Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Dewi Penyembuh


__ADS_3

Mila membuka pakaian Pangeran Hans dan ia melihat tubuh putihnya tampak membiru di bagian dada akibat serangan Raja Edward. Mila menangis sejadi-jadinya sambil memegang dada Pangeran Hans yang membiru tersebut.


"Kamu bilang akan terus melindungiku, Pangeran. Tapi kenapa sekarang kamu malah meninggalkan aku? Padahal kamu sendiri tahu bahwa saat ini aku tengah mengandung anakmu," lirih Mila di sela isak tangisnya.


Mila terus terisak, tanpa ia sadari luka membiru yang menghiasi dada pangeran Hans mulai memudar karena sentuhan Mila. Seiring memudarnya warna biru tersebut, jari-jari Pangeran Hans pun mulai tampak pergerakan-pergerakan kecil, tetapi tak satu pun dari mereka yang menyadari hal itu.


Hingga ....


"Uhuk ... uhuk!" Lelaki tampan itu membuka matanya sambil terbatuk-batuk. Mila tersentak kaget, tetapi ia tidak ingin melepaskan tubuh suaminya itu.


"Pa-pangeran?"


"Aurora," lirih Pangeran Hans sambil tersenyum tipis.


"Ya, Tuhan! Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan untuk hidup bersamamu lagi," ucap Mila sambil menciumi seluruh wajah Pangeran Hans tanpa terlewat satu inci pun.


"Jangan lupa, malam ini kasih aku jatah lebih," sahut Pangeran sambil terkekeh pelan.


Sementara Mila tertawa pelan sambil menangis menanggapi jawaban lelaki itu. "Kenapa kamu masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu, Pangeran Hans."


Bukan hanya Mila yang tampak senang, Ratu Caroline dan Raja Edward pun tampak tak percaya. Mereka tersenyum dengan wajah berbinar ketika tahu bahwa putra tunggal mereka hidup kembali.


Ratu Caroline bergegas menghampiri Mila dan Pangeran Hans kemudian memeluk anak lelakinya itu dengan erat. "Syukurlah, kamu kembali, Nak. Ibu hampir saja putus asa," ucap Ratu Caroline sambil menangis. Tangisan bahagia seorang Ibu yang mendapatkan anaknya kembali.


Raja Edward bangkit kemudian berjalan dengan gontai menghampiri anak dan istrinya. "Ba-bagaimana bisa? Tak ada mahluk yang bisa bertahan hidup jika terkena serangan dariku?" gumamnya dengan bingung. "Apakah kekuatanku sudah melemah?"


Raja Edward terus bergumam sambil melangkahkan. Ia bingung bagaimana Pangeran Hans bisa bertahan setelah mendapatkan serangan terbaiknya.


Perlahan Pangeran Hans bangkit kemudian berdiri dengan tegak di ruangan itu sambil menatap lekat Raja Edward yang masih kebingungan. Kemudian disusul oleh Mila dan Ratu Caroline yang kini berdiri di samping kiri dan kanan Pangeran Hans.

__ADS_1


"Anda pasti bingung kenapa saya bisa hidup lagi," ucap Pangeran Hans.


Taja Edward menghentikan langkahnya kemudian menatap anak lelakinya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ini bukan karena ilmu Anda sudah melemah, Yang Mulia Raja Edward. Ini semua karena kekuatan yang dimiliki oleh Putri Aurora. Dia lah yang sudah berhasil menyembuhkan saya," jelas Pangeran Hans dengan mantap.


"A-aku?"


Mila tampak kebingungan karena ia tidak merasa melakukan apa-apa. Ia bahkan tahu bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan apa pun sama seperti Raja maupun Pangeran Hans. Ia sadar sebab ia hanyalah manusia biasa yang terjerat dan harus berurusan dengan dunia gaib.


Semua mata kini tertuju pada Mila setelah mendengar penuturan dari Pangeran Hans barusan. Sementara Mila semakin bertambah bingung. Begitu pula Ratu Caroline dan Raja Edward. Mereka butuh penjelasan yang lebih masuk akal.


Pangeran Hans membuka pakaiannya kemudian memperlihatkan tanda biru yang kini sudah menghilang dari dada bidangnya.


"Kamu lihat ini, Putri Aurora? Setelah kamu menyentuh dadaku, perlahan luka dan kerusakan yang terjadi akibat serangan itu pulih dengan sendirinya!" jelas Pangeran Hans.


"Kamu lihat ini!" Pangeran Hans melukai tangannya sendiri dengan pedang itu hingga membuat Mila dan Ratu Caroline memekik ketakutan.


"Ya ampun, apa yang sudah kamu lakukan!" pekik Mila sembari menghampiri lelaki bertubuh kekar itu.


Pangeran Hans hanya tersenyum kemudian meraih tangan Mila dan meletakkan tangan gadis itu di atas tangannya yang terluka. Luka yang tadinya tampak menganga, perlahan-lahan menutup sendiri setelah disentuh oleh Mila.


Mila yang kaget segera menarik tangannya. Matanya membulat sempurna dan saat itu ia tengah berpikir keras.


"Sekarang kamu percaya padaku?" Pangeran Hans tersenyum menatap Mila yang masih kebingungan.


"Se-sebenarnya aku sudah mengetahui hal ini. Setiap aku terluka terkena pisau atau sebagainya. Lukaku akan kembali menutup dengan sempurna. Aku sempat takut karena aku pikir aku bukanlah manusia normal," sahut Mila.


"Tapi aku tidak pernah mencobanya ke orang lain dan aku tidak tahu bahwa itu adalah kekuatan. Aku pikir itu semacam kutukan," lanjutnya sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Ini bukanlah sebuah kutukan, Aurora. Ini kekuatan yang selama ini tersembunyi dan tidak pernah kamu sadari sebelumnya," ucap Pangeran Hans sembari memeluk tubuh Mila dengan erat.


"Sebaiknya kita segera kembali karena ada seseorang yang butuh bantuanmu," ucap Pangeran Hans yang kemudian melabuhkan sebuah ciuman hangat di puncak kepala Mila.


"Siapa?" Mila mendongak dan menatap wajah lelaki tampan itu dengan seksama.


"Pengawal kita dan juga Lexus," jawab Pangeran Hans.


Mila pun mengangguk pelan. "Baiklah."


Pangeran Hans segera menuntun Mila berjalan menghampiri Ratu Caroline. Mereka ingin berpamitan dan kembali ke kastil.


"Pergilah, Nak. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan keluarga kecilmu. Jangan lupa, kasih tahu Ibu jika bayi kalian sudah lahir," ucap Ratu Caroline dengan mata berkaca-kaca.


Sang Ratu tampak pasrah dan sudah tidak lagi menginginkan Pangeran Hans untuk tinggal di istana bersamanya dan juga Raja Edward. Perlakuan Raja Edward kepada pasangan itu sudah sangat keterlaluan dan Ratu Caroline tidak ingin kejadian naas itu terulang kembali.


"Tentu saja, Yang Mulia Ratu." Pangeran Hans tersenyum kemudian kembali melanjutkan langkahnya bersama Mila.


"Pangeran Hans, berhenti!" panggil Raja Edward.


Pangeran Hans dan Mila kembali menghentikan langkah mereka kemudian berbalik menatap Sang Raja tanpa bicara sepatah kata pun.


"Tinggallah di sini bersama kami, Pangeran Hans. Tetaplah menjadi bagian dari kami karena sekarang ada pewaris kerajaan ini di dalam kandungan Putri Aurora. Aku akan merasa bersalah jika membiarkan bayi itu lahir dalam kondisi serba kekurangan," tutur Raja Edward.


Pangeran Hans tersenyum tipis. "Di mana pun kami tinggal, kami tidak pernah merasa kekurangan dan terima kasih untuk tawaran Yang Mulia Raja, tetapi maaf kami tidak bisa menerimanya. Sekarang ini status kami hanyalah sepasang rakyat jelata yang tidak pantas untuk tinggal di kerajaan mewah ini," sahut Pangeran Hans.


Raja Edward terdiam dengan dada bergetar. Mulutnya bungkam dan ia sadar semua ini adalah kesalahannya. Akibat egonya yang begitu besar untuk menyatukan dua kerajaan, ia bahkan sampai rela mengorbankan kebahagiaan dan nyawa anak lelaki satu-satunya itu.


...*** ...

__ADS_1


__ADS_2