
"Siapa lelaki tampan itu?" Lulu terus memperhatikan Pangeran Hans yang sudah masuk ke dalam rumahnya bersama Mila.
"Entahlah, apa mungkin dia kekasihnya Mila?" timpal Lala. Kakak perempuan Lulu.
"Ish, gila! Beruntung sekali dia! Aku yakin lelaki ini bukanlah lelaki biasa. Lihat saja mobilnya, mewah sekali 'kan?"
"Hhh, siapa tahu mobil itu hanya mobil rentalan? Bisa saja 'kan dia melakukan itu untuk manas-manasin kita," celetuk Lala sambil menekuk wajahnya.
"Lala, Lulu, ngobrol aja kerjanya! Sini masuk! Apa kalian ingin terus berdiri di sana?" celetuk Bibi Una, istri dari paman Didin.
Wanita yang selama ini merawat Mila sejak dari kecil. Walaupun wanita itu tidak pernah menganggap keberadaannya. Namun, Mila tetap merasa berhutang budi pada wanita itu dan seluruh keluarga kecilnya karena sudah bersedia menerima dirinya.
"Ish, iya, Bu! Sebentar," sahut Lala sembari melangkah dengan cepat menyusul ayah dan ibunya yang sudah masuk ke dalam rumah sederhana mereka.
Kedua gadis yang usianya hanya berpaut satu tahun itu pun segera masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan tamu, tepatnya di samping kedua orang tuanya. Tatapan kedua gadis kesayangan paman Didin tersebut terus tertuju pada Pangeran Hans. Sementara lelaki gaib itu sama sekali tidak menggubrisnya.
"Benar-benar tampan, ya!" bisik Lala kepada Lulu yang duduk di samping tubuhnya.
"Iya, kamu benar. Aku bersedia kok jadi istri simpanannya, asalkan dia mau menerimaku," celetuk Lulu dengan wajah merah merona.
"Ish, mana boleh! Aku 'kan kakakmu dan aku yang lebih berhak atas itu. Kamu sebagai adik, sebaiknya mengalah saja!" kesal Lala sembari mencubit paha Lulu dengan cukup keras hingga gadis itu memekik kesakitan.
"Aduh, sakittt!" pekik Lulu sambil cemberut.
Sementara itu.
"Bagaimana kabarmu, Mila? Dan ini siapa, ya?" tanya Paman Didin sambil tersenyum menatap Pangeran Hans yang duduk di samping Mila.
"Kabarku baik, Paman. Ehm, ini ...." Mila menghentikan ucapannya sejenak sembari menoleh ke arah Pangeran Hans.
"Saya Hans, calon suami Mila," sambung lelaki gaib itu.
Paman Didin tampak manggut-manggut saja. Sementara bi Una, Lala dan Lulu tampak begitu terkejut setelah mendengar penuturan Pangeran Hans.
__ADS_1
"Calon suami? Lalu kapan kalian akan menikah? Oh, aku yakin kamu ke sini pasti minta restu sama Pamanmu, 'kan?" celetuk Bi Una dengan wajah masam menatap pasangan itu.
Bagaimana tidak, ia merasa iri karena Mila sudah menemukan jodohnya. Sudah tampan, kaya pula. Begitulah yang ada di pikiran wanita paruh baya itu. Sementara kedua anak gadisnya, belum laku juga.
Mila menghembuskan napas berat. "Ya, Bi. Secepatnya. Selain itu aku juga ingin berpamitan kepada kalian karena setelah menikah, aku akan ikut Suamiku ke negara asalnya," sahut Mila.
Ketiga wanita beda generasi itu saling lempar pandang. "Ke negara asalnya? Di mana?"
"Ehm ...." Lagi-lagi Mila terdiam dan matanya kembali tertuju pada Pangeran Hans.
"Polandia," sela Pangeran Hans.
"Wahhh!" Ketiga wanita itu membulatkan mata mereka dengan mulut yang ikut menganga.
"Ish, beruntung sekali Mila!" celetuk Lulu sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Mila menggigit bibirnya agar tawanya tidak pecah. Sementara ekspresi wajah lelaki gaib itu tampak santai-santai saja, seolah apa yang dikatakannya barusan adalah suatu kebenaran.
"Kalau boleh Paman kasih saran, sebaiknya kalian menikah di sini saja. Ini 'kan kampung halamanmu. Lagi pula, jika kamu mengadakan acara pernikahan di tempat lain, belum tentu Paman bisa hadir," tutur lelaki paruh baya itu.
Mila dan Pangeran Hans saling tatap untuk beberapa saat. Mereka sama sekali tidak kepikiran untuk melaksanakan pernikahan sebelum kembali ke negeri antah-berantahnya Pangeran Hans.
"Baiklah, saya setuju. Saya bersedia menikahi Mila sebelum kami berangkat ke Polandia," sahut Pangeran Hans dengan santainya. "Dan soal biaya, kalian tidak usah khawatir. Saya akan kasih lebih," lanjutnya.
Bibi Una mengembangkan senyumnya, begitu pula paman Didin. Sementara Lala dan Lulu masih memasang wajah masam karena mereka sama sekali tidak menyukai kabar itu.
Beberapa jam kemudian.
"Aku sama sekali tidak pernah kepikiran soal pernikahan kita, Pangeran Hans. Tapi kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh paman Didin ada benarnya. Kenapa kita tidak menikah dulu sebelum berangkat. Aku 'kan juga ingin seperti wanita lain yang menikah secara kemanusiaan," celetuk Mila.
Pangeran Hans mengacak pelan puncak kepala Mila. "Selama tidak menghalangi tujuan kita, aku sih oke-oke saja."
Malam pun menjelang.
__ADS_1
Mila dan Pangeran Hans tidur secara terpisah. Paman Didin dan Bibi Una tidak mengizinkan mereka tidur di satu ruangan. Jika saat itu Mila tengah berada di kamar milik Lulu, Pangeran Hans di paksa tidur di sofa ruang tamu.
Mila duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya. Ia ingin memberitahu Rika soal pernikahannya bersama Pangeran Hans. Namun, sayangnya sinyal di desa itu tidak stabil dan sulit untuk menghubungi sahabatnya itu.
"Sialan!" celetuk Mila sambil melemparkan ponselnya ke samping bantal dengan sedikit kesal.
Tepat di saat itu, Lulu dan Lala datang menemuinya. Kedua gadis itu menghampiri Mila. Jika Lulu memilih duduk di samping Mila, Lala lebih memilih untuk duduk tepat di hadapan sepupunya itu dengan menggunakan kursi kayu yang terletak di depan cermin rias.
"Kalian kenapa?" tanya Mila heran karena kedua gadis itu sama sekali tidak bicara dan hanya menatap Mila dengan tatapan masam.
"Kenapa kamu kembali lagi? Bukankah kami sudah mengusirmu. Seharusnya jika kamu ingin menikah, ya, menikah saja sana sama si bule itu. Tidak perlu sok pamer sama kami! Mentang-mentang dapat cowok keren dan tajir," celetuk Lala dengan wajah menekuk.
"Iya, Kak Lala benar. Kami yakin, kamu ke sini hanya untuk pamer sama kami, 'kan?" timpal Lulu.
Mila tersenyum miring. "Niat aku kembali ke sini bukan buat pamer sama kalian. Aku benar-benar ingin pamit sama Paman karena Paman satu-satunya keluarga yang aku miliki sekarang ini. Lagi pula, buat apa pamer sama kalian? Memangnya kalian siapa?" jawab Mila dengan santainya dan membuat kedua gadis itu makin kesal.
"Cih, sombong!" kesal Lala.
Kini tatapan Lala tertuju pada kalung berlian merah yang melingkar di leher Mila. Ia semakin kesal saja karena Mila mempunyai perhiasan secantik itu.
"Kalung apa ini! Sini, lepaskan! Biar aku lihat!" Lala mencoba meraih kalung itu dari leher Mila, tetapi ditahan oleh gadis itu. Lulu tak tinggal diam, ia pun ikut membantu sang kakak. Hingga terjadilah dua lawan satu. Lulu menahan tangan Mila, sementara Lala berniat merebut kalung itu.
Namun, baru saja Lala menyentuh kalung tersebut, tiba-tiba tubuhnya terpental hingga menyentuh daun pintu.
"Aaakhhh!" teriak Lala sambil meringis kesakitan.
Lulu bergegas menghampiri Lala dan membantu saudara perempuannya itu.
"Kamu kenapa, La!"
"Entahlah, kalung itu sepertinya memiliki aliran listrik yang sangat kuat, Lu! Lihat tanganku," ucapnya sembari memperlihatkan kulit tangannya yang melepuh setelah menyentuh kalung itu.
"Ya ampun, La. Bagaimana bisa begitu?" pekik Lulu.
__ADS_1
...***...