seperti itu, Mas. Biar bagaimanapun sekarang kita sudah sah menjadi suami istri. Aku tidak masalah jika Mas Rangga tidak ingin menyentuhku, tetapi setidaknya tidurlah di sini bersamaku," tutur Rika sambil menundukkan kepalanya.


Rangga mengangguk pelan kemudian menggeser tubuhnya agar Rika bisa berbaring di samping tubuhnya. "Baiklah kalau begitu. Sekarang, tidurlah di sini."

__ADS_1


Perlahan Rika duduk di tepian tempat tidur kemudian membaringkan tubuhnya di samping Rangga dengan guling sebagai pembatas mereka.


Ruangan itu kembali hening. Baik Rika maupun Rangga kembali larut dalam pikiran mereka masing-masing. Rasa kantuk yang tadi menyerang mereka tiba-tiba sirna dan sekarang mata mereka terus terbuka dan sulit untuk di ajak kompromi.


"Rika," panggil Rangga, memecah keheningan di ruangan itu. Tatapan lelaki itu masih tertuju pada langit-langit kamarnya.


"Ya, Mas?" Rika menoleh kemudian memperhatikan wajah tampan yang saat ini sudah sah menjadi suaminya itu.


"Menurutmu, apa kita benar-benar sudah melakukan hal itu?" tanya Rangga.


"Entahlah, Mas. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sudah kita lakukan pada malam itu," jelas Rika.


Rangga menoleh ke arah Rika kemudian menatapnya dengan lekat. "Jika seandainya malam itu kita sama sekali tidak melakukannya, apakah kamu akan menyesali pernikahan ini?"


Rika tersenyum tipis. "Kenapa aku harus menyesalinya, Mas?"


Rangga menghembuskan napas berat. "Aku ingin menikah sekali dalam seumur hidupku, Rika. Sebab itu lah aku menanyakan hal itu padamu," tutur Rangga, seraya memalingkan wajahnya lagi ke arah langit-langit kamar.


Rangga refleks menoleh, tetapi bibirnya masih terkunci rapat.


Rika menyentuh pundak lelaki itu dengan lembut. "Maafkan aku, Mas. Seandainya malam itu aku tidak bodoh dan tidak menuruti keinginanmu, mungkin saat ini Mas masih bisa mengejar impiannya Mas. Tapi ...." Rika menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi sambil tersenyum tipis. "Jika Mas masih ingin mengejar impianmu, aku siap mundur sekarang."


Rangga menggelengkan kepalanya. "Kamu salah! Bukan itu maksudku, Rika. Malah sebaliknya, sekarang aku ingin fokus pada hubungan kita. Aku ingin kamu tetap bersamaku dan menemaniku hingga di usia senja. Kamu, aku dan anak-anak kita."


"Be-benarkah itu, Mas?" tanya Rika dengan mata berkaca-kaca. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Penuturan Rangga kali ini terdengar seperti mimpi indah baginya.


Rangga mengangguk pelan. "Ya. Itu benar."


"Akhh! Terima kasih, Mas! Terima kasih," ucap Rika yang begitu bahagia.


Ia refleks memeluk tubuh Rangga dan berhasil membuat lelaki itu terkaget-kaget. Rangga begitu terkejut ketika mendapat serangan mendadak dari wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.

__ADS_1


"Iya, sama-sama." Rangga membalas pelukan Rika untuk beberapa saat kemudian melepaskan lagi sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat.


"Ya, sudah. Sebaiknya kita tidur sekarang. Ini sudah larut dan aku yakin kamu pun pasti lelah, sama sepertiku," lanjut Rangga.


Rika hanya tersenyum dan membiarkan lelaki tampan itu mulai memejamkan matanya.


"Mas yakin tidak ingin menyentuhku malam ini?" tawar Rika.


Rangga tersenyum dengan mata yang masih terpejam.


"Katanya ingin memulai hubungan kita? Kalau tidak dimulai malam ini, kapan lagi?" lanjut Rika sambil memainkan jari-jemarinya di lengan lelaki itu.


Lagi-lagi Rangga hanya tersenyum. Matanya pun masih tertutup rapat, sama seperti sebelumnya.


"Hmmm, ya sudah kalau Mas tidak mau. Aku tidak akan memaksa. Hanya saja aku merasa kasihan sama Ibu karena sudah susah payah membuatkan ramuan untuk aku. Katanya biar kandunganku subur dan cepat isi," celetuk Rika.


Tiba-tiba Rangga membuka matanya. Ia tertawa pelan sembari menatap Rika yang masih mencoba merayunya.


"Memang apa yang sudah diberikan Ibu sama kamu?" tanya Rangga.


"Katanya ramuan penyubur kandungan, Mas. Biar aku cepat isi," jawab Rika, jujur apa adanya.


Rangga kembali tertawa pelan sembari menepuk jidatnya. "Ya ampun Ibu!"


"Ya, sudah kalau begitu. Dari pada ramuan Ibu sia-sia, lebih baik kita mencobanya sekarang," ajak Rangga dengan penuh semangat.


Rika tersipu malu sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Mas."


...Skip ... skip ... skippp! ...


...***...

__ADS_1


__ADS_2