
" Hai.. apa mereka meremehkan kita dengan menggunakan pemain perempuan." kata Dion salah satu pemain lawan.
" Kita liat, apa yang bisa di lakukan oleh perempuan-perempuan lemah ini." kata Riski pemain lawan juga.
" Sudah lah, jangan meremehkan kemampuan lawan." kata Surya.
Siska dan Silvi tidak memperdulikan perkataan mereka. Mereka saling memandang dan tersenyum dengan sinis.
Priiittt.
Pertandingan terlah dimulai. Kini bola telah berada di tangan silvi dan dengan mudahnya dia melewati 2 orang lawan mereka. Kemudian di memberikan pola kepada Siska, dengan cepat siska berlari sambil mendribling bola dan langsung memasukannya ke dalam ring.
Skor (31-40).
Penonton yang melihatnya langsung di buat kaget. Banyak yang mengira kalau itu adalah kebetulan atau keberuntungan semata.
Namun tidak lama setelah itu sekarang giliran Silvi lah yang memasukan bola. sehingga skor menjadi (32-40).
Para penonton dan pemain lawan masih tidak percaya bahwa kedua wanita itu bisa mencetak poin.
Permainan masih terus berlanjut kelas Astronomi terus menyusul ketertinggalannya sekarang skor telah menjadi (35-40).
Pemain lawan tentu semakin kesal di buatnya karena perempuan yang mereka remehkan telah berhasil memasukkan bola pada ring mereka.
" Akhh.. sial." ya kata itu lah yang terus di ucapkan oleh para pemain lawan.
" Sudah ku katakan bukan, jangan meremehkan lawan. Sekarang kalian lihat bahkan seorang wanita bisa membuat kita kalah." kata Surya.
Pertandingan terus berlanjut. Sekarang waktu yang tersisa tinggal 3 menit. skor menjadi (40-45). Sementara sekarang Siska dan Tris terus bertengkar.
Antanasia semakin geram melihat mereka terus saja bertengkar.
"Apa mereka tidak bisa membedakan waktu. Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar. Dan mereka terus bertengkar dalam pertandingan. Sepertinya keputusanku salah." Batin Antanasia.
Pada waktu-waktu terakhir, Kaki Tris kesleo karena jatuh saat di hadang oleh pemain lawan. Tapi waktu babak ke tiga telah berakhir. Dan skor sekarang adalan(40-50).
Antanasia mununggu para sahabatnya itu di tepi lapangan. Sedangkan mereka berjalan menghampiri. Sementara Tris berjalan dengan dipapah oleh Erik dan Reza. Antanasia langsung memberikan Tris minuman. Namun Antanasia masih memarahi mereka.
" Tris, Sis.... udah puas kalian berantemnya."kata Antanasia.
" Maaf ya si, ini gara-gara Tris dia gak mau ngasih bolanya ke Aku."kata Siska membela dirinya.
" Gak usah nyalahin orang lain. Kalian itu udah dewasa bukan anak kecil lagi. Dan sekarang kaki kamu kesleo kan Tris, ini akibatnya kalau kalian gak serius." tegas Antanasia.
" Sebagai anggota dari (KAI) kalian berdua sangat mengecewakan." lanjutnya.
" Udah kali Si, gak usah bawa-bawa KAI, lagian ketua klub aja gak pernah ikut latihan. Jadi salahin aja ketua klubnya." kata Tris dengan nada kesal.
" Kamu bener,kali ini aku setuju sama kamu." kata Siska.
Antanasia terdiam tidak membalah perkataan mereka.
" Riswa, kompres kaki Tris." Perintah Antanasia dan Riswa membalasnya dengan sebuah anggukan. Sementara Antanasia langsung pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
" Kenapa sih tuh anak, main pergi-pergi aja." kata Tris yang heran karena Antanasia pergi tanpa berbicara.
" Hemm.... Tris, Sis.. Sepertinya sebentar lagi kalian akan mengalami kerja rodi saat latian di klub." kata Erik.
" Maksudnya?" kata Tris dan Siska kompak.
" Kalian akan tahu nanti." kata Erik.
Tris dan Siska tidak mengerti maksud Erik. Dan mereka Hanya mengabaikannya.
******
Pertandingan babak ke empat atau terakhir akan di mulai.
" Tris kamu gak usah ikut main biar Riko aja yang gantiin kamu." Kata Reza.
" Tidak perlu." kata Antanasia.
Kini Antanasia telah memakai pakaian olah raga. Teman-temannya terus menatap dia dengan tatapan bingung.
" Ngapain kamu pakek kaos olah raga." kata Reza.
" Aku yang akan menggantikan Tris." kata Antanasia singkat.
"APA" kata semua teman kelasnya kompak.
" Si, kamu yakin?. Emang kamu bisa?."
" Si, kamu jangan bercanda deh. Kita tertinggal 10 poin. Biar Riko yang main."
Ya begitulah perkataan teman-temannya itu. Namun Antanasia hanya mengabaikannya. Dia berjalan menuju lapangan dan memberi tahukan pada wasit bahwa Dia menggantikan Tris.
Disisi lain Erik hanya tersenyum tipis sambil melihat ke arah Antanasia.
" Rik, kok kamu malah senyum sih."
" Kamu gak mau ngehalangi Antanasia."
" Memangnya dia bisa main basket."
" Kalau nanti kita kalah gimana."
" Kalian terlalu meremehkan Sia?." begitu lah jawaban Erik dengan singkatnya dan masih terus tersenyum.
Kini para pemain telah memasuki lapangan. Tentu saja Surya sangat terkejut melihat mantan pacaranya itu yang akan menjadi lawannya sekarang.
" Wah si cantik Antanasia ikut main nih."
" Mantan jadi lawan nih."
Surya yang mendengar perkataan temannya itu hanya diam saja.
" Kita diam aja disini, jaga ring, biar Sia aja yang maju." kata Erik.
__ADS_1
" What? kamu gila Rik, Antanasia mana bisa melawan mereka ber lima." kata Silvi.
" Udah, kalian diam aja. Dia bisa mengatasinya." kata Erik. Dan.....
Priiitttttt.
Teman-temannya sangat mengkhawatirkan Antanasia, namun Erik melarang mereka untuk membantunya.
" Kamu meremehkan kita, hanya seorang diri melawan kita." kata Dion, lawannya itu.
Antanasia tidak menjawabnya, dia hanya berlari merebut bola pada tangan Surya.
" Dia akan berlari dengan cepat, merebut bola lawan, melewati lawan dengan mudah, mendribling bola, dan Skor 41-50." kata Erik menjelaskan gerakan Antanasia kepada teman-temannya.
Mereka tidak percaya dengan perkataan Erik, saat melihatnya secara langsung dan ternyata skor benar-benar menjadi 41-50.
Terlihat para juri dan penonton yang terkejut akan Hal itu. Apa lagi teman dan lawannya tidak kalah terkejutnya.
Kini terlihat Antanasia yang terkepung dan tidak bisa bergerak.
" Kalau pun tidak bisa bergerak, dia hanya akan melempar bola ke Ring saja dan skor 42-50." kata Erik.
Melihat ke arah papan skor dan ternyata skor menjadi
42-50.
" Memasukkan bola dengan satu tangannya saja." kata Erik.
43-50.
" Tidak perlu terkejut, bahkan sekarang dia hanya perlu memasukkan bola tanpa melihat ke arah ring."
44-50.
" Apa" suara para penonton.
" Bagaimana bisa seorang perempuan sehebat dia."
" Bukan hanya cantik tapi juga berbakat."
" Tentu saja hebat, ketua klub KAI tidak akan pernah mengecewakan." kata Erik.
" Apa". ya itu lah reaksi semua orang.
Bahkan semua wajah orang mengeluarkan Ekspresi yang sama, yaitu membuka mulut mereka.
" Hemm....sudah puas melihatnya?, bisa ikut main sekarang atau masih mau terus melihat lagi? Dan kamu bahkan telah membongkar identitasku Rik, kau sangat berani." kata Antanasia yang menghampiri teman setimnya itu.
Selama ini tidak ada yang tau kalau Antanasia lah ketua KAI hanya Erik saja yang tahu, karena selama ini Antanasia mengaku sebagai anggotanya saja.
" Sudah waktunya mereka tau siapa ketua mereka." kata Erik.
" Benar, mungkin akan ada beberapa orang yang harus kerja rodi saat latihan." kata Antanasia sambil menapa ke arah Tris dan Siska. Sedangkan mereka hanya bisa menelan ludah saat Antanasia memandanginya.
__ADS_1
Sementara itu pertandingan terus berlanjut. Dan kini skor menjadi seimbang 50-50.
Bersambung.