Karena Bulan Dan Bintang

Karena Bulan Dan Bintang
Kemarahan.


__ADS_3

Keesokan paginya, Di kampus.


Antanasia sedang duduk di dalam kelas, mendengarkan penjelasan dari dosennya. Sesaat kemudian pelajaran telah selasai.


" Sia, mau ke kantin gak?." Ucap Siska.


" Boleh tapi aku mau ke kamar mandi dulu, kalian duluan aja nanti aku nyusul." Ucap Antanasia.


" Oke deh, kita tunggu di sana ya." Ucap Silvi.


" Oke."


" Si, mau aku temenin." kata Erik.


" Apaan sih Rik, ke kamar mandi aja di temenin. 5 menit juga udah selesai." Ucap Antanasia.


" Ya adah aku ke kantin dulu, kalau ada apa-apa kabarin aku."


" Iya Rik, orang cuma ke kamar mandi. Udah sana."


" Oke."


Antansia berjalan pergi ke kamar mandi sedangkan Erik pergi ke kantin terlebih dahulu.


Saat tiba di kamar mandi Antanasia mencuci mukannya di westafel. Setelah selesai Antanasia segera keluar dari kamar mandi.


Saat hendak keluar Antanasia di kejutkan dengan keberadaan Surya yang mengahalangi pintu keluar.


" Kamu ngapain di sini, ini tuh kamar mandi cewek?. minggir!, aku mau keluar." Ucap Antanasia.


" Haisss... jangan buru-buru gitu dong sayang, gak sabar banget sih." Ucap Surya.


" Aku bilang minggir!." Kata Antanasia yang sudah mulai kesal.


Surya langsung menutup pintu kamar mandi dari dalam. Antanasia mulai merasakan sesuatu yang tidak enak. Sedikit rasa takut tersirat dalam benaknya.


" Antanasia sayang, kamu mau kan balikan sama aku." kata Surya yang terus melangkah maju menuju Antanasia dan Anatanasia terus melangkah mundur.


" Gak, Aku gak mau balikan sama kamu." Ucap Antansia dan pergi meninggalkan Surya namun tangan Antanasia di tahan oleh Surya.


" Kamu mau kemana, kalau kamu gak mau balikan sama aku dengan cara baik maka terpaksa aku harus menggunakan cara kasar." Ucap Surya yang terus memegang tangan Antanasia dengan kasar.


" Lepasin Sur, sakit." rintih Antanasia.


" Gak, akan." Ucap Surya dengan memberikan senyum licik.


Sisi lain, Erik merasakan sesuatu yang buruk, Erik mulai gelisah Arena Antanasia tidak kunjung kembali. Erik beranjak dari duduknya dan ingin pergi ke kamar mandi.


" Mau kemana Rik.?" kata Reza.


" Aku mau nyusulin Sia. perasaanku gak Enak." Ucap Erik.


" Sia kan cuma ke kamar mandi Rik, bentar lagi dia juga kesini." Kata Silvi.


" Gak perasaan aku gak Enak, aku mau nyusulin Sia. Aku takut dia kenapa-napa." Setelah itu Erik langsung berlari menuju kamar mandi.


" Kok aku jadi kepikiran sama Sia ya. Aku ke inget kejadian semalam deh." Ucap Siska khawatir.


" Aku nyusulin Erik deh." Lanjutnya.


" Aku ikut." Kata Silvi.


" Aku juga ikut." kata Reza dan Tris.


Setelah itu mereka langsung menyusul Erik. Kembali ke Antanasia.


" Lepasin aku Sur." Teriak Antanasia dan terus mencoba untuk kabur dari Surya.


Sedangkan Surya kini telah memegang kedua tangan Antanasia dengan kasar. Kini Antanasia hanya bisa mengandalkan kakinya, dia menendang (milik) Surya sampai Surya merasakan kesakitan.

__ADS_1


Namun saat Antanasia berlari Surya memegang kaki Antanasia dan menyebabkan Antanasia terjatuh dengan sangat keras.


Bruk.


Antanasia meringis kesakitan, karena kepalanya terbentur ke lantai dengan sangat keras. Diia mencoba meminta tolong.


" To-tolong." Teriak Antanasia.


" Gak akan yang bisa nolongin kamu ha ha ha." kata Surya.


" Lepasin, tolong." teriak Antanasia.


Erik yang telah sampai di depan pintu bisa mendengar teriakan Antanasia. Erik langsung mendobrak pintu tersebut.


Erik sangat terkejut dan marah melihat Antanasia yang terjatuh di lantai dengan darah dikepalanya.


" Erik." kata Antanasia lemas.


" Br*ngsek." Kata Erik dan langsung memukul Surya dengan keras dan bertubi-tubi.


Sedangkan Silvi, Siska, Reza, dan Tris tidak kalah terkejutnya saat melihat Antanasia sudah tak sadarkan diri di lantai.


" Sia." Teriak Siska dan Silvi yang langsung menghampiri Antanasia.


Erik masih terus memukul Surya sampai keluar darah dari hidung dan muluh Surya. Reza dan Tris mencoba menghentikan Erik.


" Rik, berhenti kita harus bawa Antanasia ke rumah sakit sekarang juga." kata Reza.


Erik yang mendengarnya langsung berhenti dan langsung menghampiri Antanasia. Erik menggendong Antanasia ke parkiran.


Saat sampai di parkiran dan masuk kedalam mobil, Erik langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


Saat tiba di rumah sakit Erik segera membawa Antanasia masuk agar segera mendapatkan perawatan.


30 menit kemudian.


Erik sangat gelisah begitu juga dengan yang lainnya karena dokter tak kunjung keluar.


Suara hanphone dari dalam tas Antanasia, dan ternyata mama Antanasia yang menelphon.


" Halo sayang." kata mama Antanasia.


" Halo tante, ini Erik."


" Loh Erik, Antanasianya mana.?"


" Antanasia masih di tangani dokter tante."


" Apa? Antanasia kenapa Rik, dia baik-baik aja kan?"


" Erik masih belum tahu tante, tadi Antanasia jatuh." Kemudian Erik mulai menceritakan kejadian tadi.


" Ya tuhan, Erik jagain Antanasia dulu ya, Tante sama Om bakal ke sana sekarang."


" Baik tante."


Panggilanpun berakhir. Dokter yang menangani Antanasia baru saja keluar dari ruangan.


" Bagaimana keadaan Antanasia dok." Ucap Erik dengan nada khawatir.


" Pasien baik-baik saja, luka di kepalanya sudah di obati. Sekarang pasien masih belum sadar." Ucap dokter.


" Boleh kita masuk dok." kata Silvi.


" Boleh, asalkan jangan berisik dan mengganggu ketenangan pasien." nasehat dokter.


" Baik dok."


Setelah itu mereka langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Erik kembali merasakan amarah saat melihat Antanasia terbujur lemas dengan luka di kepalannya.

__ADS_1


Erik mengepalkan kedua tangannya, dia merasa kalau hanya dengan memukul Surya saja belum cukup.


Antanasia perlahan mulai membukan matanya, dan melihat ke lima sahabatnya itu memandang dirinya dengan penuh kekhawatiran.


" Sia, kamu udah bangun." Ucap Siska.


" Aku dimana?" kata Antanasia dengan nada lemah.


" Kamu ada di rumah sakit Si. Sekarang gimana perasaan kamu, apa kamu merasakan sakit." Ucap Erik.


" Hanya kepala aku saja yang sedikit sakit." Ucap Antanasia.


Saat melihat Antanasia tersadar, Reza langsung oergi memanggil dokter. Beberapa saat kemudian Dokter pun telah sampai dan langsung memeriksa Antanasia.


" Nona Antanasia sudah gak papa kok, tinggal tunggu pemulihan saja, makan makanan yang bergizi juga mampu membantu mempercepat pemulihan. Kalau begitu saya pergi dulu." kata dokter.


" Makasih dok." kata Antanasia.


" Iya sama-sama" kata dokter dan langsung pergi keluar.


Di Surabaya, rumah Antanasia.


Mama Antanasia yang mendengar kabar putrinya itu dari Erik sangat khawatir. Beliau mencoba menghubungi suaminya namu tidak ada jawaban.


Setelah itu beliau langsung ke kantor suaminya tersebut. Setelah 15 menit perjalanan akhirnya beliau telah sampai di kantor tersebut.


" Selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu." kata Sekretaris pak Stevan.


" Dimana suami saya?."


" Bapak lagi ada rapat bu."


" Antarkan saya ke ruang rapat, sekarang."


" Ta tapi bu."


" Kamu berani melawan perintah saya." bentak beliau.


" Ti-tidak bu, mari saya Antar."


Saat sampai dk depan ruang rapat mama Antanasia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Tentu saja membuat para karyawan lain saat terkejut.


" Mama apa-apaan sih, papa lagi rapat ma." kata pak Stevan.


" Kita ke Bandung sekarang pa, Antanasia di rumah sakit."


" Apa? bagaimana bisa." bentak pak stevan dan langsung membuat semua karyawan ketakutan.


" Kalian keluar sekarang." kata pak Stevan kepada semua karyawan yang mengikuti rapat. Dan karyawan tersebut langsung berhamburang keluar dengan cepat.


" Mama tenang dulu, cerita ke papa, Antanasia kenapa?" kata pak Stevan sambil menengkan istrinya yang terlihat sangat khawatir.


Kemudian Beliau langsung menceritakan semuanya. Pak Stevan sangat marah mendengar tersebut.


" Apa? kurang ajar berani sekali si br*ngsek itu." Kata pak Stevan.


" Lisa." panggil pak stevan kepada sekretasinya itu.


" Iya pak, ada yang bisa saya bantu." kata Lisa.


" Saya mau, kamu membeli semua saham wijaya grub. Pastikan mereka bangkrut dalam waktu satu minggu." kata pak Stevan.


" Baik pak. Akan segera saya lakukan." kata Lisa dan langsung keluar dari ruangan atasannya itu.


" Kita pergi sekarang ma." kata pak Stevan.


" Iya pa, ayo."


Kemudian kedua orang itu langsung pulang ke rumah terlebih dahulu untuk menyiapkan segala kebutuhan dan segera pergi ke Bandung.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2