
" Fahmi, ini Muna putrinya Kyai Ali. Muna ini Fahmi, Cucu Eyang ". Kata Kyai Yusuf. Muna pun menoleh ke Fahmi.
" Kamu....??? ". Ucap Fahmi tercengang mengetahui siapa wanita yang dikenalkan oleh Eyangnya.
" Perkenalkan Aku Muna ". Ucap Muna mengangkat wajahnya lalu menunduk.
" Mmm,,, Aku Fahmi. Maaf soal yang tadi. Aku buru - buru makanya sampai nabrak Kamu ". Ucap Fahmi kikuk.
" Iya, Gus ndak apa - apa, Muna juga salah kok. Tadi Muna jalanya ndak hati - hati sampai nabrak Njenengan Gus ". Ucap Muna masih menunduk merendahkan pandangannya.
" Kalian sudah saling kenal? ". Tanya Eyang Fatimah.
" Dereng ". Jawab Muna dan Fahmi bersamaan.
" M,,,maksud Fahmi, Fahmi baru saja kenal saat Eyang Kakung mengenalkan Kami. Tapi tadi Fahmi sempat bertemu dengan Ning Muna saat Fahmi akan ke toilet Dan tadi Fahmi tidak sengaja menabrak Ning Muna ". Ucap Fahmi menjelaskan.
" Enggih, sing disanjangaken Gus Fahmi leres Mbah. Muna kalih Gus Fahmi nate kepangging, wau ". ( Artinya : Iya, yang diucapkan Gus Fahmi benar Mbah. Muna sama Gus Fahmi pernah bertemu, tadi ) Ucap Muna membenarkan ucapan Fahmi.
" Assalamu'alaikum. Permisi Mbah Yusuf, Nyai Fatimah. Kula dikengken Ummi ken nimbali Ning Muna. Ngendikane Ummi wau Ning Muna ken teng ndalem sakniki ". ( Artinya : Assalamu'alaikum. Permisi Mbah Yusuf, Nyai Fatimah. Saya disuruh Ummi untuk memanggil Ning Muna. Katanya Ummi Ning Muna disuruh ke ndalem sekarang ) Ucap salah satu santri putri yang datang menghampiri Ning Muna.
" Iya, makasih ya ". Ucap Muna lalu santri tersebut undur diri.
" Mbah, monggo Muna aturi Dahar riyin. Oh, nggih wau Ummi ngendika mbok menawi Mbah sak keluargo bade istirahat, Kamare mpun siap ". ( Artinya : Mbah, Muna persilahkan untuk Makan dulu. Oh, iya tadi kata Ummi kalau Mbah dan keluarga mau istirahat, kamarnya sudah siap ) Ucap Muna setelah santri Abahnya pergi.
" Iyo, iyo Nduk. Mbah tak Dahar disit. Kowe iki jan wis ayu, sopan, hafidzah maning ".( Artinya : Iya, iya Nak. Mbah makan dulu. Kamu itu sudah cantik, sopan, hafidzah lagi ) Puji Kyai Yusuf lalu berjalan menuju peresmanan untuk makan.
" Muna.... ". Panggil Nyai Fatimah. Beliau tak langsung mengikuti Kyai Yusuf dan Fahmi melainkan tetap berdiri di samping Muna. Ia ingin menasihati Muna terlebih dahulu, karena Ia tahu apa yang sedang Muna rasakan saat ini.
Maklumlah, biasanya Kyai dan Nyai sepuh punya ilmu yang tak pasti orang punya, seperti mengetahui isi pikiran seseorang.
" Iya, Mbah. Ada apa? ". Tanya Muna. Nyai Fatimah mendesah pelan lalu bicara.
" Nak, apapun masalah mu saat ini. Kamu harus selalu ingat. Jadi perempuan itu harus punya harga diri, jangan mengejar kalau sudah tidak dicari. Sebab, kodratnya perempuan itu dikejar bukan mengejar, kalau sudah dibuang tak perlu lagi berjuang. Kamu harus kuat jangan rapuh, nanti mahkotamu jatuh ". Ucap Nyai fatimah menepuk bahu Muna, lalu pergi menyusul Kyai Yusuf dan Fahmi.
Muna masih berdiri di tempat yang sama saat Ia diberi nasihat oleh Nyai Fatimah. Ia masih mematung mencerna apa maksud dari perkataan Nyai Fatimah.
" Muna, dari tadi Ummi tunggu kok nggak dateng - dateng sih?. Itu keluarga Kyai Ali tadi nanyain Kamu. Sudahlah Ning. Yang lalu biarlah berlalu jangan sampai Kamu berlarut - larut. Boleh patah hati. Tapi jangan trauma sampai nggak mau membuka hati, karena tidak semua yang hadir, akan menjadi milik Kita. Namun juga tidak semua yang hadir akan menyakiti kembali ". Kata Ummi Rabi'ah tiba - tiba sudah berada di samping Muna.
" Iya, Ummi. Maaf sudah membuat Ummi menunggu. Kalau begitu Muna temui sekarang keluarga Kyai Munawar.
🔛Flash Back On...🔛
Keluarga Kyai Munawar datang. Di depan ndalem sudah ada Kyai Ali, Nyai Rabi'ah dan Ning Sarah. Mereka berdiri untuk menyambut kedatangan keluarga Kyai Munawar.
" Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh ". Sapa Kyai Munawar sambil menjabat tangan Kyai Ali lalu memeluknya.
" Wa'alaikumussalam.Warahmatullahi Wabarokatuh ". Ucap Kyai Ali melepas pelukan Kyai Munawar.
__ADS_1
" Ahlan wa sahlan ( selamat datang ), Kyai Munawar. Mari - mari masuk ". Kata Kyai Ali sembari mengulurkan salah satu tangannya ke arah dalam rumahnya untuk mempersilahkan Kyai Munawar masuk ke dalam rumahnya.
" Ahlan bik ya Kyai Ali. Syukran ". Ucap Kyai Munawar lalu masuk ke dalam rumah Kyai Ali dan diikuti oleh para keluarganya.
" Silahkan makanan dan minumannya dinikmati ". Ucap Sarah mempersilahkan untuk menikmati makanan ringan dan minuman yang telah terhidang.
" Iya, terimakasih ya Nak. Kamu namanya siapa Nak? ". Tanya Ummi Farida.
" Saya Sarah Ummi ". Ucap Sarah mencium tangan Ummi Farida.
" Sarah ini anak pertamaku, Rida ". Kata Ummi Rabi'ah menambahi. Ummi Farida dan Ummi Rabi'ah memang akrab, karena dulunya mereka adalah teman satu pesantren.
" Yang namanya Muna mana? ". Tanya Ummi Farida.
" Oh, Muna lagi nemuin keluarga Kyai Yusuf tadi. Sebentar ya tak panggilin dulu ". Kata Ummi Rabi'ah lalu pergi mencari Muna.
Saat akan menghampiri Putrinya, Ummi Rabi'ah melihat jika Putrinya sedang berkenalan dengan Cucu Kyai Yusuf. Ia berfikir mungkin itu akan menjadi suatu kebaikan bagi Muna dan mungkin Muna akan sedikit melupakan Ahmad, karena sudah mengenal laki - laki lain. Maklumlah sedari kecil Muna hanya kenal sedikit laki - laki, karena sedari SMP putrinya sudah mondok dan hanya Ahmad lah laki - laki yang dekat dengan Muna, karena mereka merupakan sahabat saat kecil.
Akhirnya Ia menyuruh salah satu santrinya untuk memanggil putrinya. Ia juga melihat saat Nyai Fatimah memberikan nasihat kepada putrinya makanya Ia berinisiatif untuk menambahi nasihat dari Nyai Fatimah.
🔚Flash Back Off...🔚
Muna pergi menemui keluarga Kyai Munawar di ruang tamu. Namun saat sampai, Ia tak menemukan keluarga Kyai Munawar. Ia hanya melihat keluarga - keluarga Kyai yang lain, itupun tidak banyak. Ya, karena acara Haflah akan dilaksanakan besok pagi. Hari ini yang datang adalah Kyai - Kyai yang berasal dari luar Jawa tengah saja.
" Mi, mana keluarga Kyai Munawar? ". Tanya Muna.
" Kamu langsung ke parasmanan saja, mungkin mereka disana ". Kata Ummi Rabi'ah. Muna pun pergi ke ruang paresmanan.
Di ruang paresmanan lumayan ramai. Muna celingukan mencari keluarga Kyai Munawar. Tiba - tiba bahu Muna ditepuk dari belakang. Spontan Muna menoleh.
" Dicariin dari tadi kok nggak kelihatan ". Ucap Gus Ahmad setelah Muna menoleh.
" Eh, Njenengan Gus ". Ucap Muna kikuk.
" Kenapa tadi nggak ikut di depan?. Udah yuk duduk dulu, temani Aku makan soalnya Adik mu entah kemana ". Ucap Gus Ahmad menunjuk ke arah deretan kursi. Muna hanya mengangguk lalu berjalan mengikuti Gus Ahmad.
" Biasalah Gus, sepeti nggak tahu Aku aja ". Ucap Muna tersenyum menutupi kegundahan hatinya.
" Ah, Kamu Ning masih kaya dulu. Sukanya nglayab kalau lagi ada acara besar ". Ucap Gus Ahmad meletakan piring makananya di pangkuanya. Ia menunda makanya.
" Loh kok malah dianggurin sih makananya. Kasihan tahu nanti makananya nangis ". Ucap Muna.
" Makananya nggak mungkin nangis. Paling nanti Kamu yang nangis kaya dulu ". Ucap Gus Ahmad mengejek Muna.
" Tahu ah, udah sana Njenengan makan. Aku tak ambil minum dulu ". Ucap Muna lalu beranjak pergi. Ia tak kuat jika harus berlama - lama bersama Gus Ahmad. Ia takut jika hatinya akan terbang gara - gara perlakuan baik Gus Ahmad yang tanpa Gus Ahmad sadari sudah membuat Ia nyaman.
Di tempat lain.......
__ADS_1
Ara sedang berdiri di samping meja yang berisi minuman. Ia haus dan ingin mengambil minuman.
Brukkk.....
Tiba - tiba ada yang menabraknya. Bajunya basah terkana minuman yang Ia bawa dan minuman orang yang menabraknya.
" Awww ". Jerit Ara.
" Ups, sorry ya. Aku nggak sengaja ". Ucap orang tersebut. Ara mendongak.
" Mbak Wardah??? ". Ucap Ara.
" Iya, Aku kanapa? ". Ucap wardah garang.
" Mbak, kanapa Mbak nambrak Aku?. Baju Aku kan jadi basah ". Ucap Ara tidak terima.
" Itu pantas buat Kamu, karena dari tadi Kamu udah buat hati Aku panas ". Ucap Wardah sambil menunjuk wajah Ara.
" Tapi Ara ngapain Mbak? setahu Ara dari tadi Ara nggak ngapa - ngapain ". Ucap Ara bingung.
" Sedari tadi Kamu itu nggak punya malu, nempel - nempel Gus Ahmad terus ". Ucap Wardah marah.
Dari kejauhan Fahmi melihat ada keributan. Ia lalu mendekatinya.
" Tapi Mbak.... ". Ucapan Ara terpotong oleh orang yang tiba - tiba datang berbicara dari belakangnya.
" Ada apa sih, kok ribut - ribut ". Ucap Fahmi. Ara dan Wardah menoleh ke Fahmi.
" Ara....Wardah??? ". Ucap Fahmi kaget sekaligus bingung, karena melihat Ara dan Wardah ada di tempat tersebut.
*
*
*
*
*
Dimohon bagi yang punya poin atau koin lebih untuk berdonasi kepada Author melalui Vote Kalian. Tidak ada yang lebih berarti selain Vote Dari Kalian🙏🙏
Maaf ya Author baru Up. Author mungkin akan Up 2 hari sekali, karena Author gantian nulisnya sama novel Author yang judulnya " Bidadari Pilihan Mamah ". Kalau Author belum Up kalian bisa baca cerita Author yang satunya.
Jangan lupa untuk Like, Vote n Comment sebanyak - banyaknya
Terimakasih😊
__ADS_1
**Love,
@Shinta_28😘**