Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Hari Pernikahan 2R


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


Satu hari sebelum hari pernikahan Rika dan Rangga di selenggarakan.


Rika meletakkan koper di depan teras kontrakan kemudian menghampiri Mila yang kini berdiri tepat di belakangnya. Wajahnya tampak sedih, begitu pula Mila.


"Maafkan aku, Mil." Rika meraih tangan Mila kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Sudahlah, Rika. Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Mungkin mas Rangga sudah ditakdirkan untuk menjadi jodohmu dan hanya saja Tuhan menyatukan kalian dengan cara yang berbeda," tutur Mila sembari meraih tubuh Rika kemudian memeluknya.


"Terima kasih, Mila. Terima kasih," ucap Rika dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama. Sekarang berangkatlah."


Rika melerai pelukannya. "Aku tunggu kedatanganmu, Mila."


"Ya. Tentu saja."


Mila melepaskan tangan Rika dan membiarkan sahabatnya itu melangkah pergi. Meninggalkannya dirinya sendiri di kontrakan tersebut. Rika meraih kopernya kemudian berjalan menuju sebuah mobil yang sejak tadi sudah menunggunya.


Seorang sopir keluar dari dalam mobil kemudian menyambut Rika yang berjalan mendekat ke arahnya sambil tersenyum hangat.


"Mari, silakan masuk." Lelaki itu membukakan pintu mobil tersebut dan mempersilakan Rika masuk ke dalam mobil tersebut.


"Terima kasih, Pak."


Sebelum lelaki paruh baya itu melajukan mobilnya, Rika sempat melambaikan tangannya kepada Mila.


"Bye, Mila!"


"Bye!" Mila membalas lambaian tangan sahabatnya itu hingga menghilang dari pandangannya.


Sepeninggal Rika.


Mila melangkah gontai masuk ke dalam kontrakannya. Wajah gadis itu tampak murung dan sejujurnya ia sangat sedih. Bukan karena Rika yang akan menjadi istri dari seorang Rangga.


Namun, ia sedih karena kontrakan kecil dan sederhana itu kini menjadi sangat sepi. Tak ada lagi tawa riang, keluh kesah atau suara ribut-ribut yang biasa dikeluarkan oleh sahabatnya itu.

__ADS_1


Mila duduk di sofa ruang depan. Tanpa ia sadari, buliran bening itu tiba-tiba meluncur di kedua sudut netranya. Pangeran Hans yang sejak tadi memperhatikan gadis itu, akhirnya ikut duduk di sampingnya kemudian menepuk pundak Mila dengan perlahan.


"Apa kamu masih belum bisa mengikhlaskan pernikahan Rika dan Rangga, Aurora?"


Mila menoleh kemudian memasang wajah masam. "Aku sedih bukan karena pernikahan mereka, Pangeran Hans. Namun, aku sedih karena rumah ini akan menjadi sepi. Tidak ada lagi teman untuk berbagi suka dan duka yang selalu setia mendengarkan seluruh keluh kesahku, sahut Mila.


"Kenapa kamu mencemaskan hal itu? Apa kamu sudah lupa akan janjimu, Aurora? Bahwa kamu akan ikut aku kembali ke alam kita. Kita akan menikah dan hidup bahagia selamanya," jawab Pangeran Hans.


Mila membulatkan matanya. Ia benar-benar sudah lupa akan janjinya kepada lelaki gaib tersebut. Mila tersenyum kecut sembari mengelus tengkuknya.


"Kamu tidak lupa akan janjimu 'kan, Aurora?" tanya lelaki gaib itu.


Mila menggeleng pelan. "Ehm, tidak, Pangeran! Tentu saja aku ingat akan janjiku itu."


"Gawat! Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting itu! Haduh, trus bagaimana nasibku setelah ini?" gumam Mila dalam hati.


Keesokan harinya.


Mila tergesa-gesa bangkit dari tempat tidur. Akibat terlambat tidur, hari ini ia hampir saja bangun kesiangan. Padahal hari ini adalah hari yang paling istimewa untuknya. Bagaimana tidak, sahabat yang sudah ia anggap seperti saudaranya akan bersanding di pelaminan bersama lelaki yang pernah menjadi pujaan hatinya.


Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Mila segera meraih dress cantik yang ia simpan di dalam lemari pakaiannya. Dress yang sengaja ia persiapkan untuk menyambut hari spesial ini.


Selesai bersolek dan menghias rambut indahnya, Mila pun segera mengenakan dress istimewa itu. Mila tampak begitu cantik, bak artis Hollywood yang sering berlenggak-lenggok di atas red carpet.


"Sebaiknya aku segera berangkat! Aku tidak ingin terlambat," gumam Mila seraya meraih tas tangan yang memiliki warna serupa dengan dress istimewanya.


Mila melenggang menuju halaman depan dan setibanya di tempat itu, ia dikejutkan dengan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Sesosok lelaki tampan dengan setelan jas berwarna hitam, berdiri di hadapannya sambil tersenyum hangat. Lelaki itu mengulurkan tangan kekarnya ke hadapan Mila.


"Mari, Putri Aurora."


"Kamu!" pekik Mila sambil menautkan kedua alisnya heran.


Mila memperhatikan Pangeran Hans dari ujung kepala hingga ke ujung kaki tanpa berkedip sedikit pun. Lelaki gaib itu terlihat berbeda dari biasanya. Penampilannya jauh lebih modis dan jauh lebih modern.


Yang biasanya selalu terlihat rapi dengan setelan ala kerajaan miliknya, kini terlihat lebih elegan dengan setelan jas modern yang tentunya berasal dari brand terkenal.

__ADS_1


"Bagaimana penampilanku sekarang? Aku tidak kalah tampan dari model-model internasional yang sering kamu lihat di benda pipihmu itu, 'kan?" celetuk Pangeran Hans sambil tersenyum miring menatap Mila. Memperlihatkan wujudnya sebagai seorang manusia. Seorang laki-laki yang tampan dan menawan.


Wajah Mila tampak memerah, menahan malu. Ia tidak menyangka ternyata lelaki gaib itu tahu bahwa ia suka memperhatikan model-model internasional yang memiliki paras tampan serta body aduhai tersebut melalui layar ponselnya.


Namun, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Mila sependapat bahwa lelaki gaib itu jauh lebih tampan dari model-model internasional yang menjadi bintang idolanya tersebut.


"Sebenarnya kamu mau ke mana, Pangeran Hans?" tanya Mila, mencoba mengalihkan pembicaraan lelaki itu.


"Ke acara pernikahan Rika dan Rangga. Memangnya mau ke mana lagi?"


Mila meraih tangan Pangeran Hans yang terulur di hadapannya kemudian berjalan di samping lelaki itu.


"Memangnya siapa yang mengundangmu ke pesta pernikahan mereka?" celetuk Mila sambil melirik wajah tampan itu.


"Memang tidak ada, tetapi aku datang ke sana bersamamu. Sebagai kekasih sekaligus calon suamimu, Putri Aurora."


"Bagaimana jika aku tidak mau?" Mila menghentikan langkahnya dan membuat langkah jenjang itu pun ikut terhenti.


"Jika aku tidak boleh pergi ke acara pernikahan mereka, maka kamu pun tidak!" tegas lelaki gaib itu sambil menyeringai menatap Mila.


Mila menekuk wajahnya kemudian kembali melanjutkan langkahnya. "Dasar! Kerjaannya menggertak saja," gerutu Mila pelan.


"Baiklah, kamu boleh ikut. Tapi ada syaratnya, Pangeran Hans!" lanjut Mila.


Lelaki gaib itu tertawa pelan. "Syarat? Memangnya kamu siapa hingga berani sekali memberikan syarat kepadaku?"


"Kalau kamu tidak mau ya, sudah! Kita lupakan saja acara hari ini," celetuk Mila.


"Baiklah. Sekarang katakan padaku, apa syaratnya!" lanjut Pangeran Hans.


"Jangan bikin masalah sekecil apa pun di sana! Dan yang pasti jangan buat aku malu, mengerti?" tegas Mila sembari menoleh ke arah lelaki tampan itu.


Pangeran Hans tersenyum tipis. "Ok! Aku setuju."


"Baguslah kalau begitu. Sekarang yang harus kita pikirkan saat ini adalah alat transportasi apa yang akan kita gunakan untuk menuju tempat itu. Tidak mungkin 'kan kita ke sana dengan menaiki ojek," sahut Mila yang kemudian tergelak.


Ia merasa lucu ketika membayangkan dirinya dan Pangeran Hans yang sudah tampil kece badai itu, tiba-tiba naik ojek menuju tempat pesta pernikahan Rika dan Rangga.

__ADS_1


"Kalau soal itu tidak usah kamu pikirkan," sahut Pangeran Hans sambil tersenyum tipis.


...***...


__ADS_2