JURNAL MISTERI

JURNAL MISTERI
TUGAS AKHIR MENYESATKAN ~ 8


__ADS_3

...📖 Sebelum membaca,...


...Jangan lupa klik like, vote dan rate....


...Kasih komentar yang positif agar semangat menulis....


...Happy Reading...


.....................


"Del, gimana ini, gimana kita bisa keluar dari sini," ujar Mita meronta-ronta agar bisa terlepas dari ikatan para warga yang membawa pergi salah satu teman mereka.


"Bentar, Mit, jangan teriak-teriak Mulu kamu itu. Berpikir caranya kita bisa keluar dari sini. Dan menyelamatkan Riska," kata Adelia yang mulai kesal karena Mita sedari tadi hanya merengek saja.


"Kalau saja tadi kita buru-buru ikutin Toni. Nggak akan kayak begini akhirnya, Del," ucap Mita menyesal nggak bergegas menyusul Toni.


"Heh, mit, sapa yang tau juga kalau di kampung ini orangnya pada tersesat gitu. Lagian Toni punya rencana begini kenapa dipendam sendiri. Nggak dari kemarin-kemarin kan kita bisa barengan pergi. Ini maen bawa kabur anak gadis orang lagi dia. Kampret bener emang," ujar Adelia marah-marah dengan sikap toni yang seenaknya.


Braaaakkkkk!


"Bu Minah!" pekik Mita dan Adelia bersamaan.


"Sabar ya neng, ayo Tejo, bukain ikatan mereka berdua," perintah Bu Minah kepada adik laki-lakinya.

__ADS_1


"Bu...."


"Maaf neng, jika kalian harus mengalami hal ini. Sebenarnya semua ini salah ibu. Karena ibu ingin menyelamatkan masa depan putri. Jadinya ibu melakukan ini semua. Ibu yang meminta nak Toni untuk membawa putri keluar dari desa ini. Dia selama ini hanya dijadikan wadah kesesatan bagi Bu RT yang mendalami ilmu hitam. Sekarang kalian bisa selamatkan teman kalian. Dan nanti Tejo yang akan membawa kalian bertiga keluar dari desa terkutuk ini," ujar Bu Minah kepada kedua gadis tersebut.


"Dimana Riska sekarang Bu?" tanya Adelia yang tidak mencerna dengan baik omongan Bu Minah.


Dia hanya ingin menyelamatkan temannya yaitu Riska.


"Ada di sanggar tari."


Singkat cerita, keempat orang itu menuju ke sanggar tari. Sementara Tejo beranjak mengambil kendaraan dari Adelia cs bersama barang - barangnya. Sedangkan bu Minah menemani Adelia dan Mita untuk merebut Riska kembali.


"Hentikan!" Adelia berteriak paling lantang. Dia segera menghampiri Riska yang tampak kesurupan dan dia menari terus seiring dengan musik gamelan yang ditabuh di sanggar.


BUG!


BUG!


"Minggiiiiir!!!" dengan emosi yang sudah memuncak, Adelia melawan memukul siapa saja yang menghalangi langkah mereka.


BUG !


BUG !

__ADS_1


Plaaakk!


Begitu juga dengan Mita, dia yang kesal melihat temannya dijadikan wadah pengganti putri pun menjadi marah. Dia tidak terima mereka akan diperbudak oleh kesesatan seperti itu.


"Stooppp! kalian berhentilah! aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti ketiga mahasiswi itu lagi! kalian, cepatlah pergi!" teriak Bu Minah yang kini menjadi tameng menghadapi amukan warga di sana yang seperti orang kesurupan.


"Adel? Mita? lho kenapa aku berpakaian seperti ini?" tanya Riska yang sudah sadar dari pengaruh hal sesat itu.


"Syukurlah kamu sudah sadar, kita harus segera pergi dari kampung ini. Semua sudah tidak bener di sini," sahut Adelia.


"Neng!"


"Itu pak Tejo, ayo."


Adelia dan Mita membantu memapah Riska yang tampak lemas. Bagaimana tidak lemas jika dia dipaksa menari tanpa dia sendiri menyadari apa yang dia lakukan.


Setelah mobil yang mereka kendarai sampai di pembatas kampung. Pak Tejo menghentikan mobil dan menyerahkan kemudi kepada Adelia.


"Lho, pak?"


"Pergilah neng, di depan sudah aman. Kalian akan menemukan jalan kembali ke kota. Saya dan mbak Minah akan menahan amukan penduduk di sini karena mereka kehilangan sang Dewi mereka. Tapi kami senang karena keponakan kami bisa keluar dari kampung ini. Sampaikan salam kami kepadanya. Kami sangat menyayangi nya," ucap pak Tejo kemudian dia menyuruh ketiga gadis itu berlalu pergi.


"Terimakasih Bu Minah, pak Tejo, sudah menyelamatkan kami bertiga," ucap Riska, Adelia dan Mita dengan perasaan haru.

__ADS_1


END 👻


__ADS_2