
Perusahaan Black Diamond milik Al
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu di ruangan Al
“Masuk” ucap Al dengan nada dinginnya.
Ceklek..
Seseorang membuka pintu secara perlahan dan memasuki ruangan Al.
“Hallo.. what’s up my bro” ucap Xavier dengan senyum manisnya.
“Kalau tidak ada yang penting, tahu pintu keluarkan” saut Al dengan wajah tanpa ekspresi.
“Dasar beruang kutub, dari dulu sifatnya tidak berubah” jawab Xavier dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh Al.
“Coba ulangi sekali lagi” saut Al dengan menatap tajam Xavier.
“Tidak, bukan apa-apa kok” ucap Xavier dengan senyum terpaksa.
“Apa jadwal hari ini?” saur Al dengan mengangkat alisnya.
“Hari ini Tuan Al ada rapat dengan perusahaan XXX dan meeting pemegang saham di siang hari” Xavier mulai menjelaskan jadwal Al secara rinci.
Al hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya.
“Apakah ada lagi selain yang kau sebutkan itu?” tanya Al dengan menatap Xavier.
Xavier yang ditatap seperti itu sama Al merasa sedikit tegang dan gugup.
“Tuan i-itu.. se-sebenarnya i-itu hem.. ya i-itu ya i-itu Tuan” ucap Xavier.
“Ita itu ita itu!! Katakan yang jelas” jawab Al dengan nada dinginnya.
“Hem.. bagaimana gua harus mengatakannya ya, alamat gaji kena potong nih” ucap batin Xavier sambil tangannya yang memegang ujung baju.
Al yang melihat Xavier seperti orang ketakutan itu langsung membuka suara.
“CEPAT KATAKAN ATAU..” sebelum Al selesai mengatakan Xavier langsung memotongnya.
“Tuansebenarnyaperusahaanmengalamikerugianbesarsaatlelangdesign” ucap Xavier tanpa jeda.
Al yang mendengarkan Xavier tadi langsung marah. “KATAKAN DENGAN JELAS KEPADAKU”
Xavier menarik nafas terlebih dahulu.
“Sebenarnya saat acara perlelangan, perusahaan mengalami kerugian akibat penuduhan plagiatrisme design produk dengan perusahaan XYZ” ucap Xavier dengan keringat dingin.
“PLAGIATRISME?” saut Al dengan alis yang diangkat serta senyum seringainya.
“Benar Tuan. Perusahaan XYZ memiliki design yang sama dengan kita sehingga perusahaan lain menuduh kita melakukan plagiat dan membuat kita gagal di perlelangan” Xavier terus saja memberi penjelasan kepada Al.
“Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?” ucap Al dengan raut wajah yang bingung.
“Kami tidak tahu Tuan, kemungkinan besar ada kebocoran informasi atau bisa jadi ada seorang penghianat di perusahaan ini” jawab Xavier dengan lantang.
Al berdiam diri memikirkan langkah apa yang harus ia ambil.
Sampai terlintas suatu ide di dalam pikiran Al, lalu Al menyuruh Xavier untuk menghubungi Jaeron dan tidak lupa menyalakan pengeras suara.
Tut..
Tut..
Tut...
__ADS_1
Xavier mencoba menghubungi Jaeron sampai akhirnya telepon pun diangkat.
📱”Hallo Vier, ada apa kau meneleponku. Apakah ada yang penting?” ucap Jaeron dari jauh.
📱”CEPAT KESINI SEKARANG” saut Al dengan suara khas baritonnya.
📱 “Ba-baik King” jawab Jaeron dengan nada gugupnya.
📱 “Bilang ke abang gua, kalau gua tidak bisa ke restoran hari ini” ucap Al dan langsung diputuskan sambungan teleponnya oleh Xavier atas permintaan Al.
📱 “Ba- tut.. tut.. tut..” saut Jaeron bersamaan dengan terputusnya sambungan telepon.
*
*
*
*
Di Restoran Alaska
“Dasar kulkas 12 pintu, gua belum selesai ngomong sudah main tutup saja teleponnya” ucap Jaeron dari tempatnya.
“Kenapa sih mukanya kusut amat kek setrikaan belum digosok” ucap El dengan nada mengejek.
“Kesel gua sama lu” saut Jaeron menatap sinis El.
“Lah.. gua baru datang kali, main kena semprot saja” jawab El dengan memutar bola malas.
“Habisnya gua kesel kalo liat muka lu mirip kek adik lu” ucap Jaeron.
“Apa salah dan dosaku Jaeron..” saut El dengan nada bernyanyi.
“Cinta suciku kau buang-buang” ucap Farhan yang tiba-tiba saja muncul langsung ikut bernyanyi.
“Panci mlayangg..” saut Farhan sambil memegang panci kesayangan El.
Saat El melihat panci kesayangannya itu langsung berteriak marah serta mengambilnya dari tangan Farhan.
Jaeron yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala, bahwa mereka seperti tidak tahu umur sudah tua masih saja berprilaku seperti anak kecil.
“Gua pergi dulu ya.. ada urusan sama Al dan tadi Al bilang tidak bisa mampir ke sini karena di sana lagi banyak masalah” ucap Jaeron seraya bersiap merapikan laptop yang mau ia bawa.
“Terus yang jadi Asisten gua siapa?” jawab El dengan wajah bingungnya.
“Tenang Hyung ada Farhan di sini yang siap sedia membantu pekerjaan Hyung” saut Farhan dengan nada sombongnya.
“Nah kan sudah terjawab jadi gua pergi dulu bye-bye..” Jaeron bergegas pergi dengan terburu-buru meninggalkan El dan Farhan yang masih cekcok.
*
*
*
*
Di perusahaan Black Diamond
Kini Al dan Tae sedang menunggu kedatangan Jaeron.
Selang beberapa menit Jaeron baru sampai di depan perusahaan Al.
“Kapan dia sampai?” tanya Al kepada Xavier.
“Ya mana gua tahu..” jawab Xavier sambil mengangkat bahunya.
__ADS_1
Seketika Al yang melihat kelakuan Xavier langsung menatap tajam dan membuat Xavier mati kutu terdiam dengan kepala menunduk.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara bunyi pintu begitu nyaring.
“Masuk” ucap Al mempersilahkan Jaeron untuk masuk.
“Akhirnya ini orang datang juga, selamat gua tidak jadi amukan singa kutub yang menyebalkan” suara batin Xavier.
Jaeron membuka pintu ruangan lalu masuk ke dalam.
“Selamat pagi King Al yang terhormat” sedikit membungkukkan badannya di hadapan Al.
“Hentikan keformalitasan ini Hyung dan duduklah” ucap Al yang jengah dengan kelakuan Jaeron.
Jaeron langsung menarik kursi di hadapan meja kerja Al kemudian duduk.
“Ada apa kau memanggilku kesini Al?” tanya Jaeron dengan raut wajah yang penasaran.
“Vier jelaskan” ucap Al dengan penuh penekanan.
“Bagian sama Hyung saja sopan. Ketika sama gua keluar dah tuh es baloknya” ucap spontan Xavier membuat Jaeron menahan tawanya.
Sedangkan Al malah menatap tajam yang membuat Xavier langsung menjelaskan secara detail apa maksud tujuan Al memanggil Jaeron.
Namun di sela-sela Xavier menjelaskan ia merasa sedikit pegal lalu duduk di sebelah Jaeron.
“Siapa yang menyuruhmu duduk di situ” tanya Al dengan nada dingin.
Xavier langsung menggenggam tangan Jaeron seraca berucap “Aaa.. Hyung lihatlah, dia sangat jahat banget sama Vier bukan” rengek Vier dengan nada manjanya.
“Cihh.. bisanya meminta bantuan, kalo berani langsung ngomong depan gua” saut Al dengan terus menatap Vier menggunakan mata elangnya.
Kini Vier merasa sedikit takut dengan tatapan Al yang tidak biasa itu.
“Al kau tidak boleh terlalu dingin dengan Vier, dia masih anak-anak” ucap Jaeron langsung dibantah oleh Vier.
“Hyung apaan sih kan Vier bukan anak-anak lagi” umpat Vier dengan bibir yang dimajukan seraya seperti anak kecil yang mengambek.
Al yang melihat kelakuan Vier malah acuh seakan tidak mau menanggapinya.
“Abaikan saja dia Hyung, jadi bagaimana?” tanya Al dengan nada penasaran.
“Kasih waktu gua 1 jam untuk membereskan semua ini” jawab Jaeron.
“Baiklah Hyung, buat perusahaan itu anjlok dan beli sahamnya” saut Al dengan aura dinginnya.
Xavier yang ada di sana hanya menyimak dan mendengarkan tanpa mau mengeluarkan suara.
Karena ia tahu jika ia mengeluarkan suara maka ialah yang akan kena sasaran Al nantinya.
Apa lagi jika Jaeron pergi meninggalkan perusahaan maka tamatlah riwayat Vier, tidak akan ada yang berani membelanya saat Al memarahinya tanpa jeda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung....
Terima Kasih sudah mau membaca novel pertamaku ini.
Jangan lupa like, komen, dan subscribe semua..
See you again bye-bye .. 🤗
Warning!!!
Dilarang bom like tanpa membaca terlebih dahulu.
__ADS_1