
Dari kejauhan Fahmi melihat ada keributan. Ia lalu mendekatinya.
" Tapi Mbak.... ". Ucapan Ara terpotong oleh orang yang tiba - tiba datang berbicara dari belakangnya.
" Ada apa sih, kok ribut - ribut ". Ucap Fahmi. Ara dan Wardah menoleh ke Fahmi.
" Ara....Wardah??? ". Ucap Fahmi kaget sekaligus bingung, karena melihat Ara dan Wardah ada di tempat tersebut.
" Kak Fahmi/Fahmi ". Ucap Ara dan Wardah bersamaan.
" Kalian juga kesini? ". Tanya Fahmi.
" Zahra! ". Kata Ummi Rabi'ah tiba - tiba berada di dekat Ara.
" Ummi ". Ucap Ara menoleh ke arah Umminya.
" Kamu disini toh. Buruan sana ke kamar, tadi Mas Ahmad mu nyariin Kamu ". Ucap Ummi Rabi'ah.
" Inggih, Mi ". Ucap Ara lalu pergi.
" Kalau begitu Ummi ke depan dulu ya. Kaliam makan saja ". Ucap Ummi Rabi'ah pada Fahmi dan Wardah.
" Iya, Ummi. Makasih ". Ucap Fahmi dan Wardah mengangguk.
" Kesini sama Ummi Farida? ". Tanya Fahmi setelah Ummi Rabi'ah pergi.
" Iya, Kamu kesini sama siapa? ". Tanya Wardah.
" Aku kesini sama Kyai Yusuf ". Jawan Fahmi.
" Sama Kyai Yusuf! kok bisa? ". Tanya Wardah.
" Mmm...kalau Aku cerita Kamu jangan kaget ya ". Ucap Fahmi yang langsung diangguki kepala oleh Wardah.
" Sambil duduk yuk ". Ucap Fahmi menunjuk ke arah kursi.
" Sebenernya Aku itu Cucu nya Kyai Yusuf. Aku itu Cucu sulungnya, makanya Aku yang di ajak. Juga, karena Ummi Aku lagi sibuk jadi nggak bisa nemenenin Eyang Aku ". Terang Fahmi.
" Kok Aku baru tahu ya. Aku kira Kamu itu anak orang biasa loh, eh tahunya Kamu itu keturunan priyayi gede ". Ucap Wardah tersenyum.
" Kalau soal itu sih Aku sengaja. Aku nutupin identitas Aku, karena Aku nggak ingin besar gara - gara nama Eyang. Tapi Aku pingin besar karna usaha Aku sendiri ". Tutur Fahmi.
" Wah Kamu hebat ya Fahmi. Aku salut sama Kamu ". Ucap Wardah takjub yang hanya dibalas senyuman oleh Fahmi.
" Ah, biasa aja kok. Ih, iya Kamu sendiri keluarga Kyai Munawar dari mana? ". Tanya Fahmi.
__ADS_1
" Oh, Aku ini keponakanya Ning Najma ". Ucap Wardah bangga. Fahmi yang melihatnya hanya tersenyum sambil membatin.
" Gitu aja kok sombong ". Batin Fahmi.
Mareka pun berpisah setelah menyelesaikan obrolan mereka yang tidak lama.
*****
Di kamar Ara
Ara masuk ke dalam kamarnya.
" Assalamu'alaikum ". Ucap Ara masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar tampak Gus Ahmad sedang duduk di atas ranjang Ara sambil bersandar di kepala ranjang.
" Wa'alaikumsalam. Dari mana aja Dek?. Kok Mas tadi ditinggal sendiri sih di paresmanan ". Tanya Gus Ahmad saat Ara masuk.
" Hehehe,,,tadi Ara haus, jadi ambil minum deh ". Ucap Ara cengengesan. Ia menghampiri Gus Ahmad di tempat tidur.
" Kok Mas Ahmad disini sih? ". Tanya Ara mendudukan diri di samping Gus Ahmad. Yang ditanya bukannya menjawab malah menarik Ara ke dalam pelukannya.
" Ih, Mas Ahmad ". Ucap Ara sebal, karena pertanyaanya tidak di jawab.
" Kita Shalat Dzuhur berjama'ah yuk. Baru habis itu nanti Mas jawab pertanyaan Adek ". Ajak Gus Ahmad yang diangguki oleh Ara.
" Katanya mau jawab ". Ucap Ara menagih janji Gus Ahmad.
" Oke, Mas jawab. Mas disini mau tidur ". Ucap Gus Ahmad menatap Ara.
" Emang sama Ummi boleh? ". Tanya Ara.
" Boleh kok. Tenang aja Ummi nggak akan marah kok ".
" Ara tahu sih, mana mungkin Ummi bisa marah kan kita udah halal. Tapi.... ".
" Emang Adek tega Mas tidur di penginapan ". Ucap Ahmad menunjukan wajah memelasnya.
Penginapan yang Gus Ahmad maksud adalah gedung yang khusus dibuat untuk menginap para Kyai dan Wali Santri yang berasal dari luar kota Yogyakarta yang akan menghadiri acara Haflah. Maklumlah acara Haflah di pesantren Darul ' Ammah sangat meriah. Biasanya acara akan diisi dengan menampilkan kesenian dari berbagai daerah selama 7 hari berturut - turut. Dan setelah acara berakhir akan dilanjutkan dengan libur selama 1 bulan untuk para Santri.
" Dek, Kita resmiin aja pernikahan Kita gimana? ". Tanya Gus Ahmad dengan tatapan seperti memohon.
" Mas, Ara nggak akan tega kalau Mas Ahmad tidur di penginapan. Mas Ahmad boleh kok tidur disini. Tapi untuk masalah meresmikan pernikahan Ara pikir jangan dulu Mas. Bukanya Ara nggak mau, tapi saat ini hati Ara masih belum bisa berlabuh sepenuhnya sama Mas Ahmad. Jadi Ara mohon pengertianya ya Mas ". Ucap Ara terus terang sambil menunduk.
Gus Ahmad terdiam. Ia sedih mendengar penuturan Istri kecil nya.
" Mas akan selalu bersabar menunggu sampai hati Adek benar - benar berlabuh sama Mas, Dek ". Batin Gus Ahmad.
__ADS_1
" Kok jadi melow gini sih. Tenang aja, stok kesabaran Mas masih banyak kok ". Ucap Gus Ahmad tersenyum secerah matahari pagi sambil memegang dagu Ara dan mendongakkanya.
" Udahlah jangan dipikirin. Mending sekarang Kita tidur. Pasti Adek cape ". Ucap Gus Ahmad membuang rasa cenggung diantara Ia dan Ara.
Gus Ahmad pun membawa tubuh Ara ke dalam pelukanya.
" Mungkin saat ini hatimu belum untukku. Mungkin Aku harus semakin giat untuk merayu Allah supaya hatimu bisa berpaling darinya dan hanya melihat ku saja ". Ucap Gus Ahmad mencium kening Ara yang sudah terlelap mendahuluinya. Ia lalu tertidur mengikuti Ara.
Akhirnya mereka pun tidur bersama sambil berpelukan.
*****
Sementara itu di penginapan.....
Di penginapan ( kamar Ning Najma )
" Bude, Aku mau nanya sesuatu ". Ucap Wardah duduk di samping Ning Najma sambil memangku Ning Nashwa, Putri Ning Najma.
" Mau nanya apa? ". Tanya Ning Najma meletakan gelas yang isinya baru saja Ia ihabiskan ke atas meja yang berada di depanya.
" Sebenarnya Ara itu siapanya Gus Ahmad sih, Bude?. Kok Mereka kelihatanya dekat ". Tanya Wardah terus terang.
" Sudah Bude duga, Kamu pasti mau tanya itu ". Ucap Ning Najma. Ia mengambil alih Putrinya dari pangkuan keponakanya.
" Sebenarnya Mereka sudah menikah, tapi baru secara agama saja. Bude tahu kalau Kamu ada rasa sama Ahmad, tapi Bude mohon Kamu tahu posisi Kamu. Bukanya Bude ngrendahin posisi Kamu, tapi Bude yang nggak enak sama mertua dan adik ipar bude ". Ucap Ning Najma jujur. Yang diajak bicara hanya diam menunduk.
" Bude harap setelah Kamu tahu kebenaranya, Kamu nggak usah lagi berharap untuk bisa bersanding dengan Ahmad. Bude juga mohon sama Kamu. Jangan berani - berani mengusik rumah tangga Mereka. Kamu paham kan Maksud Bude? ". Ucap Ning Najma menepuk bahu Wardah. Ia menurunkan putrinya dari pengkuanya dan meletakan putrinya di kursi sebelahnya lalu beralih memeluk Wardah.
" Ia Bude, Wardah paham. Setelah ini Wardah akan meminta maaf sama Ara ". Ucap Wardah menangis di dalam pelukan Ning Najma.
*
*
*
*
*
Jangan lupa Vote, Like n Comment sebanyak - banyaknya.
**Love,
@*Shinta_28***
__ADS_1