
Aku pernah mengobati luka seperti ini pada keadaan hatiku sedang hancur, Akupun rela tertidur dengan duduk hanya untuk menunggu kabar baik malam itu bahkan Aku pernah sekhawatir ini pada keadaan Aku tak boleh marah pada keadaan.
Rasanya perasaan itu terbesit kembali saat Aku berusaha mengobati luka pada kaki Aziz ini, Aku tak sanggup menahan air mata kesalku pada saat itu. Kenapa dunia setidak adil itu padaku.
Aku berusaha tertunduk dan diam-diam mengusap air mataku perlahan, berusaha agar Aziz tak mengetahui hal ini. Rasanya sakit sekali sampai-sampai dadaku terasa sesak dan sakit mengingat itu semua.
"Rin, Rin Lu kenapa hey ?" tanya Aziz dengan sigap melihatku.
"Hah .. Kenapa apa nya ?" tanya balikku mengalihkan pembicaraan
"Udah beres ya Ziz, tunggu Aku simpen dulu semuanya kedalam rumah" izinku sembari berjalan meninggalkan Aziz.
Tak kuasa menahan tangis akhirnya tangisanku pecah didapur, teriak yang Aku tahan membuat dadaku semakin sesak, berkali-kali Aku menjambak rambutku dan terjatuh duduk, menangis sejadi-jadinya berharap diriku agak tenang namun ternyata salah. Aku semakin menjadi dan seolah semuanya terputar kembali.
"Kenapa Adit pergi meninggalkan luka yang sedalam ini, salahku apa Dit ?" lirihku sambil menangis tersedu-sedu.
Badanku terasa lemas saat itu tapi Aku tak boleh memperlihatkannya pada Aziz, berusaha untuk menenangkan diri sendiri dihadapan orang lain memanglah tidak semudah yang orang bilang, Aku bergegas untuk membasuk wajahku dan bersikap seolah tak ada apa-apa.
Berjalan untuk menemui Aziz lagi dengan perasaan yang sangat kacau bukanlah sesuatu yang mudah, sebisa mungkin untuk mengatur nafas dan berusaha tenang.
...****************...
"Rin, makasih ya" ucapku pada Arin yang saat itu duduk disampingku.
"Nggak usah bilang makasih Ziz, yang penting lukanya sekarang udah diobatin"
"Ngomong-ngomong kenapa sih bisa jatuh kaya gini ?" tanya nya dengan muka yang serius.
Melihat mata Arin yang sedikit merah Aku tau pasti Dia sudah menangis kala menyimpan obat merah tadi, Arin mungkin menyangka Aku tak mengetahui apa yang barusan sudah terjadi.
Sekuat ini Arin pada keadaan maupun sama diri sendiri, Aku sebenernya ingin sekali memeluk erat tubuh Arin untuk menenangkannya dari situasi apapun namun Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk Aku melakukan itu.
__ADS_1
"Tadi Gue abis beli kue Rin, nggak sabar pengen kasih itu buat Lu jadi Gue tambah terus kecepatan pas bawa motor" jawabku sambil merintih kesakitan.
"Nggak bisa emang kalo bawa motornya biasa aja Ziz ?"
"Nggak Rin, He.. Hee..hee" jawabku sedikit cengengesan.
"Ziz, Aku masih trauma dengan luka seperti ini. Bahkan Aku masih sangat takut jika dibonceng dengan menggunakan kecepatan lebih" jawabnya dengan lemas sambil tertunduk.
"Aku cuma takut kecelakaan itu terulang kembali dikehidupanku" tambahnya.
Dan ternyata benar! Arin mengkhawatirkan dan mengingat sesuatu akan Adit, memang kecelakaan Adit itu membuat Arin hingga hampir gila, setengah dunianya hilang karena kecelakaan yang dialami Adit.
"Rin, Gue tau apa yang sekarang Lu rasain bahkan pikirin. Tapi percaya sama Gue! Gue bakalan lebih hati-hati lagi untuk kedepannya dan nggak akan buat Lu sedih lagi kaya gini" jelasku meyakinkan Arin.
Arin hanya menatapku dengan mata yang sendu dan berbinar, bibirnya yang mungil dan merah sedikit bergetar ketika mendengar penjelasan dari mulutku. Aku tak tau seberapa besar kesakitan dan trauma yang Arin miliki saat ini.
Bahkan Dara pun mengingatkanku untuk tidak melakukan hal yang sering Adit lakukan pada Arin.
"Gue akan selalu jagain Lu dari hal apapun semampu Gue Rin dan Gue juga nggak akan tinggalin Lu sendirian"
"Jadi Gue mohon untuk kedepannya, tentang apapun dalam hidup Lu tolong libatin Gue ya biar Gue bisa bantu itu buat Lu" yakinku pada Arin sembari berjongkok dihadapannya.
Arin masih tak menjawab hanya menatapku dengan tatapan yang sedikit membuatku bingung, matanya tiba-tiba berlinang air mata dan pada saat itu juga Arin hanya memelukku yang berjongkok dihadapannya.
Tangisnya pecah saat ia memelukku, Aku berusaha untuk menenangkannya dan mengusap halus punggung serta kepalanya. Ku biarkan ia menangis dulu dengan puas, tak ku tanya sedikitpun ketika ia sedang menangis.
Aku bisa sangat merasakan kesedihan dan kesakitan Arin, air matanya membasahi pundakku, berteriak dengan menahan suara itu hal yang paling menyakitkan dan membuat sesak.
"Salah Aku apa ya Ziz" lirihnya sambil terus menangis.
Aku tak bisa membayangkan ketika Arin sedang sendirian dengan membawa luka yang sehebat ini, sampai detik inipun Aku merasa Arin adalah wanita kuat yang hebat yang mampu melewati semuanya dengan topeng.
__ADS_1
Berusaha untuk memasang tampang tersenyum pada semua orang agar mereka tak menanyai keadaan Arin yang sebenarnya.
"Rin mulai sekarang kalo Lu ngerasa rapuh, Lu nggak boleh pura-pura lagi didepan Gue ya"
"Lu boleh jadi diri Lu sendiri sama Gue kok"
"Karena Gur nggak butuh sosok Lu yang berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja" bisikku pada Arin berharap Arin bisa sedikit tenang.
Arin melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya, Aku memegang tangan Arin dan menyimpan tangannya diatas kedua paha Arin, Aku mengusap lembut air mata Arin dipipinya sambil terus meyakinkan Arin sebisa dan semampuku.
...****************...
Melihat Aziz melakukan ini semua padaku, membuatku merasa mendapat kenyamanan kembali, suaranya yang membuatku tenang dan perlakuannya yang tak membuatku takut.
Lembutnya tangan Aziz yang mengusap air mataku membuat Aku yakin bahwa Aku bisa melewati semua ini dengan mudah, padahal kaki dan tangan Aziz luka tapi ia memaksakan dan menahan rasa sakit itu hanya untuk menenangkanku.
Aku tak tau apakah kenyaman yang Aziz berikan padaku untuk menemaniku selamanya atau hanya untuk membuatku penasaran saja sama seperti Adit dulu ?
Aku selalu meyakini jika lelaki serius terhadapku maka ia akan selalu memperjuangkanku sampai manapun semampu dan sebisa Dia.
"Ziz, thank you so much" lirihku sambil ku peluk lagi badan Aziz yang ada dihadapanku.
"Saat ini Aku benar-benar hancur dan nggak tau apa yang harus Aku lakuin Ziz"
"Bahkan Aku bingung harus memulai dari mana untuk kubenahi lagi kehidupanku" tambahku.
"Gue yang bakal temenin Lu sampe Lu ngerasa diri Lu sudah balik Rin" tegasnya padaku.
"Sekarang Lu udah punya Gue, jadi Gue harap Lu nggak usah lagi mencemaskan apapun yang akan datang ke kehidupan Lu ya"
"Gue bakal temenin sampe manapun semau Lu"
__ADS_1
"Janji" ucapnya sambil melepaskan pelukanku dan mengangkat kelingkingnya untuk berjanji padaku.