JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
13. Aziz Dan Dara Mulai Mejalani Rencananya


__ADS_3

Keesokan Harinya.


"Ra, Lu udah siap kan ?" pesan singkatku pagi itu.


Sambil nunggu balasan dari Dara, Aku bergegas untuk mandi dan siapsiap menjemput Dara. Hasil dari desakan dan permohonanku akhirnya Dara mau juga membantuku untuk melancarkan pembalasanku pada Rena.


Berhubung hari ini juga Arin memutuskan untuk libur bekerja, jadi Aku tak bertugas untuk mengantarkan dan menjemputnya. Sengaja Aku tak mengabari Arin pagi itu.


Selepas mandi, Aku mengecek hp dan ternyata Dara sudah menungguku juga ditempat yang Kita janjikan semalam. Aku menjalankan motor dengan kecepatan penuh agar tak membuang waktu pagi itu, ketambah Aku tak mau membuat Dara menunggu agak lama.


Sesampainya ditempat itu, Aku sudah melihat Dara duduk sembari meminum minuman yang ia pesan.


"Hay Ra, udah lama ya ?"


"Eh .. Ziz engga kok santai. Duduk Ziz"


"Gimana, gimana ? Arin nggak tau kan kalo kita hari ini ketemuan Ziz ?" tanyanya sedikit berbisik.


"Engga, aman Ra aman tenang"


"Ra, jadi hari ini Kita mau mulai dari mana dulu nih ?" tanyaku langsung pada Dara.


Semalem Aku dan Dara sudah merencanakan sesuatu untuk mengikuti dan menjebak Rena, bahkan Dara mencari tau lebih dalam tempat yang sering Rena kunjungi setiap harinya. Dan ya! Malam itu juga Dara berhasil mengetahui banyak informasi tentang Rena dari teman Dara yang kebetulan Dia juga berteman dengan Rena.


Mengobrol panjang lebar dan hari juga sudah lumayan siang, Kita mulai untuk memutuskan ketempat pertama yang dimana Rena juga sangat sering kunjungi.


...****************...


*eeeeeuggggghhh* menggeliat


"jam berapa ini ?" lirihku sambil mengucek kedua mata karena silau dari balik gorden kamarku.


Ketika Aku melihat jam yang ada disamping kasurku ternyata sudah menunjukkan pukul 10.00 siang. Aku mengangkat badanku dari atas kasur dan duduk ditepi kasur sambil meminum air putih yang sudah kusediakan dimeja kamarku.


Berjalan mengambil hp untuk mengecek.


"Tumben banget Aziz ngga ngabarin hari ini ?"

__ADS_1


"Biasanya notif hp Ku pasti dipenuhi oleh kabar dari Dia"


"Ahh.. Mungkin Dia belum bangun kali"


Aku keluar dari kamar dan berjalan kebawah untuk melihat ada siapa aja hari ini dirumah.


"Bu .." teriak ku.


Namun teriakanku tak ada yang menjawab sama sekali.


"Masak apa ya Ibu hari ini ?" duduk dikursi meja makan dan membuka satu per satu tempat makanan yang ada diatas meja.


"Banyak banget Ibu masak hari ini" lirihku sambil mengambil sepotong tempe goreng.


"Ini rumah atau ruko sewaan sih ? Tiap hari sepinya bukan main" ucapku kala itu yang sambil asik memakan tempe.


"Ibu kemana ya ?" tambahku sambil mengabari Ibu.


Dulu kalo Aku tiap libur kerja Adit pasti mengajakku untuk berolah raga walaupun hanya lari keliling komplek, menemaniku kesana kemari cuma untuk cuci mata doang keliling mall. Tapi semuanya hilang begitu saja ketika Rena mengambil alih Adit dari hidupku.


...****************...


"Tentang sahabat Gue, ya Gue minta Lu bisa jagain Dia sampai Dia ngerasa dirinya hidup kembali" ucapku pada Aziz.


"Tenang Ra, masalah Arin itu pasti aman ditangan Gue" tegasnya dengan suara lantang.


Sebenernya dari dulu Aku ingin sekali membalas kelakuan Rena, namun apalah daya karena Arin melarangku dengan hebat kala itu. Arin tipe cewe yang nggak pernah memikirkan dirinya sendiri, terlalu sering ia mengorbankan dirinya hanya untuk orang lain, padahal jelas-jelas orang lainpun mungkin tak akan memikirkan Arin terlebih dahulu.


Satu-satunya sahabat yang Aku punya saat ini hanya Arin, berteman puluhan tahun bersamanya Aku banyak banget dapet pelajaran darinya. Tak segan-segan Arin bisa memarahiku hanya karena Aku membuat kesalahan kecil tapi itu adalah tanda sayang Arin padaku.


Keluarga Aku dan Arin sangat dekat walaupun kami bukan saudara, Ibu Arin sering banget membantu keluargaku ketika dalam kesusahan. Memang bukan hanya Arin yang mempunyai ketulusan hati tapi semua keluarganya pun mempunyai itu.


"Rin, sorry ya kali ini Gue ngikutin kemauan Aziz buat Lu"


"Gue juga lakuin ini karena Gue sayang Lu" gunamku dalam hati.


Aku tau mungkin kalau Arin mengetahui rencanaku dan Aziz Dia akan marah bahkan melarang kami untuk melakukannya, tapi apa boleh buat! Aku tak mau melihat wanita ****** itu masih berkeliaran dengan bahagia diluar sana diatas penderitaan sahabatku sendiri.

__ADS_1


"Ziz, Ziz stop!" teriakku.


"Oke, oke. Bentar, ada apa Ra ?"


"Itu Rena Ziz" jawabku sambil menunjuk salah satu perempuan yang sedang duduk didepan sekolah.


Aku memakai kacamata hitam yang ku bawa dan Aziz pun menepikan motornya kepinggir dengan pelan, berharap Rena tak mengetahui Kita berdua.


"Oh, jadi Rena Rena tuh itu" lirih Aziz sambil tertawa miring.


"Masih kalah jauh sama Arinku ternyata Ra" tambahnya


"Arrrggghh, udah udah sini Ziz" menarik tangan Aziz dan kita berpura-pura membeli jus yang tak jauh dari Rena duduk.


"Serius Adit tergoda sama modelan cewe kaya gitu Ra ?" tanya Aziz dengan membuang muka.


"Udah deh Ziz! Sekarang bukan waktunya untuk itu. Gimana caranya sekarang kita bisa ngikutin Dia sampai pada yang udah kita rencanakan malam"


Melihat Rena yang sedang terduduk didepan sekolah rasanya Aku ingin sekali langsung menghampiri dan menjabaknya, baru lagi melihat mukanya saja emosiku sudah ada pada puncak tertinggi. Tanganku mengepal dan amarahku semakin membludak.


"Andai saja dulu Arin tak menghalangiku, sudah habis rasanya Dia ditanganku" ucapku disamping Aziz.


"Tenang Ra! Sebentar lagi adalah kemenangan bagi kita untuk Arin" jawabnya sambil membakar sebatang roko.


Aku dan Aziz saat itu berusaha untuk saling menutupi agar Rena tak merasa dirinya sedang diikuti oleh Kita, berusaha tenang disituasi yang menyuruhku untuk marah adalah hal tersulit saat ini.


Setelah Kita menunggu lama, akhirnya ada seorang anak perempuan yang keluar dari sekolah itu dan berlari dengan riang kearah Rena, Kita dibuat bingung karena selama ini Aku tak mengetahui sama sekali kalau Rena sudah mempunyai anak.


"Bunda" teriak anak perempuan itu.


Renapun memeluk anak tersebut dan berjalan bersamanya meninggalkan sekolah tersebut, Aku dan Aziz sepakat untuk menitipkan motor pada penjual jus itu dan mengikuti Rena.


Setelah kami ikuti ternyata Mereka menuju satu rumah dan masuk kedalam rumah tersebut, Kamipun memutuskan untuk menanya salah satu warga yang sedang duduk santai diteras rumah terkait rumah yang dimasuki oleh Rena tadi. Dan ya! Penjelasan salah satu warga tersebut membenarkan jika itu rumah yang Rena tempati bersama suaminya yang belum lama ini baru menikah.


Kamipun memutuskan kembali untuk mengajak ngobrol orang tersebut lebih dalam tentang keseharian Rena selama ini, panjang lebar obrolan Kami dan ternyata Aku tau bahwa Rena adalah salah satu pemandu ditempat karaoke yang tak jauh dari sini.


Bahkan orang tersebutpun memberitahu Kami kalau biasanya Rena berangkat kerja selalu jam 8 malam dan selalu dijemput lelaki yang berbeda-beda setiap harinya, dikawasan rumah Rena sudah bukan menjadi rahasia umum lagi seorang perempuan yang bekerja sebagai pemandu karaoke karen hampir semua wanita yang ada dikawasan ini bekerja sebagai itu.

__ADS_1


__ADS_2