Jodoh Sang NING

Jodoh Sang NING
Haflah & Menang Banyak


__ADS_3

Akhirnya acara yang ditunggu - tunggu kini sudah di depan mata. Di dalam pesantren baik santri putra maupun putri kini Mereka tengah sibuk bersiap. Mereka berpakain sesuai dengan khataman kitab yang akan mereka tampilkan. Sebagian dari santri putri juga ada yang berdandan WAW, namun juga ada yang hanya sedikit memoles wajahnya dengan bedak saja. Intinya para santri berlomba - lomba untuk menampilkan yang terbaik di acara tersebut.


Sampai di tengah acara kini tiba khataman atau wisuda bagi santriwan maupun santriwati yang telah selesai menghafalkan Al - Qur'an 30 jus.


" Dek, Mas pingin kayak gitu ". Ucap Gus Ahmad menunjuk Santri yang tengah di wisuda.


" Loh, bukanya Mas udah hafal dan Mas kan juga sudah di wisuda ". Ucap Ara mengeryitkan jidatnya. Ia bingung dengan ucapan suaminya. Setahunya Suaminya itu kan sudah hafal Al - Qur'an.


" Maksud Mas, bukan itu. Mas pingin yang jadi wali mendampingi orang yang di wisuda ". Ucap Gus Ahmad.


" Oh ". Ucap Ara acuh.


" Dek, Adek kapan khatamnya? ". Tanya Gus Ahmad serius.


" Mas nyindir Ara ".


" Bukanya gitu, tapi apa Adek nggak ingin kaya Mereka ". Tunjuk Gus Ahmad ke arah Santri yang yengah di wisuda.


" Tahu, ah. Harusnya kan Mas bisa paham sama Ara. Bukanya Ara nggak mau kaya Mereka, tapi kan belum waktunya aja ".


" Oke, oke jangan marah ya. Mas minta maaf ".


" Tahu, ah ". Ara ngambek.


" Ya udah sebagai ucapan minta maaf Mas, sekarang kalau Adek minta sesuatu akan Mas turutin. Apapun ". Bujuk Gus Ahmad.


" Bener apapaun? janji ". Tanya Ata butuh kepastian. Ia mengacungkan jari kelingkingnya.


" Iya ". Ucap Gus Ahmad. Ia menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ara.


" Oke, kalau begitu sekarang Mas pura - pura sakit perut! ". Perintah Ara. Ia akan memulai aksinya.


" Buat apa? ". Tanua Gus Ahmad bingung.


" Udah, Mas ikutin aja. Cepetan sekarang Mas pura - mengaduh sambil salah satu tangannya megang perut! ". Perintah Ara. Yang diperintah hanya patuh saja.


" Aduh... ". Gus Ahmad mengerang pelan sambil salah satu tanganya memegang perutnya.


" Ummi, Ara ijin mau ke kamar, soalnya Mas Ahmad sakit perut. Ara mau bawa Mas Ahmad ke kamar, takutnya kalau tetap disini nanti sakitnya tambah parah ". Ucap Ara meminta izin pada Ummi Rabiah.


Ummi Rabiah melihat ke arah menantunya yang tengah meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


" Ya sudah sana. Ceper sembuh ya Mad ". Kata Ummi Rabi'ah mengizinkan.


Ara dan Gus Ahmad berdiri, karena saat ini mereka sedang duduk di kursi depan tempat para Kyai dan keluarga ndalem duduk sambil menyaksikan acara wisuda.


Ara berjalan sopan sambil memapah Gus Ahmad.

__ADS_1


" Wah kalau kayak gini Kamu Mas yang menang banyak. Mana jalanya masih agak jauh lagi ke kamar! ". Ucap Ara di telinga Gus Ahmad, pasalnya saat ini salah satu tangan Gus Ahmad memegang atau lebih spesifiknya tengah memeluk pinggang Ara kencang sebagai tempat berpegangan. Tidak hanya itu, Ara juga merasakan bahwa jari - jari Gus Ahmad perlahan naik ke bagian dadanya sementara tangan yang satunya Gus Ahmad gunakan untuk memegang perutnya.


" Ndak apa - apa Dek. Kan ini biar aktingnya sempurnua ". Ucap Gus Ahmad nyengir. Ia berbicara di telinga Ara dengan nafas berat sehingga mbuat Ara bergidik ngeri.


" Mesum! ". Satu kata yang lolos dari Mulut Ara secara spontan.


" Kan udah halal ". Ucap Gus Ahmad menunjukan wajah mesumnya membuat Ara menyebikkan bibirnya.


*****


Di kamar Ara....


" Mas Ahmad tunggu dulu disini ". Ucap Ara lalu keluar kamar.


" Sekarang Mas Ahmad ganti baju ini. Ara juga akan ganti baju, tapi di kamar mandi ". Perintah Ara menyodorkan baju koko yang terlihat sudah agak kusut.


" Emang buat apa Dek? ". Tanya Gus Ahmad, namun tidak Ara jawab, karena Ara sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.


" Udah belum? ". Tanya Ara.


" Udah keluar aja! ". Ucap Gus Ahmad. Ara pun keluar dari kamar mandi.


Namun tanpa Ara tahu saat ini Gus Ahmad tengah berdiri di depan puntu kamar mandi dengan salah satu tangannya menyandar di sisi tembok dekat pintu kamar mandi. Ia menggunakan kaos putih ketat yang di luarnya dilapisi dengan baju hem yang dibiarkan terbuka tanpa dikancingkan kancingnya. Gus Ahmad terlihat seperti pemuda masa kini, berbeda seperti pakaian sehari - harinya yang lebih sering memakai baju koko.


" Astaghfirullahal'adim ". Ucap Ara keget di depan pintu kamar mandinya ada cowok ganteng. Gus Ahmad mengedipkan salah satu matanya genit.


" Kok pake baju ini sih, baju yang Ara kasih mana? kok nggak dipake? ". Tanya Ara melongo, Ia masih tidak percaya dengan penampilan Gus Ahmad.


" Nggak ah, masa Mas disuruh pake baju yang udah koyak ". Menunjukan baju yang bolong di bagian keteknya.


" Yaudahlah nggak apa - apa. Ayuk! ". Ajak Ara.


" Kemana? ". Ke tempat jajanan di stan makanan.


*****


" Kenapa sih tadi Adek kasih Mas baju yang udah lama?. Padahal kan Adek mau ngajak Mas kesini ". Tanya Gus Ahmad.


Saat ini Mereka sedang duduk di kedai cilok sambil menunggu cilok pesanan Mereka datang.


" Sebenarnya alasanya ndak penting sih. Ara cuman risih aja kalau kesini pakai baju bagus, nanti orang - orang pada tahu kalau Ara putrinya Abah. Soalnya Ara waktu kecil sering kalau ada acara kayak gini Ara kesini dan pulang - pulang bawa jajan banyak tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, karena hampir semua pedagang ngasih Ara. Saat Ummi tahu Ara dinasihatin, katanya kasihan pedagangnya kalau jajannya dikasih ke Ara nanti pedagangnya nggak dapet uang. Ara juga nggak boleh main kesini lagi, tapi Ara suka ngeyel. Terus....". Ucap Ara sedih, namun terpotong oleh ucapan Gus Ahmad.


" Terus Kamu diajarin buat pake cara kaya tadi sama Kak Muna ". Ucap Gus Ahmad memotong ucapan Ara.


" Kok Mas Ahmad tahu? ". Tanya Ara heran. Kok suaminya bisa tahu.


" Yaiyalah tahu, kan yang ngajari Kak Muna Mas ". Ucap Gus Ahmad menepuk - nepuk dadanya bangga.

__ADS_1


" Ih, narsis. Pantes aja Kak Muna suka ngilang kalau ada acara - acara besar, ternyata Dia punya guru yang ngajarin ngilang dan sekarang Gurunya ada di samping Aku ". Ucap Ara menatap Gus Ahmad dengan tatapan sinis.


Cup...


Gus Ahmad mengecup pipi Ara singkat. Ara yang mendapat ciuman tiba - tiba membulatkan matanya kaget


" Adek lucu kalau cemburu. Awas loh nanti matanya copot ". Ucap Gus Ahmad tersenyum.


" Tahu, ah ". Ara mencubit paha Gus Ahmad keras lalu membuang muka membelakangi Gus Ahmad.


" Awww...Dek Si otong jadi bangun gara - gara cubitan Kamu ". Ucap Gus Ahmad berat tepat di telinga Ara.


" Awww " Jerit Gus Ahmad saat Ara manginjak kakinya keras.


" Rasain!!! salah siapa mesum! ". Ucap Ara sebal.


*****


" Mi, gimana bentar lagi Muna sama Kak Azmi harus mewisuda santri tapi sampai sekarang Kak Azmi belum juga nyampe? ". Tanya Muna pada Umminya gelisah.


" Sudah Kamu tenang saja ". Ucap Ummi Rabi'ah santai sambil tetap memperhatikan penggung.


" Silahkan kepada perwakilan dari Putra dan putri pengasuh pesantren untuk mewisuda Santri Imrithi ". Ucap Pembawa acara.


" Mi, gimana Kak Sarah sedang menemui Gus Alif, tunanganya. Sementara Ara tadi Muna lihat kebelakang sama Gus Ahmad ". Ucap Muna panik.


Ditengah - tengah kepanikanya, karena sedari tadi Mc sudah memanggil - manggil perwakilan dari Putra dan Putri Abahnya tiba - tiba....


" Mari Ning ". Sebuah suara mengejutkan Muna. Muna mendongakkan wajahnya. Seorang laki - laki sudah berdiri di depannya.


*


*


*


*


*


Kalau suka sama ceritanya jangan sungkan - sungkan untuk Vote sebanyak - banyaknya.


**Dukungan kalian sangat berarti bagi Author😊


Terimakasih🙏🙏


Love,

__ADS_1


@*Shinta_28😘***


__ADS_2