
" Si, kamu sehat" ujar silvi.
" Tentu saja aku sehat, memang aku sakit?"kataku.
" Terus, kenapa kamu malah tertawa?" kata siska.
" Hemm.. Gak papa kok, sebentar lagi kalian juga akan tau. Kalian makan malam disini ya, pleas?"
" Oke" ujar mereka kompak, karena masih tidak tega meninggalkan Antansia sendirian.
" Bi sumi" panggilku.
" Iya non"
" Tolong buatin makanan ya. Teman-temanku bakal makan malam disini"
" Baik non"
"Terima kasih bi"
" Iya non"
" Oh ya, kalian bisa istirahat dulu sambil nunggu makan malam, untuk Reza,Tris, dan Eric bisa ke kamar tamu kalau Silvi dan Siska kalai pergi ke kamar aku aja. Kalian bisa mandi dulu atau tidur.Pokoknya terserah kalian deh mau ngapain aja, anggap rumah sendiri." Kataku sambil menunjukan letak kamar tamu dan kamarku untuk mereka tempati.
"Oke, ngerepotin nih" kata Reza.
" Gak ngerepotin kok, aku malah seneng kalau kalian ada disini. Ya udah aku mau ke atap dulu, mau ngambil barang aku yang ketinggalan."
" Oke" kata silvi.
__ADS_1
*****
Entah mengapa rasanya aku ingin memiliki waktu sendiri dan atap adalah tempat terbaik. Aku tidak ingin menangis dan mencoba untuk tetap kuat. Tapi tanpa sadar air mataku tiba-tiba menetes. Aku ingin menghentikannya, tapi semakin ingin berhenti aku semakin ingin menangis. Hatiku sangat sakit memikirkan kejadian itu. Oh tuhan aku harus bagaimana.
Tanpa sadar ternyata sedari tadi Erik sudah berada disampingku. Tapi aku tidak menyadari kedatangannya. Aku buru-buru menghapus air mataku.
" Tidak usah di hapus, menangislah! itu akan membuatmu lebih tenang" kata Erik sambil memegang tanganku.
" Menangislah! menangislah sampai kamu puas Si". Erik memelukku dan aku membalas pelukannya. Aku sangat membutuhakn pelukan ini.
Dadaku sesak dan tangisku semakin menjadi. Cukup lama aku menangis dalam pelukan Erik. Dia tidak bicara sedikit pun. Aku merasa lebih tenang sekarang dan melepaskan pelukan Erik.
" Apa kau merasa lebih tanang sekarang? Apa kau membutuhkan sesuatu?" katanya pelan sambil memegang pundakku.
" Aku sudah merasa lebih baik, aku tidak membutuhkan apapun"
" Syukurlah, aku merasa tenang. Bisa kita turun sekarang, aku ingin pulang, mandi dan mengganti pakaianku. Aku sudah tidak tahan ingusmu sangat banyak dan membasahi semua bajuku." ledeknya.
" Pppft, dasar cengeng." katanya sambil menertawakanku. Aku tak menjawabnya dan hanya memberikan tatapan melototku.
" Jangan nangis lagi ya Si, kamu harus kuat dan mencoba melupakan semuannya. Aku tahu kamu wanita yang kuat dan lagi bukannya kamu kan sudah berkata pada si brengsek itu kalau kamu akan buat dia menyesal dalam waktu 3 hari. Jadi kamu harus semangat lagi, Oke?"
"Oke, terima kasih sahabatku dan maaf untuk ingusku😉"
Erik hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku.
Benar kata Erik, aku harus semangat lagi dan membuat si brengsek itu menyesal dengat semua perbuatan dan perkataannya. Semangat Sia. ucapku dalam hati**.
******
__ADS_1
Erik Pratama
Si aku senang saat kamu bahagia dan aku sakit saat lihat kamu bersedih. Aku gak akan maaffin siapaun yang udah berani nyakitin kamu. Surya Wijaya aku gak akan tinggal diam, kamu akan tau akibatnya.
*****
Makanan telah dihidangkan dan kami dan kami langsung memakannya. Bi sumi ikut makan bersama kami.
" Hemmm... masakan bi sumi enak banget. Jadi pengen habisin semuanya." kata siska.
" Makan aja tuh semua, dasar ****" ucap Tris mengejek siska.
" Siapa yang ****? Udah deh meningan kamu diam aja, liat muka kamu aku jadi gak nafsu makan."
" Gak nafsu, tapi udah makan 2 piring. Itu yang namanya gak nafsu."
" Bisa diam gak"
" Ppft.. Kalian tuh ya, setiap ketemu selalu berantem. Awas nanti suka lo" kataku meledek siska dan Tris.
" Gak akan" kata siska dan Tris kompak.
" Tuh kan kompak, jodoh ya" ledekku lagi.
" Amit-Amit" kata mereka kompak lagi.
Aku dan yang lainnya hanya tertawa melihat kelakuan sahabat mereka itu, yang selalu bertengkar dan gak pernah akur.
Setelah selesai makan, mereka berpamitan untuk pulang karena hari sudah malam dan besok masih harus kuliah.
__ADS_1
Bersambung.