JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
24 Arin Terbayang Masa Lalu


__ADS_3

Memandangi Arin sepanjang jalan adalah obat dari segala kekacauan saat ini, wajahnya yang tenang mampu membuatku juga menjadi tenang. Aku selalu berharap bahwa Aku bisa menemani hari-hari Arin lebih lama.


"Yakin nih Lu gak mau belanja Rin ?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan.


"Engga Ziz, kita langsung pulang aja ya" pintanya sambil berbalik ke arahku dan memegang lembut tanganku.


"Yaudah deh iya .. iya"


Setelah sampai didepan rumah Arin, Arin terdiam sejenak.


"Sampai Rin" ucapku.


"Ziz" memanggilku dengan lemas sambil sedikit tertunduk.


"Rin Lu kenapa ?" tanyaku khawatir.


"Rin!" memegang wajahnya dengan kedua tanganku.


"Ziz, boleh Aku tanya ?" Arin menatapku.


"Boleh, boleh. Lu mau tanya apa ?" jawabku dengan sigap.


"Sebenernya Kamu tiba-tiba datang kedalam hidupku untuk tujuan apa Ziz ?" tanyanya membuatku sedikit kaget.


"Aku hanya tak ingin merasakan sakit dan kecewa untuk kedua kalinya lagi didalam kehidupan yang akan Aku mulai lagi" jelasnya menunduk.


"Rasanya sakit yang kemarin pun masih sangat terasa jelas dikehidupanku saat ini, Aku berusaha menyembuhkannya sendiri setengah mati"


"Rin, kenapa tanya kaya gitu ?"


"Lu ngerasa Gue bakalan sakitin Lu lagi ?"


"Engga Rin! Gue bener-bener tulus sayang sama Lu" jawabku sedikit keceplosan.

__ADS_1


"Ehh.. Maksud Gue ya Gue bakalan jagain Lu semampu Gue" tambahku.


Arin hanya menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku duluan ya Ziz" pamitnya padaku.


"Tunggu Rin!" menghadang Arin yang kala itu mau membuka pintu mobil.


Aku langsung berlari kecil keluar mobil dan membuka kan pintu mobil itu untuk Arin, mengantarnya sampai benar-benar masuk kedalam rumah.


Setelah Arin Aku pastikan masuk dan menutup gerbang hingga pintu rumahnya, Aku langsung beranjak untuk masuk kembali kedalam mobil.


"Arin kenapa tanya kaya gitu ya ?" tanyaku.


"Ketakutan Arin pada laki-laki sungguh besar, sampai ia tak segan-segan untuk menjelaskan bahwa ia takut untuk kecewa lagi"


"Ren, tunggu tanggal mainnya! Gue pastiin hidup Lu bakalan hancur lebih dari Arin yang udah Lu buat hancur" amarahku saat itu.


Aku terdiam sejenak didalam mobil dan masih terus memikirkan soal pertanyaan Arin.


"Tapi kecepetan ngga sih ?"


Kebingungan memikirkan hal itu, Aku langsung mengabari Dara untuk ku jemput sekarang juga. Agar Aku bisa dapat pendapat dari Dara soal ini.


Setelah mengabari Dara dan Dia mengiyakan, Aku langsung bergegas untuk menjemput Dara saat itu juga tanpa pikir panjang.


...****************...


"Harapku semoga tujuan Aziz mendekatiku benar-benar tanpa maksud dan tujuan apapun" lirihku didalam kamar yang duduk diatas kasur.


Berjalan menuju meja kerjaku terpasang dengan jelas foto polaroidku bersama Adit, foto yang dimana kala itu Aku merasakan wanita satu-satunya yang paling beruntung didunia karena dimiliki oleh lelaki yang sangat dekat dengan keluargaku.


Aku teringat hal dimana Aku menemani Adit dari keadaan susah dan selalu memberi support tentang apapun yang Adit lakukan kala itu, bahkan Aku berani mengorbankan waktuku untuk membantu usaha Adit.

__ADS_1


Keadaan memang tak berpihak padaku, tapi Aku selalu yakin pasti akan ada sesuatu indah dibalik segala apapun kejadian. Aku juga yakin bahwa karma itu datang tidak akan pada pintu yang salah.


Dulu Aku mengenal Rena karena Dia adalah pacar dari Saudaraku, sebut saja Bagas. Dia membawa dan mengenalkan Rena pada saat keluarga besar sedang mengumpul dirumahku.


Memang setelah Bagas mengenalkan Rena pada keluarga banyak sekali keluarga yang tidak menyukai Rena karena latar belakangnya yang sudah mempunyai Anak dan bekerja sebagai seorang pemandu karaoke.


Namun seiring berjalannya waktu Bagas memintaku untuk meyakinkan semuanya bahwa Rena tak seperti apa yang kita pikirkan, sampai dimana semua keluarga besarku akhirnya bisa menerima Rena dengan baik.


Tak jarang jika semua keluargaku sedang mengadakan acar Renapun selalu Bagas hadirkan ditengah-tengah kami dengan alasan agar semakin dekat dengan keluarga. Keluargapun akhirnya bisa benar-benar menerima dengan sangat amat baik Rena dan juga anaknya.


Bahkan Ibu Bagaspun sering sekali mengasuh anaknya Rena jika mereka akan main keluar, Aku pun ikut dekat dengan anaknya karena sering dibawa main kerumahku.


Sampai pada suatu ketika Rena diusir dari rumahnya dengan alasan yang tak jelas dan Dia menginap dikamarku berbulan-bulan, Aku sudah menganggpanya sebagai Adikku sendiri. Dia memakai bebas skincareku, bajuku bahkan tidur ditempat tidurku.


Aku tak sama sekali menaruh kecurigaan pada Rena selama kita kenal karena Aku fikir Rena dan Bagas adalah pasangan yang cocok yang akan menuju ke jenjang yang lebih serius.


Namun pikiranku saat itu salah! Rena malah menjadi orang pertama yang menghancurkan hubunganku bersama Adit. Dia menggoda Adit jika kebetulan bertemu diacara keluarga, bahkan yang paling membuatku geram adalah mereka menjalin hubungan di 2tahun terakhir dalam hubunganku.


Hancur! Karena Aku banyak sekali menemukan potongan video mereka sedang berduaan, sering sekali Adit ketauan menyimpan nomer Rena dengan nama lelaki, jika Adit sedang berduaan bersamaku Dia juga memblokir kontak Rena.


Sampai dimana Tuhan memberikan petunjuk padaku malam itu, Aku memergoki Adit dan Rena disuatu Bar dan mereka mabuk berdua hingga kehilangan kesadaran. Saat Aku buntuti mereka hingga pulang akhirnya mereka berkunjung ke salah satu hotel yang tak jauh dari tempat Bar tersebut.


Membuntuti mereka adalah hal yang tak mau Aku ulang untuk hal apapun dikehidupanku, mengikuti mereka hingga masuk kedalam hotel dan mendobrak kamar yang mereka pesan adalah titik tertinggi kehancuran.


Yang dimana saat itu Aku menyaksikan pacarku sendiri sedang telanjang bulat bersama perempuan itu. Aku sudah tak bisa mengeluarkan setetes airmataku, tak bisa berteriak bahkan emosi. Aku hanya terdiam mematung dan rasanya bergetar seluruh badanku.


Aku hanya menyandarkan badanku yang lemas ini ketembok kamar tersebut, berusaha jalan meninggalkan mereka dengan lemas adalah sesuatu yang sampai saat ini belum bisa Aku lupakan sakitnya.


Tak sampai situ, Aditpun berusaha mengejarku dengan hanya menggunakan kimono. Aku langsung masuk kedalam mobil yang Aku bawa dan menguncinya agar Adit tak bisa menyentuh tubuhku sedikitpun.


Masih sangat terbayang ketika Aku berhasil mendobrak pintu hotel itu, Rena menatapku dengan senyuman jahatnya seolah Dia berhasil merebut Adit dari hidupku. Rena sangat mengetahui jika setengah duniaku ada pada Adit karena Bagas sering menceritakannya itu pada Rena jika bersinggah kerumah.


Adit terus berusaha untuk membuka pintu mobilku, Aku hanya melamun dengan tatapan kosong tanpa bisa meluapkan apapun. Menyalakan mobil yang Aku bawa dan menancap gas dengan kencang meninggalkan Adit saat itu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Aku mengabari Bagas yang saat itu sedang bekerja diluar kota, menelponnya hingga belasan kali namun tak kunjung diangkat olehnya. Memutuskan untuk pulang saat itu adalah hal yang tidak memungkinkan bagiku, Aku berusaha mencari hotel dan mendinginkan kondisiku saat itu.


Hp ku terus berdering karena Adit terus mengabari dan mencari tahu keberadaanku, mencabut sim card yang Aku pakai dan Aku belah hari itu juga. Menutup semua sosmedku dan sejenak menghilang dari apapun.


__ADS_2