Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Pengakuan Ratu Alexa


__ADS_3

"Kenapa mereka membiarkan Putri Aurora dan suaminya tinggal di tengah hutan! Mereka benar-benar tidak punya hati!" geram Ratu Alexa sambil melihat pemandangan di sekitar tempat yang mereka lewati.


Raja Leon kembali menggenggam tangan Ratu Alexa dengan lembut. "Mungkin mereka punya alasan melakukan ini, Sayang," jawab Raja Leon, mencoba menenangkan Ratu Alexa.


Tidak berselang lama, mereka pun tiba di tempat yang dituju. Ratu Alexa mengintip dari keluar jendela kereta yang ia tumpangi kemudian memperhatikan kastil tua beserta sekelilingnya.


"Ya, ampun!" Ratu Alexa berdecak sebal melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya.


"Sebaiknya kita keluar. Raja Edward beserta istrinya sudah menunggu di depan pintu kastil itu," ajak Raja Leon. Sementara Pangeran Arthur sudah menunggu di luar sambil memperhatikan kastil itu.


"Tempat ini sangat indah," gumam Pangeran Arthur di saat Sang Ibu sudah berdiri di sampingnya.


"Memang benar, tapi tetap saja menurut Ibu ini sangat tidak etis. bayangkan, seorang pewaris kerajaan harus tinggal di dalam hutan belantara, layaknya seorang pengkhianat yang sengaja diasingkan dan dibuang dari kerajaan," sahut Ratu Alexa.


Setelah beberapa kali mengetuk, pintu kastil itu pun akhirnya terbuka. Tampak seorang wanita cantik beserta Sang Suami yang tengah tersenyum menyambut kedatangan tamu-tamunya.


"Yang Mulia?"


Mila dan Pangeran Hans tampak bingung dengan kedatangan Raja Edward serta Ratu Caroline yang begitu mendadak dan tidak memberitahu mereka terlebih dahulu.


"Ehm, silakan masuk, Yang Mulia," ajak Mila.


"Sebentar, Nak. Sebenarnya kami tidak sendiri, kami membawa tamu dari Kerajaan Selatan. Kenalkan Raja Leon, Ratu Alex, serta Pangeran Arthur," ucap Ratu Caroline sembari memperkenalkan tamu istimewanya itu kepada Mila dan Pangeran Hans.


Mila dan Pangeran Hans mengangguk hormat kepada Raja dan Ratu dari selatan. Sementara ketiga orang hebat dari Kerajaan Selatan itu tampak terbengong-bengong ketika memperhatikan Mila.


"Putri Aurora?" tanya Ratu Alexa.


"Ya, Yang Mulia. Saya Aurora," ucap Mila dengan sedikit canggung karena Ratu Alexa menatapnya dengan tatapan yang berbeda.

__ADS_1


"Putriku, Aurora! Akhirnya Ibu menemukanmu," ucap Ratu Alexa tiba-tiba. Wanita cantik itu bergegas memeluk Mila dan menangis dalam pelukannya.


Raja Edward, Ratu Caroline dan Pangeran Hans membulatkan mata setelah mendengar penuturan dari Ratu Alexa barusan. Mereka saling lempar pandang dengan alis yang saling bertaut.


"Ma-maksud Yang Mulia Ratu apa? Maaf, saya tidak mengerti?" tanya Mila dengan terbata-bata.


Ratu Alexa melerai pelukannya bersama Mila kemudian menciumi wajah cantik itu tanpa terlewat satu inci pun. Mila tampak risih, tetapi menolak pun tak tega.


"Aku adalah Ibumu, Aurora. Dan ini Ayah serta Kakak laki-lakimu," tutur Ratu Caroline sembari memperkenalkan anggota keluarganya kepada Mila dengan berlinang air mata.


Mila semakin bingung saja. Ada rasa lucu sekaligus kasihan terhadap Ratu Alexa yang tiba-tiba mengakui dirinya sebagai anak perempuannya.


"Ehm, maafkan saya, Yang Mulia Ratu. Sepertinya Anda salah orang. Saya hanya gadis biasa. Bahkan nenek yang membesarkan saya dulu hanyalah seorang wanita tua biasa."


Ratu Alexa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, kamu tidak akan mengerti, Aurora. Wanita tua yang kamu anggap sebagai nenekmu itu adalah wanita yang menculikmu ketika kamu masih bayi," tutur Ratu Alexa sambil terisak.


Mila hanya bisa tersenyum getir mendengar penjelasan dari Ratu Alexa. Menurut Mila semua yang dikatakan oleh wanita itu hanyalah bualan semata.


"Apa kamu dengar itu, Yang Mulia?" pekik Ratu Caroline sambil menatap Raja Edward dengan wajah cemas.


"Bagaimana jika benar kalau Aurora adalah putri mereka yang hilang? Aku pernah menyiksanya, Ratu Caroline! Bisa-bisa Raja Leon akan menghancurkan kerajaan kita kalau Putri Aurora menceritakan kisah itu kepada Ayahnya," gumam Raja Edward dengan wajah panik menatap Ratu Caroline.


Ratu Caroline hanya diam dengan ekspresi wajah yang sama. Biar bagaimanapun Raja Edward memang pernah salah karena sudah menyiksa Putri Aurora hingga akhir hayatnya.


"Sebentar, Yang Mulia Raja! Apakah Anda bisa membuktikan bahwa Putri Aurora adalah putri Anda yang hilang?" tanya Pangeran Hans yang juga tidak kalah bingung.


"Ya, tentu saja!" Ratu Alexa mengangguk dengan cepat.


"Putri Aurora memiliki sebuah kekuatan langka. Kekuatan yang diwariskan oleh nenek moyang kami pada zaman dahulu. Menyembuhkan hanya dengan sentuhannya. Kekuatan itu bahkan sudah terlihat sejak dia masih bayi. Sebab itulah dia diberi gelar sebagai Dewi Penyembuh. Hingga suatu hari, salah satu pelayan menculiknya dengan tujuan yang tidak kami ketahui. Kami sudah mencarinya hingga ke pelosok negeri, tetapi tetap tidak ketemu," jelas Raja Leon kepada Pangeran Hans serta kedua orang tuanya.

__ADS_1


Mila terdiam sejenak sambil mengingat-ingat kisah masa lalunya, sebelum ia bereinkarnasi menjadi sosok Mila.


"Di mana wanita itu, Putri Aurora? Hanya dia kunci utama yang bisa menjelaskan ini semua," tanya Ratu Alexa.


"Saya tidak tahu wanita mana yang Anda maksud, Yang Mulia Ratu. Jika yang Anda maksud adalah nenek tua yang selama ini membesarkan saya, saya pikir kalian sudah terlambat. Nenek sudah tiada, sebelum saya memutuskan untuk menjadi pelayan di kerajaan milik Yang Mulia Raja Edward."


"Menjadi pelayan?" Ratu Alexa memicingkan matanya saat bersitatap dengan Raja Edward dan Ratu Caroline.


"Ya. Dulu saya hanya seorang pelayan di kerajaan Raja Edward, Yang Mulia Ratu. Namun, karena kebaikan hati Raja dan Ratu, akhirnya saya dan Pangeran Hans bisa bersatu tanpa membedakan status kami. Benar 'kan, Yang Mulia Ratu?"


Mila menghampiri Ratu Caroline kemudian meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya dengan erat. Ratu Caroline pun mengangguk sembari tersenyum kecut.


"Ya, itu benar."


Padahal saat itu Raja Edward sudah ketakutan setengah mati. Ia takut Mila menceritakan kisah yang sebenarnya kepada Raja Leon dan Ratu Alexa. Sementara Pangeran Hans tampak santai. Ia tidak peduli jika seandainya Mila bercerita yang sebenarnya kepada mereka. Sebab perbuatan Raja Edward terhadap gadis itu memang sangat keterlaluan.


Raja Leon menghela napas berat. "Hilang sudah kunci utama kita. Dan kita pun akan terus dihantui rasa penasaran karena wanita itu belum sempat memberitahu, apa maksud dan tujuannya menculik Putri Aurora," sahut Raja Leon dengan wajah sendu.


Ratu Alexa berjalan menghampiri Mila. "Percayalah kepada kami, Nak. Kami tidak berbohong. Kamu adalah putri kami yang hilang itu. Coba lihatlah ke dalam mata Ibu, apakah Ibu berbohong?"


Mila memberanikan diri menatap ke dalam netra indah milik Ratu Alexa dan memang tidak ada kebohongan di sana.


"Sekarang, apa kamu percaya sama Ibu?"


"Saya butuh waktu untuk mencerna ini semua, Yang Mulia Ratu. Maafkan aku," sahut Mila dengan kepala tertunduk.


Raja Leon merengkuh pundak Ratu Alexa yang mulai putus asa. "Berikan dia waktu, Sayang. Aku yakin sebenarnya dia percaya, hanya saja saat ini dia sedang syok dan butuh waktu untuk berpikir dengan jernih."


Ratu Alexa mendongak. "Ya, Yang Mulia Raja. Anda benar," jawab Ratu Alexa sembari menyeka air matanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2