
Aku dan Dara berjalan masuk menuju masuk club tersebut, menuntun tangan Dara karena keadaan club tersebut sangat ramai. Aku tau mau jika terjadi apa-apa pada Dara nantinya, Aku yang membawa Dia dan Aku yang bertanggung jawab atas dirinya.
"Ra, sorry ya Gue izin pegang tangan Lu. Gue cuma nggak mau terjadi hal-hal diluar rencana Kita" bisikku pada Dara.
"Its oke Ziz, tenang" singkatnya padaku.
Aku mulai open table dan memesan beberapa cemilan serta beberapa botol minuman alcohol, menarikkan bangku untuk Dara dan ku suruh Dara duduk berdampingan denganku untuk memantau Rena.
Sembari menunggu Rena, Aku dan Dara menikmati cemilan dan lagu yang ada ditempat ini, sejujurnya satu-satunya tempat yang baru kusinggahi selama hidup barulah tempat biadab ini. Tak terbiasa dengan suara musik sekencang ini membuat telingaku sedikit kesakitan, tapi Aku harus bisa menahan semua ini hanya untuk Arin.
"Duh si Rena kok nggak kunjung keliat ya Ra"
"Sabar Ziz, bentar lagi Dia pasti keluar dari Goa nya haha" jawabnya sembari tertawa meledek.
Aku melihat Dara cukup menikmati suasana ini karena mungkin Dia sudah sering masuk dan main ke tempat seperti ini. Menunggunya hingga membuatku sedikit badmood akhirnya Rena ku lihat juga.
Dia berjalan ke meja demi meja untuk hanya sekedar menuangkan minuman alkohol itu lalu meminumnya bersama, pakaiannya saat itu membuatku hingga tak bisa berkedip karena saking menggodanya.
"Mata Lu ah!" Dara mengusap wajahku ketika Aku sedang melihat Rena.
"Gila Ra, pantes aja Adit tergoda toh dandanannya aja udah ngalahin orang gak waras"
"Semoga Rena menghampiri meja kita Ra" tambahku.
Aku sengaja sebelum memesan semua ini menanyakan dulu prihal tentang cara kerja Rena dan yang lainnya, disarankan untuk memesan yang biasa Rena hampiri dari tuntutan kerjaannya. Jadi gak ada alesan buat malam ini Rena tak mengunjungi meja yang sudah ku pesan ini.
Tak lama saat Aku terus memperhatikan Rena, Dia pun melihat dan menatapku. Berjalan menuju mejaku dan akan mulai ku mainkan permainan yang dulu Dia mainkan kepada Arin.
"Hay Om" sapanya padaku.
Aku hanya membalas dengan senyuman miring pada wanita ****** ini.
"Mau Aku bantu tuang ngga ?" tanya nya sambil menempelkan tubuhnya ke lengan kiri ku.
"Jelas, boleh dong" perintahku pada Rena.
Dia hanya terus menatapku dengan tatapan yang menggoda dan Akupun membalas itu seolah memberi signal padanya.
"Om baru kesini ya ?" tanya nya kembali sedikit berteriak dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Iya nih, Gue baru banget nyoba tempat ini" jawabku juga mendekatkan wajahku ketelinganya.
__ADS_1
1 sloki, 2 sloki, 3 sloki Dia tuang terus menerus.
"Boleh dong Kita tukeran kontak Om ?" pintanya padaku.
Kesempatan nih, belum apa-apa Rena ku lihat sudah tertarik pada diriku. Tak menunggu lama Akupun memberikan kartu nama pada Rena dengan belagu.
Terus saja menempelkan badannya dekatku, Aku merasa jijik dengan semua ini. Kenapa Adit dulu tergoda sama wanita murahan seperti ini ? Sedangkan jelas-jelas Dia mempunya cewe yang harganya mungkin lebih dari permata.
"Itu pacarnya Om ?" tanya Rena sambil menunjuk ke arah Dara.
"Dia hanya rekan kerja yang menemani waktu senggang Gue" jawabku meyakinian Dia
"Hay .." sapa Dara tersenyum sinis pada Rena.
Rena hanya mengangguk ketika dapat sapaan dari Dara.
"Sawerannya dong Om" pinta Rena padaku sedikit menggoda sambil mengelus daguku.
Aku berusaha untuk menahan semua godaan ini dan berusaha untuk seolah menerima agar Rena juga masuk kedalam perangkapku malam ini, Aku juga sesekali memberikan gombalan halus pada Rena agar ia meyakiniku.
"Mau berapa cantik ?" jawabku dengan menahan rasa jijik.
"Kalau yang Aku pinta bukan uang Om boleh ngga ?" tanya nya sambil mengelus halus dadaku.
"Gimana kalau nanti Aku mintanya di chat aja" pintanya sambil menatapku dan menggigit telunjuknya.
"Boleh dong, Gue tunggu ya!" jawabku dengan sedikit menantang.
Setelah itu Rena meninggalkan mejaku dan Dara, berjalan menjauhiku namun masih saja melihat ke arahku dengan tatapan yang menggoda. Sampai kulihat Dia duduk dipangkuan Bapak-Bapak yang ada disebelah Gue.
Tubuhnya ia relakan untuk semua lelaki hidung belang, hidupnya ketergantungan dari apa yang ia pinta pada semua tamu bahkan ia pun rela membiarkan lelaki hidung belang untuk menikmati tubuh Dia semaunya.
"Ra, cabut yu" ajak ku pada Dara sambil menuntun tangan Dara keluar dari tempat itu.
"Bagus Ziz, sekarang Dia masuk kedalam permainan Kita"
"Tapi ngomong-ngomong Lu ngga geli Ziz ?" tambahnya padaku.
Aku menghiraukan semua pertanyaan Dara saat itu dan bersikeras untuk keluar saat itu juga, Aku sudah tak tahan dengan keadaan didalam sini yang menurutku seperti neraka.
Setibanya di dalam mobil, Aku langsung melepaskan hoodieku dan membuka kacamata yang ku gunakan.
__ADS_1
"Kalau bukan karena Arin Gue males banget sebenernya Ra"
"Semurah itu harga diri Rena ya"
"Balik dari sini sih fix Gue harus mandi kembang ini Ra" bawelku pada Dara
"Udah dikasih permata eh si Adit dulu malah milihnya sampah" ucap Dara mengagetkanku.
"Bener Ra! Gue ngga ngerti lagi sama jalan pikiran Adit dulu"
"Kok bisa-bisa nya terpikat sama wanita yang kadar cantiknya aja jauh banget sama Arin"
"Pake pelet kali makanya Adit ngedadak tunduk dan rela berhubungan badan sama cewe dajjal itu"
"Haaaaaaaah berhubungan badan ?" jawabku dengan kaget saat Dara mengucapkan itu, padahal selama Dara bercerita kemarin Dia tak ada membahas bahwa Adit sempat melakukan hal itu.
"Ra! Jawab Gue Ra!" desakku pada Dara.
...****************...
"Sial Gue keceplosan lagi ahhhhhh dasar mulut" kesalku dalam hati.
"Sekarang Gue kudu jelasin kaya gimana nih ?" bingungku menjawab pertanyaan Aziz yang semakin mendesak.
"Ra! Kok diem sih, Lu yang udah janji mau bantu Gue kan ?"
"Kenapa masih ada yang Lu umpetin ?" tanyanya saat ku hanya terdiam mematung.
"Oke .. Oke Gue cerita!" teriakku menghadang semua kebawelan pertanyaan Aziz saat itu.
"Ya! Terakhir sebelum kecelakaan itu menghampiri Adit, Adit jauh lebih dulu kepergok Arin cekin disalah satu hotel. Arin membuntuti dan meminta pekerja hotel itu untuk mendobrak pintu kamar yang Adit pesan, saat pintu itu didobrak Arin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kalo Adit sedang menikmati tubuh Rena" jelasku pada Aziz.
"Brengksekkkkkkk!" teriaknya dengan kesal saat mendengar semua penjelasan dariku.
"Arin sama siapa saat itu Ra ?"
"Arin membuntutinya sendiri Ziz, karena dari 2tahun kebelakang tentang hubungan mereka, Arin sudah sering memergoki Adit selingkuh diponselnya namun Arin selalu memberikan maaf yang berulang untuk setiap kejadian itu" jelasku kembali.
"Nggak ada alesan buat Gue untuk ngga bales kelakuan brengsek ini"
"bener-bener memalukan kelakuan si Adit" kesalnya.
__ADS_1
"Ra, pokonya Lu harus tetep temenin Gue sampe wanita ****** ini merasakan kesakitan yang lebih dari pada yang Arin dulu rasakan"