
"Arin ya ?" pesan singkat yang sore itu masuk pada sosial media Ku.
Aku menghiraukan pesan itu dan melanjutkan kerjaan yang sedang Aku kerjakan dikantor.
"kring.. Kring.." suara telpon Ku berdering kencang dan membuat Ku sedikit kaget.
Ku ambil handphone yang sedikit jauh dari tempat duduk Ku, lalu Ku tatap handphone itu rupanya nomer telpon yang tidak Aku kenal. Aku pun menghiraukan panggilan tersebut dan melanjutkan kembali kerjaan Ku.
**********
Hai perkenalkan nama Ku Arina Beiza, seorang Anak perempuan yang memiliki hubungan hingga 10 Tahun lamanya.
Hubungan Ku dengan Lelaki itu terkesan sangat dingin dan baik-baik saja walaupun Kita sering sekali berbeda pendapat hingga berantem, hubungan Kita mulai renggang dan banyak sekali masalah setelah seorang perempuan yang sudah Ku anggap Adik itu masuk ke dalam hubungan Kita.
Lelaki yang sudah Ku anggap sebagai dunia Ku kini rela memilih dan membela perempuan itu, mencampakkan dan mengasingkan Ku seolah kita tak pernah kenal sama sekali.
Sebut saja Rena, Dia dengan tega berhasil merenggut semua kebahagiaan yang sudah Aku rasakan. Bahkan Dia pun tak segan-segan untuk menguras semua uang dan tabungan yang Lelaki Ku punya untuk membiayai anak perempuannya.
Aziz, ya! Dia lelaki Ku yang sudah berhasil membuat Ku bahagia sampai menjadi orang gila seperti ini. Dia yang memberi Ku kebahagiaan, Di yang memberi Ku kenyamanan, Dia yang memberi Ku arti sebuah rumah namun Dia sendiri yang membuat Ku hancur lebur tak berbentuk seperti ini.
Dunia memang terkesan tidak adil bagi Ku, namun dibalik semua ini Aku yakin ada sedikit kebahagiaan yang akan menghampiri Ku walaupun diri ini sudah sangat tak mempercayai hal apapun lagi.
**********
"Pulang .. Pulang Bu Arin" guyonan Ahmad salah satu Staff dikantor Ku.
"Tanggung nih Mad dikit lagi kelar"
"Emang anak-anak yang lain udah pada beres ?" tambah Ku pada Ahmad.
"Setau Ku sih udah Bu, lagian ruangan diatas juga udah pada gelap" jawabnya sambil mengabsen dekat meja Ku.
"oke baik, tunggu Aku dong Mad! Bentar lagi nih tanggung" pinta Ku pada Ahmad.
"Berani kasih apa nih Bu minta ditungguin ?" canda Ahmad kepada Ku.
Aku hanya membalasnya dengan tertawa kecil dan melanjutkan kembali semua kerjaan Ku agar cepat selesai.
"Bu, kok selama kerja disini Aku gak pernah liat Ibu dijemput atau dianter cowo ?" tanya nya membuat Ku sedikit kaget.
__ADS_1
Aku masih menghiraukan pertanyaan itu dan sibuk dengan semua kerjaan Ku.
"Yaelah ditanya gitu doang juga gak jawab" kesal Ahmad.
"atau mau jadi cewe Aku, Bu?" tanya nya membuat Ku berhenti sejenak mengerjakan berkas yang sedang Aku susun.
"Lain kali kalo ngomong itu pake bismillah ya Mad" jawab Ku sambil mencubit pelan tangannya yang sedang duduk disamping Ku.
"Yeh kalo bener juga gak apa-apa kok Bu, hahaha"
Aku hanya menggeleng-gelengkan kecil kepala Ku melihat kelakuan Staff Ku yang satu ini, memang Ahmad tuh salah satu karyawan yang tengilnya gak ada dua. Dia juga pribadi yang sangat humble sama siapapun, bercandaannya yang seperti ini pun selalu Aku jadikan hiburan disaat diri ini mumet akan kerjaan yang gak pernah ada habisnya.
"Huhh .. finally kelar juga" ucap Ku sambil meregangkan kedua tangan Ku.
"Beres Bu ?" tanya Ahmad dengan nada suara yang semangat.
"Kelar dong, Aku beres-beres dikit meja Ku. Tunggu ya!"
"Santai Bu, lagian aku juga kalo pulang dikostan bete"
"Bu, gimana kalo kita balik ini ngopi dulu ?" ajak Ahmad yang sangat semangat sambil menatap Ku.
"Ngopi ya ? Ngopi dimana nih Mad ?" tanya Ku yang masih sambil sibuk membereskan meja kerja.
"Gamana, Bu ?" tanya nya kembali.
"Yaudah ayo! Tapi Kamu yang bayarin ya" bercandaku pada Ahmad.
"Apasih yang engga kalo buat Bu Arin mah"
Akhirnya Kita pun memutuskan untuk ngopi sejenak setelah lepas kerja, Ahmad membuka kan pintu mobil nya untuk Ku dan kita pun jalan ke tempat kopi. Didalam mobil aku sibuk mengecek handphone Ku karena seharian ini aku tak sama sekali memegang handphone Ku dan sibuk oleh kerjaan yang menumpuk.
"ternyata banyak banget telpon masuk dan pesan masuk ke sosial media Ku" lirih Ku dalam hati
"Tapi ini siapa ya ? sebelumnya aku tak pernah mengenal nomer ini"
"Atau hanya orang iseng aja ya ?"
"ah ngapain Aku harus mikirin hal yang gak penting kaya gini ?"
__ADS_1
"Serius amat Bu" tiba-tiba Ahmad mengagetkan Ku dengan menyenggol bahu ku.
"Ih apaan sih! "
"Ya, lagian Ibu serius amat sih ngecekin hp nya. Sampe aku aja dianggurin kaya gini"
"iya sorry, sorry! Aku lagi bingung aja sih Mad"
"Bingung ? Bingung kenapa Bu ?" tanya Ahmad dengan penasaran.
"Iya, jadi dari sore tadi ada pesan masuk ke sosial media Ku dan ada beberapa kali telpon yang masuk ke dalam handphone Ku, Mad"
"Dan aku gak tau itu siapa" Jelas Ku pada Ahmad.
"Hahaha Ibu, Ibu lagian cuma hal kaya gitu aja Ibu bingungin"
"Bales aja Bu atau angkat aja siapa tau itu orang yang mau kasih Ibu 10Miliar" candanya mencairkan kebingungan Ku.
"Bu, ngopi disini aja kali ya gimana ?" tanya nya, Ahmad menepis semua kebingungan dimobil pada saat itu.
"Boleh, boleh deh Mad" jawab Ku sambil memasukkan Hp kedalam tas dan sedikit merapikan rambut yang terurai panjang ini.
Ahmad pun memarkirkan mobilnya didepan tempat kopi yang mau Kita masuki, mencabut kunci mobil dan menarik spion kaca mobil yang ada didalam untuk membenahi sedikit rambutnya yang acak-acakan.
"Bu, kalo diperhatiin gini ternyata Ibu tuh cantik juga ya"
"cuma ya sedikit agak galak aja hehe" tambahnya sambil sibuk mengaca.
"awas loh lama-lama Kamu suka juga Mad sama Aku" jawab ku yang sambil sibuk menyisir rambut.
"ya gak apa-apa sih Bu, kalo gitu kan tinggal Aku nikahin Ibu aja"
"becandanya udah mulai kurang ajar aja nih anak"
"udah beres belum ? Ayo ah, biar ga kemaleman kita ngopi nya" ajak Ku pada Ahmad.
Kita pun keluar dari mobil dan berjalan menuju kafe itu, tiba-tiba aku dibuat kaget karena ketika berjalan Ahmad merangkul Ku dari samping. Aku hanya bisa menatap Ahmad dan Ia pun hanya membalas tatapan Ku dengan senyuman manisnya.
"silahkan Ibu Arin" Ahmad membuka kan pintu dan membungkuk kan setengah badannya seolah seperti pelayan yang ada dikafe itu.
__ADS_1
"Apaan sih Mad ah" Aku tersipu malu dan pipi Ku sedikit memerah karena tingkah lakunya.
Ahmad hanya tertawa kecil melihat Ku berjalan masuk untuk memesan kopi dan beberapa makanan, mengikuti Ku dari belakang dan merangkul kembali ketika ku berjalan.