Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Ingatan Mila


__ADS_3

Raja Edward menghentikan tawanya dan kali ini ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kemarahannya kepada Pangeran Hans. Ia menatap Pangeran Hans dengan tatapan tajam dan menohok


"Lalu di mana pelayan itu?" tanyanya dengan kasar.


"Maaf, Yang Mulia. Aurora bukanlah seorang pelayan rendahan seperti yang biasa Anda sebutkan. Kini dia sudah sah menjadi istriku dan sebaiknya Anda menyebutnya dengan sebutan Putri. Putri Aurora," sahut Pangeran Hans dengan begitu tenang. Bahkan dengan santainya ia menyunggingkan sebuah senyuman untuk lelaki berkuasa itu.


Raja Edward menghembuskan napas berat kemudian mencoba menenangkan dirinya. "Di mana gadis itu. Aku ingin bertemu dengannya," ucap Raja Edward dengan tegas.


Tanpa ragu, Pangeran Hans meninggalkan ruangan itu untuk menjemput Mila yang masih menunggu di luar ruangan bersama Ratu Caroline dengan perasaan cemas.


"Lihat, itu Pangeran Hans!" pekik Ratu Caroline sembari menunjuk ke arah Pangeran Hans yang tengah berjalan menghampiri mereka.


Mila menoleh dan memperhatikan ekspresi wajah suaminya itu. Tampak begitu tenang, tetapi tetap membuat Mila merasa khawatir.


"Bagaimana, Nak. Apa yang dikatakan oleh ayahmu?" tanya Ratu Caroline ketika Pangeran Hans sudah berada di hadapannya.


"Ayah ingin bertemu dengan Aurora," jawab Pangeran Hans singkat. Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Mila dan segera disambut oleh gadis itu.


"Ikutilah bersamaku. Jangan takut, aku berjanji akan melindungimu dengan seluruh jiwa dan ragaku," ucap Pangeran Hans, mencoba meyakinkan Mila yang kini mulai ketakutan.


"Tapi, bagaimana jika Raja—" ucap Mila terbata-bata. Namun, belum selesai Mila berucap, Pangeran Hans sudah menyelanya.


"Kamu akan baik-baik saja. Kamu percaya 'kan sama aku?"


Pangeran Hans menatap lekat kedua biji manik yang indah milik Mila. Mila tak punya pilihan lain. Ia pun terpaksa mengangguk dan menyetujui keinginan lelaki itu. Sementara Ratu Caroline memilih menunggu di luar dengan perasaan yang tak menentu.


Dengan gemetar, Mila melangkahkan kakinya di samping Pangeran Hans memasuki ruangan tersebut. Ruangan yang begitu luas, di mana terdapat sebuah singgasana megah berdiri kokoh tepat di hadapan mereka.


Entah mengapa Mila merasakan bahwa ruangan itu sama sekali tidak asing baginya. Bahkan ia hapal dengan wajah orang-orang yang berada di ruangan itu. Termasuk wajah Raja Edward yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan sinis dan tampak menakutkan.

__ADS_1


Pangeran Hans menggenggam erat tangan Mila, seolah berkata bahwa dirinya tidak perlu takut atau pun merasa gentar menghadapi lelaki berkuasa itu.


Sementara itu.


Raja Edward terus memperhatikan Mila yang tengah berjalan di samping Pangeran Hans tanpa berkedip sedikit pun. Tatapannya menohok tajam dan siapa pun yang melihatnya pasti akan ketakutan. Namun, bukannya takut Mila malah membalas tatapan lelaki berkuasa itu dengan begitu percaya diri.


Perasaan Raja Edward campur aduk. Antara kesal dan marah bercampur menjadi satu. Ia tidak habis pikir bagaimana caranya Aurora bisa kembali dengan menjelma menjadi seorang manusia.


Kini pasangan itu sudah berdiri tepat di hadapan singgasana Raja Edward. Sang Raja pun bangkit dari posisinya kemudian berjalan ke arah Pangeran Hans dan Mila sambil tersenyum miring.


Belum sempat Raja Edward menghampiri mereka, tiba-tiba Mila berteriak histeris. Pegangan erat Pangeran Hans bahkan terlepas karena tubuh Mila jatuh ke lantai dengan posisi kedua lutut menekuk serta kepala menghadap lantai.


"Aurora, kamu kenapa?" Pangeran Hans mencoba membangunkan tubuh Mila yang bergetar hebat.


Mila mengacungkan tangannya ke hadapan Pangeran Hans. Seolah memberi tahu bahwa saat itu ia tidak butuh pertolongan dan meminta suaminya membiarkan ia dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat.


Pangeran Hans pun berhenti. Namun, ia tetap dalam posisi siaga dan siap melawan siapa pun yang berani menyentuh apalagi menyakiti istrinya.


Selang beberapa detik kemudian, tiba-tiba Mila mengangkat kepalanya sambil tersenyum sinis menatap Raja Edward. Perlahan ia bangkit kemudian berjalan menghampiri lelaki berkuasa itu. Bahkan Pangeran Hans pun tidak sempat menahannya.


"Raja Edward!" Mila tertawa pelan dengan tatapan tajam tertuju pada Raja Edward yang masih terdiam dengan alis bertaut.


"Aku sudah ingat semuanya! Semuanya, Yang Mulia Raja!" Mila membungkuk hormat kemudian kembali berdiri lagi, tepat di hadapan lelaki berkuasa itu. Sementara Pangeran Hans menatap istrinya itu dengan wajah bingung.


"Aku sudah ingat siapa aku yang sebenarnya dan aku juga ingat semua yang sudah terjadi padaku di sini, di ruangan ini!" tegas Mila dengan tatapan tajam menatap Raja Edward.


"Kau kalah, Raja Edward! Kau sudah kalah! Sekarang kamu lihat sendiri 'kan! Kekuatan cinta seorang pelayan hina ini begitu abadi hingga kau pun tidak sanggup menghalanginya," lanjutnya, kembali tersenyum sinis.


"Kurang ajar!" geram Raja Edward sambil mengepalkan tangannya dengan erat dan wajahnya pun semakin memerah.

__ADS_1


Mila berjalan dengan cepat menghampiri Pangeran Hans kemudian memeluk lengan suaminya itu dengan erat.


"Kami sudah menikah, Raja Edward. Dan tidak lama lagi aku akan menjadi seorang ibu untuk bayi-bayi Pangeran Hans, cucu-cucumu!" sambung Mila.


"Hentikan omong kosongmu! Pelayan rendahan seperti dirimu tidak akan pernah layak bersanding dengan putraku dan aku tidak akan pernah merestui dan mengakui anak-anak yang keluar dari rahimmu sebagai generasi penerus di kerajaanku. Camkan itu!" geram Raja Edward sambil berteriak lantang.


Pangeran Hans menoleh ke arah Mila dengan wajah bingung. "Kamu baik-baik saja?" tanya Pangeran Hans.


"Ya. Aku baik-baik saja, Pangeran Hans. Sekarang aku ingat. Aku ingat semuanya! Bagaimana Yang Mulia Raja memperlakukan aku dengan kejam, yang memperlakukan aku layaknya binatang! Aku diseret, aku dicambuk, aku disiksa hingga akhirnya aku mati di ruangan ini!" kesal Mila dengan air mata berderai.


"Benarkah!" pekik Pangeran Hans dengan mata membulat sempurna. "Jadi kamu sudah ingat semuanya, termasuk siapa kamu yang sebenarnya?"


Mila mengangguk pelan. "Ya, aku ingat. Aku adalah Aurora, pelayan setia Ratu Caroline yang sudah lancang jatuh cinta kepadamu, Pangeran."


Pangeran Hans segera memeluk Mila dan mencium puncak kepala gadis itu berkali-kali sambil meneteskan air matanya. Ia sangat bahagia karena pada akhirnya Mila sudah mengetahui jati dirinya.


"Syukurlah! Aku benar-benar bahagia, Aurora! Sangat," ucap Pangeran Hans.


Raja Edward benar-benar muak dengan pemandangan yang ia saksikan di depan matanya. Ia pun segera berteriak dan meminta para pengawal setianya untuk mengusir pasangan itu dari hadapannya.


"Pengawal! Usir kedua orang ini dan jangan pernah biarkan mereka menginjakkan kaki mereka di istana ini lagi!" titah lelaki itu dengan wajah bengisnya.


Para pengawal bertubuh kekar itu segera berjalan menghampiri Mila dan Pangeran Hans. Namun, belum sempat para lelaki itu menyentuh tubuh mereka, Pangeran Hans segera berteriak.


"Berhenti! Tanpa diusir pun kami akan tetap pergi dari sini."


Pangeran Hans meraih tangan Mila kemudian menuntunnya keluar dari ruangan itu. Mila memperhatikan orang-orang yang mereka lewati dan ia sempat bertatapan dengan para algojo yang dulu diperintahkan oleh Raja Edward untuk menyiksanya hingga akhir hayat.


Ia tersenyum miring kepada mereka, sementara para algojo bertubuh besar itu hanya tertunduk dan sesekali melirik tanpa berani membalas tatapannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2