JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
10. Dendam Aziz Mulai Muncul


__ADS_3

Pelukan ini mengingatkanku pada saat pertama Adit memperlakukan Aku se special itu, walaupun dibalik kehangatan Adit Dia membuatku hancur se hancur-hancurnya.


Andai saja wanita pelacur itu tak datang ke kehidupanku dengan Adit mungkin kejadian itu tak akan pernah terjadi. Tapi Aku harus bisa menerima segi apapun dari diri Adit karena bagaimanapun Dia sudah berperan penting di kehidupanku.


Malam itu Aziz memelukku dengan lembut dan hangat, Aku bisa merasakan ketulusan Aziz dari usapan tangan dan tatapan yang membuatku nyaman. Sejauh ini Adit menjadi pemenang dipemeran utamanya dan hingga detik ini pun hanya Adit yang Aku mau berada disampingku.


Adit dengan segala hal tentang dirinya, yang selalu bisa membuatku selalu jatuh cinta dan merindu. Dan anehnya sampai detik ini pun Aku tidak pernah dan tidak bisa menemukan 2 rasa itu di lelaki manapun kecuali Adit.


Memang sedikit terdengar agak egois, namun yang hanya bisa merasakan hanya diriku bukan orang lain. Hancurku saat ini membuatku seperti melangkah tiada arti, bahkan harapan yang sudah Ku susun rapi sejak dulupun harus Aku kubur satu per satu.


"Ziz, kenapa Kamu mau melakukan semua ini ?" tanyaku, mengangkat kepala yang tersandar pada bahunya dan menatap Aziz.


"Kenapa ?"


"Masih tanya kenapa ?" ucap Aziz dengan lembut, memegang rambut panjangku lalu menggenggam kedua tanganku.


"Kalau didunia ini Gue diberi pilihan antara waktu dan keadaan, mungkin Gue bakal pilih soal waktu Rin untuk bisa lebih kenal sama Lu dan nyelamatin Lu kala itu"


"Tapi rupanya itu semua sudah terlambat, yang dimana kali ini Gue yang bakal selamatin tentang apapun dari diri Lu"


"Paham kan ?" jelasnya.


Jawaban Aziz membuatku sedikit kebingungan, seolah ia benar-benar mengetahui apa yang sedang Aku rasakan dan perjuangkan.


Aku hanya bisa menunduk lemas saat Aziz mencoba menjelaskan itu semua, seperti rasa marah, kecewa, sakit, patah dan emosi semuanya berkumpul didalam kepalaku menjadi satu.


Akupun mungkin jika diberi pilihan akan memilih waktu seperti Aziz, yang dimana Aku tak mau mengenal dan jatuh cinta terlalu dalam pada Adit yang akhirnya membuatku hancur dan merasa tak berguna.


Ini seperti tidak adil bagiku, yang dimana Aku berusaha menemani Adit dari bawah hingga ia memiliki segalanya. Namun ketika Dia sudah selesai pelayarannya yang dipilih bukan Aku melainkan kematian konyolnya karena ulahnya sendiri.


"Rin ?" tanya Aziz dengan lembut.


"Malam ini boleh gak Gue minta satu permintaan ?" tambahnya, memegang wajahku.


"Apa Ziz ?"


"Udah dong jangan nangis terus, Gue paling nggak bisa nih kalo urusan liat cewe nangis kaya gini" mengusap air mataku dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Maafin Aku ya Ziz, mengacaukan semuanya yang udah kamu siapin ini" lirihku dengan lemas sambil menunduk.


"Kok minta maaf sih"


"Air mata itu cair dan ia berhak juga mengalir dengan deras kapanpun ia mau, jadi its oke Rin"


"Izinin Gue untuk bisa terus nemenin Lu ya Rin"


Aku sedikit kaget ketika Aziz dengan tiba-tiba mengucapkan kalimat itu.


Memandangi pemandangan yang indah malam ini Aku belum bisa membuat air mata ini berhenti, mencoba untuk menguatkan diri namun Aku selalu gagal. Malam ini terlalu banyak sekali membuatku memutar pikiran dan kenangan yang telah Aku lewati dengan susah payah.


"Yaudah, Gue kasih waktu Lu buat menikmati semua ini dulu deh. Gue tau ini terlalu cepet dan buat Lu sedikit kaget, tapi asal Lu tau! Gue lakuin ini karena Gue cuma ingin mastiin kalo Lu baik-baik aja ditangan Gue" ucap Aziz.


...****************...


Aku sangat paham dengan keadaan perasaan Arin saat ini, melihat Arin yang serapuh ini membuatku sedikit terenyuh karena air mata yang ia keluarkan begitu tulus.


Mungkin cinta Arin pada Adit saat itu terlalu besar, sehingga membuat Arin hancur berkeping seperti ini. Tatapan matanya yang beberapa kali menatapku juga membuatku yakin bahwa banyak sekali kekecewaan yang Arin pendam sendiri namun ia masih menyimpannya dengan rapat.


"Dit, jujur Gue denger cerita dari Dara aja sebegitu marahnya sama Lu, apalagi Arin yang merasakannya langsung" gunamku dalam hati.


"Bakalan Gue pastiin juga bahwa tak akan ada kebahagiaan disetiap langkah cewe itu"


"Rin, besok Lu pergi ke kantor jam berapa ?" tanyaku mencairkan situasi.


"Kayanya besok Aku ambil libur deh Ziz, kenapa ?"


"Lah kok ambil libur sih ?"


"Gue nggak bisa anter jemput Lu dong. Payah nih"


"Aku pengen bener-bener istirahatin dulu badan dan pikiran deh kayanya Ziz" lirihnya.


"Yaudah kalo gitu oke deh, Gue nggak akan ganggu waktu istirahat Lu"


"Yang penting Lu bisa mastiin ke Gue kalo Lu emang bener baik-baik aja"

__ADS_1


"Hebat banget cewek itu bisa menghancurkan 2 manusia sekaligus dalam waktu bersamaan"


"Tunggu kehadiran Gue dihidupmu ya!" geramku kembali ketawa miring.


"Udah cape-cape nyiapin ini semua eh malah dianggurin makanan nya" ucapku sembari mengambil salah satu coklat yang ada dimeja.


"Azizzzzzzz! Jangan dimakanin dong ih, nanti habis ah!" jawab Arin yang sedikit mulai tersenyum kesal.


"Nah gini dong, jangan nangis-nangis lagi ya cantik" godaku berharap bisa membuat Arin tertawa kembali.


"Ziz, Aku mau coklat yang itu dong" tunjuknya pada salah satu coklat yang ada dipojok meja dekatku.


"Boleh, sebentar ya Gue ambil"


"Mau sekalian Gue suapin nggak nih ?" godaku kembali.


"Iya dong suapin Ziz" merehek dengan muka yang gemas.


Ketika menyuapi Arin malam itu, Aku merasakan ada sesuatu yang beda. Perasaan yang tak pernah Aku temui dimanapun.


*Deg. Deg* detakan jantungku berdetak sedikit agak cepat.


"Sial! Kayanya Gue mulai menyukai Arin nih" kesalku dalam hati.


"Tahan Ziz, tahan! Inget Lu cuma bertugas untuk jagain Arin gak lebih" tegasku dalam hati.


Ketika mendengar bahwa besok Arin akan mengambil libur, Aku harus buru-buru lagi menemui Dara untuk menanyakan prihal kesukaan Arin yang lain. Aku juga akan memastikan bahwa dengan berdiamnya Arin dirumah Dia tak melakukan hal yang aneh-aneh.


"Memang ternyata ribet ya kalo soal cinta" ucapku dalam hati.


"Ziz ?" tanya Arin mengalihkan pikiranku.


"Ya, Rin kenapa ?"


"Mau coklat yang mana lagi ? Biar Gue suapin" jawabku dengan sedikit gugup.


"Engga .. Engga Ziz, Aku cuma mau bilang makasih ya untuk malam ini. Dari semua yang udah kamu siapin Aku suka" ucap Arin memegang lembut kedua tanganku.

__ADS_1


"Rin, Lu nggak usah bilang makasih segala kaya gini. Gue lakuin ini semua karena emang kemauan Gue sendiri bukan karena terpaksa atau karena deketin Lu"


"Justru harusnya Gue yang bilang makasih sama Lu karena malam ini udah mau Gue ajak buat ketempat yang ngga seberapa ini"


__ADS_2