
Ditengah - tengah kepanikanya, karena sedari tadi Mc sudah memanggil - manggil perwakilan dari Putra dan Putri Abahnya tiba - tiba....
" Mari Ning ". Sebuah suara mengejutkan Muna. Muna mendongakkan wajahnya. Seorang laki - laki sudah berdiri di depannya.
Seorang laki - laki telah berdiri di depan Muna sambil menyunggingkan senyum secerah matahari.
" Gus... ". Mata sakura Muna menatap Fahmi tidak percaya.
" Ayo Ning, Kita sudah ditunggu ". Muna mengangguk. Ia beranjak dari duduknya menuju ke panggung bersama Fahmi.
" Mereka berdua tampak serasi ". Batin Wardah yang melihat Fahmi dan Muna di atas panggung.
" Entah mengapa sejak Aku tahu hubungan Gus Ahmad dan Ning Ara, tiba - tiba hatiku seperti berpindah haluan. Hatiku terasa tentram dan nyaman saat melihat mu Gus Fahmi. Apalagi saat Aku tahu siapa Kamu sebenarnya, Aku merasa kagum akan kesederhanaan mu. Namun Aku sadar Aku bukanlah siapa - siapa. Aku bukanlah dari kalangan Kalian. Kamu pantas mendapatkan Gus Fahmi, Ning Muna ". Tanpa disangkan Wardah meneteskan air matanya saat melihat Ning Muna tersenyum disebelah Gus Fahmi.
" Bude, kayaknya Nashwa bosen deh. Wardah izin bawa jalan - jalan ke stan makanan ya ". Ucap Wardah meminta izin pada Ning Najma.
" Iya, boleh. Uangnya udah ada belom? ". Tanya Ning Najma.
" Sudah Bude ". Jawab Wardah.
" Ya sudah. Nanti kalau rewel bawa ke kamar saja ya! ". Perintah Ning Najma yang langsung diangguki oleh Wardah.
Wardah pun pergi ke stan makanan
*****
" Alhamdulillah ". Ucap Ara mengakhiri acara makan cilok pedasnya.
" Udah selesai? ". Tanya Gus Ahmad. Ara mengannguk sambil memperlihatkan piring cilok hotnya yang sudah tak tersisa.
" Kok punya Mas masih penuh? ". Tanya Ara dengan bibirnya yang memerah, karena kepedasan. Menambah kesan sexsi pada bibir Ara.
" Mas ndak suka pedes. Adek tadi naro sambelnya kebanyakan ". Jawab Gus Ahmad.
" Oh ". Ara membulatkan bibirnya yang merah, karena kepedasan.
" Adek bukanya minta maaf malah cuma Oh aja ". Ucap Gus Ahmad gemas.
" Ya udah Ara minta maaf ". Ucap Ara meminta maaf.
" Aduh, Adek bikin gemes aja. Apalagi bibir merahnya, jadi pengen nyium ". Ucap Gus Ahmad gemas, sedari tadi pandanganya tak beralih dari bibir Ara yang memerah, karena kepedasan.
" Ih, udah cepet bayar! ". Ara mencubit paha Gus Ahmad kencang.
" Aduh Dek, Mas lupa bawa dompet. Adek bawa uang ndak? ". Ucap Gus Ahmad panik. Ia merogoh saku celana dan bajunya panik.
" Bawa, tapi Mas yang bayar ". Ucap Ara sebal.
Gus Ahmad mendekati tukang penjual ciloknya sementara Ara membereskan piring ciloknya dan Gus Ahmad lalu menaruhnya di dekat abang penjual ciloknya.
__ADS_1
" Berapa Bang? ". Tanya Gus Ahmad.
" 20 ribu Mas ". Ucap penjual ciloknya.
" Mahal amat Bang. Biasanya juga 10 ribu ". Ucap Gus Ahmad. Walaupun begitu Ia tetap menyerahkan uang 20 ribuan kepada Abang penjual ciloknya.
" Biarin Mahal yang penting Saya mau keluar modal buat jualan dari pada Masnya modusin pacar. Gini, Mas biarpun Sampean Santri tapi kalau pacaran modal dikit napa. Masa yang bayarin ceweknya ". Ucap Abang penjual cilok menerima uang dari Gus Ahmad.
Gus Ahmad melirik Abang penjual cilok tajam.
" Mas, Ara pengen kesana ". Ara menunjuk ke arah penjual arumanis. Ia sengaja supaya Suaminya tidak marah. Gus Ahmad mengangguk.
Di penjual Arumanis....
" Mbak Wardah! ". Ara menepuk bahu Wardah dari belakang.
" Eh, Ning Ara ". Wardah menoleh ke belakang.
" Mbak disini? ". Tanya Ara.
" Iya, tadi Nashwa minta kesini ". Memperlihatkan Naswa dalam gendonganya.
" Emang Nashwa udah boleh makan itu ya? ". Tanya Gus Ahmad.
" Belum sih Gus, tapi Saya kasihan liatnya. Dari tadi Nashwa nangis minta dibeliin Arumanis. Jadi Saya beliian saja, nanti kalau Nashwa sudah bosen Saya yang akan memakan Arumanisnya ". Ucap Wardah gugup.
" Yaudah sini Aku aja yang nggendong Nashwa ". Pinta Gus Ahmad. Tangannya maju ingin mengambil keponakanya. Wardah membiarkan Nashwa dalam gendongan Gus Ahmad.
" Boleh ". Jawab Gus Ahmad.
Wardah membawa Ara menjauh dari Gus Ahmad.
" Ada apa Mbak? ". Tanya Ara membuka pembicaraan.
" Ning, maafin Mbak ya. Selama ini Mbak sudah salah mengira Kamu. Mbak kira Kamu saingan Mbak yang suka sama Gus Ahmad tapi ternyata Mbak salah. Maafin Mbak ya. Dulu Mbak pernah nglabrak Kamu, marahin Kamu, ngancem Kamu, dan lainya. Mbak sadar Mbak sudah berperilaku kurang ajar. Mbak janji, Mbak nggak akan ngeganggu Kamu lagi ". Wardah berucap sendu, air matanya sudah lolos dari kelopak matanya.
" Mbak, Ara udah maafin Mbak kok. Ara juga nggak marah sama apa yang udah Mbak perbuat ". Ara tersenyum. Ia memeluk Wardah.
" Makasih ya Ning. Kamu sangat baik, pantesan Kamu cocok jadi jodohnya Gus Ahmad ". Puji Wardah.
" Ah , Mbak bisa Aja. Oh, iya Mbak nggak usah sungkan sama Ara. Ara lebih suka kalau Mbak panggil Ara tampa ada Ning di depanya ". Pinta Ara.
" Oke, apapun asal Kamu suka ". Ucap Wardah.
*****
Gus Ahmad membawa serta Nashwa untuk ikut jalan - jalan bersama Istrinya.
" Tu...tu...tu... ". Nashwa mengoceh tak jelas sambil menunjuk ke penjuala mainan.
__ADS_1
" Nashwa mau itu Mas kayaknya ". Ara menunjuk penjual mainan.
" Ya udah ayo beli ". Mereka menghampiri penjual mainan.
" Nashwa beli boneka aja ya ". Ara menunjuk sebuah boneka panda dan Naswa mengangguk.
" Berapa Pak? ". Tanya Ara.
" Udah bawa aja, hitung - hitung shadaqoh sama cucunya Pak Kyai Ali ". Ucap Penjual mainan menyerahkan boneka panda kepada Nashwa. Nashwa menerima boneka panda tertawa bahagia lalu mengoceh tak jelas.
" Bapak tahu Saya? ". Tanya Ara.
" Ya tahu lah Ning. Ning Ini Ning Zahra kan, putri bungsu Pak Kyai Ali ". Ucap penjual mainan terkekeh.
" Kok Bapak tahu? ". Tanya Ara lagi.
" Ya tahu lah Ning, Bapak kan sudah berjualan disini sebelum Ning Zahra lahir ". Ucap penjual mainan.
" Wah, berarti udah lama bange ya Pak. Makasih ya Bapak sudah mau memberikan dagangan Bapak cuma - cuma untuk Anak Saya ". Ucap Ara. Gus Ahmad hanya tersenyum mendengar ucapan Ara.
" Sama - sama Ning. Semoga keluarga Ning Zahra selalu diberkahi oleh Allah dan semoga Ning Zahra cepat nambah momongan ". Do'a penjual mainan.
" Amiin. Semoga dagangan Bapak juga laku laris manis. Kalau begitu saya lanjut jalan ya Pak. sekali lagi terimakasih. Assalamu'alaikum ".
*****
" Cie yang udah punya Anak. Mau nambah momongan kapan? ". Ledek Gus Ahmad setelah Mereka pergi dari penjual mainan.
" Apain sih Mas Ahmad. Tadi itu Ara kasihan sama penjualnya. Masa Ara harus bilang kalau Nashwa itu keponakan Ara, kan nanti penjualnya malu udah salah ngira ". Ucap Ara.
" Terus kapan mau buat Adik Nashwa? ". Tanya Gus Ahmad lagi. Ia melemparkan senyum mesumnya pasa Istrinya.
" Tahu ah, Mas Ahmad ngeselin ". Ucap Ara sebal. Ia meninggalkan Gus Ahmad. Ia berjalan mendahului Gus Ahmad sambil bergumam sebal. Gus Ahmad hanya tersenyum melihat tingkah gemesin Istrinya. Ia menyusul Istrinya sambil masih menggendong Nashwa.
*
*
*
*
*
Hay Reader's....Kok Aku lihat yang kasih Like sedikit😭😭Ceritanya jelek ya atau nggak asik......Kalau masih pingin lanjut jangan lupa buat **Vote, Like, Comment n Rate 5 nya....
Tulis di kolom komentar ya yang mau ceritanya lanjut🙏**
Makasih🙏
__ADS_1
**Love,
@ *Shinta_28😘***