
"Oke, kita akan membuat tenda dan tidur di sana, seperti waktu kecil dulu." Ucap Antanasia.
" Kau ingin mengulangi masa-masa kecil." Ucap Erik.
" Iya tentu saja itu sangat menyenangkan, apa kau masih mengingatnya." Ucap Antanasia.
" Iya aku masih inget kok, sejak saat itu kita sering banget ke sana. Bahkan kamu akan membawa tas sekolah ke sana tapi bukan buku pelajaran yang kamu bawa melainkan macam-macam makanan๐."Ucap Erik.
" ๐๐." Tawa mereka.
" Aku juga masih inget hampir setiap malam minggu kamu akan minta untuk di bangunin tenda disana dan kita akan tidur di tenda tersebut. Kamu akan memaksa bi Sumi dan pak Ali ( pekerja di rumah Antansia) untuk nemenin kita disana. Kalau gak di ijinin kamu akan menangis dengan sangat keras." Ucap Erik.
"๐ณ๐ Jangan bahas itu lagi deh." Ucap Antanasia.
" Kenapa, bahkan dirumah akau masih punya foto kamu saat nangis." Ucap Erik.
" Ahh.. Rik gitu banget sih sama Sia, awas aja kalau foto itu sampai nyebar๐ค." Ucap Antanasia.
" Ngancem aku๐." Ucap Erik.
" Huh aku juga punya foto kamu saat kamu tidur sambil memeluk boneka ๐."Ucap Antanasia.
" ๐ฐ Akhh kapan kamu mengambil foto itu." Ucap Erik.
" Rahasia๐." Ucap Antanasia.
" Oke deh, jangan di sebarin ya aku gak akan nyebarin foto kamu kok." Ucap Erik.
" Oke." Mereka saling menatap dan tawa pun pecah.
๐๐๐๐.
" Rik, kamu masih inget gak saat ulang tahun ku yang ke 17 ." Ucap Antanasia.
" Ya aku masih inget semuamya dengan sangat jelas. Kamu pergi ke danau dan menangis disana karena Om dan Tante tidak bisa menemani kamu saat hari ulang tahunmu". Ucap Erik.
" Gak, aku gak nangis, aku cuma sedih aja. Tapi aku bersyukur karena masih ada kamu yang menemani aku ๐." Ucap Antanasia.
" Jika aku tidak menemanimu, mungkin kau sudah melompat ke danau." Ucap Erik.
" Heiiii, aku bukan orang yang seperti itu." Ucap Antanasia.
" Iya ya."
" Rik, kalau boleh tau kenapa kamu ngambil jurusan Astronomi?." Ucap Antanasia.
" Karena kamu mengambil jurusan itu." Ucap Erik.
" What? Terus sebenarnya cita-cita kamu mau jadi apa?." Tanya Antanasia.
" Pengusaha." Ucap Erik.
" ๐ฎ๐ Lalu kenapa kamu ngambil jurusan Astronomi?."
" Kan sudah aku bilang, karena kamu masuk jurusan Astronomi."
" Hadeh." Ucap Antanasia sambil menepuk jidatnya.
" Kalau kamu kenapa ngambil jurusan Astronomi?." Tanya Erik.
" Mungkin karena, aku sering melihat bulan dan bintang, jadi aku ingin belajar mengetahui lebih banyak tentang mereka." Ucap Antanasia.
" Kalau cita-cita kamu jadi apa coba?." Tanya Erik.
__ADS_1
" Desainer, kayak mama." Ucap Antanasia polos.
"๐ฎ๐Kenapa cita-cita kita gak nyambung dengan jurusan kita." Ucap Erik.
"๐ Iya juga ya, aneh kamu Rik." Ucap Antanasia.
" Kamu juga aneh kali." Ucap Erik.
" Ya udah lah kita emang sepasang sahabat yang aneh๐." Ucap Antanasia.
" ๐ ๐ ."
Saat Erik dan Antanasia yang sedang asik dengan candaan mereka. Beralih kelain sisi kepada Orang tua mereka.
" Udah lama banget kita gak kumpul kayak gini." Ucap Tante Alfi.
" Ya mau bagaimana lagi kita selalu sibuk dengan pekerjaan kita." Ucap Om Putra.
" Sepertinya kita harus sering-sering kumpul kayak gini dan meluangkan waktu untuk anak kita." Kata Stevan.
" Kau benar, kita selalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai kita tidak bisa menyaksikan mereka berkembang menjadi seorang anak yang kuat seperti sekarang." Ucap Om Putra.
" Hemm kau benar, bahkan mereka tidak pernah mengeluh dan manja seperti remaja pada umumnya." Ucap Putri.
" Ya tentu saja karena aku kan anak yang baik ๐." Ucap Antanasia yang tiba-tiba datang bersama Erik. Mereka menghampiri orang tua mereka dan ikut duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
" Bukan kau saja, aku juga lelaki yang baik ๐." Ucap Erik.
" Tidak, sikapmu sangat dingin seperti es batu, bagaimana bisa kau di sebut lelaki baik, justru kau itu sangat menyebalkan ๐." Ucap Antanasia.
" Hei meskipun aku orang yang dingin aku tidak pernah bersikap dingin ke padamu." Ucap Erik.
" Benar juga ya, mengapa kau tidak bersikap dingin kepadaku ๐ค?." Tanya Antanasia.
" Uhh jadi aku spesial dong, ahhh makin sayang deh sini peluk ๐ค." Ucap Antanasia.
" Ogah๐." Ucap Erik ketus.
" ๐ค Awas saja kau." Ucap Antanasia kesal.
"๐ Dasar tukang ngambel." Ucap Erik sambil mengacak-acak rambut Antanasia.
" Kau๐ , jangan mengacak-acak rambutku atau kau akan tau akaibatnya." Ucap Antanasia dengan tatapan tajam.
" Benarkah, aku ingin tau akibatnya." Ucap Erik sambil mengacak-acak rambut Antanasia lagi.
Bugh.
"Auu kenapa kau memukulku?." Ucap Erik.
" Sudahku bilang kau akan tau akibatnya๐." Ucap Antanasia.
" Aisss kau berani ternyata ya." Ucap Erik sambil menggelitiki Antanasia.
" Ha ha haaaa hentikan."
" Ha, ya ya ampun."
" Sudah Ha. ha.. Ampun Rik, gak ulangin lagi." Ucap Antanasia dan Erik pun berhenti.
Orang tua mereka yang melihat tingkah anak-anaknya itu hanya bisa menggelengkan kepala dan ikut tersenyum bahagia.
Bugh.
__ADS_1
" Akhh, kau." Ucap Erik yang di pukul lagi oleh Antanasia.
" Apa kau pikir aku takut padamu, tidak akan." Ucap Antanasia.
" Kemari kau."
" Tidak."
" Kemari๐ ."
" Om putra, kau lihat putramu membully ku๐ข." Ucap Antanasia yang berlari ke arah Putra dan duduk di sebelahnya.
" He, kau tukang mengadu." Ucap Erik.
" Biarin๐."
" Bukankah kau yang memukul Erik." Ucap Stevan.
" Aku sudah memberi peringatan tapi dia tidak mendengarkanku Pa." Ucap Antanasia.
" Tapi kau juga tidak boleh memukulnya, Ayo minta maaf." Nasehat Stevan.
" Tidak mau." Ucap Antanasia.
" Kenapa kamu tidak mau?." Tanya Stevan.
" Karena aku tidak bersalah, dan lagi Erik sudah membuat perutku sakit Pa, kenapa papa tidak membelaku๐ฐ๐ฃ." Ucap Antanasia merengek.
" Hei kau membuat putriku bersedih๐ ." Ucap Putri memarahi Stevan.
" Haiss sudahlah, Erik minta maaf la kepada Sia, kau sebagai laki-laki harus mengalah." Ucap tante Alfi.
" Tante memang yang terbaik." Ucap Antanasia.
" Sudah minta maaf saja, perumpuan selalu benar." Ucap Om Putra.
" Tentu saja๐." Ucap Antanasia, Putri dan Alfi kompak.
"๐." Begitulah Ekspresi Erik, Putra dan Stevan.
" Ayo minta maaf." Ucap Antanasia.
" Aku minta maaf ๐." Ucap Erik
" Perminta maaf macam apa itu, kau bahkan tidak tersenyum dan kau harus memanggilku tuan putri." Ucap Antanasia.
" Pengen banget nabok dia." Batin Erik.
" Baiklah tuan putri, tolong maafkan semua kesalahanku, aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Erik sambil memelas.
" Akhh... Tidak dia sangat imut." Batin Antanasia.
" Baiklah, baiklah aku memaafkanmu." Ucap Antanasia.
Bersambung..
Hai Readers!.
Gak terasa udah sampai episode 30 aja. Masih semangat membacanya. Autor sangat berterima kasih untuk semua dukungan yang telas kalain berikan.
Selamat membaca, dan jangan lupa like, komen dan votenya ya.
Terima kasih.
__ADS_1