
Lulu penasaran, ia menghampiri Mila yang masih terpaku melihat kejadian aneh itu.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Mila kepada Lulu yang datang ke arahnya.
"Sini!" Lulu menarik tangan dan ingin menyentuh kalung berlian merah itu. Namun, belum sempat Lulu menyentuhnya, tiba-tiba Lala berteriak histeris sembari berlari dari ruangan itu dengan tergopoh-gopoh.
"Ha ... hantuuu!"
"Hantu?"
Mila dan Lulu saling lempar pandang. Mereka tampak heran. Hingga akhirnya Lulu pun tersadar ada sosok mahluk menyeramkan tengah berdiri di belakang Mila. Bukan hanya Lala, Lulu pun ikut lari tunggang-langgang, meninggalkan kamar tersebut.
"Aaakhhh!" teriak Lulu, sembari berlari mengejar sang kakak, Lala yang sudah lebih dulu kabur meninggalkan dirinya.
"Hantu?" Mila memalingkan tubuhnya dan ia sempat melihat sosok menyeramkan itu. Pangeran Hans dengan dua tanduk serta sayap yang mengembang di kedua sisi tubuhnya, hingga menambah kesan menyeramkan.
Setelah kedua sepupu jahilnya kabur, Hans tertawa pelan kemudian berubah ke wujudnya semula. Lelaki tampan tanpa cela. Mila menekuk wajahnya kemudian kembali duduk di tepian tempat tidur dengan tatapan yang terus tertuju pada lelaki itu.
"Jangan ulangi hal itu, Pangeran Hans! Jujur, aku pun takut melihatmu dengan wujud yang seperti itu," gerutu Mila sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.
Lelaki gaib itu tertawa pelan. "Aku hanya memberi mereka sedikit pelajaran."
Mila membuang napas berat kemudian berbaring di ranjang milik Lulu tersebut. "Aku ingin tau, sebenarnya wujud aslimu itu seperti apa, Pangeran Hans? Yang sekarang ini atau yang menyeramkan seperti tadi?"
"Menurutmu?" Lelaki gaib itu menghampiri Mila kemudian ikut berbaring di sampingnya sama seperti biasa ia lakukan.
"Jangan bermain teka-teki, Pangeran Hans. Karena yang saat ini aku butuhkan darimu adalah jawaban yang jujur," tutur Mila.
"Bagaimana jika yang menyeramkan itu adalah wujud asliku, apa kamu akan menjauh lagi dariku?" tanya Pangeran Hans dengan wajah serius menatap Mila.
Lagi-lagi Mila membuang napas berat. "Ya mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur terjerat olehmu. Menjauh pun aku rasa percuma, kamu akan tetap mencari dan mengikutiku hingga ke ujung dunia, 'kan?" celetuk Mila.
Pangeran Hans tertawa kecil kemudian meraih tubuh mungil Mila dan membawanya ke dalam pelukannya jauh lebih dalam lagi. "Ya. Kamu benar. Aku akan terus mengejarmu bahkan hingga kamu kabur ke planet mana pun yang ada di semesta ini," sahutnya.
"Jujur, ini adalah wujud asliku. Aku memang sengaja berubah menjadi mengerikan untuk menakuti-nakuti musuhku," ucap Pangeran Hans. "Bahkan Raja pun memiliki wujud gandanya dan yang pasti, lebih menyeramkan dariku," lanjut Pangeran Hans.
"Benarkah? Apa semua orang di duniamu seperti itu? Apa aku juga memiliki kemampuan yang sama pada waktu itu?" tanya Mila penasaran.
Pangeran Hans menggeleng pelan. "Tidak semua. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya."
"Apakah aku termasuk?"
__ADS_1
Pangeran Hans tersenyum. "Tidak. Bahkan Ibu Ratu pun tidak."
Mila mengangguk pelan kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Pangeran Hans.
"Ya, sudah. Aku lelah. Aku ingin tidur," ucap Mila sembari memejamkan matanya.
"Ya." Pangeran Hans mengelus puncak kepala Mila dengan lembut dan sesekali memberikan kecupan di sana.
"Sebentar! Aku lupa. Aku ingin memberi tahu Rika dan Mas Rangga soal pernikahan kita, Pangeran Hans. Namun, sayangnya di sini tidak ada sinyal. Apa kamu bisa membantuku memberitahunya?" ucap Mila tiba-tiba dan kembali membuka matanya.
"Hmmm," gumam Pangeran Hans.
"Pangeran Hans?" panggil Mila lagi, sembari mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan itu.
"Iya, kamu tenang saja. Sebaiknya kamu pergi tidur. Bukankah kamu bilang sudah lelah?" Pangeran Hans membenamkan kepala Mila ke dada bidangnya agar gadis itu bisa tidur dengan nyenyak sama seperti biasanya.
***
Keesokan harinya.
Di kediaman Rangga.
Rangga menautkan kedua alisnya heran kemudian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tamu? Siapa?"
Pelayan itu menggelengkan kepalanya pelan. "Saya kurang tahu, Tuan. Dia seorang laki-laki bertubuh besar dan sepertinya dia membawakan sesuatu untuk Tuan Rangga," jawab pelayan itu.
Rika memeluk lengan Rangga. "Siapa, Mas?"
"Entahlah. Sebaiknya aku temui dia," sahut Rangga yang kemudian melangkah ke ruang depan bersama Rika.
Setibanya di depan, Rangga kembali menautkan kedua alisnya heran. Ia benar-benar tidak mengenali siapa lelaki yang sedang berkunjung ke rumahnya pagi-pagi sekali. Lelaki itu bertubuh tinggi besar dengan wajah sangar dan cukup membuat pasangan itu ketakutan.
"Mas kenal dia?" tanya Rika sambil mempererat pelukannya di tangan Rangga.
Rangga menggelengkan kepalanya. "Aku juga ingin menanyakan hal yang sama kepadamu karena aku sama sekali tidak mengenali lelaki itu," sahut Rangga.
Rangga dan Rika datang menghampiri lelaki bertubuh tinggi besar itu dengan sedikit ragu-ragu.
"Ada apa ya, Mas?" tanya Rangga sembari mencoba tersenyum kepada lelaki sangar itu.
"Saya membawa undangan ini untuk Anda berdua," jawab lelaki itu dengan suara beratnya. Ia menyerahkan sebuah gulungan kertas dengan pita warna keemasan ke hadapan Rangga dan segera disambut oleh lelaki itu.
__ADS_1
"Surat undangan? Dari siapa?" Perlahan Rangga membuka gulungan kertas itu dan setelah dibaca dengan seksama, ia pun membulatkan matanya dengan sempurna.
"Mila?" pekik Rangga.
"Mila? Kenapa dengan Mila, Mas?" Rika yang tidak tahu apa isi undangan itu, tampak cemas dan khawatir ketika Rangga menyebutkan nama sahabatnya itu.
"I-ini undangan pernikahan Mila, Rik. Coba kamu lihat ini," ucap Rangga sembari menunjukkan isi undangan pernikahan itu kepada Rika.
"Mila menikah? Sama Pangeran dari alam gaib itu?" pekik Rika tanpa sadar. Sementara lelaki bertubuh tinggi besar itu memasang wajah masam. Ia tampak tidak suka mendengar celotehan Rika barusan.
"Rika." Rangga menepuk pelan pundak istrinya itu hanya untuk sekedar memberitahu bahwa lelaki sangar itu tengah memasang ekspresi wajah tak biasa kepadanya.
Rika menoleh kemudian tersenyum kecut. "Ehm, maaf. Bukan begitu maksudku."
"Pangeran Hans dan calon istrinya sangat mengharapkan kehadiran kalian," ucap lelaki bertubuh tinggi besar itu.
"Baik. Kami pasti akan datang. Benar 'kan, Rika?" sahut Rangga.
"Ya, tentu saja. Mila adalah sahabatku, tidak mungkin aku tidak hadir di hati istimewanya itu," jawab Rika.
Lelaki berwajah sangar itu sedikit membungkukkan badannya kemudian mundur beberapa langkah ke belakang. "Terima kasih."
Lelaki itu berbalik kemudian berjalan beberapa langkah ke depan dan dalam hitungan sepersekian detik, ia pun menghilang dari pandangan Rika dan Rangga.
Rangga dan Rika membulatkan mata mereka. Mereka tampak syok setelah mengetahui siapa sebenarnya lelaki itu.
"Ya ampun, pantas saja dia tampak aneh dan menakutkan. Ternyata dia mahluk jadi-jadian sama seperti Pangeran Hans," gumam Rika sambil mengelus dadanya.
"Hush! Jangan bilang begitu, Rika. Aku takut lelaki itu masih mendengar ucapanmu kemudian kembali lagi," sahut Rangga.
"Ih, kamu benar, Mas." Rika bergidik ngeri. "Kasihan Mila, kenapa dia harus berurusan dengan mahluk seperti mereka? Bagaimana kehidupannya nanti setelah menikahi Pangeran Gaib itu," lanjutnya dengan wajah cemas.
"Siapa tahu pangeran itu memang jodoh terbaiknya," jawab Rangga sembari memperhatikan undangan itu kembali.
Rika terkekeh. "Coba lihat bentuk undangan ini. Terlihat kuno, gak sih?"
"Rika," tegur Rangga lagi sambil tertawa kecil.
"Iya-iya, Maaf!" Rika kembali memeluk lengan kekar itu dengan erat.
...***...
__ADS_1