JIWANYA SUDAH MATI

JIWANYA SUDAH MATI
15. Aziz Kecelakaan


__ADS_3

Setibanya didepan rumahku, Aziz langsung pamit dengan terburu-buru kepadaku. Memutar balikkan sepeda motornya dan langsung menancap gas dengan kecepatan penuh.


"Ziz, Azizzzzzz!!" teriakku saat itu karena helm yang Aku pakai itu milik Aziz.


"Ishhhhhh .. Yasudah lah, memang susah sih ya kalo laki udah ngenal cinta. Apapun pasti lupa" lenyehku sembari masuk kedalam rumah.


Sejauh ini Aku melihat dari tatapan mata Aziz sepertinya Dia bersungguh-sungguh untuk mendekati Arin, terlihat dari cara dia menyusun rencana ini dengan matang, menanya prihal kesukaan Arin dan berusaha untuk membuat Arin tersenyum walau mungkin apa yang Dia siapkan itu membuat Arin sedikit heran.


"Dari mana anak Mama kok rapi amat ?" tanya Mama ku yang saat itu sedang duduk santai dihalaman depan rumahku.


"Huuuuh .." helaan nafasku sembari duduk disamping Mama.


"Aku habis anter Aziz Ma, biasalah urusan anak muda" jawabku meminum minuman yang sudah Mama buat kala itu.


"Kamu ini, lain kali jawab sih jawab jangan sambil minum juga minuman Mama dong" tegurnya.


"Haus Ma, maklum anakmu habis mengelilingi dunia namun tak kunjung diberi minum setetespun hee .. Hee .. Hee .. Makasih Ma" teriakku berlari masuk kedalam rumah sambil cengengesan.


...****************...


"Toko cake sekitaran daerah sini dimana ya ?" pikirku sambil membawa motorku dengan kencang untuk mengunjungi Arin.


"Apa Gue sekalian beliin Dia bunga kali ya"


"Engga .. Engga, Gue nggak boleh buat Dia teringat terus pada Adit"


Kulihat dari kejauhan ternyata diujung sana terdapat toko kue, Aku memutuskan untuk mampir dan melihat-lihat siapatau ada yang cocok untuk kubeli. Sesampainya ditoko tersebut Aku langsung buru-buru untuk masuk dan melihat-lihat beberapa koleksi kue dari mereka, sampai pada akhirnya Aku tertarik pada 1 kue dan ku putuskan untuk membelinya.


Meminta untuk dibungkus dengan box dan juga pita, tak lupa Aku memberikan kartu ucapan yang berisikan tulisan sedikit semangat untuk Arin. Berharap Arin menyukai dengan pilihan kue yang kubelikan hari ini.


Tak menunggu lama Akupun bergegas untuk menemui Arin, sengaja Aku tak mengabarinya terlebih dahulu agar menjadi kejutan kecil untuk Arin.


"Semoga Arin hari ini tak pergi keluar" harapku saat itu.


Semakin kencang Aku mengendarai motor yang ku tumpangi ini, tak memperdulikan kemacetan jalan raya yang jelas Aku ingin segera sampai dirumah Arin.


*Braaaaaaaakkkkkk* suara motor jatuh.


"Arrrrrghhhhh.." lirihku saat terjatuh.


Aku melihat kue yang sudah kubeli hancur terlindas mobil saat itu, badanku tertindih motor besar yang kubawa dan ku lihat ada beberapa orang yang menolongku saat itu.


Mengangkat motor besar yang menindihiku dan menggandengku ketepj jalan, beberapa orang ada yang memberiku minum bahkan berusaha untuk meluruskan kaki ku.


"Mas saya izin membuka kan helmnya ya" terdengar suara wanita yang meminta izin padaku.

__ADS_1


"Ada yang sakit Mas ? Bisa ku bantu ?" tambahnya dengan sedikit panik.


Saat itu yang Aku pikirkan hanya Arin, bahkan beberapa sakit yang terasa ditubuhku Aku hiraukan begitu saja.


"Engga, engga udah Gue nggak apa-apa kok" ucapku sembari menahan sakit.


Aku mengeluarkan hp dari saku celanaku dan mengabari Dara.


"Ra, Gue kecelakaan dijalan" singkatku mengetik dengan tangan yang bergetar.


Aku berusaha untuk beristirahat sebentar, mengecek beberapa bagian pada motorku dan akan ku putuskan untuk tetap menemui Arin walau kue yang sudah kupesan itu hancur terlindas.


Setelah mengecek semua keadaan motor ternyata baik-baik saja, hanya saja ada beberapa bagian lecet pada body motorku. Aku berterimakasih kepada orang-orang yang mau membantuku pada saat itu dan langsung menancap gas kembali.


Sepanjang perjalanan Aku merasakan sakit yang begitu hebat dibagian kaki dan tanganku, bahkan saat sedang mengendarai motor Aku melihat beberapa jariku terluka dan mengeluarkan darah. Tapi Aku masih tetap menahan dan menghiraukannya.


...****************...


"Hah kecelakaan ?" kagetku saat membaca pesan singkat yang Aziz kirimkan kepadaku.


Aku berusaha menelpon nya beberapa kali namun tak juga diangkat, beberapa kali chat pun tak kunjung dibalas. Aku sangat khawatir saat itu, mondar-mandir jalan sambil menggigit kuku memikirkan Aziz.


"Duhhhhh .. Kenapa nggak diangkat sih" khawatirku pada Aziz.


"Angkat dong Ziz ah" kesalku karena tak kunjung juga Aziz angkat telpon dariku.


"telpon nggak diangkat, chat nggak dibales"


"Apa Aku telpon Arin aja kaliya ?"


"Aziz kan tadi bilang mau kerumah ke Arin"


"Tapi .. Engga, engga deh. Nanti kalo Aku telpon Arin dan nanya tentang Aziz malah kacau rencana kita yang udah tersusun rapi"


Saat itu Aku hanya bisa menunggu kabar dari Aziz, berharap agar Aziz baik-baik saja dan kecelakaannya tidak sefatal yang Aku pikirkan. Tapi berusaha untuk tenangpun rasanya sulit jika Aku belum mendapatkan kabar langsung darinya.


"Ziz, semoga Lu baik-baik aja deh" khawatirku sambil terus melihat hp yang ku pegang saat itu.


...****************...


"Rin, Gue didepan rumah Lu nih ?" pesanku pada Arin saat itu.


"Gila, Dara spam sebanyak ini" lirihku sambil menunggu balasan dari Arin.


"Gue, baik-baik aja Ra. Dan sekarang Gue udah didepan rumah Arin" balasku pada Dara agar Dia tidak khawatir dan menunggu balasan dariku.

__ADS_1


Tak lama setelah Aku menunggu Arin, terdengar suara yang membuka kunci gerbang dari dalam.


"Arin nih pasti" percaya diriku saat itu, sambil melepas helm yang ku pakai.


"Hay Rin" sapaku.


"Mau ke Arin ya ?" jawabnya dari seorang wanita namun melainkan itu bukan Arin.


"Eh maaf Tante, iya mau ke Arin" jawabku dengan menunduk sambil tersenyum ke arahnya.


"Sebentar, Tante panggilkan dulu ya" ucapnya sambil tersenyum padaku.


"Duh.. Dasar mulut! Main sapa langsung aja nih" memukul kecil mulutku.


"Tapi itu siapa ya ? Ibunya Arin kaliya" lirihku.


Tak lama saat itu Arinpun keluar menemuiku, menyuruhku masuk sambil tersenyum.


"Ziz, bibir Kamu kenapa ?" tanya nya dengan tatapan sendu sambil memegang bibirku yang saat itu memang memar dan berdarah.


"Aww .. Aww sakit Rin" rintihku pada Arin.


"Kamu tunggu disini, Aku ambilin air anget sama obat merah dulu ya" berlari dengan khawatir kedalam rumah.


Aku memegang bibir dan berusaha mengusap darahnya dengan tangan, saat Aku melihat kaki ku ternyata juga terdapat luka yang cukup besar. Kebetulan pada saat itu Aku hanya menggunakan celana pdl selutut dan hoodi.


"Sini .. Sini Ziz coba" ucap Arin sambil menotolkan kapas kedalam air hangat ke bibirku.


"Kenapa bisa kaya gini Ziz, berantem ?" tanya nya dengan tatapan tajam.


"Gue tuh jatuh pas tadi mau kesini Rin"


"Kue yang Gue bawa juga hancur terlindas mobil" jawabku.


"Maafya Gue nggak jadi kasih kue itu buat Lu"


"Hal yang lebih penting sekarang ini bukan kue itu! Tapi Kamu Ziz" ucapnya sambil mengobati lukaku dengan serius.


Arin mengobatiku dengan serius, berkali-kali menanyakan bagian mana lagi yang sakit. Pada saat memberikan obat merah dibeberapa bagian yang luka Arin tak berhenti ngomel dan memarahiku, melihat mimik mukanya ketika saat ngomel sangat lucu sekali dan membuat Aku senyam-senyum sendiri karena tingkahnya.


"Aw.. Pelan-pelan dong Rin" rintihku pada Arin.


"Giliran diobatin aja mintanya pelan-pelan, tapi giliran pake motor ga ngotak" jawabnya dengan ketus.


"Iya maaf maaf, kok jadi marah-marah sih Rin"

__ADS_1


"Masih tanya kenapa Aku marah ?" jawabnya sambil menekan kapas obat merah itu pada lukaku.


"Iya, iya, iya ampun ampun Rin ampun"


__ADS_2