JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
3. Aziz Berusaha Mengabari Arin


__ADS_3

"Bodoh! Gak secepat ini juga Mad, arggggg! Gimana sih" Kesal Ku dalam hati.


Aku melihat raut wajah Bu Arin yang mungkin sangat risih dengan semua pertanyaan Ku, berkali-kali juga selalu menghelakan nafasnya dengan begitu panjang.


"Aku harus bisa mencairkan suasana kembali agar Bu Arin masih tetap merasa nyaman hari ini" pikir Ku saat itu.


*drrrrtttt .. Drrrrttt* tiba-tiba terasa bergetar dari dalam tas Ku.


Ketika Ku lihat rupanya hp Bu Arin yang bergetar, saat ku lihat ternyata ada yang menelpon Bu Arin dengan nomer yang tak Dia save.


"kenapa Mad ?" tanya Bu Arin pada Ku yang sedang serius menatap layar hp Bu Arin.


"Ada yang nelpon Bu, nih" Aku memberikan hp nya pada Bu arin.


Saat Bu Arin melihat hp nya, ternyata Dia langsung menyimpannya. Tak merespon sama sekali telpon tersebut dan melanjutkan kembali merokok.


"kenapa gak diangkat Bu ?" tanya Ku dengan penuh rasa penasaran.


"Nomer ini yang dari tadi sore menelpon Ku, Aku tak mengenali nya" singkat nya.


"Siapa tau kan penting Bu" jawab Ku kembali berusaha meyakinkan Bu Arin.


"Kalau Dia menelpon Ku penting, Dia akan mengabari Ku lewat chat. Tapi rupanya engga kan ?"


"Udah lah gak usah terlalu mementingkan hal seperti ini, lebih baik Kita menikmati hari ini kan ?" tambahnya dengan nada suara yang tenang.


...****************...


"Duh siapa sih sebenernya ini yang menelpon ?" cemas Ku dalam hati.


Aku harus berusaha tenang pada situasi ini, agar Ahmad juga tak berfikir yang aneh-aneh pada Ku. Seolah mengabaikan telpon masuk itu padahal aku sangat penasaran sekali dengan prihal tersebut.


"Mad, Aku izin ke kamar mandi dulu ya"


"oh, iya iya Bu mangga , jangan lama ya!"


"engga lah Mad, lagian lama-lama dikamar mandi mau ngapain"


Aku berjalan menuju kamar mandi sambil memikirkan yang menelpon tersebut, tak seperti biasanya nelpon hingga berkali-kali seperti itu.


sebenarnya Aku sudah curiga pada 1 nama, namun Aku tak mau salah menuduh pada pikiran Ku.


Setibanya dikamar mandi, Aku menatap cermin besar yang terpampang besar didalam itu. Mencuci tangan Ku dan mengusap pada wajahku sambil menyender.


"huhh .. Apaan sih Ahmad hari ini"

__ADS_1


"Pake ngomong kaya tadi segala" ucap Ku pelan sambil menghembuskan nafas.


Sebenernya sih Ahmad itu lelaki baik satu-satunya yang Aku kenal dikantor, bahkan Dia juga selalu rela untuk menunggu Ku saat Aku lembur. Sering sekali mengantarkan Ku pulang jika Aku tak membawa motor.


Tapi aku tau, dikantor yang menyukai Ahmad itu sangat banyak, bukan Aku tak mau menerimanya tapi aku sudah sangat nyaman menganggapnya sebagai Kakak Ku. Tak jarang Dia juga selalu mendengarkan semua cerita dan curhatan Ku ketika aku sedang down.


...****************...


"Arin kok masih saja tak mengangkat telpon dari Ku ya ?"


"apa iya Dia masih sibuk ?"


Mendapatkan Arin adalah sesuatu yang sangat susah bagi Ku, apalagi Arin sangat misterius dan tertutup sekali tentang diri nya.


Aku harus melakukan segala cara agar bagaimanapun Arin bisa Aku miliki sebelum dimiliki oleh lelaki lain.


"Hay Arin, ini aku Aziz" pesan singkat Ku yang Ku kirim kan pada Arin.


Berharap Arin kali ini membalasnya dan mau berkabar dengan Ku.


...****************...


"Bu Arin kemana ya ? Kok lama sih ?" khawatir Ku saat menunggunya yang tak kunjung datang.


Aku membakar 1 batang rokok yang Ku bawa sambil menunggu Bu Arin.


"Dari kejauhan aja secantik itu, Arin .. Arin .. " gunam Ku dalam hati sambil tersenyum.


"sudah Bu ?" tanya Ku saat Bu Arin duduk.


"udah dong, lama ya ?"


"maaf ya udah buat nunggu" tambahnya


"santei Bu, kaya yang kesiapa aja" goda Ku oada Bu Arin dengan berniat untuk mencairkan suasana.


"Jadi kapan nih Ibu mau ambil libur diminggu ini ?" Aku membuka obrolan.


"Kapan ya ? Gak tau nih Mad lihat besok saja"


"Kok lihat besok sih Bu ?" tanya Ku dengan penuh rasa penasaran.


"Ya Aku kan mau lihat dulu semua berkas yang Aku lagi kerjain, sambil tanya juga sama partner kerja Ku biar gak bentrok"


"Oh gitu, yaudah semangat deh yang jelas kalo libur Ibu jaga kesehatan ya! Dipake istirahat waktu liburnya jangan malah ngerjain kerjaan kantor dirumah awasloh! "

__ADS_1


Bu Arin itu salah 1 karyawan dengan segudang prestasi, sering sekali Dia membawa tugas kantornya kerumah untuk Dia kerjakan. Saking rajin dan royal nya kepada perusahaan Dia pernah mengerjakan semua tanggung jawabnya walau Dia sedang dirawat dirumah sakit.


Semangat nya yang tinggi dan kepintarannya yang luar biasa membuat Ku kagum dan terpana pada sosok Bu Arin ini, Dia juga tak oernah menganggap bawahannya sebagai anak buah. Bahkan kesulitan kerja bawahannya pun sering kali Bu Arin bantu dan selesai kan itu sendirian.


...****************...


"udah malem nih Mad, pulang yuk ?" ajak Ku pada Ahmad sambil melihat jam yang melingkar ditangan kiri Ku.


"ayok Bu, Aku anter sampe depan rumah ya"


"tunggu Aku bayar dulu ya Bu" berlari kecil bergegas meninggalkan Ku dimeja.


Aku tersenyum kecil melihat tingkah Ahmad seperti ini, tak usah harus Ku pinta untuk mengantarkan Ku. Dia pasti selalu berinisiatif untuk melakukan itu pada Ku.


Aku berjalan pelan menuju Ahmad yang sedang membayar dikasir, berdiri dibelakangnya dan menunggu beres.


"awwwwwwww" jerit kecil Ku karena Ahmad meninjak kaki kanan Ku


"eh Sorry .. Sorry"


"Astaga Ibu, lain kali kalo nunggu jangan dibelakang kaya gini. Keinjek kan" memutar badannya dan langsung berjongkok dihadapan Ku sambil mengusap-ngusap kaki Ku.


"Sakit ya Bu ?"


"Mana mana yang sakit nya Bu ?" tanya Ahmad dengan sigap.


Melihat kelakuan Ahmad yang seperti ini Aku dibuat kagum olehnya, perhatiannya membuat semua orang yang ada didalam kafe ini menatap Kami. Tak sedikit orang yang melihat tingkah Ahmad tersenyum kecil.


"Mad .. Mad udah, yuk pulang sekarang" mengangkat tubuh Ahmad yang saat itu berjongkok.


"Malu tau banyak yang liatin" bisik Ku pada Ahmad.


Ahmad hanya menatap Ku saat Aku coba untuk mengangkat tubuh Ahmad, tersenyum kecil dan terus menatap Ku.


"Mad apaan sih!" aku mengusap halus wajah nya yang saat itu terus saja memandangi Ku.


Ahmad langsung berdiri dan merangkul Ku berjalan keluar dari tempat itu, membukakan pintu mobil untuk Ku dan Dia berlari pelan menuju pintu mobil yang satu nya.


"Bu terimakasih ya untuk waktunya hari ini" ucap nya saat Dia duduk dan menyalakan mobil.


"Sama-sama Ahmad Ku, terimakasih juga loh udah mau bayarin semuanya" canda Ku pada Ahmad.


"Bukannya memang sudah biasa ya Aku yang bayarin semuanya kalo tiap kita ngopi" bisik nya mendekatkan kepalanya kepada Ku.


"Isssssh apaan sih Mad ah" mencubit pipinya dan menjauhkan mukanya dari muka Ku.

__ADS_1


"canda dong Bu ya ampun" mengusap halus kepala ku sambil tersenyum.


__ADS_2