
"Baru setengah hari aja Bu Arin nggak masuk kantor rasanya kantor ini kaya rumah hantu yang nggak ada warnanya deh" ucapku sambil mengerjakan semua kerjaan ku.
"Apa Aku coba kabarin Bu Arin saja ya, basa-basi untuk sekedar mengajaknya ngopi sepulangku dari kantor"
"Tapi kalau Dia malah sudah ada acara dengan lelaki yang kemarin menjemputnya gimana ya ?" bimbang ku sambil memutar-mutar hp diatas meja kerjaku.
Aku harus bisa meyakinkan diriku sendiri tentang lelaki itu dan Aku juga harus secepatnya memiliki Bu Arin dalam waktu dekat ini.
Aku memiliki rencana untuk langsung melamar dan menikahi Bu Arin, agar ia tak usah susah payah bekerja dan hanya melayaniku sebagai suaminya.
Sudah cukup lama Aku memendam perasaan ini terhadap Bu Arin.
"Pokonya Aku harus bisa mendapatkan hati Bu Arin"
"Tapi kalau pada kenyataannya Bu Arin sudah mempunyai kekasih Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membuang jauh-jauh perasaan ini" pikirku.
"Bu Arin, balik kerja Aku jemput Ibu untuk ngopi ya" pesan singkatku pada Bu Arin.
Melanjutkan kembali semua pekerjaan hari ini dan berharap bisa selesai jauh dari jam pulang, Aku mengerjakan semuanya dengan cepat dan tepat. Sangat bersemangat karena berharap hari ini Bu Arin mau untuk ku ajak hanya sekedar ngopi.
...****************...
"Nanti malam pokoknya harus berhasil" lirihku saat berbaring dikamar.
Aku dan Aziz harus bisa menjalankan rencana ini dengan sangat mulus tanpa drama ini itu, Kesungguhan Aziz pada rencana yang ia buat membuatku sedikit terkesima oleh parasnya yang tampan.
Ku rasa jika Aziz bisa mendapatkan hati Arin, Dia menjadi wanita satu-satunya yang paling beruntung didunia ini. Udah ganteng, tinggi, kaya, pengusaha, royal, mapan wanita mana yang mampu menolak Aziz.
Banyak sekali wanita diluaran sana yang berusaha untuk mendekati Aziz namun ia selalu abaikan dan sekarang bukan lagi Arin yang mendekati Aziz tapi Aziz yang langsung mendekati bahkan mengejar Arin.
Memang sedikit cuek dan begitu dingin sih lelaki yang satu ini, tapi action yang Aziz punya selalu bisa membuat wanita yang didekatnya merasa berbunga-bunga karena prilakunya.
Tak bisa berharap banyak, Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sahabatku agar ia bisa benar-benar melupakan masalalunya, Aku sering merasa bingung jika Arin sudah tak mau diganggu bahkan menghilang beberapa minggu dari sosmed yang ia punya.
Tidak mau diganggu adalah cara Arin untuk menenangkan dirinya sesaat, bahkan ia mampu untuk pergi keluar kota sendiri hanya untuk mendinginkan dan mengontrol emosinya jika ia sedang merasa tidak baik-baik.
Arin bisa sangat marah jika keadaannya sedang kacau dan Aku ganggu, ia tak segan-segan bisa memarahiku dengan emosi yang sangat besar.
__ADS_1
"Rin, sebentar lagi Kamu pasti sembuh dan akan balik ke Arin yang Aku kenal dulu"
"Izinin Kita buat bales semuanya saat ini ya Rin, ini semua Aku lakuin cuma buat kamu bukan untuk membalas apa yang sudah terlewat" lirihku.
...****************...
"Kalo diliat udah nangis gini ternyata Arinku cantik bangetya" godaku pada Arin berusaha untuk membuatnya sedikit tersenyum.
"Azizzzzzzz ah mulai deh" mencubit kecil tanganku dengan gemas.
"Aaaaaw .. Aawwww Arin ampun Rin"
"Huhhhhhh ... Sakit tau" menggosok-gosok tanganku yang Arin cubit.
"Tapi serius loh Rin, Lu cantik banget hari ini"
"Buuuu .. Llll .. Ssssshiit" berdiri dihadapanku dengan tengilnya
"Mau minum apa nih Ziz ?" berteriak kecil sambil berlari masuk kedalam rumah.
Tingkahnya membuatku menggeleng-gelengkan kepala, melihat Arin yang sedikit sudah bisa tersenyum kali ini membuat perasaanku sedikit lega walau akhirnya nyebelin nya bukan main.
"Taraaaaaaaaaa .. Special Aku buatin minuman yang cocok buat siang terik kaya gini" datangnya dengan ceria dan memberikan segelas minuman padaku yang sudah ia buat.
"Cobain dong bukan malah senyam senyum ngga jelas gitu!" perintahnya padaku.
Aku menatap Arin sambil memegang gelas berisi minuman dingin ini.
"Diracun nggak nih ?" ucapku tersenyum pada Arin.
"Iya loh Aku racun Ziz"
"Racun hati biar hatimu cuma terpikat untuk ku" gombalnya berbisik padaku sambil tersenyum manis.
"Kalau memang bener gitu sih, Gue rela abisin minuman ini sekarang juga Rin"
Siang itu kita menghabiskan dengan mengobrol panjang lebar yang sesekali Arin memegang tanganku untuk melihat lukanya, waktu memanglah tidak terasa jika menghabiskan dengan orang yang kita suka. Bahkan waktu bisa terasa hanya sebentar karena itu.
__ADS_1
Melihat Arin yang sudah mulai stabil Aku merasa lega dan tenang, teringat karena hari ini Aku mempunyai janji bersama Dara untuk mulai menjalankan rencana yang sudah Kita buat akhirnya Akupun izin berpamitan pada Arin untuk pulang, walaupun sebenernya Aku masih sangat betah mengobrol dengan Rin.
"Rin, udah mau sore aja nih. Gue pamit balik ya"
"Besok Gue jemput Lu buat kerja! Nggak boleh nolak dan nggak boleh pergi sendiri apalagi dijemput sama laki-laki lain" ucapku pada Arin sambil berdiri dan mengusap lembut kepala Arin.
"Kok udah mau balik aja sih Ziz ?" tanya sedikit cemberut.
"Aku bisa pergi sendirj kok Ziz, Kamu mending istirahat aja biar lukanya cepet sembuh" tambahnya.
"nggak ada alesan apapun pokonya besok Gue yang harus anter jemput Lu kerja" imbuhku pada Arin.
"Yaudah Gue balik ya"
"Ziz .. " Arin memanggil dan menarik tanganku.
"Kenapa Rin ?" tanyaku membalikkan badan.
"Jangan kebut-kebut ya bawa motornya Ziz" pintanya dengan muka sedikit khawatir.
"Kalo Gue jatuh lagi kan sekarang Gue punya perawat pribadi hehe" candaku pada Arin.
"Engga Rin, pokonya Lu tenang aja ya" yakinku pada Arin.
...****************...
Melihat Aziz mengeluarkan motornya dari rumahku, Aku merasa masih ingin menghabiskan waktu hari ini dengannya. Khawatir saat Aziz mulai menyalakan motornya dan pergi meninggalkanku.
Aku berdiri didepan rumah sampai motor Aziz tak dapat kulihat lagi, berjalan dengan perasaan khawatir yang besar ketika masuk kedalam rumah. Ketika didalam kamar Aku mengambil hp ku yang berada diatas kasur, mengeceknya dan memegangnya untuk mendapatkan kabar dari Aziz.
Namun saat Aku membuka hp ternyata terdapat beberapa pesan dari Ahmad, Dia mengajakku untuk mengopi hari ini. Rasanya tak Adil jika malam ini Aku mengiyakan ajakan dari Ahmad, Aku hanya tak mau membuat Aziz kecewa karena tingkahku.
Aku tau betul perasaan kecewa itu sakitnya seperti apa, maka dari itu Aku tak mau melakukannya pada lelaki yang saat ini sudah amat sangat membuatku memberikan kenyamanan.
"Sorry Mad, kayanya hari ini Aku mau istirahat dirumah aja deh. Next time aja ya" balasku pada Ahmad.
Duduk diatas kasur dan menghadap jendela, membuka gorden lebar-lebar dan Aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur. Memandang langit yang sore itu sangat indah membuatku tenang.
__ADS_1
Memandang langit seperti ini adalah rutinitasku yang sering Aku lakukan, Aku hanya bisa mendapat ketenangan dan kebahagiaan walau hanya dari memnadang langit seperti ini.
Suara kicauan burung, semilir angin yang berhembus dibadanku membuat hari itu badan dan pikiranku relax, lembayung oren yang mempercantik langit membuatku tak pernah bosan untuk selalu memandangnya. Bahkan lembayung yang cantiknya luar biasapun selalu bersedia dateng dengan setianya untuk mengganti hari menjadi malam walaupun kehadirannya tak selama malam dan siang.