Karena Bulan Dan Bintang

Karena Bulan Dan Bintang
Pesta 3


__ADS_3

Antanasia di buat ketawa saat melihatnya. Dan sudah di pastikan siapa pemenangnya. Perlahan Erik mulai menurunkan Antanasia dengan lembut. Mereka saling menatap satu sama lain.


Mereka terus saling menatap tanpa berkedip. Bahkan lagu sedah berhenti tapi meraka marih tetap saling menatap.


" Khem khem... udah kali natapnya lagunya udah berhenti kali." Ucap Tris yang membuat Antanasia dan Erik malu.


" Ihh... s*alan si Tris ganggu aja." Guman Erik.


" Baiklah mari kita sambut pemenang kita kali ini, Erik dan Antanasia. Beri tepuk tangan untuk mereka." kata MC.


Prok prok prok.


" Dan untuk Erik dan Antanasia bisa naik ke atas panggung untuk mendapatkan gelar Raja dan Ratu kita tahun ini." Ucap MC


prok prok prok.


Erik dan Antanasia segera naik ke atas panggung. Disana sudah ada Rektor yang yang menyambut mereka dan memberikan mereka penghargaan sebagai Raja dan Ratu.


Suara teruk tangan memenuhi ruangan ini. Teman sekelas mereka sangat bahagia karena Raja dan Ratu berasal dari kelas mereka.


Setelah mendapatkan penghargaan Erik dan Antanasia turun dari oanggung dan menghampiri teman-temannya itu. Mereka mengambil foto bersama sebagai kenang-kenangan.


Antanasia pergi keluar gedung untuk menghiruo udara yang lebih segar dan sejuk. Dia duduk di kursi yang berada di taman di gedung.


Surya yang melihat Antanasia duduk sendirian segera menghampirinya. Surya tiba-tiba duduk disamping Antanasia sontak saja itu langsung membuat Antanasia terkejut.


" Kamu ngapain di sini." Bentak Antanasia.


" Gak usah bentak-bentak gitu, aku cuma mau nemenin kamu aja kok." Ucap Surya.


" Aku gak butuh di temenin sama kamu, tolong pergi sekarang."


" Kamu kasar banget sih sayang, tapi kamu makin cantik deh sayang aku jadi makin suka." Ucap Surya sambil memegang rambut Antanasia.


Antanasia langsung menghempaskan tangan Surya dengan kasar. Dia merasa jijik di pegang oleh Surya.


" Jangan pernah biarain tangan kotor kamu megang aku, karena aku gak sudi." kata Antanasia dengan memberikan tatapan tajam kepada Surya.


" Haisss kamu kok gitu sih sayang." kata Surya yang kini berani memegang tangan Antanasia.


Erik yang melihat Surya yang terus mengganggu dan bahakan memegang tangan Antanasia menjadi sangat geram.


" Ngapain lagi si br*ngsek itu gangguin Sia. Bener-bener gak bisa di biarain lagi." Guman Erik dan segera mengahampiri Surya dan Antanasia.

__ADS_1


Erik langsung memegang tangan Surya dan melepaskan genggaman Surya pada Antanasia dengan sangat kasar.


" Kamu masih berani ternyata ganguin Sia hah. Kurang pelajaran yang aku kasih buat kamu." bentak Erik.


" Aku punya urusan sama Sia dan kamu gak usah ikut campur." Ucap Surya.


" Gak Rik aku gak ada urusan apapun sama dia, Dia gangguin aku." kata Antanasia.


" Udah denger, Sia gak ada urusan sama kamu. Jadi kamu pergi dari sini sekarang." bentak Erik.


" Sia tapi aku ada urusan sama kamu. Kita ngomong bentar ya Si." kata Surya dan kembali memegang tangan Antanasia.


" Lepasin tangan kamu." kata Antanasia dan mencoba melepaskan tangannya namu genggaman Surya sangat keras dan membuat Antanasia kesakitan.


Bruk


Tanpa berbicara Erik langsung memukul wajah Surya dan membuat Surya tersungkur di tanah. Erik benar-benar marah, dia gak suka Antanasia di sakiti.


" Si, kamu gak papa kan." Ucao Erik dengan nada penuh kekhawatiran.


" Tangan aku sakit banget, jadi merah kan." Ucap Antanasia.


" Ya udah kita ke dalam dulu ya, kita kompres tangan kamu." kata Erik dan dijawab dengan anggukan oleh Antanasia


Antanasia memiliki kulit putih jadi bekas merah di tangannya semakin terlihat jelas.


" Loh Sia, tangan kamu kenapa." kata Silvi khawatir dan memegang tangan Antanasia.


" Ini semua gara-gara si br*ngsek itu. Dia memegang tangan Antanasia dengan paksa dan kuat. Jadinya tangan Antanasia memerah kayah gini." Ucap Erik kesal.


" Apa berani-beraninya sih br*ngsek itu." kata Siska geram.


" Wah harus di kasih pelajaran nih cowok." kata Tris kesal.


" Kamu bener, kalau di pukul aja belum cukup." Kata Siska.


" Hemm, kita harus susun rencana buat ngasih pelajaran buat dia." Ucapa Tris.


Melihat kedua sahabatnya itu marah membuat Antanasia tertawa sekaligus bahagia. Antanasia gak nyangka mereka yang selalu bertengkar kini dengan kompaknya mencoba membela dirinya.


" Kamu ngapain ketawa si." kata Siska.


" Gak nyangka aja, kalian yang selalu bertengkar sekarang malah kompak belain aku. Jadi terharu akunya." kata Antanasia.

__ADS_1


" Haisss, kamu itu sahabat kita jadi wajar kalau kita kompak belain kamu." Ucap Siska


" Benar siapapun yang berani ganggu sahabat kita harus dapat pelajaran." Ucap Tris.


" Iya deh iya, sahabat tersayangnya aku." kata Antanasia.


Erik mengompres tangan Antanasia dengan lembut. Antansia merasa sangat beruntung memiliki sahabat yang seperti mereka.


Silvi dan Reza tidak kalah perhatian, mereka bahkan mengambilkan minuman dan makanan untuk Antanasia.


Erik memutuskan untuk pulang lebih dulu dengan Antanasia karena melihat wajah lelah Antanasia.


Erik dan Antanasia mulai berpamitan kepada semua teman-temannya dan gurunya setelah itu mereka langsung pulang.


Setelah melakukan 15 menit perjalanan mereka telah sampai di rumah Antanasia. Sedangkan Antanasia telah tertidur pulas di dalam mobil.


Erik tak tega untuk membangunkan Antanasia dan akhirnya dia memutuskan untuk menggendong Antanasia ke kamarnya.


tok tok tok.


" Iya sebentar." kata Bi Sumi.


" Loh den Erik, non Antanasia kenapa?" Ucap bi Sumi khawatir.


" Sia gak papa kok bi, dia cuma ketiduran aja mungkin karena kecapekan. Erik gak tega bangunin Sia jadi biar saya bawa aja ke kamarnya. Gak papa kan bi?" Ucap Erik.


" Gak papa den, ayo bibi antar." Ucap bi Sumi.


Erik dan bi Sumi berjalan menaiki anak tangga setelah sampai di kamar Antanasia, Erik langsung menaruh Antanasia perlahan di atas tempat tidurnya.


Erik menarik selimut untuk menutupi tubuh Antanasia agar dia tidak kedinginan. Bi Sumi sudah meninggalkan mereka dari tadi.


Erik menatap intens wajarmh Antanasia. Dia terlihat manis saat tertidur. Erik menyentuh wajah Antanasi dengan lembut.


" Sia, aku akan selalu ngelindungin kamu dari siapa pun yang berani ganggu kamu. Mimpi indah ya, selamat malam Sia kecilku." Ucap Erik dan kemudian pergi keluar kamar Antanasia.


" Bi, Erik pulang dulu ya. Bibi juga istirahat ini sudah malam." kata Erik.


" Iya den, makasih udah nganterin non Antanasia pulang." Ucap bi Sumi.


" Ini udah tugas saya bi, saya akan selalu jagain Sia. Saya pulang dulu ya bi."


" Iya den, hati-hati."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2