
"Rin Gue harap ini tangisan terakhir yang Gue liat ya" pintaku pada Arin.
"Masih mau disini atau pulang nih ?" tanyaku sembari memandang wajah Arin yang terlihat sangat lemas dan sedikit pucat.
"Hmm .. Pulang deh kayanya Ziz" jawab Arin sedikit tersenyum saat melihat ke arahku.
"Oke, lets go kalo gitu"
"Ta.. Tapi semua makanan ini gimana Ziz ?" tanya Arin sedikit kebingungan.
"Udah gampang, tar kalo Lu mau Gue bawain yang lebih banyak dari ini"
Aku menuntun lembut tangan Arin untuk meninggalkan tempat tersebut. Memakai jaketku yang kebesaran dibadan Arin membuatku tersenyum kecil saat melihatnya.
Ku pakaikan helm dikapala Arin dan nyalakan motor, tapi tak Aku sangka rupanya Arin sudah memeluk ku tanpa Aku pinta. Aku mengusap lembut kedua tangannya yang melingkar dipinggangku.
"Kok masih diem sih Ziz, ayo Aku udah siap nih"
"Makasih ya Rin" membalikkan badanku membuat pelukan Arin terlepas dan menatap wajahnya yang gemas.
"Masih belum kelar juga nih bilang makasih terus ?" mencubit kecil tanganku.
"Aw.... Aw.. Aw iya iya iya, sakit tau ah"
"Uuuu ciyan, coba sini mana liat yang sakitnya" menarik tanganku yang ia cubit tadi.
Akhirnya Kita melanjutkan jalan untuk pulang, sepanjang perjalanan tak ada obrolan sedikitpun dari Aku maupun Arin. Menikmati jalanan dimalam yang sangat dingin itu, beberapa kali aku mencuri-curi pandangan untuk sesekali melihat Arin yang memeluk Ku saat itu. Wajahnya yang sangat serius rasanya ingin sekali aku menggodanya hingga kesal.
"Rin, dingin nih" Ucapku membuka obrolan pada saat itu.
"Eh iya, kan jaketmu Aku pake ini"
"Yaudah, yaudah tunggu aku lepas ya"
"Eh.. Jangan, jangan dong Rin. Gue kan cuma becanda doang, lagian pelukan jaketnya kan udah keganti sama pelukan yang Lu kasih"
"Mulai .. Mulai deh Ziz ah" memasang wajah yang cemberut.
Setelah lamanya diperjalanan, akhirnya Aku sampai didepan rumah Arin. Arin turun dari motorku dan Aku mematikan kontak motor.
"Aziz, makasih loh"
"Makasih buat apalagi Nona Cantik" potongku saat Arin berbicara.
__ADS_1
"Ihhhhh dengerin Aku dulu makanya"
"Makasih buat jaketnya hee.. Hee" cengengesan sembari memberikan jaket itu padaku.
"Iya, iya"
"Kok gak langsung dipake sih, ini kan sudah malem Ziz"
"Pake gak!" perintahnya dengan galak.
"Aku nggak bakalan masuk rumah kalo jaket itu belum dipake" ancamnya padaku.
Diliat-liat kelakuan Arin ini sangat lucu ternyata, terlepas dari jutek dan judesnya Dia ternyata Dia sosok cewek yang sangat perhatian. Aku memakai jaketku sesuai dengan perintah Arin saat itu.
"Udah Gue pake nih, sekarang Lu masuk cepetan!" suruh ku pada Arin.
"Iya, iya. Bye Ziz, hati-hati dijalan ya" ucapnya sambil berjalan meninggalkanku.
Setelah kupastikan Arin memasuki rumah, Aku bergegas mencap gas untuk singgah kerumah Dara. Sebelum mengantarkan Arin pulang, Aku sudah lebih dulu mengabari Dara terkait pertemuan hari ini. Aku harus lebih banyak mendapatkan informasi tentang Arin bersama Adit dulu.
Aku juga harus memastikan bahwa langkahku kedepannya untuk membalas wanita yang sudah menghancurkan Arin tak salah langkah. Aku harus bisa memberi wanita itu pelajaran setimpal dengan apa yang sudah ia lakukan pada Arin hingga Arin sehancur ini.
...****************...
"Duh si Aziz mana sih, katanya nggak akan lama" lirihku sambil mondar-mandir diteras rumahku sambil melihat sekeliling.
Arin terlalu baik untuk menerima semua ini, bahkan jika Aku bisa membalaskan itu dengan tanganku sendiri akan kubalas pada saat itu juga. Namun sayangnya kala itu Arin melarangku.
"Ra !" teriak suara lelaki yang memanggilku sedikit keras.
Saat kulihat ternyata itu Aziz yang sedang memarkirkan motornya didepan rumahku.
"Ziz, motornya mending masukin aja deh sini kerumah Gue" pintaku pada Aziz karena Aku takut seseorang yang mengenali Arin melihatnya.
"oke, oke" teriaknya
Aku persilahkan Aziz duduk diteras rumahku dan membuatkannya secangkir minuman untuk menemani kita mengobrol.
"Nih minum dulu" memberikan secangkir minuman pada Aziz.
"Aduh Ra jadi ngerepotin nih"
"Enggalah santei aja"
__ADS_1
"Jadi, gimana tadi Ziz ?"
"Lu berhasilkan buat Dia bisa buka hatinya ?" tanyaku dengan sangat penasaran.
"Gue nggak tau ya Ra kalo soal itu, tapi yang jelas tadi Dia nangis sejadi-jadinya"
"Hah.. Nangis ? Lu apain si Arin sampe bisa nangis ?" kagetku mendengar jawaban dari Aziz.
"Dia keinget Adit Ra dan Gue nggak bisa berbuat banyak saat liat Dia nangis kaya gitu"
"Gue bingung Ra"
"Oh.. Sudah Ku duga, pasti Dia bakalan nangis"
"Lah Lu udah tau tapi sok sok an kaget, gimana sih Lu Ra!"
Sebenernya Aku sudah ingin memberitahu Aziz lebih dalam tentang apa yang terjadi pada Arin dan Adit dulu, tapi Aku rasa Aku harus lebih hati-hati untuk mana yang akan Aku ceritakan dan mana yang tidak akan Aku ceritakan.
Aku hanya takut jika Aziz mengetahui yang sesungguhnya Dia akan lebih emosi lagi pada wanita yang sudah menghancurkan hidup Arin, Aku nggak mau suasananya menjadi lebih keruh ketika Aziz melakuka sesuatu nantinya.
"Ra, boleh nggak Lu ceritain semuanya tentang Arin dulu ketika bersama Adit"
"Janji deh Gue bakalan bisa jaga cerita ini" pintanya.
"Duh.. Gimana ya Ziz, Gue sih sebenernya mau-mau aja ceritain semuanya. Ta.. Taa.. Tapi"
"Tapi apa Ra?" penasaran Aziz memotong pembicaan.
"Tapi kayanya Gue nggak bisa deh seriusan Ziz"
"Ra, Lu percaya kan sama Gue ?"
"Gue cuma mau balikin Arin yang dulu lagi Ra"
"Lu kan temen deket Adit, masa iya sih nggak tau Ziz !" sedikit memancing Aziz
"Ra, Gue cuma tau kalo hubungan mereka itu baik-baik saja dan Gue juga tau kalo Adit dulu ngekhianatin Arin dengan wanita yang baru ia kenal 2tahun kebelakang diakhir hubungannya bersama Arin"
"Dulu Adit nggak banyak cerita apapun sama Gue di Rumah Sakit, yang Adit bilang cuma titip Arin doang. Udah"
"Ziz, Gue harap Lu satu-satu nya laki yang bisa Gue percaya saat ini"
"Dan Gue juga berharap melalui Lu Arin bisa lagi sedikit membuka hatinya untuk siapapun itu"
__ADS_1
"Kok untuk siapapun sih, ya untuk Gue lah jelas Ra" tegasnya padaku.
Aku sangat melihat kesungguhan Aziz untuk mendekati Arin, namun Aku juga nggak bisa langsung percaya gitu aja pada lelaki yang baru kenal semalam karena meminta kontak Arin. Aku harus lebih dulu lihat perjuangan Aziz sejauh mana untuk mendapatkan Arin karena Aku tak mau melihat sahabatku lagi menjadi hampir gila karena lelaki.