
Sepanjang perjalanan Arin terus saja menggerutu menanyakan akan dibawa kemana ia oleh Ku. Aku semakin kencang mencap gas motor Ku agar segera sampai ditempat yang sudah Ku siapkan untuk Arin.
Melihat kelakuannya seperti anak kecil yang merehek minta permen pada Ibunya, membuat Ku semakin penasaran akan diri pribadi Arin.
"Se special apa sih nih cewe sampe buat Adit menitipkannya pada Ku" lirih Ku dalam hati.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Aku sampai ditempat yang sudah Ku siapkan ini.
"Turun dong. Aaaaatau masih mau meluk-meluk nih ?" godaku Ku pada Arin yang saat itu masih menempelkan dagunya dibahu kiri Ku.
"Pegel nih bahu Gue" tambah Ku.
"Udah sampai ?" tanya Arin dengan datar.
"Masih jauh! Ya sudah lah, ayo turun" perintah Ku.
Melihat Arin yang saat itu hanya menggunakan jaket dengan kain yang sangat tipis, rambut terurai panjang dan sedikit riasan wajah membuat Ku diam mematung dan tak berkutik saat memandangnya.
Deg.
"Cantik juga nih cewe" terlintas pikiran kotor dikepala ku sembari membuka helm.
"Ayo! " ucap Ku sambil menarik tangan Arin untuk masuk ke sebuah tempat ngopi dengan view city light.
"Waaaaaaaaaaw .." ucap nya dengan halus sambil melihat pemandangan malam itu.
"Ziz.." panggilnya dengan lembut.
"Kayanya Dia bener-bener suka deh" lirih Ku dalam hati
Saat memasuki kafe tersebut, Aku sudah lebih dulu memesan tempat dan minuman serta cemilan untuk Arin sesuai apa yang Dara bilang tentang kesukaan Arin, bahkan Aku juga membawa Arin ke tempat ini sesuai dengan cerita Adit dulu bahwa cewek nya paling suka dibawa ketempat yang menyuguhkan pemandangan indah dimalam hari.
Dan ya! Ternyata benar, langkah demi langkah begitu Arin nikmati. Bahkan ia tak menyadari nya bahwa Aku masih memegang lembut tangan nya yang mungil ini sambil menuntun nya ke tempat yang akan kita duduki.
Mata Arin saat itu tak bisa bohong, berbinar dan seperti menyimpan segudang rasa rindu. Aku memilih untuk tak menceritakan siapa diriku sebenarnya pada Arin, biar waktu yang memberitahu Arin. Tugas Ku sekarang hanya memulihkan Arin dan membuat dirinya merasa dicintai kembali.
...****************...
__ADS_1
"Dit, apa kamu ada disini juga ?" tanya Ku dalam hati menahan tangis.
Melihat tempat ini membuatku merasakan kembali bahwa Aku sedang berada difase dicintai hebat oleh lelaki tulus yang tidak banyak menuntut seperti Adit, Aku teringat dengan suara tertawa senang itu, Aku teringat senyuman manis itu bahkan Aku teringat pelukan dan pegangan tangan hangat itu lagi.
"Apakah Aziz versi keduanya Adit ?" heran Ku.
Berteman dengan Ahmad memang mampu membuatku bisa tersenyum lepas kembali, namun dengan Aziz Aku merasakan bahwa Aku hidup kembali seperti masa-masa bersama dengan Adit dulu.
"Ziz ?" panggilku lembut Ku.
"Udah gak usah banyak ngomong, bentar lagi kita sampai kok dimeja yang udah Gue pesan" ketusnya sembari terus memegang tangan Ku.
"Ziz, tanganku sakit tau" sedikit Ku teriak dan memberhentikan langkah.
"Sakit ? Sakit kenapa ah ?"
"Gak usah lebay deh" tambahnya yang masih terus memegang tanganku.
"Azizzzzz !" Aku memberhentikan kembali langkah dan menarik tanganku dari pegangannya agar terlepas.
"Liat ! Tanganku sakit tau !" menyodorkan tanganku tepat didepan wajahnya.
"Mana coba sini Gue liat !" menarik tanganku sedikit kasar.
Ketika Aziz menarik dan melihat tanganku yang sedikit sakit dan memerah rupanya Dia langsung mencium tangan itu, dibuat sedikit kaget dengan tingkahnya dan Aku hanya bisa terdiam mematung saat Aziz melakukan itu.
"Udah gak sakit lagi kan ?"
"Ayo lanjut jalan lagi"
Aku masih saja diam mematung, bahkan saat Aziz menarik tanganku pun badanku masih berdiam ditempat itu.
"Sekarang apalagi Arina Beyza"
"Mau minta digendong?" tanya nya sambil membalik kan badan dan berdiri percis didepan badanku yang mungil kecil ini sambil menatap dengan tatapan yang tajam.
"Kenapa kelakuannya mengingatkan Ku pada Adit, kenapa harus ciuman tangan itu yang ia lakukan ?" gunamku dalam hati.
__ADS_1
Aku teringat saat pertama kali Adit melakukan itu dulu terhadapku, membuatku seolah Aku hanya wanita satu-satunya dihidup Adit. Aku ini penuh luka, Aku bangkit dari trauma yang Ku punya, keluar rumah seperti ini hanya untuk membuatku tertawa. Namun kenapa hari ini semuanya sangat berbeda ? Seolah apa yang pernah Aku lewati bersama Adit terulang kembali.
Tiba-tiba air mataku terjatuh begitu saja.
"Hey. Rin ? Lu kenapa ?" tanya Aziz sembari mendekatkan badannya dihadapanku.
"Gue ada salah ? Atau Lu gak suka sama tempatnya ?"
"yaudah, oke Kita balik" ucap Aziz dengan penuh kebingungan sambil mengusap halus air mataku.
"eng.. Engga .. Engga Ziz, its oke aku baik-baik aja kok"
"Maaf .. Maaf ya" tegasku meyakinkan Aziz.
Aziz pun kembali menuntunku berjalan menuju meja yang sudah ia pesan, sepanjang langkah Aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa hari ini Aku benar-benar merindukan sosok yang selalu setiap hari membuatku tertawa lepas.
Aku harus bisa memastikan diri ini baik-baik saja, karena dulu Aku sudah sempat berjanji dihadapan Adit bahwa Aku ikhlas menerima jalan takdir seperti ini. Bahkan Aku juga sudah berjanji pada Adit bahwa Aku akan tetap melanjutkan apa yang Aku suka walau kini Dia sudah tak bersama menemaniku lagi.
...****************...
"ternyata Bu Arin sudah punya pacar toh" lirihku diam termenung didalam kamar.
Melihat Bu Arin dijemput oleh lelaki yang sebelumnya tak Aku kenal membuatku sedikit marah pada keadaan dan diri sendiri, rupanya selama ini Bu Arin tak membuka hati pada siapapun tuh ternyata ada hati yang ia jaga. Selama ini ternyata Aku salah menilai baik dan terbukanya Bu Arin padaku, itu bukan karena Bu Arin menerima semua gombalanku tapi karena ia hanya menganggapku sebagai teman kantor biasa seperti yang lainnya.
Ternyata benar sesuatu yang semakin kita kejar maka ia akan berbalik menjauh.
"aaaaaarghhhhh sial !" kesalku melempar pulpen yang sedang Ku pegang saat itu.
"Tapi lelaki itu siapa ya ?" penasaranku mulai muncul
"Apa Aku harus bersikap biasa saja ya untuk hari besok ? Agar Aku bisa mengetahui siapa lelaki itu sebenarnya" pikiran licik Ku mulai muncul.
Aku tak akan pernah rela bahkan membiarkan Bu Arin jatuh ke tangan lelaki yang nantinya hanya akan menyakiti hati Bu Arin saja, Aku benar-benar menyukai dan menyayangi Bu Arin dengan tulus tanpa ia tau yang sebenarnya.
"Kenapa selama ini gak Aku kejar Dia lebih serius aja sih"
"Dasar bodoh .. bodoh Lu Mad !" kesalku kembali.
__ADS_1
Andai saja tau kalo hari ini Bu Arin akan dijemput oleh lelaki itu, mungkin tadi akan Ku percepat semua kerjaanku agar bisa mendahului mengajak Bu Arin untuk pulang, mungkin kalo Aku juga tau kejadiannya akan seperti ini dari kemarin-kemarin akan ku kejar dengan serius Bu Arin hingga ke keluarganya.