
Bani yang telah bersedia mengajari Kay untuk menguasai skill balap liar serta trek di dalam pertandingan itu membuat Kay merasa sangat senang.
“Sampai bertemu di garis finis Queen” ucap Bani sambil tersenyum manis menarik tangan Agam dan segera pergi untuk memasuki garis start.
Kay yang sudah bersiap diri untuk menghadapi balap liar pertamanya ini langsung memasuki mobilnya dan pergi menuju garis start.
Sedangkan Dhea berada di pinggir trek untuk memantau Kay.
Tiba saatnya pertandingan segera dimulai
Brum..
Brum..
Brum..
Suara mobil yang saling bersautan.
Satu..
Dua..
Tiga..
Let’s Go..
Marshall melompat tinggi dengan mengibarkan bendera ke atas yang menandakan pertandingan telah dimulai.
Semua para pembalap melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Kay berusaha sekuat tenang memfokuskan matanya untuk melihat seberapa tajam trek balap liar ini.
Dan kini Kay telah menyalip beberapa para pembalap lainnya dan berada di posisi ke 3 saat ini.
Hingga saatnya Bani dan Agam telah mencapai garis finis terlebih dahulu kemudian Kay.
Kini Agam menjadi juara pertama dengan hadiah 50 juta.
Sedangkan Agam menjadi juara kedua dengan hadiah 25 juta.
Dan Kay menjadi juara ketiga dengan hadiah 10 juta.
Padahal mereka bertiga terbilang orang yang sangat kaya, tetapi mereka berlaku seperti layaknya orang yang sedang membutuhkan uang.
__ADS_1
Ya bagaimana lagi, itulah hobby yang mereka asah dari awal mula mereka terjun pertama kali menjadi seorang pembalap yang hebat dengan julukan King, Prince dan Queen.
Nama itu terdengar di penjuru arena balap di dunia. Bahkan mereka bertiga menepati posisi pertama dan kedua di dunia.
Bani yang menepati posisi pertama seorang pembalap laki-laki terbaik di dunia.
Dan Agam yang menepati posisi kedua seorang pembalap laki-laki terbaik di dunia.
Sedangkan Kay yang menepati posisi pertama seorang pembalap wanita terbaik di dunia.
Flashback Jadian
Beberapa hari telah berlalu..
Malam hari di arena balap yang sama
Bani dan Kay baru saja datang menggunakan mobilnya masing-masing.
Sementara Dhea dan Agam sudah berada di arena balap 1 jam yang lalu.
“Bagaimana latihannya, berjalan lancar atau ada kendala?” tanya Agam kepada Kay.
“Sangat keren, teknik dan skill nya begitu luar biasa. Sulit sih untuk diikuti, tapi sebagai Queen gua bisa melakukan semua skill nya dengan baik” jawab Kay dengan nada percaya diri.
“Mau gua buktikan?” ucap Kay dengan nada sombong dan senyum seringai.
“Mau taruhan enggak nih?” tanya Agam dengan sedikit menantang.
“Boleh, siapa takut” ucap Kay dengan wajah serius.
“Bagaimana jika kita taruhan..” ucap Bani menggantungkan kata-katanya dengan senyum penuh arti.
“Taruhan apa?” tanya Kay dengan penasaran.
“Kalau lu menang gua bakalan kasih mobil balap kesayangan gua, tapi..” jawab Bani membuat Kay, Agam serta Dhea yang semakin di buat penasaran.
“Tapi apa? Katakan yang jelas” ucap Kay sedikit kesal.
“Tapi kalau gua yang menang lu harus jadi kekasih gua, bagaimana?” tanya Bani dengan senyum penuh arti.
Seketika Kay di buat terkejut ngeblush dan sedikit memerah mukanya menahan malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung....
Terima Kasih sudah mau membaca novel pertamaku ini.
Jangan lupa like, komen, dan subscribe semua..
See you again bye-bye .. 🤗
...----------------...
...Sambil nunggu kelanjutan flashback jadian Kay dengan Bani....
...Mari kita istirahat sejenak untuk mampir ke novel yang akan aku rekomendasikan ini 😍...
...Ayo kesini yaa jangan sampai lupa 😒 Cuss berangkat.....
...Terimakasih.. Semoga kalian menyukainya 🙏😊...
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.
__ADS_1