JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
12. Dara dan Aziz Merencanakan Sesuatu


__ADS_3

"Ra, mungkin Lu masih ragu atau bahkan gak percaya sama Gue saat ini. Tapi kali ini bisa Gue pastiin kalo cerita Lu tentang Arin dan Adit dulu bisa aman ditangan Gue" memastikan Dara.


Aku ingin sekali mendengar semua cerita yang sesungguhnya tentang mereka langsung dari Dara sebelum Arin yang menceritakan semuanya, Aku juga ingin mengetahui sekeji dan sejahat apa wanita yang sudah dengan tega menghancurkan Arin hingga seperti ini.


"Ra mungkin Arin bukan tipe cewek yang Gue mau bahkan suka, tapi Gue bener-bener butuh banget cerita Lu" penasaranku pada Dara.


"Lah kalo emang Arin bukan tipe Lu, ngapain Lu butuh cerita itu ?" tanyanya dengan heran.


"Gue cuma butuh cerita cewek yang bener-bener udah tega ngancurin Arin" tegasku pada Dara.


"Rena maksud Lu, Ziz ?" jawab Dara dengan sedikit kaget.


"Lu tau Rena dari siapa ? Atau Arin udah sedikit cerita ?"


"Adit yang cerita, tapi Gue ngga dapet banyak informasi tentang cewek itu"


"Ternyata Lu udah tau cewek bajingan itu Ziz" lirih Dara dengan suara lemas.


Malam itu Dara menceritakan panjang lebar tentang Rena, Adit dan Arin. Mendengar semua cerita dengan sedetail itu membuatku semakin marah, jengkel dan emosi. Tanganku mengepal kesal ketika mendengar ceritanya. Aku tak bisa membayangkan perasaan Arin saat itu sehancur apa.


Sabar Arin memang tiada tanding bahkan kebaikan dan ketulusan Arin pada Adit pun seluar biasa itu, kali ini Aku baru menemukan sosok cewek yang hebat dan kuat seperti Arin.


"Tunggu kehadiran Gue Ren" kesalku dalam hati.


"Sampai mana Lu lari, keujung duniapun akan Gue kejar"


"Ra, Gue denger ceritanya aja sekesel ini. Kenapa Arin sekuat itu ya"


"Ziz, Arin itu mencintai Adit dengan tulus yang ia punya, Dia juga rela mengorbankan apapun termasuk waktu hanya untuk Adit"


"Seribu maaf Arin berikan pada Adit, namun akhirnya Arin yang Adit buang gitu aja demi Rena" jelas Dara.

__ADS_1


Setelah mengobrol panjang lebar dengan Dara dan Aku mengetahui semua informasi tentang Rena dari Dara, Aku memutuskan untuk pulang. Ditambah dengan malam yang sudah semakin larut, Aku takut malah mengganggu waktu istirahat Dara.


Yang terpenting kali ini Aku dan Dara sudah sepakat dengan rencana yang sudah kita buat tadi untuk membalas perlakuan yang sudah Rena lakukan, Aku berpamitan pada Dara dan memutuskan untuk pulang.


...****************...


"Aziz kok bisa tau semua yang Aku suka ya ?" ucapku sambil melihat langit-langit kamar.


"Hari ini Aku ngerasa seperti hidup dan mempunyai semangat lagi"


Adit memang selalu menjadi pemenang dalam hal apapun dihidup Aku, tapi jika mengingat kejahatan Adit padaku, Aku merasa kalo dunia tidak adil saat itu. Kenapa harus ada yang menghancurkan duniaku?


4 Tahun lamanya Aku selalu menutup diri dan hati dari siapapun yang dateng pada kehidupanku, menghukum diriku sendirj dari berbagai situasi dan kondisi apapun. Aku merasa diriku gagal dan tak berguna untuk siapapun, bahkan Aku selalu merasakan ketakutan yang hebat jika ada seseorang yang berusaha mendekatiku karena traumaku sendiri.


Gagalku terlalu banyak tapi traumaku lebih banyak lagi hingga Aku harus mengorbankan mentalku pada keadaan, selalu berpura-pura kalo Aku baik-baik saja dihadapan semua orang membuatku merasa cape dan lelah. Tapi Aku melakukan itu agar tak banyak orang yang menanya keadaanku.


Sebenernya kala itu Aku tak ingin ada perpisahan atau kesedihan, dengan Adit Aku hanya ingin bahagia saja tapi semesta berkata lain. Aku harus mengetahui sesuatu hal besar yang membuat Aku membenci kata-kata manis. Hari itu hari yang sangat tak ingin Aku saksikan sebetulnya, namun Tuhan memberikan itu untuk ku agar maafku tak lagi dijadikannya sebagai makanan pokok Adit.


"Aku sudah tak mau merasakan sakit yang kedua kalinya Tuhan, Aku tak ingin merasakan lagi kecewa yang begitu hebat. Karena menyembuhkan luka kemarin Aku menjalaninya hingga setengah gila"


Dara mengasihaniku dari kisah yang kualami ini, bahkan Dara yang jengkel dengan semua yang ia saksikan bersamaku bersikeras untuk membalas perlakuan Rena pada saat itu namun Aku melarang keras dengan keegoisanku karena Aku ingin memaafkan Adit dan memperbaiki semuanya dengan kesempatan yang sudah Aku berikan kembali.


Bukan hanya Aku yang kecewa melainkan kedua orang tuaku dan juga keluarga besarku merasakan hal yang sama, mereka begitu marah dan kesal pada kelakuan Adit namun lagi-lagi Aku meredam dan meyakinkan mereka semua bahwa ini hanya kesalah pahaman yang mereka tak tahu saja.


4 Tahun bergelut pada pikiran yang amburadul membuatku selalu iri pada semua pasangan yang kulihat depan mata, tak jarang juga Aku selalu mengjabiskan malamku dengan menangis secara diam-diam agar tak diketahui oleh siapapun, menyibukkan diri dan mengembalikan diriku sendiri sangatlah sulit bagiku yang tak mempunya support dari siapapun.


*drrrrt.. drrrrt* hpku bergetar.


"Rin, Lu udah tidur kan ?" pesan singkat dari Aziz.


Aku hanya menatap hpku saat itu, tak membalas atau merespon chat dari Aziz. Aku menyimpannya kembali dipinggir kepalaku.

__ADS_1


"Ziz, bisakah kita saling membahagiakan tanpa ada sakit yang kita berikan satu sama lain ?" tanyaku dengan suara meringis.


"Aku ingin memulai kembali sebuah perasaan, namun ketakutanku masih terlalu besar"


"Tuhan apakah Aziz bisa membantu diri ini kembali pada diri yang dulu ?" tanyaku memandangi langit-langit kamar.


"Huhh .." helaan nafasku.


Aku memutuskan untuk berganti baju san bersih-bersih, menjatuhkan badanku diatas kasur dan menarik selimut.


"Dit, kalo hari ini kamu lagi liat Aku dari atas sana. Kuberi tahu kalo perjuanganku untuk menyembuhkan diriku sendiri itu tak semudah membalikan telapak tangan"


"Aku wanita yang hampir saja gila karena perbuatanmu"


"Tapi Aku selalu memaafkan apapun yang sudah terjadi itu"


...****************...


"Arin kok ngga bales chat Gue sih ?" tanyaku sambil memandang hp.


"Apa dia udah tidur ya karena kecapean hari ini ?" tambahku.


"Gue harus bener-bener secepatnya membalas kelakuan wanita dajjal itu" geramku sambil membuka jaket yang Ku pakai.


Adit benar-benar tega melakukan semua itu pada Arin, padahal Arin selalu memberikan maaf berulang kali pada Adit sebesar apapun masalahnya. Arin yang menemani masa-masa sulit Adit saat itu dengan sabar yang Arin punya, bahkan Dara bilang Arin memberikan semua kejutan mobil untuk Adit namun mobil itu malah dipake untuk mengantar dan menjemput Rena.


Dunia memang ngga adil bagi Arin saat itu, bukan hanya fisik yang Adit hancurkan tapi mental Arin pun tak segan-segan Adit hancurkan. Sekarang giliranku yang membuat hidup Rena sengsara.


Tak ada satupun wanita yang rela jika cintanya dibagi menjadi dua, tapi dengan ketulusan hati Arin Dia mau melakukan itu dan masih memberinya Adit waktu juga untuk memilih. Bener-bener luar biasa sih Arin.


Dari mulai detik ini, akan ku pastikan bahwa Arin akan merasakan kembali bahagianya ditanganku, akan mendapatkan dirinya kembali ditanganku dan akan mendapatkan senyumnya kembali yang sudah lama hilang selama ini.

__ADS_1


__ADS_2