JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
20. Satpam Suruhan Aziz Berhasil


__ADS_3

"Kayanya ini laki boleh juga nih" ucapku saat beristirahat dan memandangi kartu nama yang lelaki tadi berikan.


"Fahrezy Aziz Putra"


"Tenyata Dia seorang pengusaha"


"Kalau Gue jadi Bininya mungkin kehidupan Gue bakal berubah dengan drastis, secara sekarang kan Adit sudah nggak ada" pikir jahatku.


"Ini Gue Rena" pesanku pada Aziz.


Sambil menunggu balasan, Aku bergegas untuk bekerja dan mencari mangsa lainnya lagi. Pekerjaanku saat ini memanglah pilihanku sendiri, Aku bisa mendapatkan uang hanya dari mengoroti lelaki-lelaki hidung belang disini dengan mudah.


Bagiku dosa tak ku pikirkan, yang terpenting Keyra anak ku bisa membeli apapun dan bersekolah seperti layaknya anak-anak yang lain. Aku bisa dengan mudah memikat para lelaki hidung belang hanya dengan belaian tanganku saja.


Hanya saja Aku harus sedikit merelakan semua bagian tubuhku diraba olehnya, tapi itu tak membuatku rugi. Bagiku apapun yang bisa menghasilkan uang akan kujalani terus tanpa memikirkan apapun.


Setiap malam Aku selalu menggoda para lelaki hidung belang dengan mudah, bahkan Aku juga bisa dengan mudah mengusai uang-uang mereka, Aku bisa mengancam mereka dengan mudah jika mereka berusaha menolak permintaanku karena Aku selalu merekam aksiku jika sedang bersetubuh dengan mereka secara diam-diam.


Contohnya Adit, dulu Dia bisa masuk kedalam perangkapku hanya dengan hal sesimple Aku meminta tolong untuk dijemput tengah malam dan ku ajak Dia untuk bersinggah disebuah hotel, kugoda untuk menikmati tubuhku dan ku rekam aksiku dengan perlahan, sampai pada akhirnya ketika Dia mau meninggalkanku demi pacarnya Dia lebih memilihku karena takut Aku akan memberikan semua rekama itu pada pacarnya.


Sekarang juga akan ku lakukan dengan hal serupa pada Aziz, akan ku jebak Dia seperti dulu Aku menjebak Adit.


...****************...


"Ziz, Gue minta Lu jangan sampai kebablasan dalam rencana ini ya" ingatkanku pada Aziz.


"Ra, Gue bukan Adit yang bisa Lu samain seenaknya. Dan Lu juga harus tau bahwa Gue punya cara tersendiri untuk bisa menjaga pada hal itu"


"Yang jelas Gue bakalan lebih kejam ngebales semua apa yang udah Adit dan Rena lakuin ke Arin" jawabnya dengan penuh amarah.


Melihat Aziz yang semarah ini pada kelakuan Adit dan juga Rena membuatku sedikit agak takut, takut jika Aziz melakukan hal diluar rencana ini. Tapi Aku harus bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Lu kenapa sih langsung buka hoodie gitu aja Ziz"


"Hoodie Gue udah banyak ternodai ditempat itu Ra, dan Gue nggak bakalan pake hoodie ini untuk menemui Arin" tegasnya.


"Kita makan dulu kaliya Ra, laper nih" ajaknya saat itu.


"Boleh Ziz"


Disepanjang perjalanan Aku memperhatikan Aziz secara diam-diam, masih terlihat jelas bahwa dirinya sangat amat kesal dengan cerita yang sudah kuberitahu tadi.


"Bagus deh kalo udah tau cerita ini, jadi Gue nggak harus terus menerus menyimpan kenyataannya sendirian" gunamku dalam hati.


...****************...

__ADS_1


"Sialan ternyata sekeji itu Adit menyakiti Arin"


"Lu memang teman baik Gue Dit, tapi untuk soal ini sorry Gue rasa Gue harus ambil tindakan biar cewe ****** itu nggak bersikap semaunya" gunamku dalam hati.


"Ra, kira-kira Arin jam segini udah tidur belum ya ?" tanya ku pada Dara yang saat itu melamun.


"Hey, Ra! Gue ngomong tuh jawab bisa kali"


"Ngelamunin soal apasih ? Serius amat!" tegurku menepuk pundak Dara.


"Eh .. Apa gimana Ziz ?" jawabnya dengan sedikit linglung.


"Kira-kira Arin jam segini udah tidur belum ?" tanyaku kembali.


"Setau Gue sih biasanya udah Ziz, soalnya kan Dia besok kerja" jawabnya.


"Karena kalo Gue nginep dirumahnya juga Dia selalu tidur lebih dulu daripada Gue. Kenapa emang ?"


"Gitu ya, engga sih tadinya Gue mau Beliin juga Dia makan biar sekalian pas anterin Lu pulang Gue mampir dulu kerumahnya"


"Ziz, Lu udah mulai sayang ya sama Arin ?" tanya nya sedikit mengulik.


"Ya kalo dibilang sayang terus terang Gue sayang Ra, tapi nggak tau deh kalo Dia haha"


Dara hanya menyikapinya dengan senyuman ketika Aku berusaha jujur tentang perasaan yang Aku miliki sekarang. Sesampainya ditempat makan Kita memesan makan, menikmatinya dan beranjak pulang.


"Ah Elu Ziz kaya yang kesiapa aja, Lu dijalan hati-hati! Jangan kebut-kebut nanti malah buat Arin sedih lagi" jawabnya mengingatkan ku.


"Kalau ada kabar soal Rena kabarin Gue ya Ziz" tambahnya.


Dara pun keluar dari mobilku dan ku putuskan untuk balik kanan pulang, sepanjang jalan pulang yang ku rasakan hanya amarah dan emosi yang sangat besar. Apalagi ketika mendengar bahwa Adit dan Rena bersetubuh dan diketahui oleh Arin langsung.


"Arin kurang apa sih Dit" ucapku dengan kesal didalam mobil.


Sesampainya didepan rumah, satpamku membukakan pintu gerbang rumah. Aku memasuki rumah dan membawa hoodie ku.


"Pak .. Pak" teriak ku pada satpam.


"Iya Den, ada apa ?" jawabnya sambil meronggoh kepadaku.


"Tolong buangin hoodie ini ketempat sampah depan ya! Tapi sobek-sobek dulu sampai hancur" perintahku padanya.


"Ba.. Baik Den" berjalan meninggalkanku dan membawa hoodienya.


"Sudi banget kalo Gue harus bawa hoodie itu masuk kedalam rumah apalagi kamar" lirihku sambil berjalan menuju kamar dengan menggenggam hpku.

__ADS_1


Didalam kamar Aku menjatuhkan badanku diatas kasur, membuka hp ku dan kulihat ada beberapa pemberitahuan yang masuk. Saat ku lihat ternyata ada 1 pesan masuk dari Arin dan beberapa pesan dari wanita ****** itu, bahkan tak segan wanita ****** itu menelponku beberapa kali.


Aku menghiraukan nya sejenak karena Aku merasa seluruh badanku terasa sakit sekali, yang Aku balas hanya pesan dari Arin saja. Mengucapkan selamat tidur dan mengingatkannya bahwa besok Aku akan menjemput Dia untuk ku antarkan kerja.


"Huhhhhhh sakit banget badan ini" keluhku merintih kesakitan.


Tak terasa ternyata Aku terlelap ketiduran malam itu.


...****************...


"Sombong banget laki yang satu ini, Gue chat kok gak dibalas sama sekali" lirih ku didalam ruang ganti.


"Belum tau aja Dia siapa Gue sebenernya"


"Gue bisa dengan mudah dapetin apapun yang Gue mau" tambahku sedikit kesal.


"Pokoknya Gue harus bisa dapetin Dia"


Malam itu tugasku beres, Aku berganti baju dan bersiap untuk pulang menemani anak ku yang sedang tertidur pulas dirumah. Tukang ojek yang biasa mengantar dan menjemputku setiap hari sudah stay menungguku didepan.


Aku bergegas untuk berganti baju.


"Pulang Mbak" sapa salah satu satpam ditempatku bekerja


"Pulang dong Pak, masa mau nginep sih" jawabku sambil menghampiri ke dalam pos satpam tersebut.


"Jaman sekarang rokok kok masih kretek sih" candaku pada satpam.


"Ya mau gimana lagi Mbak, kalau Mbak mau ngasih juga boleh banget" ucap salah satu satpam genit yang tidak Aku sukai.


Saat Aku sedang duduk dan membakar satu batang rokok, tiba-tiba Aku merasakan ada yang mengelus pahaku dari samping, saat kulihat ternyata tangan satpam genit itu.


"Kalau mau boleh kok malam ini, mau ?" godaku berusaha untuk berniat menjajal uangnya. Karena berhubung malam ini Aku hanya mendapatkan uang tips sedikit.


"Mau dimana Mbak ?" bisiknya dengan serius.


"Aku tunggu di Hotel Mawar samping tempat ini ya" ajaknya.


Aku pergi meninggalkan pos satpam ini sembari menginjak rokok ku yang belum habis, saat ku berjalan menuju tukang ojek yang sudah menungguku terlihat satpam itupun bergegas mengendarai motornya.


Berhenti dihotel yang sudah kujanjikan dan ku suruh tukang ojek itu pulang, Aku memesan 1 buah kamar dan diikuti oleh satpam genit itu.


"Masuk juga Kau kedalam perangkapku" gunamku dalam hati.


Tak menunggu lama, saat kami sudah didalam kamar. Aku langsung membuka jaket yang ku pakai dan kuganti dengan kimono handuk yang tersedia dihotel tersebut. Mengecup halus leher satpam itu dan mulai ku bermain bersamanya, Dia memakai ku dengan kasar sehingga Aku merasakan kesakitan.

__ADS_1


Saking Aku menikmatinya permainan malam ini, Akupun sampai lupa untuk merekam aksi ini. Aku dibuatnya merintih keenakan dengan perlakuan yang tak pernah kutemui pada tamu siapapun.


__ADS_2