
"Dit pokonya sekarang Gue bakalan kabulin permintaan terkahir Lu" lirih Ku dalam hati.
Pantesan dulu Adit begitu mencintai Arin setulus itu, Aku pun bisa merasakan dari pelukan hangat yang tadi Arin berikan untuk Ku walaupun Aku yang sedikit memaksanya.
"tenang Dit pokok nya Arin sama Gue aman" harap Ku.
Bisa mengetahui letak rumah Arin adalah sebagian kebahagiaan bagi Ku, walaupun mengetahui hal ini perlu pengorbanan hingga begadang tapi Aku puas.
"Untung saja semalem sahabat Arin mau memberitahu nya" lirih Ku.
Semalem pulang dari tongkrongan, Aku berusaha untuk mencari kontak Dara, ya! Sahabat Arin yang sudah berteman sangat lama, mengabarinya disosal media lalu Ku temui dirumahnya karena dia yang memintanya.
Dari Dara aku mendapatkan banyak sekali informasi tentang Arin, dari mulai kesukaannya hingga ketidak sukaannya. Dara banar-benar sangat baik karena mau membantu Ku hingga sedetail itu.
Bahkan Dara pun mempercayai dan menitipkan Arin pada Ku setelah Aku ceritakan yang sesungguhnya tentang maksud Ku yang ingin mendekati Arin saat ini, Dara sangat paham pada kondisi Ku dan sangat khawatir pada Arin.
Ternyata benar cinta yang tulus dan lama itu tercipta hanya untuk orang-orang yang kuat saja.
Sesampainya dirumah Aku beristirahat sebentar dan langsung bergegas untuk mencari bunga kesukaan Arin sesuai dengan yang Dara bilang. Bahkan kerjaan Ku hari itu aku tunda dulu demi Arin.
Adit lelaki baik yang sering menolong Ku dulu, bahkan ketika keadaan ekonomi keluarga Ku hancur, keluarga Adit lah yang membantu hingga keluarga Ku bisa bangkit kembali.
Banyak hutang budi Ku pada Adit yang belum sempat ku balas, banyak pula kebaikan Adit yang lain dikehidupan Ku yang Aku pribadi rasakan.
...****************...
"Kenapa Aku bisa merasakan kenyamanan yang tak asing ketika berboncengan dengan Aziz tadi pagi ya ?" heran Ku terdiam sejenak dari kerjaan kantor.
"Huh .." menghela nafas karena tiba-tiba teringat pada Adit.
"Bau wangi parfumenya, cara membawa motornya bahkan gelagat dingin nya mengingatkan Ku pada sikap dan sifat Adit" ingat Ku pada masalalu.
__ADS_1
Andai saja hari itu tidak terjadi, mungkin sekarang Aku masih menjadi wanita bahagia yang dicintai tulus oleh seorang lelaki yang selalu meratukan Ku. Dan andai hari itu Aku ikut dengan nya mungkin juga Aku sekarang bisa bersama dengan Adit dialam yang berbeda.
Hari itu memang hari terburuk Ku, yang membuat kehidupan Ku berubah hingga 360° , hari itu hari dimana kebahagiaan Ku berubah menjadi hari yang penuh dengan isak tangis. Memang ikhlas tuh sebuah kata yang paling singkat namun untuk menjalani kata ikhlas Aku harus berusaha hingga setengah mati.
Kejadian itu yang merubah Ku menjadi sosok wanita yang tertutup, keras kepala, egois dan tak memikirkan diri sendiri. Dicintai hebat oleh sosok lelaki yang bisa membuat Ku merasa beruntung setiap hari ternyata lawan Ku sudah bukan keluarganya lagi tapi sang pencipta yang maha pemilik takdir.
Banyak yang berusaha untuk mendekati Ku namun Aku hanya memilih untuk menatap langit, karena diatas langit sana terdapat sosok lelaki yang sudah tidak bisa lagi ku miliki hingga Ku peluk dengan bebas. Aku selalu yakin bahwa sampai saat ini Adit selalu ada disamping Ku untuk menemani hingga mengawasi Ku.
Aku melanjutkan kembali semua kerjaan hari ini, menjalani meeting dengan salah satu Bos dari perusahaan ternama hingga menyusun berkas untuk hari esok yang harus Aku kerjakan. Tak terasa waktu pun begitu sangat cepat, hingga akhirnya dimana semua kerjaan Ku selesai tepat waktu dan tak mengharuskan Ku lembur.
Membereskan meja kerja Ku yang sedikit agak berantakan dan memasukan kembali semua barang yang Ku bawa kedalam tas. Memakai kembali jaket yang Ku bawa dan berjalan dengan santai ke depan kantor sambil memesan ojek online.
Hari itu Aku benar-benar tak ingat pada omongan Aziz tadi pagi yang dimana Dia akan menjemput Ku sepulang kerja.
"Rin .. " suara teriakan memanggil Ku.
Saat Ku lihat ternyata itu Aziz yang sudah stay didepan kantor Ku menunggu diatas motor nya seperti tadi pagi.
"Hzzzz .. Sial Aku gak inget lagi sama ucapan Dia tadi pagi" sambil berjalan dan berbisik sedikit kesal serta memasang raut wajah yang sedikit bete.
"Jangan kurang ajar ya! Pake pegang-pegang segala lagi" membuang tangan Aziz
"Gue udah pesen ojek online tau! Nih" sambil melihatkan Hp yang Ku pegang pada Aziz
"Nah tinggal dibatalin gini aja kok ribet banget sih Lu, cepetan naik" merebut hp Ku dan membatalkan pesanan ojek online Ku.
"Aziz!!!!!!" sedikit teriak Ku pada Aziz dengan nada kesal dan marah.
"Udah apaan sih, sekarang Lu pake helm, duduk baik dan naik cepetan macet nih" sambil memakai kan helm dikepala ku.
...****************...
__ADS_1
"Arin .. Arin tingkahnya lucu banget sih Lu" lirih Ku dalam hati.
"Muka Lu kalo lagi kesel gini tuh makin cantik tau Rin asal Lu tau" tambah Ku
"Gak mau peluk lagi nih kaya tadi pagi ?" teriak Ku pada Arin
Ku lihat wajah nya di spion kaca motor Ku rupanya Arin masih menekuk kesal wajahnya, cewe memang sedikit agak ribet kaya nya ya yang apa-apa selalu dipermasalahin dan diribetin.
Aku sengaja menambah kecepatan motor Ku agar Arin mau memeluk Ku seperti tadi pagi, walaupun Aku tau Arin pasti punya trauma yang sangat hebat tentang kekebutan dijalanan.
"Ziz, Lu bener-bener ya!" teriak nya saat Aku menambah kecepatan motor yang sedang Ku pakai ini.
Aku berusaha menghiraukannya dan melanjutkan dengan kecepatan ini.
"Ziz, pelanin gak motornya! Kalo engga Aku loncat nih dari atas motor" kesal nya sambil mencupit pinggang kanan ku.
Aku berusaha untuk menepi dipinggir jalan, membalikan badan dan menatap Arin yang saat itu masih kesal dan marah. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, bahkan saat aku membalikan badan Arin langsung membuang muka dengan tatapan sinis kearahku.
Berusaha menarik tangan Arin dan memasukannya ke kedua kantong jaket Ku.
Melanjutkan kembali perjalanan dan Aku sengaja tak mengantarkannya langsung pulang, Aku membawa Arin ke salah satu tempat kopi favorite nya dulu bersama Adit. Aku sudah menyiapkan beberapa kejutan disana untuknya.
"gak usah ngambek-ngambek nanti cepet tua" ucap Ku pada Arin sambil memegang pelan hidungnya saat kepalanya menopang diatas bahu kiri ku.
"apaan sih" ketusnya.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Arin yang kekanak-kanakan seperti ini. Tersenyum kecil saat melihatnya cemberut manis.
"Lah .. Kok belok sih Ziz ?"
"Bukannya arah pulang kerumah Ku itu lurus kan ?" tanya Arin dengan ketakutan sambil melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Ziz, jawab dong!" teriaknya.
Aku cuma menarik tangan nya kembali untuk memeluk Ku, mengelus lututnya dengan halus berusaha menenangkan Arin, namun nyatanya wanita amazon yang satu ini sangat sulit sekali untuk Ku tundukan hari itu.