Karena Bulan Dan Bintang

Karena Bulan Dan Bintang
Memerah


__ADS_3

Kini pertandingan telah berakhir dan di menangkan oleh kelas Astronomi dengan skor 55-51.


Kedua tim saling bersalaman dan memberikan selamat. Saat Antanasia berhadapan dengan Surya, dia hanya tersenyum sinis memandangi Surya.


Setelah perlombaan berakhir, Antanasia dan teman-temannya kini pergi ke kantin untuk makan siang.


Teman-temannya itu masih saja terus memandangi Antanasia, sedangkan Antanasia merasa risih di pandingi terus menerus.


" Kalian ngapain sih ngelihatain aku kayak gitu, Aku tahu aku emang cantik tapi ngelihatinnya gak usah gitu amat kali." kataku.


" Hadehh..." kata meraka kompak.


" Mbak Rani." Panggilku


" Iya Sia, mau pesan apa." kata mbak Rani.


" Pesan 15 porsi pasta, dan 15 es jeruk. Nanti yang bayar Siska sana Tris ya mbak."


" Apa." kata Tris dan Siska kompak


" Oke, sia."


" Kok aku sama Tris sih yang traktir." kata Siska.


" Oh.... gak mau nih. Atau.." kata Antanasia dengan nada mengancam.


" Oke kita yang traktir." Kata Siska dan Tris kompak lagi.


Kemudian Antanasia berjalan menuju mbak Rani karena dia ingin memakan sesuatu.


" Mbak, gak ada makanan yang ringan gitu."


" Ada kok, ada puding coklat, salat buah juga ada."


" Hemm... mau dong mbak, pudingnya 2, salatnya 2. Nanti bayarnya di bayarin Tris dan Siska."


" Oke, nih ambil." kata Mbak Rani sambil memberikan puding dan salat.


" Wahh.. enak nih, makasih ya mbak."


" Iya."


Kemudian Antanasia kembali ke meja dengan membawa makanannya itu. Saat sampai Antanasia langsung memakan makanannya di depan teman-temannya itu dan mereka hanya bisa menelan ludah saja.


" Sia, minta dong." kata Silvi.


" Beli sendiri, ngambil sana di mbak Rani."


" Gratis nih."


" Gratis kok, kan di bayarin Tris sama Siska."


" Apa." kata Tris dan Siska dan mereka hanya bisa pasrah. Sedangkan teman-temannya langsung pergi ke mbk Rani untuk mengambil makanan.


" Buat orang bahagia itu dapat pahala, jadi kalian iklasin aja." kataku santai.

__ADS_1


" Pahala gundulmu." Batin Tris.


" Untung papa udah ngasih uang." Batin Siska.


*****


Tidak lama kemudian datang 3 wanita menghampiri kami. Lebih pasnya menghampiri Erik.


" Hai, kamu Erik kan, tadi aku udah ngelihat permainan basket kamu, kamu hebat banget deh, aku jadi suka sama kamu." kata salah satu cewek tersebut. Dan Antanasia dan teman-temannya itu sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya itu.


" To the poin banget nih cewek. Tapi aku kok jadi kesal ya dengearnya.""Batin Antanasia


" Erik, kamu itu udah berbakat, ganteng lagi." kata cewek itu sambil dusuk di sampin Erik.


Antanasia yang sangat mengenal Erik, dia bisa melihat kalau Erik tidak menyukai hal itu, mungkin sekarang amarahnya udah di ujung tanduk.


" Erik, Aku suka lo sama kamu, kamu..."


Brakk.


Sontak saja itu membuat semua orang kaget, tapi bodo amatlah.


" Kamu gak bisa lihat ya kalau Erik itu risih di deketin sama kamu, lagian nih ya kamu itu cewek gak tau malu banget sih." bentak Antanasia


" Eh kamu gak ada hak bentak-bentak, Eriknya aja diam kenapa kamu yang sewot, ya kan Rik." katanya sambil tersenyum ke arah Erik.


" Aku.... Aku pacarnya Erik. Jadi aku ingetin kamu berhenti gangguin Erik atau kamu akan tau akibatnya." bentak Antanasia. Kata-kata itu membuat wajah Erik menjadi memerah.


" Sia kok kamu bilang gitu sih, kamu benar-benar buat aku salah tingkah." Batin Erik.


" Lepasin tangan kamu, aku gak suka di pegang sama cewek ganjen kayak kamu, jijik tahu gak. Dan Antanasia memang pacar aku. Jadi mendingan kamu pergi sekarang." kata Erik. Itu benar-benar membuat wajah Antanasia memerah.


"Erik bilang kalau aku pacaranya, kok aku jadi deg degan sih, jantung kamu kenapa? sakit ya." Batin Antanasia.


Setalah mendengar perkataan Erik, cewek itu langsung pergi dengan perasaan kesal dan malu.


" Kalian beneran pacaran? sejak kapan? kok aku gak tahu." kata Siska.


" Aku juga gak tahu, kok kalian gak cerita sih kalau pacaran." kata Silvi.


" Apa sih, gak kok." kata Antanasia.


" Aku kira beneran" kata Siska.


" Lagian kalau kalian pacaran beneran juga gak papa lah, kalian kan cocok. Kita mah dukung-dukung aja." kata Silvi


" Apa sih." kata Anatanasia dan Erik. Kemudian mereka siling memandang sejenak dan kemudian memalingkan pandangan mereka


Deg deg


"Haduh.... kurang ajar banget tuh Silvi, aku jadi malu kan. Jangan sampai wajah aku merah, bisa gawat." Batin Erik sambil memegang wajahnya.


" Silvi ngomong apa sih, ya kali Erik mau sama aku." Batin Antansia.


Setelah itu pesanan kami sudah datang. Pasta dan es jeruk siap di santap.

__ADS_1


" Sia, kamu kok gak bilang sih kalau kamu ketua KAI." kata Silvi.


" Itu karena aku mau lihat bagaiamana kepribadian anggota KAI dengan leluasa. Dan lagi kalau semua tauu kalau aku ketuanumya itu gak enak, kan aku suka yang misterius gitu. Jadi kalian gak boleh bilang sama Anggota yang lain, kalau kalian berani bilang liat aja nanti." Kata Antanasia.


" Siap Ibu Ketua." kata mereka(Tris,Reza, Silvi dan Siska) kompak.


" Oh ya, untuk bajunya udah ada di rumuh, kalian langsung ambil aja dirumah aku." kata Antanasia.


"Oke" kata mereka kompak.


Setelah beberapa menit kemudian mereka telah selesai makan dan pulang untuk segera beristirahat. Sementara Antanasia dan Erik menuju ke tempak parkir untuk mengambil mobil dan segera pulang.


Saat perjalanan pulang, suasana di dalam mobil sangat sepi. Antanasia dan Erik merasa canggung untuk memulai obrolan.


" Rik." Kata Antanasia memecahkan Kecanggungan.


" Hemm."


" Aku minta maaf ya, tadi aku bilang kalau kamu itu pa-pacar aku. Maaf ya Rik."


" Gak papa kali Si, gak usah minta maaf."


" Kamu gak marah kan."


" Kenapa harus marah, aku gak punya alasan buat marah."


" Syukurlah kamu gak marah."


" Lagian kalau itu beneran aku juga gak masalah."


" A-apa sih Rik, Nih anak udah bisa bercanda ya."


" Aku gak bercanda."


" Apa sih, udah ah nyetir sana." kata Antanasia yang memalingkan wajhnya karena kesal dan malu.


" Pffhh. Sia Sia kamu itu lucu banget kalau pas ngambek." Batin Erik sambil mencuri pandang untuk melihat Antanasia.


Sedangkan Antanasia hanya melihat ke arah jendela. Ya sesekali dia mencoba melirik ke arah Erik yang fokus menyetir.


Setelah 10 menit perjalanan mereka akhirnya tiba di rumah Antanasia.


" Rik, nanti malam jangan lupa ke sini."


" Ngapain." tamya Erik sambil memberikan kunci mobil.


" Ya makan malam lah. Mulai sekarang kamu makan malam di rumah aja."


" Gak....." Erik belum menyelesaikan perkataannya dan langsung di potong oleh Antanasia.


" Gak boleh nolak titik. Nanti aku tunggu kalau kamu gak dateng aku bakal nunggu kamu sampai datang. Sampai jumpa nanti malam." kata Antanasia sambil masuk ke dalam rumahnya.


Erik hanya menanggapinya dengan anggukan kepalanya. dan Tersenyum tipis.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2