JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
9. Arin Mulai Sedikit Membuka Diri


__ADS_3

"Duduk !" perintahku sembari menarik kursi yang mau Arin duduki.


"Ziz, ini maksudnya apa ya ?" melihat dengan heran semua hidangan yang ada diatas meja dengan tulisan yang sudah kupinta dengan kelopak bunga mawar.


"Udah duduk dulu deh, gak usah bawel !" tegasku pada Arin.


Aku duduk percis dihadapan Arin, menatap wajah dan matanya yang sayu membuatku teduh dan ingin terus memandangnya.


"Tahan .. Tahan Ziz jangan dulu terpikat, ini belum seberapa" gunamku dalam hati.


"Ziz, siapa yang buat ini semua ?" tanyanya menatapku.


"Gue yang minta dan pelayan sini yang buatin lah" ketusku pada Arin.


Ku perhatikan Arin hanya menatap satu per satu dari hidangan yang ada diatas meja tersebut, tak ada satu katapun yang ia keluarkan setelah melihat ini semua. Sebenarnya Aku sudah tak sabar untuk mengenal Arin jauh lebih dalam lagi, tapi Aku harus bisa menahan semua rasa itu demi kelancaran rencanaku kedepannya.


Melihat Arin yang hanya mengenakan sehelai jaket tipis, Aku membuka jaket yang Aku pakai untuk Ku pakai kan pada tubuh Arin. Membuka jaketku lalu Aku berdiri dan langsung menghampiri Arin untuk Ku pakaikan jaket ini.


"Cuaca mala ini dingin, Gue gak mau Lu sakit gara-gara Gue ajak Lu kesini" ucapku dengan wajah datar.


Arin hanya menatapku dengan tatapan yang sendu, wajahnya yang cantik namun tidak membosankan untuk dipandang membuatku semakin penasaran.


"Ziz, kenapa lakuin ini ?" tanya Arin setelah Ku duduk kembali.


"Gak usah kepedean dulu !"


"Gue lakuin ini cuma takut karena Lu sakit doang"


"Kalo Lu sakitkan nanti kuping Gue gak bisa denger yang teriak-teriak lagi kalo diatas motor" ucapku sedikit cuek agar Arin tak curiga.


...****************...


Kelakuan dingin nya percis banget dengan Adit kala itu, tapi aku juga tak boleh egois menyamakan sifat orang lain dengan orang yang sudah Ku kenal sebelumnya.


"Kenapa Aziz mengetahui semua makanan kesukaan Aku ya?" tanyaku dalam hati.

__ADS_1


"Apa ada yang memberitahu soal ini ?"


"Gue tau Lu demen banget kan ngemilin coklat ? Makanya Gue pesenin sebanyak ini"


"Atau masih kurang ?" tanya Aziz membuka obrolan disuasana yang hening ini.


"Kata siapa Aku suka coklat ?"


"Sotau banget sih jadi laki !" guyonku mengetes Aziz.


"Gak usah pura-pura gitu deh, kalo suka ya suka aja! Pake ngeles segala lagi" jawabnya sembari memakan potekan sedikit coklat.


"Isssssssssh jangan !" reflek menepuk tangan Aziz yang kala itu mau mengambil lagi coklat.


"ha.. Ha.. Ha.. Tuhkan apa Gue bilang"


"Udah deh gak usah so so an tanya-tanya segala! Makan cepet!" perintahnya dengan suara sedikit keras.


Aku masih dibuat bingung oleh semua ini, seperti semuanya terjadi dengan begitu saja. Bahkan Aku juga tak mempunyai ekspetasi sejauh ini bersama laki-laki yang sebelumnya tak Aku kenal.


"Mikirin apalagi sih?"


"Oh ngerti..ngerti"


"Pengen disuapin kan ?" tanyanya sambil mengambil salah satu dessert kesukaanku dan menyuapiku.


Saat Aziz melayangkan sendok itu tepat didepan mulutku, Aku merasa Kita seolah sudah kenal lama. Tatapan Aziz membuatku nyaman malam itu, bahkan mulutku pun tak bisa menolak ketika ia berusaha menyuapiku.


Setelah Aziz menyuapiku beberapa sendok dan memberiku minum, Dia memindahkan kursi yang ia duduki menjadi percis disampingku. Kulihat tempat ini tak begitu ramai oleh pengunjung, padahal ini belum terlalu larut malam.


"Rin .. ?" tanya nya dengan lembut.


"Gue tau, Lu seneng banget kan natap langit kaya gini ?"


"Gue juga tau, kebahagiaan Lu udah ada diatas sana kan ?"

__ADS_1


"Hari ini Gue sengaja ajak Lu ketempat ini biar Lu bisa dengan puas mandangin kebahagiaan Lu dari tempat ini"


"Gue sangat amat bersedia untuk nemenin Lu kemana aja walaupun itu hanya sekedar untuk kebahagiaan Lu yang selama ini udah hilang" ucap Aziz yang pada saat itu memegang lembut tangan kiri Ku.


Aku hanya bisa menatap Aziz dengan heran, tentang semua ini kenapa Aziz setau itu ? Seolah dia bisa merasakan apa yang Aku rasakan. Air mataku sudah tak bisa Aku bendung lagi, keluar deras dengan sendirinya karena Aku hari ini benar-benar merasakan kembali seperti hidup dan didengar.


Selama ini Aku kehilangan semua arah, Aku kehilangan diriku sendiri setalah setengah duniaku memutuskan untuk pergi dan tak bisa bertahan bahkan Aku juga hampir kehilangan warasku ketika ia sudah berhasil pulang dengan tenang yang tak membawa kesakitannya lagi.


"Aku hanya takut jika mencoba untuk membangun rumah lagi lalu rumah itu terbawa angin lagi seperti kemarin dan membuatku hilang arah sendirian" lirihku dengan lemas.


Mendengar omongan itu, Aziz memeluk tubuhku dan mengusap kepalaku dengan lembut. Kepalaku yang ia usap namun air mataku yang runtuh deras membanjiri pipi.


"Rin, sejauh ini Lu hebat !"


"Mampu mengukir senyum untuk orang lain namun nyatanya duniamu hancur"


"Semua terjadi bukan hanya kebetulan, tapi Tuhan sudah sangat merencanakan tentang hal apapun yang ada didunia" jawabnya menenangkanku.


...****************...


Melihat keadaan Arin yang seperti ini, membuatku sangat yakin bahwa Arin adalah wanita baik-baik yang tak boleh disia-siakan dalam hal apapun. Air mata deras yang membasahi pipinya seolah menandakan bahwa ia sangat benar-benar merindukan sosok kehadiran Adit.


Kepalanya yang menyender dibahuku dengan lemas menandakan bahwa ia juga sudah banyak kehilangan tenaga untuk selalu berpura-pura selama ini, badannya yang kecil juga seolah menandakan bahwa ia sudah berjuang hebat setangah mati untuk tetap melanjutkan hidup walau setengah dunianya sudah pergi meninggalkan ia lebih dulu.


"Rin.. Lu boleh nangis sepuas Lu malem ini"


"Tapi Lu harus janji sama Gue untuk hari esok gak ada lagi air mata yang harus Lu keluarin tanpa alesan apapun" ucapku mengelus pipi Arin.


"Ziz, Aku sedang bertarung hebat dengan diriku sendiri. Rasanya sangat sulit untuk Aku menemukan kebahagiaan lagi" jawabnya dengan lemas.


Saat itu Arin tak bisa menahan tangisnya, air matanya terus keluar dan membasahi pipi Arin. Aku tau ini memang tak mudah, apalagi Arin dan Adit itu menjalin hubungan hingga 10taun lamanya. Perlu waktu yang sangat lama untuk Arin menyembuhkan lukanya ini.


"Ziz, Aku sudah sempat belajar untuk menerima namun nyatanya nihil, Aku juga sedang belajar kuat namun rupanya Aku kalah dengan keadaan"


Mendengar kalimat itu Aku tak bisa berkata apapun lagi dan jika Aku yang berada diposisi Arin pun mungkin Aku akan merasakan hal yang sama. Apalagi Arin termasuk cewe yang sedikit tertutup, Dara saja yang sudah menjalin pertemanan lama dengan Arin tak banyak tau tentang cerita dan hati Arin.

__ADS_1


Arin tak suka jika dirinya dipaksa untuk bercerita, bahkan ia bisa sangat marah jika kita memintanya atau memaksanya untuk itu. Aku berusaha membuat Arin untuk tenang dulu dimalam ini, membiarkannya untuk menangis sampai puas agar bisa sedikit membuatnya lebih lega dari sebelumnya.


"Dit, sorry Gue izin peluk Arin malam ini ya" lirihku dalam hati berharap Adit tak marah pada perlakuanku.


__ADS_2