Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Pengorbanan Pangeran Hans


__ADS_3

"Pangeran!" pekik Mila sambil tersenyum lebar. Begitu pula Ratu Caroline. Ia senang karena anak lelakinya itu datang juga dan siap menolong sang istri yang ingin dieksekusi mati oleh Raja Edward.


"Pa-pangeran Hans!" Bibir Putri Serena bergetar hebat. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Pangeran Hans berhasil mengacaukan rencananya yang sudah berjalan dengan baik.


Pangeran Hans berjalan dengan gagahnya memasuki ruangan itu tanpa rasa gentar sedikit pun. Beberapa orang pengawal setia Raja Edward berusaha menghadangnya. Namun, usaha mereka sia-sia. Tubuh mereka terpental jauh karena saat itu seluruh kekuatan Pangeran Hans sudah keluar dan siapa saja yang mencoba menghalanginya akan mendapatkan serangan darinya, tanpa terkecuali.


"Pangeran Hans, berhenti! Ayah melakukan semua ini untuk kebaikanmu," ucap Raja Edward yang mencoba menenangkan Pangeran Hans yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


Pangeran Hans tersenyum sinis. "Terbaik untukku atau terbaik untukmu, Raja Edward!" geram Pangeran Hans sembari berjalan mendekati singgasana.


"Coba kamu pikirkan lagi, Pangeran Hans! Apa untungnya kamu menikahi seorang wanita yang jelas-jelas hanya seorang pelayan. Sementara kamu rela mengabaikan seorang putri yang cantik dan sederajat dengan kita, seperti Putri Serena," lanjut Raja Edward dengan tegas.


"Anda dengar baik-baik, Yang Mulia Raja. Mulai hari ini, saat ini dan detik ini, aku putuskan untuk melepaskan gelar kebangsawananku. Sekarang aku bukanlah seorang Pangeran. Aku hanya laki-laki biasa dan sepantasnya aku mendapatkan istri yang derajatnya sama denganku," jelas Pangeran Hans dengan tegas dan berhasil membuat semua orang yang ada di ruangan itu tercengang. Ratu Caroline, Mila, Putri Serena dan tidak ketinggalan Raja Edward.


Lelaki berkuasa itu kembali meradang dan wajahnya tampak merah padam. "Kurang ajar! Demi seorang pelayan rendahan seperti dia, kamu rela memutuskan hubungan bersama kami, Pangeran Hans!"


"Ya. Sejak hari ini aku hanyalah seorang rakyat jelata dan jangan pernah sebut aku dengan panggilan Pangeran lagi," tegas Pangeran Hans dengan santainya.


Raja Edward benar-benar marah. Tanpa sadar ia mengerahkan seluruh kekuatannya dan menyerang Pangeran Hans. Beruntung lelaki tampan itu sigap dan berhasil melepaskan diri dari serangan Raja Edward.


Perkelahian hebat pun terjadi di ruangan itu antara Pangeran Hans dan Raja Edward. Tak ada yang berani menjadi penengah di antara mereka sebab kekuatan keduanya benar-benar sangat kuat dan tiada tanding.


Bukan hanya para pengawal setia Raja yang terdiam menyaksikan perkelahian sengit itu. Ratu Caroline dan Mila pun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menatap perkelahian itu dengan hati cemas. Sementara Putri Serena memilih bersembunyi dan mengamankan dirinya.


"Raja Edward, kumohon berhentilah! Ingat, Pangeran Hans adalah anakmu! Darah dagingmu sendiri," lirih Ratu Caroline sambil terisak melihat Raja Edward yang murka dan menyerang Hans tanpa ampun.

__ADS_1


"Apa kamu tuli, Ratu Caroline! Dia sudah memutuskan hubungan dengan kita demi pelayan itu. Dia bukanlah anak kita lagi! Dia hanyalah seorang pengkhianat yang harus segera disingkirkan!" tegas Raja Edward sambil terus mengerahkan seluruh kekuatannya dan menyerang Pangeran Hans.


"Aku yakin dia tidak serius mengatakan itu, Yang Mulia Raja! Dia hanya termakan emosinya saja hingga ia bisa berkata seperti itu. Biar bagaimanapun dia tetaplah putra kita." Ratu Caroline tidak putus asa membujuk lelaki pemarah serta keras kepala itu agar menghentikan aksinya.


Namun, usaha Ratu Caroline untuk meyakinkan Raja Edward sepertinya sia-sia saja. Lelaki itu sama sekali tidak menggubrisnya. Malah sebaliknya, serangan Raja Edward kepada Pangeran Hans semakin menjadi. Beruntung Pangeran Hans sigap dan tak satu pun dari banyaknya serangan dari Raja Edward yang mengenai dirinya.


Hingga akhirnya ....


"Ini semua gara-gara wanita sialan ini!" Raja Edward mengerahkan seluruh tenaganya dan melemparkan sebuah serangan ke arah Mila yang masih berada di ruangan itu.


Baik Ratu Caroline maupun Pangeran Hans terkejut bukan main. Beda halnya dengan Putri Serena yang mengintip di balik persembunyiannya. Wanita cantik itu tersenyum lebar dan berharap serangan itu mengenai Mila.


Namun,


Brakkk!


"Akhhh!" rintih Pangeran Hans di sisa-sisa tenaganya.


"Pangeran Hans, anakku!" seru Ratu Caroline sembari berlari ke arah Pangeran Hans dengan deraian air mata. Begitu pula Mila, ia pun bergegas menghampiri pangeran Hans kemudian memeluk tubuhnya yang sudah tidak berdaya sambil menangis histeris.


"Pa-pangeran, kenapa kamu lakukan ini?" ucap Mila dengan terbata-bata, menatap wajah Pangeran Hans.


Pangeran Hans tersenyum sambil menyentuh pipi Mila dengan lembut. "Aku mencintaimu, Aurora. Jika kita memang berjodoh, mungkin kita akan bertemu di kehidupan lainnya," sahut Pangeran Hans dengan terbata-bata sambil meringis menahan sakit.


"Bertahanlah, Pangeran. Aku mohon!" lirih Mila tanpa bisa menahan air mata yang terus merembes di kedua sudut matanya.

__ADS_1


Ratu Caroline bersimpuh di hadapan Pangeran Hans. Ia meraih tangan anak lelakinya itu dan menciumnya berkali-kali sambil terisak. "Pangeran Hans, jangan tinggalkan Ibu," lirih Ratu Caroline di sela isak tangisnya.


"Ibunda Ratu... tolong jaga Aurora karena saat ini ia tengah mengandung anakku. Jaga dan rawat mereka dengan baik," tutur Pangeran Hans dengan suara yang semakin melemah.


Penuturan Pangeran Hans barusan, membuat Mila dan Ratu Carolin terkejut. Mila bahkan tidak pernah tahu bahwa saat itu ia tengah mengandung.


"Ya, Nak. Ibu berjanji! Ibu berjanji padamu," jawab Ratu Carolin.


Perlahan Pangeran Hans memejamkan matanya dan tubuhnya pun akhirnya melemah. Lelaki itu sudah pergi untuk selama-lamanya. Ratu Carolin menjerit histeris setelah sadar bahwa putra kesayangannya telah pergi untuk selama-lamanya.


"Pangeran Hans, tidak!"


Ratu Caroline bangkit dari posisinya. Ia berjalan menghampiri Raja Edward yang ternyata juga begitu syok dengan kejadian itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa Pangeran Hans begitu nekat dan rela kehilangan nyawanya demi Aurora.


"Sekarang kau lihat ini, Raja Edward! Putramu satu-satunya sudah tiada dan itu akibat perbuatanmu! Kamu rela menghabisi putramu sendiri demi obsesimu terhadap kekuasaan," geram Ratu Caroline dengan berapi-api.


Raja Edward tertunduk lesu. Tubuhnya mendadak lunglai dan jatuh ke lantai dengan posisi bersimpuh. "Ma-maafkan aku," liriknya dengan terbata-bata.


"Maaf, kamu bilang?" Ratu Caroline tersenyum sinis dengan air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya. "Sudah terlambat, Raja Edward. Sekarang nikmatilah kekuasaanmu itu!"


Putri Serena yang tadinya bersembunyi di tempat yang aman, akhirnya keluar dari persembunyiannya. Ia melangkah gontai menghampiri raga Pangeran Hans yang masih berada di pelukan Mila.


"Kenapa kamu melakukan ini, Pangeran Hans? Memangnya apa kelebihan Pelayan ini hingga ia begitu spesial untukmu? Kamu bahkan rela mengorbankan nyawamu hanya untuk melindunginya," gumam Putri Serena dengan mata berkaca-kaca menatap wajah tampan Pangeran Hans yang sudah terpejam.


...***...

__ADS_1


__ADS_2