JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
2. Ahmad Mengungkapkan Perasaan Pada Arin


__ADS_3

"Selamat sore Kak, untuk meja berapa orang ?" tanya salah satu Pelayan dikafe tersebut.


"hmm .. Buat 2 orang Kak, indoor ya" sahut Ku sambil sibuk melihat layar hp Ku.


"Kalau pesen ya pesen aja, gak usah sibuk sambil mainin hp" gunam Ahmad yang merebut hp Ku.


"Kak, minta ruangan indoor ya" tambahnya.


"Baik Kak, Kami antar kan ke meja dan menulis pesanannya ya, mari" ajak Pelayan itu mengantar Kami untuk ke meja.


Suasana ditempat ini memang sedikit cukup ramai, sehingga Pelayan agak kebingungan untuk mencarikan tempat untuk Kami.


Sambil berjalan mengikuti pelayan nya, Ahmad masih saja memegang hp Ku dan tak mengembalikannya, Aku sedikit kesal dan marah pada kelakuan Ahmad saat itu.


"Bisa Aku minta hp Ku gak ?" pinta Ku sedikit merehek pada Ahmad


Ahmad masih menghiraukan Ku dan terus memegang tangan Ku sambil mengikuti Pelayan itu.


"Disini ya Kak" ucap Pelayan itu sambil mendorong keluar 2 kursi untuk Kami.


"Terimakasih, Kak" jawab Ku dan Ahmad bebarengan.


"Baik, untuk menunya ini ya Kak"


Kami pun memesan beberapa minuman dan cemilan saat itu.


Saat Pelayan itu meninggalkan Kami untuk membuatkan pesanan, Aku terus membujuk Ahmad untuk meminta hp Ku. Namun tak berhasil juga.


"Bu, Kita itu disini buat ngopi, buat ngobrol bukan untuk sibuk sama urusan masing-masing. Jadi Aku izin sita bentar dulu hp nya ya" ucap Ahmad sambil menatap Ku.


"Ta .. Tap .. Tapi kan ?"


"gak ada tapi tapi an, ini sudah menjadi aturan" jawabnya dengan penuh serius.


**********


"kenapa Arin tak membalas pesan Ku ya ?" lirih Ku sambil mengendarai motor.


"Atau dia lagi sibuk kali ya sama kerjaannya"


Aku Aziz, Lelaki yang sudah sangat lama menyukai Arin.


Bahkan semua media sosial yang Arin punya hampir semuanya Aku ikuti, semua postingan yang Arin upload pun semuanya Aku sukai. Setiap hari Aku selalu berusaha untuk melihat postingan-postingan terbaru dari Arin.


Aku mengenal Arin dari teman Kuliah Ku saat dulu, namun belum sempat Aku ajak Dia ketemu karena Aku tak mempunyai mental seberani itu. Aku hanya bisa mengagumi nya lewat sosial media dan berusaha menelpon nya namun tak pernah diangkat.

__ADS_1


Memang kata teman Ku, Arin adalah wanita yang sangat cuek dan dingin akan hal itu, bahkan Arin pun nisa mengabaikan jika Dia tak menyukainya.


"Apa aku coba untuk telpon lagi ya?"


"Inikan udah jam pulang Dia kerja" pikir Ku saat itu.


**********


"Bu, boleh gak aku tanya sesuatu ?" tanya Ku pada Bu Arin yang saat itu sedang sibuk membaca buku yang Dia bawa.


"tanya apa nih ? To the point aja ya!" sahutnya dengan wajah yang sangat jutek.


"liat sini dong" pinta Ku pada Bu Arin.


Aku memang menyukai Bu Arin dari awal ketika Dia menggantikan HRD lama dikantor Ku, umur Kami memang tidak jauh berbeda hanya beda 3 Tahunan saja.


Pribadinya yang ceria dan humble terhadap siapapun membuat Ku ingin memiliki sepenuhnya, apalagi Bu Arin ini tipe cewe yang gak banyak nuntutnya.


Walaupun sedikit mustahil untuk Aku bisa memiliki Bu Arin karena jabatan yang jauh berbeda, namun Aku selalu optimis untuk bisa memilikinya. Aku selalu berusaha setiap hari untuk mendekati Bu Arin walau Dia hanya menganggap Ku bercanda.


"Iya, mau tanya apa Ahmad ?" tanyanya sambil mentap Ku.


Parasnya yang cantik membuat Ku terdiam sesaat saat Bu Arin menatap Ku.


"Ahmad .. Mad .. Hey!" Bu Arin sedikit menggebrak meja dan membuat Ku sedikit kaget.


"Duh maaf, boleh gak sih Bu jangan cantik cantik kaya gini. Terpana kan jadinya Aku Bu" jawab Ku dengan sedikit gugup.


"cepetan mau tanya apa ?" ucap Bu Arin mendesak Ku.


"Misi Kak, ini cemilan dan minuman nya ya. Selamat menikmati"


Tiba-tiba obrolan Kita terpotong oleh pesanan yang dateng, akhirnya Kita melupakan obrolan itu dan menikmati beberapa cemilan yang Kita pesan.


"Uhhhh .. Untung aja, selamet selamet" ucap Ku dalam hati.


"semoga Bu Arin melupakan pertanyaan Ku hari ini deh"


Melihat Bu Arin memakan cemilan dan meminum kopi pesanan kesukaannya, Aku tersenyum kecil. Beberapa kali Aku mencuri-curi pandangan untuk melihat Bu Arin.


Wajah nya yang cantik namun tak membosankan, selalu tampil adanya bahkan sering kali terlihat tak berdandan saat memasuki kantor.


Tak heran jika banyak dikantor Ku yang menyukai Bu Arin karena pada dasarnya memang bukan hanya kecantikan wajah saja yang Bu Arin punya tapi kecantikan hati juga.


**********

__ADS_1


"Kira-kira yang menelpon Ku itu siapa ya ?" tanya Ku dalam hati yang masih saja memikirkan nomer masuk itu.


"Orang iseng ? Tapi kalau orang iseng gak mungkin Dia sampe telpon beberapa kali"


"argggh .. Udah lah ngapain juga memikirkan hal yang gak penting sih"


Aku melanjutkan makan, dipertengahan menikmati cemilan ini Aku mengeluarkan sebungkus rokok yang Ku punya. Menyimpannya diatas meja dan mulai membakarnya 1 batang


"Mad, kira-kira enaknya Aku ambil libur hari apa ya diminggu ini ?" tanya Ku membuka obrolan.


"Libur ya ? Kalau bisa sih jangan libur Bu" jawab nya dengan muka datar.


"Lah kok jangan ?"


"Ya jangan lah, nanti kalo Ibu libur Aku gak semangat kerjanya"


"Isssshhh .. Kamu apaan sih Mad !"


"Serius Bu, Aku cuma semangat kerja kalo cuma liat Ibu doang tau" godanya pada Ku.


"Makin sini bener-bener makin aneh Kamu Mad! Kaya nya harus cepet periksa deh hehe" jawab Ku dengan sedikit bercanda.


"Bukan Aku yang aneh Bu, tapi Ibu" jawab Ahmad yang langsung memalingkan muka.


"Ahmad kenapa ya ?" tanya Ku dalam hati.


"kenapa mendadak jadi serius gini ?"


"atau mungkin Dia mumet aja kali ya karena banyak kerjaan"


"Bu, kalau Aku suka sama Ibu. Ibu percaya gak ?" tanya nya sambil menarik dan memegang kedua tangan Ku.


"Suka ? Jangan bercanda Kamu, Mad!"


"Ibu kira Aku lagi bercanda dengan hal kaya gini ?" jawabnya menatap tajam kepada Ku.


"Gak semua hal bisa Aku bercanda in kan Bu ?" tambah nya.


Aku melepaskan pegangan tangan itu dan sedikit agak malu, berpura-pura membuka buku yang Ku bawa dan menghisap roko yang telah ku bakar.


"Kenapa Bu ?" tanya Ahmad dengan heran.


"Aku terlalu cepet ? Atau karena jabatan kerja kita jauh berbeda Bu ?" tambahnya.


Aku tak bisa menjawab sepatah kata pun dari pertanyaan yang Ahmad lontarkan, bahkan Aku juga sedikit kaget dengan perlakuannya hari ini.

__ADS_1


Aku mengenal Ahmad sudah cukup lama, kita telah bekerja bersama selama 5 Tahun lamanya. Tapi mengapa Ahmad bisa mempunyai perasaan sejauh itu, padahal Aku sudah menganggapnya seperti Kakak Ku sendiri.


"Mad, Aku bener-bener belum bisa jawab semua pertanyaan itu" jawab Ku sedikit gugup dan tak berani menatap wajah Ahmad.


__ADS_2