
"Di dunia manusia. Dan apa Raja tahu, apa yang ia lakukan di sana? Dia menemui Aurora. Desas-desus itu benar, Raja Edward! Aurora tidak mati! Ia terlahir kembali menjadi manusia dan sekarang Pangeran kembali bersatu dengan pelayan rendahan itu!" sahut Putri Serena dengan bibir bergetar.
"Apa!" Wajah Raja Edward tampak memerah. Kedua tangannya mengepal dengan sempurna. Rahang lelaki itu terlihat mengeras pertanda bahwa saat ini ia benar-benar marah setelah mendengar berita buruk itu.
"Yang Mulia, kumohon! Jangan gegabah dulu, jangan ambil keputusan yang akan membuat kita menyesal seumur hidup. Kita bahkan belum tau kebenaran dari berita itu."
Ratu Caroline mengelus punggung Raja Edward dan mencoba menenangkan emosinya yang sudah memuncak.
"Bagaimana jika itu benar, Ratu!" Raja Edward berbalik kemudian menepis tangan Ratu dengan begitu kasar.
"Kumohon, Yang Mulia. Bukalah hatimu sedikit saja! Mungkin itu sudah menjadi takdir Pangeran Hans," lirih Ratu dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Dan menerima pelayan rendahan itu menjadi calon Ratu di kerajaan ini?" Raja Edward tersenyum sinis menatap sang istri.
Ratu Caroline terdiam sejenak dengan bibir bergetar. Buliran bening yang tadinya masih tertahan, sekarang jatuh ke kedua pipinya.
"Aku menerimanya jika itu memang yang terbaik untuk Pangeran," jawab Ratu Caroline dengan tersendat-sendat.
"Hahhh!" Raja Edward semakin marah.
"Pengawal!" teriak Raja Edward memanggil para pengawalnya.
Beberapa orang pengawal datang berbondong-bondong menghampiri lelaki berkuasa itu sambil membungkuk hormat.
"Bawa Ratu Caroline kembali ke kamarnya dan jangan biarkan ia keluar sebelum pikirannya menjadi jernih kembali!" perintah Raja Edward.
"Baik, Yang Mulia!"
"Tapi, Yang Mulia—" Belum habis Ratu Caroline berkata-kata, para pengawal setia Raja sudah menarik tubuhnya dan menuntunnya kembali ke kamar.
"Pikirkan kembali kata-katamu barusan, Ratu! Dan jangan pernah menemuiku sebelum otakmu kembali normal!" Tegas lelaki berkuasa itu sembari mengiringi langkah Ratu yang semakin menjauh dari ruangan tersebut.
Sepeninggal Ratu.
__ADS_1
Raja Edward kembali fokus pada Putri Serena yang masih berdiri di hadapannya dengan wajah cemas.
"Kamu tidak usah khawatir, Putri Serena. Pangeran Hans akan tetap menjadi suamimu, walaupun pelayan rendahan itu harus bereinkarnasi sampai ribuan kali," ucap Raja Edward yang berhasil menenangkan kecemasan Putri Serena.
"Terima kasih, Yang Mulia Raja. Yang Mulia memang benar-benar baik dan orang yang paling mengerti perasaanku," sahut wanita cantik itu dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu.
Pernikahan meriah ala Pangeran Hans dan Mila akhirnya selesai. Para warga pun sudah puas menikmati pernikahan paling meriah tersebut. Jika para tamu undangan sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, di luar rumah sederhana milik paman Didin masih tampak beberapa orang yang tengah sibuk membereskan sisa-sisa pesta.
Bukan hanya para warga desa yang kembali ke kediaman mereka. Pasangan Rika dan Rangga pun kembali ke kota saat itu juga setelah berpamitan kepada kedua mempelai. Pangeran Hans memerintahkan pengawal setianya untuk mengawal perjalanan pasangan itu. Karena takut, Rangga dan Rika pun tidak bisa menolak dan menerima titah dari pangeran gaib tersebut.
Alhasil, perjalanan yang harusnya memakan waktu hingga berjam-jam tersebut, hanya tinggal beberapa menit saja dan pasangan 2R itu pun tiba di depan kediaman mereka. Baik Rika maupun Rangga sama sekali tidak terkejut karena mereka sudah tahu siapa sebenarnya lelaki bertubuh tinggi besar tersebut.
Sementara itu, Pasangan Mila dan Pangeran Hans sudah berada di dalam kamar yang di persiapkan oleh Bi Una sebelumnya. Setelah mengunci pintu kamar, Pangeran Hans yang sudah tidak bisa membendung gejolak kerinduannya terhadap Aurora, segera memeluk dan menciumi seluruh wajah istrinya itu.
"Ehm, Pangeran ...." Mila menghentikan pergerakan wajah Pangeran Hans yang terus menelusuri setiap inci kulit wajahnya. Kini kedua netra indah mereka saling bertaut tanpa berkedip sedikit pun.
"Ya?" Pangeran Hans masih belum puas dan ingin menikmati wajah cantik itu. Namun, lagi-lagi pergerakannya tertahan karena Mila masih ingin saling bertatap mata dengan lelaki tampan dengan kulit putih itu.
"Baiklah. Tanyakan saja," sahut Pangeran Hans sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat.
"Apakah kita akan ...." Mila kembali terdiam karena merasa ragu sekaligus malu melanjutkan pertanyaannya.
Lelaki gaib itu menyeringai seolah tahu pertanyaan apa yang ada di dalam otak istrinya itu. "Akan apa?"
Detak jantung Mila semakin kencang dan darahnya pun seakan mengalir lebih cepat dari biasanya. Walaupun ia sudah terbiasa dengan kehadiran lelaki gaib tersebut. Namun, kali ini ia tetap gugup sama seperti pengantin baru lainnya.
"A-apakah kita akan melakukan itu?" tanya Mila dengan wajah merah merona, menahan rasa malu.
Pangeran Hans tertawa kecil. "Menurutmu?"
Mila menggelengkan kepala sebab ia benar-benar tidak tahu jawabannya. Ia bahkan ragu bahwa pangeran tampan itu memiliki senjata andalan sebagaimana manusia-manusia normal pada umumnya. Secara lelaki gaib itu bukanlah golongan darinya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu."
Pangeran Hans menarik pelan tangan gadis itu sambil tersenyum, kemudian meletakkan tepat di atas perutnya yang keras dan berbentuk kotak-kotak. Wajah Mila makin memerah. Tangannya yang masih digenggam oleh pangeran Hans tiba-tiba menjadi dingin. Sangat dingin.
Pangeran Hans menuntun tangan Mila yang masih berada di atas perutnya bergerak ke bawah. Semakin turun dan berhenti sejenak di pusar.
"Aku tau apa yang ada di pikiranmu," ucap Pangeran Hans sambil tersenyum dan tatapannya masih menohok tajam ke kedua netra gadis berlesung pipi tersebut.
Mila tampak serba salah. Ia benar-benar malu dan merasa menyesal karena sudah mempertanyakan hal itu.
Tangan dingin Mila kembali bergerak turun centi demi centi. Hingga akhirnya ia merasakan sesuatu yang menonjol dan begitu keras di bagian bawah perut lelaki gaib itu. Mila refleks menarik tangannya dan menjauhkannya dari benda pusaka milik pangeran Hans.
"Ya Tuhan, bodohnya aku!" gumam Mila pelan sambil mengalihkan pandangannya dari lelaki itu.
"Kemarilah." Pangeran Hans kembali menarik tubuh Mila ke dalam pelukannya. Mila yang masih gugup, segera membalas pelukan lelaki gaib yang kini sudah menjadi suaminya itu.
"Malam ini adalah malam yang begitu istimewa buat kita. Oleh sebab itu, aku ingin mengajakmu ke tempat yang begitu istimewa pula," sambung Pangeran Hans.
Mila mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tampan lelaki tinggi besar itu. "Tempat yang istimewa? Di mana?"
"Sebuah tempat yang menurutku paling indah, di mana kita bisa melewati malam pertama kita di sana. Tanpa pamanmu, tanpa bibimu dan tanpa kedua sepupumu yang menyebalkan itu," sahut Pangeran Hans.
"Sekarang tutuplah matamu," titah Pangeran Hans sembari menutup kedua netra indah itu dengan tangan kekarnya. Mila tampak pasrah dan mempererat pelukannya bersama lelaki itu.
Sepersekian detik berikutnya,
Blushhh!
...***...
Note : Mungkin banyak pembaca yang bingung bagaimana Mila dan Pangeran Hans menikah. Author sengaja tidak menjelaskannya secara detail karena tidak ingin mengaitkannya dengan agama apa pun. Dalam islam sendiri tidak membenarkan menikah dengan golongan berbeda seperti di kasus Mila dan Pangeran Hans dan mungkin agama lain pun sama. Dari pada nantinya akan menjadi pro dan kontra, lebih baik part itu ditiadakan.
Itu saja yang ingin Author sampai, selamat membaca ... 🥰🥰🥰
__ADS_1
Penuh Cinta : Author