
Setelah beres mandi, Aku memutuskan untuk membuka laptop dan menonton film kesukaan Ku, membawa laptop nya keatas kasur dan Ku simpan diatas kedua kaki Ku sambil berbaring.
Aku tak mengecek atau melihat hp Ku kembali karena Ku pikir sudah malam seperti ini tak akan ada yang mengabari Ku selain Ahmad. Aku melanjutkan menonton film sambil ngemi, mematikan lampu kamar dan mengambil posisi terenak Ku agar nyaman saat menonton.
*Drrrrt .. Drrrrt* hp Ku bergetar kencang diatas meja.
Aku berjalan untuk mengambil hp dan melihat nya, ternyata ada banyak sekali panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan masuk. Saat Ku cek semua pemberitahuan itu ternyata yang mengabari Ku sebanyak itu adalah Aziz.
"Gila, kenal juga engga! Tau juga engga! Kok langsung ngajak-ngajak ketemu gini sih" lirih Ku saat membaca pesan balasan dari Aziz.
Tak kalah banyak pemberitahuan yang masuk pada hp Ku juga dari Ahmad, Dia mengabari Ku dan menelpon Ku banyak sekali.
"Dasar laki-laki gila!" celoteh Ku yang masih sembari menatap pesan balasan dari Aziz.
Aku memutuskan untuk tak membalas dan mengabaikan pesan dari Aziz, bahkan Aku juga langsung mengubah hp Ku pada mode pesawat agar ketika Ku menonton tak ada satupun yang berusaha mengganggu Ku.
Aku menyimpan kembali hp Ku diatas meja dan kembali keatas kasur untuk melanjutkan kembali menonton filmnya dan tak berselang lama Aku pun akhirnya ketiduran pada malam itu.
...****************...
"Arin bener-bener ya!"
"Bela-belain Aku menepi demi menunggu balasannya namun udah selama ini tak kunjung juga Dia membalas"
"Mana telpon gak diangkat lagi" ucap Ku sedikit kesal.
"Ini anak benar-benar membuat Ku penasaran hebat, akan Ku pastikan bahwa Arin akan segera Aku miliki" ambisi Ku sambil melanjutkan kembali perjalanan Ku.
Disepanjang perjalanan menuju tempat tongkrongan, wajah Arin selalu terbayang dipikiran Ku, bahkan semua foto-foto Arin disosial medianya ada beberapa yang aku simpan hanya untuk aku pandangi ketika Aku mau tidur.
Aku bisa dibuatnya senyam senyum walaupun kita belum pernah ketemu sama sekali, memang Arin ini sangat beda dengan wanita-wanita yang ada diluaran sana. Bagaimana tidak ? Dia mampu menguasi semua didalam pikiran ini.
"Tapi kenapa Arin tak membalas pesan Ku ya ?" tiba-tiba teringat lagi akan hal itu.
"Atau mungkin Dia tidur ?"
"tapi masa sih ah jam segini udah tidur ? Ini masih belum larut malam" gunam Ku dalam hati.
__ADS_1
Setelah lama menyusuri jalanan yang macet, akhirnya aku sampai ditempat tongkrongan. Terlihat banyak sekali teman-teman Ku yang sedang menongkrong sambil bermain gitar dan membawa cewe-cewe nya.
"Apa aku tanya Rendi saja ya tentang Arin"
"Secara kan mereka dulu 1 kelas dikampus, seengganya pasti Dia tau tentang Arin" lirih Ku sambil membuka helm.
...****************...
"Bu Arin kok balas dan angkat telpon dari Ku ya ?"
"Kecapean kali ya, jadi Dia tidur" lirih Ku sambil menatap layar hp berharap ada balasan dari Bu Arin
"arggggghhh Ahmad sudah lah, kan besok juga dikantor ketemu sama Dia" ucap pelan ku sambil membaringkan badan diatas kasur.
Menatap langit-langit kamar membuat Ku membayangkan tingkah dan wajah Bu Arin, Aku seperti dibuat gila oleh nya sampai-sampai apapun yang sedang Aku lakukan pasti yang teringat dan sekilas muncul wajah Bu Arin.
Sebenarnya Aku ingin sekali memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja, biar terlihat lebih akrab dan tak terlihat seperti atasan dan bawahan. Tapi Aku belum sangat berani melakukan hal tersebut karena suatu hal.
Bu Arin itu sosok yang sangat misterius, sampai Aku tak bisa tau bahwa Bu Arin saat ini sedang dekat dengan siapa. Bahkan dari dulu pun Aku belum pernah melihat Bu Arin kasmaran atau bucin dengan seseorang.
Memang Bu Arin ini cewe yang berbeda dibanding cewe-cewe yang ada diluaran sana.
...****************...
"Biasa, jalanan macet" jawab Ku berusaha untuk duduk dekat Rendi agar gampang menanya-nanya soal Arin.
"Seger banget keliatannya" goda Aris salah satu teman Ku.
"Ziz, kali-kali ketempat tongkrongan tuh gandeng cewe kek, bukan gandeng terus helm" celoteh Riska pacar Aris.
"iya nih, Bro!" sahut Rendi.
Aku hanya menanggapi dengan tertawa saat mereka semua menggoda Ku.
"Tunggu saja nanti tanggal mainnya" gunam Ku sedikit kesal dalam hati.
Aku berjalan menuju kafe itu dan memesan kopi favorite Ku, membayarnya dan kembali ketempat teman-teman Ku.
__ADS_1
Membakar 1 batang rokok, lalu Aku mulai memutuskan untuk mengobrol dengan Rendi. Berharap Dia bisa sedikit memberiku informasi tentang Arin.
"Ren, Lu kenal Arin kan ?" tanya Ku membuka obrolan.
"Arin ? Arina Beyza ?" jawab Rendi sedikit mikir.
"Iya, yang dulu sempat mau Lu kenalin itu loh"
"Iya .. Iya Gue inget, ada apa nih tiba-tiba tanya Arin ?" tanya Rendi dengan heran.
"To the point aja nih, Gue mau niat deketin Dia. Gimana menurut Lu oke gak ?"
"Yakin Lu mau deketin Dia ? Hati-hati loh" jawabnya sambil meneguk kopi
"Lah emang kenapa ?" tanya Ku dengan heran.
"Dia itu cewe yang susah banget buat dideketin sama siapapun, tertutup dan gak suka orang yang basa basi busuk kaya Lu ?"
"Kalo Lu deketin Dia karena cuma ambisi Lu doang, Gue harap jangan deh! Dia cewe baik-baik soalnya" tambahnya.
Aku sejenak terdiam ketika Rendi berusaha memberitahu Ku soal Arin, menikmati sebatang rokok yang sedang Ku bakar dan menatap layar hp yang sedang Ku pegang.
"Woyyy!!!" tegur Rendi sedikit mengagetkan Ku.
"Kenapa Lu jadi diem kaya kucing masuk got gini ?" tanya nya sedikit berbisik pada ku.
Aku melihat semua teman-teman Ku asik dengan kesibukannya masing-masing, apalagi Riska dan Aris yang selalu sibuk mengobrol berdua ketika kita sedang berkumpul seperti ini.
"Arin itu cewe yang Gue kenal baik sih, orangnya tulus super duper tulus, hanya saja Dia sedikit jetek, cuek dan judes. Tapi kalau sudah kenal humble kok orangnya" sahut Rendi sambil membakar 1 batang rokok.
"Dikampus dulu banyak yang berusaha untuk mendekati Arin, tapi tidak satu pun dari mereka yang bisa berhasil dapetin Arin" tambahnya
"saran Gue sih ya, kalo emang Lu mau deketin Arin coba perlahan dan jangan terlalu buru-buru. Kenalin dulu deh sifatnya!"
"Oh gitu ya, Lu tau rumahnya Dia dimana gak ?" tanya Ku sedikit penasaran.
"nah kalau untuk soal alamat Gue gak bisa kasih tau walaupun Gue sebenernya tau, itu tugas Lu! Sedikit berkorban napa!" candanya sedikit menantang Ku.
__ADS_1
"Kalau dekat-dekat ini Gue bisa ambil hati Arin, Lu mau kasih apa ke Gue ?" tanya Ku sedikit mengajak Rendi taruhan.
"Gak usah banyak bacot! Buktiin dulu aja haha" jawab Rendi sembari meledek Ku.