
...📖 Sebelum membaca,...
...Jangan lupa klik like, vote dan rate....
...Kasih komentar yang positif agar semangat menulis....
...Happy Reading...
.....................
"Kamu yakin di sana ada tarian yang kita cari itu, Del?" tanya Riska kepada Adelia.
Dia adalah ketua dari kelompok mereka untuk menyelesaikan laporan skripsi mereka.
"Iya, aku juga sudah survei ke beberapa penduduk setempat. Katanya di sana memang ada jenis tarian tradisional yang kita cari. Ayolah kita berempat ke sana," ujar Adelia.
"Berempat? sama siapa aja?" tanya Riska.
"Ada Toni dan Mita juga," sahut Adelia.
__ADS_1
"Gimana, neh?" tanya Adelia kepada sang sahabat, Riska.
"Ya sudahlah, kita juga nggak bisa mundur. Kita udah kepentok jadwal, Del," sahut Riska pasrah dengan usulan sang sahabat.
Merasa juga sudah dikejar oleh waktu untuk menyelesaikan tugas skripnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi Toni dan juga Mita ya. Mereka biar segera bersiap-siap dan kita bisa berangkat bersama-sama ke tempat itu," kata Adelia final.
"Baiklah," sahut Riska.
Setelah ke empat mahasiswa semester akhir itu mengurus segala keperluan. Berangkat lah mereka berempat ke tempat yang telah disepakati bersama. Perjalanan ke tempat itu dari kota memakan waktu selama hampir lima jam. Dan itu cukup melelahkan buat ke empatnya. Tetapi demi menyelesaikan tugas akhir. Ini tidak dirasakan sudah oleh mereka.
"Aduh, capek juga aku, Del, haus, laper," ucap Riska kepada Adelia. Dia meminta Adelia untuk berhenti di sebuah warung yang ada di perkampungan tempat yang dituju.
"Ini Riska minta berhenti, makan-makanlah dulu kita. Aku juga lagi laper. Kalian ikutan makan nggak?" tanya Adelia kepada kedua temannya itu.
"Kuy lah, aku juga capek nyetir Mulu. Perut udah minta di isi seperti nya," sahut Toni yang ikutan menghentikan mobilnya. Kemudian memarkirkan nya dekat mobil Adelia.
Mereka berempat memutuskan makan di sebuah warung sederhana di kampung itu. Tetapi cukup lumayan rame warungnya.
__ADS_1
"Mau makan apa, neng?" tanya si ibu penjual makanan nya.
"Nasi dan lauk nya buk, minumnya es teh manis empat yang Bu, Oya Nasi nya juga empat sekalian buk," ujar Adelia kepada sang penjual.
"Baiklah neh, tunggu ya, ibu siapin dulu," jawab si ibu.
Sambil menunggu makanan mereka siap. Adelia pun mencoba bertanya kepada sang ibu penjual makanan tersebut.
"Buk, apakah di sini memang benar ada tarian selendang kipas yang katanya sakral itu? Saya dan teman-teman saya sedang ingin mencari informasi tentang tarian itu untuk tugas akhir kami, buk," ujar Adelia karena dia yang terkenal paling pemberani dibandingkan yang lain.
"Oh, tarian selendang kipas ya, ada neng, memang di sini itu terkenal tariannya," sahut sang ibu.
"Wah syukurlah buk kalau memang benar adanya. Lalu kami harus kemana ya buk kalau ingin melihat tarian tersebut?" tanya Adelia kembali.
"Ah kalau eneng-eneng mau menanyakan tarian itu lebih jauh bisa kepada Bu RT yang ada di kampung ini, neng. Beliau memiliki seorang putri yang merupakan penari tarian selendang kipas. Dia adalah dewi penari tarian selendang kipas di sini," ujar si ibu yang diketahui bernama Minah tersebut.
"Wah bagus dong buk, apakah di sini juga ada penginapan buk, kami di sini berniat akan cukup lama sambil meneliti tarian tersebut," ujar Adelia.
"Kalau masalah penginapan kalau eneng mau nih. Bisa menginap di rumah ibu aja. Di sana ibu tinggal sendirian. Kalian bisa tinggal bertiga di sana. Tapi maaf untuk nak Toni nanti tinggal di rumah adik lelaki saya saja ya, di sana banyak cowoknya," ujar Bu Minah.
__ADS_1
"Baguslah Bu kalau begitu, kami setuju," ujar Adelia setelah berunding sejenak dengan teman-teman nya yang lain.
TBC 👻