
Sesampainya dirumah Aku langsung mengabari Dara untuk prihal malam ini.
Informasi yang Kita dapatkan saat itu dari salah satu warga dikawasan rumah Rena mengatakan bahwa Rena selalu keluar di pukul 8 malam.
Aku bergegas untuk mempersiapkan diri dan memberitahu Dara, malam ini Ku putuskan untuk membuntuti Dara menggunakan mobil agar lebih tertutup, bersiap untuk mandi dan memilih baju untuk Ku pakai.
"Ziz, Lu mau jemput Gue jam berapa ?" pesan masuk dari Dara saat Aku sedang memanaskan mobil digarasi rumahku.
"Bentar lagi Gue jemput Lu ya Ra" balas Gue dengan singkat.
Tak menunggu lama dari Dara mengabariku, Aku langsung bergegas menuju rumah Dara untuk menghindari kemacetan, sepanjang perjalanan Aku menahan sakit dibagian kaki dan pingganggu bekas jatuh tadi siang.
"Apapun akan Gue lakuin buat Lu Rin" ucapku didalam mobil.
"Astaga, Gue belum ngabarin Arin lagi" menepuk stir kemudiku.
"Rin, sorry Gue baru ngabarin. Tadi hp Gue low dan Gue langsung istirahat"
"Gue udah sampe rumah dengan selamat sesuai yang Lu mau ya, jadi jangan khawatir lagi. Istirahat ya Rin" pesanku pada Arin.
Aku melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah Dara, berusaha menyalip kanan dan kiri untuk mempercepat perjalanan.
"Ra, Gue udah didepan rumah Lu ya"
Tak lama Ku lihat Dara keluar dari dalam rumahnya, ku pijat klakson mobilku dan berteriak memanggilnya.
"Lah kok Lu bawa mobil sih Ziz ?" tanya Dara saat masuk kedalam mobil.
"Ah, itu nggak penting Ra. Yang lebih penting saat ini Kita harus berhasil membuntuti Rena" ucapku sembari menjalankan mobil menuju rumah Rena.
"Oh iya Ziz, ini helm Lu. Tadi siang Lu buru-buru amat sih Gue teriakin juga percuma"
"Gue simpen dibelakang sini aja ya"
Didalam mobil Kita tak henti menyusun rencana untuk hari ini, Dara dengan baik mau membantuku untuk Arin.
...****************...
__ADS_1
"Rin, kalo sampe Lu bisa jadian sama Aziz sih beruntung banget pasti" gunamku dalam hati.
Bau wangi parfume Aziz saat itu sangat tercium didalam mobil, ketambah Aziz yang saat itu hanya menggunakan celana pdl pendek bewarna navy dan kaos oblong, tak lupa juga Aziz selalu membawa hoodie nya kemanapun ia pergi.
"Kalo Gue jadi Arin sih kayanya nggak akan nunggu lama buat laki yang se perfect ini" gunamku kembali.
Aku dan Aziz menyusun dengan rapih tentang rencana hari ini, Aziz tak mau hari ini gagal untuk membuntuti Rena, walaupun ia baru saja kecelakaan namun pengorbanannya untuk memulihkan Arin sangat besar sekali.
"Ziz, Tanggapan Arin ketika tadi siang Lu dateng kerumahnya dengan keadaan yang habis celaka gimana ?" tanyaku penuh penasaran.
"Arin bener-bener khawatir Ra sama Gue, sampe Dia juga nangis dibahu Gue. Ngga tega Gue liatnya" jawabnya sembari membakar rokonya.
"Nangis ? Nangis kenapa ?" kaget ketika mendengar Aziz menjawab.
"Dia keinget sama kejadian waktu Adit celaka dulu hingga meninggal Ra, Gue ngerasa bersalah dan Gue nggak inget sama traumanya Arin"
"Astaga Azizzzz, Gue kan udah kasih tau Lu jauh-jauh hari tentang trauma Arin. Gimana sih Lu"
"Tapi Arin fine fine aja kan ?"
"Tenang, aman Ra. Gue juga berani ninggalin Dia ketika Dia udah tenangan kok"
"Ziz, Gue mohon. Gue titip Arin sama Lu ya" pintaku yang keberapa kali pada Aziz.
"Siap Ra, Gue bakalan selalu pegang omongan Gue dan bakalan selalu inget sama omongan Lu" jawabnya dengan tegas.
...****************...
"Syukurlah kalo Aziz sudah sampai rumah" lirihku ketika membaca pesan dari Aziz.
Terkadang Aku selalu memikirkan bahwa yang Aku butuhkan saat ini bukan lelaki yang pintar untuk menasehatiku melainkan lelaki yang tulus untuk mendengarkan semua keluh kesahku dan memahami semua karakter yang terdapat pada diriku.
"Apakah Aziz bisa melakukannya untuk ku?" lirihku dengan lemas.
Aku selalu berusaha untuk membuka hati namun selalu gagal, selalu merasa tidak pantas untuk dimiliki siapapun karena keadaan didalam hatiku masih sangat berantakan. Aku tak mau membiarkan tamu itu untuk masuk kedalam hatiku dan memberesinya sendirian.
Selalu dibayangi rasa takut dan gelisah bahkan Aku belum bisa untuk mempercayai siapapun saat ini selain diriku sendiri. Berpura-pura untuk selalu kuat melewati setiap harinya bukan hal yang sangat mudah untuk hidupku saat ini.
__ADS_1
Sering kali merasa kesepian walau Aku terdiam ditengah-tengah keramaian, sangat sempurna sekali memang Adit dan Rena menghancurkan hidupku yang sudah ku tata dengan rapih.
Setiap malam Aku harus selalu bergelut dengan isi kepalaku sendiri yang semberawut, Aku juga harus selalu mengalah dengan apa yang hatiku ucapkan. Rasanya badan ini sekarang seperti tak memiliki tujuan akhir untuk melanjutkan apapun yang pernah Aku tata.
Mengenal Aziz memang baru saja hitungan hari, tapi kenapa Aku mampu untuk bisa luluh dan memeluk Dia ? Padahal sejauh ini Aku dekat lelaki manapun tak bisa untuk melakukannya.
...****************...
"Ra, Ra. Itu Rena kan ?" ucapku sambil menunjuk ke salah satu motor yang membonceng Rena keluar dari dalam gang Rumahnya.
"Iya, iya Ziz itu Rena" sahutnya.
"Mati Lu sekarang wanita ******" geramku saat membuntuti Rena saat itu.
"Zizzzzz!" sentak Dara padaku bersikeras menenangkanku agar tak termakan emosi.
Sepanjang membuntuti Rena saat itu, Aku memakai kacamata yang ku bawa, memakaikan topi hoodieku ke kepala. Menancap gas agar tak kehilangan jejak Rena namun memberi jarak.
"Ra, pokok nya malam ini kita harus maksimal mengetahui lebih dalam sosok wanita ****** ini" sahutku pada Dara.
"Harus ding Ziz, ini semua kan kita lakuin buat Arin" jawabnya.
Aku kembali fokus pada menjalankan mobil yang Ku bawa ini, terus membuntuti Rena dengan jarak yang tak terlalu jauh.
Sampai pada akhirnya motor yang Rena tumpangi berhenti disalah satu club malam, keadaan parkiran saat itu sangat ramai pengunjung bahkan Kami sangat susah untuk hanya sekedar memarkiran mobil yang Kami bawa ini.
Tak lama saat Aku sedang menunggu tukang parkir, terlihat Rena memberi uang pada pengendara motor yang sudah mengantarkannya. Berjalan masuk kearah club malam itu dan menyapa beberapa orang yang sedang berdiri diarea kawasan situ.
Akhirnya Aku dan Dara memutuskan untuk memarkirkan mobil diruko yang sebelahan dengan club ini. Mulai melakukan penyamaran dengan Dara walau sebelumnya wanita ****** ini memang tak mengenali Kami berdua.
Berjalan menuju club itu, Aku mengobrol sebentar dengan salah satu security yang berjaga dikawasan tersebut untuk mencari tahu sosok Rena.
"Rame banget Pak tempatnya, kira-kira kebagian tempat nggak nih Kita" ucapku pada satpam tersebut.
"Rame lah Mas, kan hari ini ada acara" jawabnya sembari merokok.
"Pak kira-kira Mbak Rena hari ini masuk nggak ya ?" tanyaku sedikit ragu.
__ADS_1
"Mbak Rena ya ? Ada kaya nya Mas, coba aja liat aja kedalam"
"Mas nya pasti udah jadi langganan Mbak Rena ya haha" tambahnya sambil tertawa.