Karena Bulan Dan Bintang

Karena Bulan Dan Bintang
Melihatmu saja sudah cukup.


__ADS_3

Di Cafe


" Mbak dan masnya mau pesan apa?" kata pelayan itu ramah.


" Mbak saya pesan, ayam bakar, terus salat buah yang banyak kejunya, puding coklat, Es coklat, coklatnya yang kental ya mbak, terus sama Brownis coklatnya. Jangan lama-lama ya mbk." kata Antanasia.


" Baik mbak, di tunggu ya."


" Si" panggil Erik.


" Hemm."


" Aku seneng deh, sekarang kamu udah bisa milih makanan sendiri dan gak sedih terus setiap kali makan di luar. Dan lagi aku gak perlu milihin makanan lagi buat kamu"


" Emang kamu gak suka milihin makanan buat aku?. Pasti dulu aku ngerepotin kamu terus kan."


" Bukannya gak suka Si, aku suka-suka aja milihin makanan buat kamu. Tapi kalau kamu bisa milih sendiri kan Enak sesuai selera kamu. Kamu gak ngerepotin kok, aku malah suka kalau di repotin sama kamu."


" Haa, aneh kamu Rik. Biasanya orang itu paling gak suka kalau di repotin sedangkan kamu malah suka kalau di repotin?"


" Aku cuma suka di repotin sama kamu." kata Erik pelan.


" Kenapa kamu suka kalau aku yang ngerepotin."


"Karena....." Erik menghentikan perkataannya.


" Karena apa?"


" Ya karena aku udah terbiasa aja kamu repotin. Dan lagi kamu sahabat aku dari kecil."


" Makanannya udah dateng, kamu makan gih tuh perut kamu udah ngadain konser."


" Ya kali ada konser di perut aku. Emang suaranya kedengeran ya?"


" Banget."


" Haiss... nih perut malu-maluin aja."


Kemudian dengan lahap Antanasia melahap makanannya.


" Ini enak banget tahu gak. Kamu mau gak Rik?"


" Gak deh kamu makan aja sendiri."


" Kamu harus nyobain, nih aaa...." kata Antanasia sambil menyuapi sesendok makanan ke Erik. Dan Erik memakannya.


" Si, bisa lihat kamu bahagia aja aku udah ikut bahagia. Apalagi bisa di suapi sama kamu kayak gini." kata Erik dalam hatinya.


Antanasia masih sibuk dengan makanannya. Sedangkan Erik terus memandanginya dengan tersenyum tipis di wajahnya.


" Ahhh.... Kenyangnya."


" Ya iya lah kenyang, kamu kan udah makan 5 piring."

__ADS_1


" Ya kali aku makan piring, yang benar aja. Aku cuma makan, 5 makanan yang ada di atas piring, bukan makan 5 piring."


" Iya lah, terserah kamu."


" Erik"


" Hemm"


" Apa?"


" Gak ada apa-apa manggil doang." sambil tersenyum cerah.


" Gak usah senyum-senyum bilang aja mau di bayarin kan."


" Hehehe.. Erik pengertian banget deh."


" Hadehh... Mbak habis berapa?"


" 100 ribu aja mas."


" Nih mbak." kat Erik sambil menyerahkan uang 100 ribuan.


" Terima kasih mas, mbak. datang lagi ya."


" Oke." Kata Antanasia sambil berjalan keluar dari cafe tersebut.


*****


" Rik, itu ada apa sih? kok banyak orang yang berkumpul."


" Oh.. itu pasti pertunjukan sulap. Emang kamu gak tau ya?"


" Gak. Ya udah deh dari pada aku mati karena penasaran kita lihat aja yuk."


Antanasia berlari ke arah pertunjukan tersebut dan tanpa sadar di terus memegang tangan Erik.


" Sia, kamu kenapa sih selalu bikin aku deg-degan kayak gini. Aku selalu mencoba untuk menahan perasaan ini, aku gak mau perasaan ini bakal buat persahabatan kita hancur." Kata Erik dalam hatinya.


Sedangkan Antanasia masih saja tetap fokus pada pertunjukan tersebut. Antanasia sangat suka melihat pertunjukan itu. Dia melihat pertunjukan sulap, dimana pesulap tersebut membuat sebuah benda menjadi hilang.


" Rik, lihat deh. Kok bisa ya bendanya jadi hilang?." Tapi Erik tidak menjawab pertanyaan Antanasia.


" Rik"


" Rik...." panggil Antanasia dengan nada agak tinggi.


" Eh iya si... ada apa?" kata Erik.


" Kamu mikirin apa sih, kenapa aku panggil gak jawab."


" Aku gak mikirin apa-apa kok. Tadi kamu mau ngomong apa.?"


" Itu lo, kok bisa ya dia bisa buat benda yang ada jadi hilang."

__ADS_1


" Mungkin ada tekniknya si"


" Teknik....... Teknik apa?"


" Aku mana tau, kan aku bukan pesulap."


" Iya juga ya." Antanasia terus memikirkan teknik apa yang di gunakan. Dia sangat bingung karena tidak menemukan jawabannya.


" Udah gak usah di pikirin, kita pulang aja sekarang. Udah mau malam, nanti bi Sumi khawatir lagi"


" Oke."


Selama perjalanan tidak ada satu katapun yang mereka ucapkan. Erik yang fokus menyetir mobil sedangkan Antansia masih saja memikirkan teknik sulap itu.


" Kamu mikir apa sih si? ngelamun terus."kata Erik memecahkan lamunan Antanasia.


" Eh.. Hehehe gak ada kok." kata Antanasia.


" Oh ya, kamu udah siap belum sama pertandingan besok." lanjutnya.


" Aku sih siap-siap aja, aku cuma khwatir aja teman-teman kelelahan, kan kita gak punya tim cadangan."


" Iya juga ya, Tapi aku yakin kok kalain pasti bisa. Apa lagi Bisma dan Riko, mereka semangat banget latihannya, aku bangga sama mereka yang selalu bersemangat."


" Kamu bangganya sama mereka aja, terus sama aku gak."


" Rik, kalau kamu itu orang ketiga yang paling aku banggain setelah mama dan papa."


" Rik"


" Apa?"


" Kamu gak mau baikan aja sama om Putra." Om Putra adalah papa Erik.


" Nanti aja deh, kalau sekarang aku males aja, nanti bisa-bisa dia bawahin wanita lagi buat aku."


" Hahaha... Om Putra suka banget sih jodohin kamu. Mungkin om Putra ngelakuin ini buat kebaikan kamu."


" Apapun alasannya, aku bakal memilih wanitaku sendiri."


" Iya deh, sekarang ada gak cewek yang kamu suka?"


"Orang yang aku suka itu kamu si, mana mungkin aku ngungkapin hal itu, yang ada nanti kamu malah jauhin aku. Asal bisa bareng kamu kayak gini itu udah cukup buat aku." kata Erik dalam hatinya


" Hemm.. aku gak mau mikirin itu." kata Erik.


" Hemmm... ada cewek yang kamu suka, kamu harus kasih tahu aku loh ya?"


" Iya."


"Rik, aku berharap kamu bisa dapatin wanita yang baik,yang bisa nerima kamu apa adanya bukan wanita yang hanya suka pada harta kamu. Aku gak akan biarin kamu di sakitin sama siapapun itu. Aku janji." kata Antanasia dalam hati.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2