JURNAL MISTERI

JURNAL MISTERI
HEALING MERINDING ~ 4


__ADS_3

...📖 Sebelum membaca,...


...Jangan lupa klik like, vote dan rate....


...Kasih komentar yang positif agar semangat menulis....


...Happy Reading...


.....................


"Sinta!"


"Sinta!"


"Sinta!"


"Astaghfirullah, bangun sin!"


Sayup-sayup terdengar suara yang memanggil-manggil namanya. Namun, sulit sekali matanya untuk terbuka. Dia masih saja memejamkan matanya meski telinganya mendengar seseorang memanggil namanya berkali-kali.

__ADS_1


"Astaghfirullah ini bagaimana pak, Bu?" tanya Jane yang panik karena sahabatnya yang dia temukan pingsan di samping batu besar hitam itu sampai sekarang belum juga sadarkan diri.


"Beberapa orang warga sedang menjemput tetua yang biasanya menangani kejadian seperti ini mbak, seng sabar yo, sambil mbak e panggil-panggil lagi itu temennya," ujar seorang bapak yang menolong mereka berdua saat di coban tadi.


Dia yang saat itu mengecek kondisi wisatawan di wisata coban kaget mendengar teriakan orang minta tolong. Karena setahunya tadi saat menjaga di pintu depan coban dia melihat sebuah mobil melintas masuk pintu utama tempat wisata coban.


"Sinta .... bangun, sin. Jangan bikin aku bingung gini, sin. Sinta.... hiks ..hiks...hiks," Jane pun mengusap kasar air mata yang tak bisa lagi dia bendung keluar dari kedua pelupuk matanya.


"Seng sabar cah ayu, temennya pasti nanti sadar kok, panggil terus namanya ya nak, sambil olesin minyak ini juga," ujar istri bapak yang menolong mereka.


Pasangan paruh baya itu membantu dua wisatawan dari luar kota tersebut.


"Eugghhhhhh...." sebuah lenguhan terdengar dari mulut Sinta.


Sepertinya dia merasa pusing gegara pingsan di dekat batu besar hitam.


"Alhamdulillah cah ayu, kamu akhirnya sadar juga," ujar Bu Cahyo.


Istri Pak Cahyo itu segera beranjak dari duduknya dan segera mengabari sang suami yang sedang menunggu kedatangan tetua yang masih dijemput warga.

__ADS_1


"Jane....ishhh .. kenapa kepalaku pusing sekali," gumam Sinta lirih dan mencoba untuk menatap wajah sahabatnya itu.


"Sinta, kamu nggak apa-apa?" tanya Jane sambil mengecek tubuh sahabatnya itu dengan teliti. Mungkin saja ada luka fisik yang dialami sang sahabat selain keningnya yang tadi berdarah akibat berkenalan dengan batu-batu yang ada di sana.


"Kepalaku sakit, Jane," ujar Sinta sambil memegangi keningnya yang benar-benar sakit dan pusing.


"Minum dulu, Sin," ajak Jane sambil membantu Sinta untuk meminum teh manis hangat yang tadi dibuatkan Bu Cahyo.


"Jan ... kamu nggak apa-apa? kamu baik-baik saja?" tanya Sinta yang kaget melihat kondisi Jane yang justru dia lihat baik-baik saja.


Padahal jelas-jelas tadi dia melihat sang sahabat itu tubuhnya meledak dan menjadi serpihan mengerikan sampai-sampai membuat Sinta tidak kuat melihatnya. Itulah yang membuat dirinya tadi jatuh pingsan.


"Kamu ini bicara apa sih, sin. Justru kamu tadi yang aku temukan pingsan di samping batu besar yang kamu duduki tadi. Kamu kenapa sin, apa kamu kelelahan?" tanya balik Jane yang justru membuat Sinta seketika melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jane.


"Hah? aku? pingsan?" tanya Sinta lagi memastikan pernyataan temannya barusan.


"Iya, sin, kamu pingsan. Bahkan tadi aku sampai minta bantuan beberapa warga untuk membantumu di bawa ke sini. Meraka juga lagi manggil tetua di sini buat bantu kamu kalau-kalau kamu nggak bangun-bangun juga," ujar Jane panjang lebar.


"Hah?" Sinta hanya bisa terbengong mendengar cerita panjang lebar dari sahabatnya itu.

__ADS_1


Karena apa yang dia alami ternyata kebalikan dari apa yang dia liat tadi.


'Apa yang sebenarnya terjadi kepada diriku?'


__ADS_2