JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
14. Informasi Tentang Rena


__ADS_3

"Pak maaf, apakah selama ini Bapak pernah melihat laki-laki ini mengantarkan atau menjemput Rena ?" tanyaku penuh penasaran pada orang itu.


"Bentar, bentar saya ingat-ingat dulu"


"Kalau tidak salah orang ini pernah beberapa kali main kerumah Mbak Rena, bahkan kalau saya nggak salah ini laki juga sering menginap dirumahnya" tambahnya.


Mendengar ucapan itu amarahku semakin memuncak, tanganku mengepal penuh dengan emosi dan rasanya ingin sekali Aku langsung dobrak rumahnya.


"Serius Pak ?" tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan.


"Ya, serius masa Bapak bohong. Kalo kalian nggak percaya boleh tuh tanya sama penjaga warung yang ada disana" jawabnya sambil menunjuk pada warung yang ia maksud.


Aku dan Dara pun menoleh kewarung itu dan akan kupastikan sendiri kebenaran ucapan Bapak ini. Pamitku dan Dara pada Bapak ini dan mengucapkan terimakasih.


Aku dan Dara berjalan untuk mengunjungi warung yang Bapak itu tunjuk.


"Ra, Disituasi ini Gue telat nggak sih datengnya ?"


"mendengar semua penjelasan dari orang itu rasanya Gue marah sama diri sendiri, sesakit apa Arin dulu"


"Lu gak telat sama sekali Ziz, yang terpenting seengganya Kita bisa kasih pelajaran sedikit ke cewe ****** itu" jawabku.


Setelah berada didepan warung tersebut Akupun langsung mengeluarkan hp dari saku dan menanyakan tentang Adit.


"Persimi Bu, Saya mau tanya boleh ?"


"Boleh, boleh ada apa ya ?"


"Selama Ibu menjaga warung disini, apakah Ibu pernah liat lelaki ini ?" tanyaku sambil melihatkan photo Adit dilayar hpku.


"Lah inimah Mas Adit, Saya kenal kalo sama Dia. Kan sering banget belanja kesini sama Keyra"


"Keyra ?" tanyaku dengan heran.


"Iya ituloh anaknya Mbak Rena, Mas"


"Ada apa ya Mas ?" tanya penjaga warung tersebut.


"Engga Bu, Adit kebetulan teman Saya. Banyak yang bilang kalo sekarang Adit tinggal didaerah sini jadi Saya coba tanya-tanya he.. He" jawabku sambil tertawa kecil agar Ibu ini tidak curiga.


"Oh gitu toh, coba Mas nya jalan keujung sana nanti ada gapura masuk aja Mas kesana. Rumah Mbak Rena gak jauh kok" jelasnya.

__ADS_1


"Gitu ya Bu, tapi kalau boleh Saya tau Adit tinggal sama siapa ya Bu ?" tanyaku kembali.


"Setau Saya sih sama Mbak Rena tapi kalau tidak salah Ibunya Mbak Rena juga tinggal dirumah itu"


"Hmm.. Baik makasih ya Bu untuk informasinya" tutup pembicaraan dan Aku meninggalkan warung tersebut.


"Ziz, gila ya Adit sejahat itu" ucap Dara dengan lemas.


"Kalau Gue yang jadi Arin mungkin Gue nggak akan bisa sekuat dan sesabar Dia yang selalu memberikan maaf berulang kali"


"Padahal Adit tuh kalau didepan siapapun selalu memperlakukan Arin dengan baik, eh taunya dibelakang Arin kelakuan Dia melebihi siluman ular"


"Gue juga nggak nyangka Ra selama ini Adit sejahat itu"


"Padahal dulu Adit selalu membanggakan Arin pada siapapun"


Berjalan menuju motor Aku dan Dara memutuskan untuk pulang terlebih dahulu sambil menunggu pukul 8 malem untuk Ku teruskan lagi rencana ini.


"Hay Arinku, jangan lupa makan ya!" ketik ku pada Arin.


"Ra, hari ini kan Arin libur kerja. Kira-kira kalo Gue samperin kerumahnya gimana menurut Lu ?" tanyaku pada Dara.


"Ya samperin aja sana, awas tapi jangan Lu culik" godanya padaku sambil menyenggol bahuku.


"Selain coklat makanan kesukaan Arin apa Ra ?" tanyaku kembali.


"Setauku Dia selalu happy kalo makan yang berbau coklat dan eskrim sih"


"Oke baik, balik anter Lu Gue beli itu semua"


"Buat Gue mana Ziz ?" candanya sambil tertawa.


...****************...


Ketika Aku sedang mengecek semua email dilaptopku tiba-tiba hpku berbunyi dan ternyata Aziz yang mengabariku sekedar mengingatkanku untuk makan. Memandang layar hp sambil senyam senyum membaca pesan singkat ini membuatku sedikit lupa akan Adit.


Aziz memang orang baru yang baru kutemui beberapa hari lalu, namun dengan Aziz Aku merasakan kenyamanan yang tak pernah kutemui dilelaki manapun selama ini yang datang pada kehidupanku.


Dinginnya Aziz membuatku semakin penasara dan perhatiannya Aziz pun membuatku ingin mengenalnya lebih lama. Selalu mempunyai cara untuk membuatku menangis dan tersenyum diwaktu yang bersamaan, bahkan Dia mampu memberikan apa yang sebenernya Aku suka.


Aku bahkan merasa beda ketika bersama Aziz, seperti merasa mempunyai semangat hidup kembali. Namun Aku selalu takut dengan kehilangan ketika sudah merasakan hal itu.

__ADS_1


"Hay Ziz, pasti dong" balasku dengan singkat.


Sebenarnya ingin sekali hari ini Aku mengajak Aziz untuk sekedar pergi keluar mencari angin dari kesumpekan ruang lingkup kerjaku, tapi Aku takut malah mengganggunya dadi segala apapun kegiatan Dia.


Setelah membalas pesan Adit Aku melanjutkan kembali mengecek semua email tentang kerjaanku dan Aku beranjak mandi, meninggalkan hp dan laptopku diatas kasur.


...****************...


"Apakah Aziz bisa menjaga Arin dari segala hal tentang kecewa ?" tanyaku dalam hati ketika jalan pulang bersama Aziz.


Aku hanya takut jika nantinya Aziz mengecewakan Arin lagi seperti Adit mengecewakan Arin, Aku tak mau untuk kedua kalinya melihat sahabatku terpuruk karena sebuah perasaan.


"Ziz, Gue bener-bener titipin Arin sama Lu ya" tegasku pada Aziz.


"Ra percaya sama Gue ya!"


"Gue akan berusaha semampu Gue buat jaga Arin dari apapun dan siapapun" tambahnya.


"Sampe Gue denger Lu nyakitin Arin, Gue nggak akan segan-segan buat hajat Lu"


"Jadi cewe kok galak amat sih Ra hahaha"


"Gue cuma gak mau liat Arin kecewa buat kedua kalinya lagi Ziz"


"Tenang, tenang Ra! Udah pokoknya Lu percaya sama Gue. Asal Lu harus selalu mau bantuin Gue dalam hal ini ya" pintanya.


Dari sekian banyak lelaki yang berusaha untuk mendekati Arin, Aku hanya yakin dan bisa mempercayai Aziz. Tak mudah bagiku sebenernya untuk mempercayai lelaki untuk Arin yang terlalu baik.


"Ziz, Gue boleh tanya nggak sih ?" tanyaku menepuk pundak Aziz


"Tanya aja Ra, mau tanya soal apa ?"


"Sebenernya Lu deketin Arin bukan karena Lu ketitipan sama Adit doang kan?"


"Kalo Gue boleh jujur Ra sebenernya diwaktu pertama Gue jemput Arin pun Gue udah tertarik sama Dia, terlepas dari omongan Adit yang nitipin Arin ke Gue ya Gue juga punya perasaan yang besar sih ke Arin" jelasnya padaku.


"Arin beda banget sama semua cewe yang pernah Gue deketin, Dia punya daya tarik tersendiri yang itu nggak ada diri cewe manapun Ra"


"Lu jawab ini serius nggak sih ?" tanyaku dengan heran ketika sudah mendengar penjelasan Aziz.


"Bukan karena penasaran doang kan ?"

__ADS_1


"Lu liat aja deh kedepannya ya Ra, karena susah sih ngejelasin sama orang yang tingkat kepercayaannya itu sudah hilang"


__ADS_2