
...π Sebelum membaca,...
...Jangan lupa klik like, vote dan rate....
...Kasih komentar yang positif agar semangat menulis....
...Happy Reading...
......................
"Bukankah hutan selatan adalah hutan terlarang?" tanya Murni yang sudah dapat menguasai dirinya sendiri lagi.
"Itu hanya untuk manusia sayang, tapi buat kamu pengecualian. Kamu berbeda dan istimewa. Kamu adalah calon ratu dari istana ini. Tentu saja kamu akan mampu masuk ke dalam hutan selatan tanpa ada halangan dan gangguan apapun itu," jelas Ragata kembali.
"Begitulah, lalu dengan mbah utiku bagaimana? apakah beliau juga akan ikut saat pernikahan kita? atau ...."
"Hanya kamu saja yang akan ke sini sayang, nenek kamu sudah tua, kasihan kalau di ajak jalan kemana-mana. Lebih baik cukup keluarga inti ini saja. Nanti kamu juga akan bisa berkumpul dengan keluarga kamu semisal memang kamh merindukannya," ujar Ragata.
"Baiklah kalau begitu, aku akan bersiap-siap," ucap murni menurut.
"Bagus, seminggu lagi kita akan bersama sayang. Aku harap kamu sabar menunggu," ucap Ragata sambil mengedipkan mata.
__ADS_1
"Tapi jangan katakan pernikahan ini dulu kepada nenekmu," ucapan Ragata seketika membuat murni terkejut.
"Kenapa?"
"Bel saat mereka tahu sayang, kita akan menikah dulu, baru setelah kita menikah dan selesai upacara di istana ini, barulah nanti kita umumkan kepada mereka berdua," kata Ragata menjelaskan.
"Haruskah seperti itu?" tanya Murni kembali.
"Iya sayang, memang seperti itu prosesnya."
"Lalu aku harus mengatakan apa kepada Mbah Uti nanti?" tanya Murni bingung.
"Katakan saja kamu sedang mendapatkan pekerjaan baru di luar kota," kata Ragata santai.
"Demi masa depan kita bersama sayang, kamu tentunya juga mau kan hidup bersamaku dan anak-anak kita nantinya," ujar Ragata merayu murni kembali agar dia mau tinggal bersamanya di istana.
"Hmmmm...baiklah."
πΌπΌπΌ
"Apa nduk? kamu mau pindah bekerja," tanya Mbak Uti saat murni mengajukan permohonan nya untuk keluar dari rumah.
__ADS_1
"Iya, Mbah, gajinya Gedhe di sana. Aku mendapatkan juragan yang kaya raya Mbah, dan sayang untuk dilewatkan. Ini semua juga demi MASA DEPAN ku nanti Mbah," kata murni dengan menekan kata masa depan agar si Mbah bisa luluh dengan permohonan nya ini.
Mbah Uti hanya menghela napas panjang mendengar permohonan dari cucu satu-satunya tersebut.
"Baiklah, nak, jika memang kamu ingin bekerja di sana. Mbah Uti hanya bisa mendoakan kamu yang terbaik. Semoga kamu sukses dan bisa meraih cita-cita mu dengan baik di sana. Pesen Mbah jaga kesehatan kamu ya, dan jangan lupa kabarin Mbah kalau kamu sedang ada waktu luang," pesan mbah itu kepada sang cucu tercinta.
Murni pun segera berhambur ke arah si mbah dengan senyum terbaiknya. Dia begitu senang akhirnya si Mbah mau mengabulkan permintaannya.
"Iya Mbah, murni akan ingat semua pesan mbah sama murni."
Sementara itu di restoran.
"Apa mur? kamu mau resign? lho kenapa?" tanya Doni yang merupakan teman Murni tersebut.
"Iya don, aku ada pekerjaan di luar kota. Gajinya juga lumayan. Sayang kalau aku lewatkan," kata murni memberikan alasannya
" Tapi nanti si mbahmu dengan siapa? kalau kamu tinggal begitu murni?" tanya Doni yang nampak kurang suka dengan keputusan murni. Jujur, sebenarnya Doni memiliki perasaan lain kepada temannya selama 9 tahun ini. Kebersamaan keduanya tentu menimbulkan perasaan-perasaan tertentu dalam dirinya.
"Maaf, Don, ini semua juga demi kebaikan ku, demi masa depanku. Aku tidak akan melupakan Mbah Uti kok, ya sementara aku titip mbahku ya, Don. Kalau pas kamu nggak repot, tolong liatin si Mbah," kata Murni dengan tatapan memohon ke arah Doni.
Lelaki itu hanya bisa menghela napas panjang mendengar permintaan dari murni.
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu mau mu."
TBC π»