Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Kerajaan Dari Selatan


__ADS_3

Berita tentang Putri Aurora yang bisa menyembuhkan Pangeran Hans, terdengar ke seluruh negeri, bahkan terdengar hinga ke kerajaan Selatan. Kerajaan terbesar dan terkuat sejagat. Bahkan kerajaan Raja Edward tidak ada apa-apanya di banding kerajaan mereka.


"Apakah berita itu benar, Yang Mulia Raja?" Seorang Ratu berparas cantik bernama Ratu Alexa menghampiri Sang Raja yang tengah mematung dengan pikiran menerawang.


Lelaki itu berbalik kemudian menghadap Ratu Alexa sambil tersenyum tipis. "Aku tidak tahu apakah berita itu benar atau tidak. Satu-satunya cara mengetahui kebenaran itu dengan cara berkunjung ke kerajaan utara dan mencari tahu kebenarannya."


"Aku ikut, Ayah!" tegas seorang pangeran tampan dan gagah bernama Pangeran Arthur.


"Baiklah. Besok kita berangkat!"


Keesokan harinya.


Di kerajaan Raja Edward.


"Apa? Untuk apa Raja Leon dan Ratu Alexa ke sini?" tanya Raja Edward dengan alis bertaut kepada salah satu pengawal setia yang memberitahukan berita itu.


"Maafkan saya, Yang Mulia Raja. Saya kurang tahu," jawab pengawal itu.


"Baiklah. Siapkan sajian terbaik untuk menyambut kedatangan mereka," titah Raja Edward.


Para pelayan dan seluruh prajurit di kerajaan itu segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Raja dari segala Raja. Raja Leon, Ratu Alexa serta putra pertama mereka, Pangeran Arthur.


"Apa kerajaan kita sudah melakukan pelanggaran, Yang Mulia Raja, hingga Raja Leon datang berkunjung ke sini?" tanya Ratu Caroline yang tidak kalah bingung.


"Entahlah. Tapi aku rasa kita tidak pernah melanggar atau melakukan kesalahan sekecil apa pun terhadap kerajaan mereka," jawab Raja Edward.


Ratu Caroline menghela napas dalam. "Semoga kedatangan mereka tidak akan menimbulkan masalah kepada kerajaan kita. Kita sudah cukup mengalami masalah besar di kerajaan ini," gumam Ratu Caroline.


"Ya, kamu benar."


Selang beberapa saat kemudian.


"Yang Mulia Raja, Raja Leon sudah berada di depan istana bersama prajurit mereka."


"Baiklah, kami akan segera ke sana menyambut kedatangan mereka," jawab Raja Edward.


Raja Edward bergegas bangkit kemudian berjalan menuju depan istana bersama Ratu Caroline. Ketika mereka tiba di sana, Raja Leon sudah turun dari kereta mereka dan berjalan bersama Ratu Alexa di sampingnya. Sementara Pangeran Arthur mengikuti kedua orang tuanya dari belakang.

__ADS_1


"Itu mereka, Ratu. Mari kita sambut mereka," ajak Raja Edward.


Ratu Caroline pun mengangguk kemudian berjalan menghampiri Raja dan Ratu dari kerajaan Selatan tersebut sambil tersenyum hangat.


"Selamat datang, Raja Leon, Ratu Alexa dan Pangeran Arthur," sapa Raja Edward sembari membungkuk hormat.


Raja Leon pun membalas senyuman hangat mereka sembari membungkuk pula. "Terima kasih, Raja Edward."


"Sama-sama, Raja Leon. Mari, silakan masuk."


Raja Edward mengajak mereka masuk ke dalam ruangan khusus untuk para tamu spesial mereka. Berbagai hidangan dan pertunjukan kecil tersaji di ruangan itu.


"Ratu Alexa cantik sekali," gumam Ratu Caroline dengan setengah berbisik di telinga Raja Edward. "Tapi entah kenapa menurutku wajahnya mirip sekali dengan menantu kita, Putri Aurora. Benar 'kan?"


Raja Edward memperhatikan wajah cantik Ratu Alexa dan wajah tampan Raja Leon secara bergantian dan ia setuju dengan pendapat istrinya itu. "Ya, kamu benar, Ratu Caroline."


"Maaf jika kedatangan kami ke sini membuat waktu Anda terganggu, Raja Edward." Raja Leon mulai membuka percakapan di antara mereka.


"Sama sekali tidak, Raja Leon. Malah sebaliknya, suatu kehormatan bagi kami karena kalian sudah bersedia berkunjung ke kerajaan kecil kami," sahut Raja Edward sambil terus tersenyum.


"Raja Edward. Sebenarnya kedatangan kami ke sini hanya untuk mengetahui kebenaran tentang berita yang heboh di seluruh kerajaan. Bahkan berita itu terdengar hingga ke kerajaan kami. Berita tentang Putramu yang disembuhkan oleh Putri Aurora."


Raja Edward dan Ratu Caroline saling tatap dengan wajah heran. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa berita itu akan begitu cepat tersebar. Bahkan sampai menjadi perhatian kerajaan besar milik Raja Leon.


"Ehmmm ... ya, itu benar, Raja Leon. Putra kami, pangeran Hans mengalami sebuah tragedi yang tak sengaja merenggut nyawanya. Namun, keajaiban tiba-tiba terjadi. Putra kami kembali dan seluruh luka-lukanya sembuh bahkan tak meninggalkan bekas apa pun setelah disentuh oleh Putri Aurora, menantu kami."


Raja Leon dan Ratu Alexa tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca setelah mendengar penjelasan dari Raja Edward barusan.


"Lalu, di mana Putri Aurora sekarang? Bolehkah kami menemuinya?" tanya Raja Leon dengan begitu antusias.


Raja Edward tampak bingung menjawab pertanyaan Raja dari Kerajaan Selatan itu, sebab baik Pangeran Hans maupun Putri Aurora masih tinggal di kastil tua dan tak ingin kembali ke istana.


"Ehm, kalau boleh saya tahu, sebenarnya ada perlu apa Raja Leon ingin berjumpa dengan menantu kami, Putri Aurora? Apakah ada seseorang yang butuh pertolongan darinya? Jika, ya, kami bisa meminta pengawal untuk menjemputnya sekarang juga," sahut Raja Edward.


"Bukan! Bukan karena itu, Raja Edward. Sebenarnya kami hanya ingin bertemu langsung dengannya. Kami penasaran bagaimana Putri Aurora yang sebenarnya. Benar 'kan, Ratu?"


Ratu Alexa mengangguk sambil tersenyum kecut. "Ya, itu benar, Raja Edward."

__ADS_1


Raja Edward dan Ratu Caroline semakin bingung. Mereka tidak percaya jika kedatangan Raja Leon dan Ratu Alexa ke istana hanya ingin sekedar ingin bertemu dengan Putri Aurora. Baik Raja Edward maupun Ratu Caroline begitu yakin bahwa ada niat tersembunyi di balik kedatangan para penguasa dari Kerajaan Selatan tersebut.


"Oh iya, kalau tidak salah dengar Anda bilang kalau Pangeran Hans dan Putri Aurora tidak tinggal di sini. Lalu, mereka tinggal di mana? Bolehkah kami menemui mereka sekarang?" tanya Raja Leon lagi.


Raja Edward menghela napas berat. "Mereka tinggal di sebuah kastil tua di tengah hutan. Jika kalian memang ingin menemui mereka, saya bisa mengantarkan kalian langsung ke tempat itu," sahut Raja Edward.


"Tengah hutan?" pekik Ratu Alexa dengan wajah panik.


Raja Leon meraih tangan Ratu Alexa kemudian menggenggamnya dengan erat. Ia mengangguk pelan, mencoba menenangkan Ratu Alexa yang mulai tidak bisa mengontrol emosinya.


Ratu Alexa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali hingga emosinya benar-benar kembali mereda.


"Maafkan istri saya, Raja Edward," ucap Raja Leon kepada Raja Edward dan Ratu Caroline yang tampak bingung melihat ekspresi Ratu Alexa barusan.


"Ehm, tidak apa-apa, Yang Mulia," jawab Raja Edward.


"Terima kasih. Jadi ... kapan kita bisa berangkat ke sana? Kamu sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya," lanjut Raja Leon dengan wajah semringah.


"Kapan pun kalian mau," jawab Raja Edward dengan mantap.


"Bagaimana kalau sekarang?" sela Ratu Alexa dengan begitu antusias.


"Baiklah, kalau itu yang kalian inginkan," jawab Raja Edward.


Raja Edward pun segera memerintahkan para pengawalnya mempersiapkan kereta untuk keberangkatan mereka menuju kastil tua, di mana Pangeran Hans dan Mila tinggal.


Setelah kereta siap, mereka pun berangkat menuju kastil tua itu bersama pasukan Raja Leon dan Ratu Alexa.


Di dalam kereta Raja Edward.


"Sebenarnya apa tujuan mereka menemui Putri Aurora? Apa Anda tidak merasa curiga dengan gerakan-gerik mereka, Yang Mulia? Bagaimana jika Raja Leon dan Ratu Alexa punya rencana buruk terhadap menantu kita?" tanya Ratu Caroline dengan wajah cemas.


"Entahlah. Tapi aku sudah memberitahu para prajurit untuk tetap siaga. Siapa tahu mereka memiliki niat buruk. Jika itu benar, maka para prajurit kerajaan kita tidak akan tinggal diam. Walaupun mereka berasal dari kerajaan besar, tapi aku tidak takut dan akan tetap melindungi Pangeran Hans dan istrinya. Terutama Putri Aurora," jawab Raja Edward dengan mantap dan berhasil membuat Ratu Caroline sedikit lebih tenang.


"Ya, aku setuju padamu, Yang Mulia."


...***...

__ADS_1


__ADS_2