
Atap rumah pertanian yang sudah ditinggalkan antara Aubrey Hall dan Crake House
Kent, Inggris
I779
.
BUKANNYA BILLIE BRIDGERTON tidak memiliki akal sehat. Sebaliknya, ia cukup yakin dirinya salah satu orang paling berakal sehat di antara kenalannya. Namun seperti individu lain yang berpikir, terkadang ia memilih untuk mengabaikan suara kecil akal sehat yang berbisik di dalam benaknya. Ia yakin ini tidak bisa dianggap kesembronoan. Ketika ia mengabaikan suara yang menyuruhnya berhati-hati ini, itu adalah keputusan yang dibuat dengan sadar, setelah analisis yang—agak—berhati-hati mengenai situasinya. Dan sebagai pujian untuk dirinya sendiri, ketika Billie membuat keputusan—yang akan dianggap sebagian besar manusia sebagai sesuatu yang sangat bodoh—biasanya ia berhasil mendarat dengan riang di atas kedua kakinya.
Kecuali saat ia tidak berhasil.
Seperti sekarang.
Ia mendelik ke arah temannya. “Seharusnya aku mencekikmu.”
Kawannya mengeong tak peduli.
Billie mengeluarkan geraman yang agak kurang pantas untuk seorang lady.
Kucing itu menilai geraman Billie, memutuskan suara itu tak perlu diperhatikan, lalu mulai menjilati cakar-cakarnya.
Billie mempertimbangkan standar tentang kehormatan dan sopan santun, memutuskan bahwa keduanya berlebihan, lalu membalas kucing itu dengan rengutan kekanak-kanakan.
Itu tidak membuatnya merasa lebih baik.
Sambil menggeram lelah, Billie mendongak ke langit, mencoba mengira-ngira pukul berapa sekarang. Matahari terjepit di balik lapisan-lapisan awan, yang membuat tugasnya menjadi lebih rumit, tapi saat ini paling tidak sudah pukul empat. Ia merasa telah terjebak di tempat ini selama satu jam, dan ia meninggalkan desa pada pukul dua. Kalau ia memasukkan waktu yang dibutuhkan untuk berjalan…
Oh sialan, apa pentingnya pukul berapa sekarang? Itu tidak akan membuatnya turun dari atap sialan ini. “Ini semua salahmu,” katanya kepada kucing itu.
Sesuai dugaan, kucing itu mengabaikannya.
“Aku tidak tahu apa menurutmu yang kaulakukan di atas pohon itu,” Billie meneruskan. “Orang bodoh mana pun tahu kau tak akan bisa turun dari sana.”
Orang bodoh mana pun akan membiarkannya di atas sana, tapi tidak dengan Billie yang mendengarnya mengeong, dan ia sudah setengah jalan menaiki pohon sebelum menyadari ia bahkan tidak menyukai kucing.
“Dan aku benar-benar tidak menyukaimu,” katanya.
Ia berbicara dengan kucing. Akhirnya ia berakhir seperti ini. Ia menggeser duduknya, meringis saat stokingnya tersangkut salah satu sirap yang termakan cuaca. Sentakan tersebut membuat kakinya memutar ke samping, dan pergelangan kakinya yang berdenyut nyeri meraung memprotes.
Atau lebih tepatnya mulutnyalah yang meraung. Billie tidak bisa menahannya. Rasanya sakit.
Ia rasa keadaannya bisa lebih buruk. Ia berada jauh di atas pohon, dua setengah meter di atas atap rumah petani, ketika kucing itu mendesis ke arahnya sambil melemparkan akar, dan membuat mereka berdua jatuh terguling.
Kucing itu, tak perlu dikatakan lagi, mendarat tanpa terluka dengan keanggunan akrobatik di atas keempat kakinya.
Billie masih tidak yakin bagaimana dirinya mendarat, hanya saja sikunya sakit, pinggulnya nyeri, dan jaketnya robek, kemungkinan karena ranting yang menahan kejatuhannya di dua pertiga perjalanannya ke bawah.
Tapi yang terburuk adalah pergelangan kaki dan kakinya, yang sangat menyakitkan. Kalau berada di rumah, Billie sudah mengangkatnya ke atas bantal. Ia sudah sering melihat pergelangan kaki yang terkilir—beberapa di tubuhnya sendiri, lebih sering daripada di tubuh orang lain—dan ia tahu apa yang harus dilakukan. Kompres dingin, diangkat, saudara yang menunggu dan melaksanakan semua perintahnya…
Di mana kaki-tangannya saat ia membutuhkan mereka?
Akan tetapi, di kejauhan ia melihat sekelebat pergerakan, dan kecuali binatang-binatang liar setempat baru-baru ini beralih menyerang pengendara kendaraan roda dua, itu jelas-jelas manusia.
“Haloooooooo!” panggilnya, kemudian berpikir lagi dan berteriak, “Tolong!”
Kecuali matanya menipunya—dan itu tidak mungkin, benar-benar tidak mungkin; bahkan sahabatnya Mary Rokesby mengakui mata Billie Bridgerton amat sangat sempurna—manusia di kejauhan itu seorang pria. Dan tidak ada pria kenalan Billie yang bisa mengabaikan teriakan minta tolong seorang wanita.
“Tolong!” teriaknya sekali lagi, merasakan kelegaan yang tidak sedikit ketika pria itu berhenti. Billie tidak bisa memastikan apakah pria itu berbalik ke arahnya—penglihatan sempurnanya hanya bisa sejauh itu—jadi ia berteriak lagi, kali ini sekeras mungkin, dan nyaris menangis lega saat pria terhormat itu—oh, tolong biarkan dia pria terhormat, kalau bukan karena keturunan, maka paling tidak karena sifat aslinya—mulai bergerak ke arahnya.
Tapi Billie tidak menangis. Karena ia tidak pernah menangis. Ia tidak pernah menjadi gadis yang seperti itu.
Akan tetapi ia terkesiap—secara mengejutkan terdengar keras dan melengking.
“Di sini!” panggilnya, sambil melepas jaket supaya bisa ia lambaikan di udara. Tidak ada gunanya mencoba tampak terhormat. Lagi pula ia terjebak di atas atap dengan pergelangan kaki terkilir dan seekor kucing kotor.
“Sir!” ia hampir berteriak. “Tolong! Kumohon!”
Pria itu bergerak samar menyesuaikan arah suara Billie, dan dia mendongak, dan meskipun dia masih berada begitu jauh sehingga penglihatan sempurnanya tak bisa melihat wajahnya, Billie tahu.
Tidak. Tidak. Tidak. Siapa pun asalkan bukan pria itu.
Tetapi tentu saja itu dia. Karena siapa lagi yang akan lewat di saat terburuk Billie, di saat dirinya terlihat paling kikuk dan memalukan, di saat terkutuk ketika ia perlu diselamatkan?
“Selamat siang, George,” katanya, begitu pria itu sudah cukup dekat untuk mendengarnya.
Pria itu berkacak pinggang dan menyipitkan mata ke arahnya. “Billie Bridgerton,” dia berkata.
Billie menunggu pria itu menambahkan, “Seharusnya sudah kuduga.”
Dia tidak mengatakannya, dan entah bagaimana itu membuat Billie semakin jengkel. Dunia tidak berada dalam keadaan normal bila Billie tidak bisa memprediksi setiap kata-kata angkuh dan sombong yang bergulir keluar dari mulut George Rokesby.
“Mencoba mendapatkan sedikit sinar matahari?” tanya pria itu.
“Ya, kupikir aku memerlukan lebih banyak bintik-bintik di wajah,” sahut Billie ketus.
Pria itu tidak langsung merespons. Sebaliknya dia melepaskan topi tricorn-nya, menunjukkan rambut tebal cokelat terang yang tidak dibedaki, dan mengamati dengan sorot menilai dan tenang. Akhirnya, setelah meletakkan topi dengan hati-hati ke sisa-sisa dinding batu, pria itu mendongak dan berkata, “Aku tak bisa mengatakan bahwa aku tidak menikmatinya. Hanya sedikit.”
Banyak jawaban menari-nari di lidah Billie, namun ia mengingatkan diri bahwa George Rokesby adalah satu-satunya manusia yang terlihat, dan kalau ia ingin mendaratkan kedua kakinya ke tanah sebelum May Day—Festival Musim Semi—ia harus bersikap ramah kepada George.
Setidaknya sampai pria itu menyelamatkannya.
“Omong-omong, bagaimana kau bisa sampai ke atas sana?” tanya George.
“Kucing.” Billie menyahut dengan suara yang mungkin bisa digambarkan dengan gamblang sebagai menggelegak.
“Ah.”
“Kucing itu tadi di atas pohon,” Billie menjelaskan, meskipun ia tidak tahu mengapa ia melakukannya. Toh George tidak meminta penjelasan lebih lanjut.
“Aku mengerti.”
Benarkah? Menurut Billie pria itu tidak mengerti. “Kucing itu tadi menangis,” tegasnya. “Aku tak bisa mengabaikannya.”
“Benar, aku yakin kau tak bisa,” sahut George, dan meskipun suaranya terdengar sangat ramah, Billie yakin pria itu menertawakannya.
__ADS_1
“Beberapa dari kami adalah individu-individu yang penuh kasih sayang dan perhatian,” ia memisahkan giginya yang sedang dikertakkan untuk berkata.
George menelengkan kepala. “Baik kepada anak-anak kecil dan binatang?”
“Benar sekali.”
Alis kanan pria itu terangkat dengan gaya khas Rokesby yang begitu menjengkelkan.
“Beberapa dari kami baik kepada anak-anak yang sudah besar dan binatang,” ujar George lambat-lambat.
Billie menggigit lidah. Pertama sebagai kiasan, kemudian secara harfiah. Bersikap baiklah, ia mengingatkan diri dalam hati. Bahkan kalau itu membunuhmu…
George tersenyum ramah. Well, kecuali untuk cengiran kecil di sudut mulutnya.
“Sialan, kau akan membantuku turun atau tidak?” sembur Billie pada akhirnya.
“Kasar sekali,” tegur pria itu.
“Aku belajar dari saudara-saudaramu.”
“Oh, aku tahu,” sahut George. “Aku tak pernah berhasil meyakinkan mereka bahwa kau sebenarnya perempuan.”
Billie duduk di atas kedua tangannya. Ia benar-benar duduk di atas kedua tangannya, begitu yakin ia tak akan sanggup menahan diri dari melemparkan dirinya dari atas atap untuk mencekik pria itu.
“Tak pernah berhasil meyakinkan diriku sendiri kalau kau sebenarnya manusia,” tambah George tanpa pikir panjang.
Jemari Billie melengkung kaku. Dan rasanya sungguh-sungguh tidak nyaman, setelah mempertimbangkan semuanya. “George,” katanya, dan ia mendengar ribuan hal berbeda di dalam suaranya—nada memohon, rasa nyeri, menyerah, kenangan. Mereka berdua memiliki sejarah, dan tak peduli seberapa besar perbedaan di antara mereka, pria itu seorang Rokesby dan Billie seorang Bridgerton, dan dalam keadaan kritis mereka bisa dianggap keluarga.
Rumah mereka—Crake House untuk keluarga Rokesby dan Aubrey Hall untuk keluarga Bridgerton—hanya terpisah jarak lima kilometer di sudut Kent yang nyaman dan subur ini. Keluarga Bridgerton lebih lama tinggal di sana—mereka tiba pada awal 1500-an, ketika James Bridgerton diberi gelar viscount dan dihadiahi tanah oleh Henry VIII—tetapi keluarga Rokesby mengalahkan status bangsawan mereka sejak 1672.
Salah satu Baron Rokesby yang sangat giat—begitulah ceritanya—berjasa sangat penting kepada Charles II dan dinamai Earl of Manston yang pertama sebagai ucapan terima kasih. Detail yang mengelilingi kenaikan status ini semakin kabur dengan berlalunya waktu, tetapi secara garis besar jasa tersebut melibatkan kereta penumpang, segulung sutra Turki, dan dua wanita simpanan untuk raja.
Billie bisa memercayainya. Pesona bisa diwariskan, bukan? George Rokesby mungkin tipe kaku yang diharapkan dari pewaris gelar earl, tetapi adiknya Andrew memiliki aura joie de vivre nakal yang pasti akan membuatnya disayang oleh Charles II yang terkenal sebagai perayu ulung. Saudara-saudara Rokesby yang lain tidak begitu nakal (meskipun menurutnya Nicholas, yang baru berumur empat belas tahun, masih mengasah keahliannya), namun mereka dengan mudah akan mengalahkan George di semua kontes yang melibatkan pesona dan keramahan.
George. Mereka tidak pernah menyukai satu sama lain. Tapi Billie rasa ia tak bisa mengeluh. George satu-satunya Rokesby yang tersedia saat ini. Edward berada di koloni, menghunus pedang atau pistol, atau hanya Tuhan yang tahu apa lagi, dan Nicholas berada di Eton, mungkin juga sedang menghunus pedang atau pistol—meskipun mudah-mudahan efeknya jauh lebih kecil. Andrew berada di Kent untuk beberapa minggu ke depan, tapi lengannya masih retak karena melakukan sesuatu yang gagah berani di angkatan laut. Dia tak mungkin bisa membantu.
Tidak, hanya George, dan Billie harus bersikap sopan.
Ia tersenyum ke arah pria itu. Well, ia meregangkan bibirnya ke samping.
George mendesah. Hanya sedikit. “Akan kulihat apa ada tangga di belakang.”
“Terima kasih,” sahut Billie sopan, tapi ia rasa pria itu tidak mendengarnya. George selalu bergerak dengan langkah-langkah lebar dan cepat, dan dia menghilang ke balik bangunan sebelum Billie sempat menunjukkan sikap sopan dengan tepat.
Beberapa menit kemudian George kembali ke dalam pandangan, lengannya menyandang tangga yang terlihat seolah digunakan terakhir kali saat Revolusi tahun 1688. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya pria itu sambil meletakkan tangga di tempatnya. “Terjebak di sana bukan hal yang mungkin terjadi kepadamu.”
Sejauh yang pernah Billie dengar dari mulut pria itu, perkataan ini paling mendekati pujian. “Kucing itu tidak seberterima kasih atas bantuanku seperti yang diduga,” katanya, setiap konsonan seperti beliung es penuh keangkuhan yang diarahkan kepada monster kecil tersebut.
Tangga tersebut sudah ditempatkan pada posisi yang tepat dengan bunyi membentur, dan Billie mendengar George memanjat ke atas.
“Apa tangga itu bisa bertahan?” ia bertanya. Kayunya terlihat agak pecah-pecah dan mengeluarkan suara berkeriut berbahaya setiap kali dipijak.
Suara berkeriut itu berhenti sejenak. “Tidak penting apakah tangga ini mampu bertahan atau tidak, bukan?”
Billie berada dalam bahaya, karena itu George tidak punya pilihan. Dia harus membantu, tak peduli seberapa menjengkelkan Billie baginya.
Dan pria itu memang menganggapnya menjengkelkan. Oh, Billie tahu itu. George tak pernah berusaha menyembunyikannya. Meskipun bila ingin bersikap adil, Billie juga melakukan hal yang sama.
Kepala pria itu muncul dalam pandangan, dan mata biru Rokesby-nya menyipit. Semua keturunan Rokesby memiliki mata biru. Semuanya.
“Kau memakai celana,” George mendesah berat. “Tentu saja kau memakai celana.”
“Aku tidak mungkin mencoba memanjat pohon dengan menggunakan gaun.”
“Benar,” sahut pria itu datar. “Kau terlalu berakal sehat untuk melakukannya.”
Billie memutuskan mengabaikan perkataan itu. “Kucing itu mencakarku,” ia mengedikkan kepala ke arah kucing itu.
“Benarkah?”
“Kami berdua jatuh.”
George mendongak. “Jaraknya lumayan tinggi.”
Billie mengikuti arah pandangan pria itu. Cabang terdekat berada satu setengah meter di atas, dan ia tadi tidak berada di cabang terdekat. “Pergelangan kakiku terkilir,” akunya.
“Kupikir juga seperti itu.”
Billie mendongak melihat pria itu dengan sorot bertanya.
“Kalau tidak, kau pasti sudah melompat ke bawah.”
Mulut Billie mengerut saat mengamati ke belakang bahu George ke tanah padat yang mengelilingi sisa-sisa rumah petani itu. Dulu bangunan tersebut pasti dimiliki petani yang sangat makmur karena tinggi bangunan itu dua lantai. “Tidak,” katanya, sambil mengukur jarak. “Terlalu jauh untuk itu.”
“Bahkan untukmu?”
“Aku tidak bodoh, George.”
Pria itu tidak menyetujui secepat yang seharusnya dia lakukan. Yang berani, tidak sama sekali.
“Baiklah,” akhirnya itulah yang dikatakan George. “Aku akan menurunkanmu.”
Billie menarik napas. Kemudian mengembuskannya. Kemudian berkata, “Terima kasih.”
George menatapnya dengan ekspresi janggal. Mungkin dia tak percaya karena Billie mengucapkan terima dan kasih di kalimat yang sama?
“Sebentar lagi langit akan gelap,” kata Billie, hidungnya berkerut saat mendongak menatap langit. “Pasti akan mengerikan kalau harus terjebak—” Ia berdeham. “Terima kasih.”
George menyambut dengan anggukan singkat. “Apa kau bisa menggunakan tangga?”
“Kurasa bisa.” Rasanya pasti akan sangat menyakitkan, namun Billie bisa melakukannya. “Ya.”
“Aku bisa menggendongmu.”
“Di atas tangga?”
__ADS_1
“Di punggungku.”
“Aku tidak mau naik ke punggungmu.”
“Aku juga tidak menginginkanmu di sana,” gerutu George.
Billie menoleh tajam.
“Baiklah, well,” lanjut pria itu, dan memanjat dua anak tangga lagi. Pinggir atap sekarang sejajar dengan pinggulnya. “Apa kau bisa berdiri?”
Billie menatapnya tak mengerti.
“Aku mau melihat seberapa besar beban yang bisa kautumpukan ke pergelangan kaki itu,” George menjelaskan.
“Oh,” gumam Billie. “Tentu saja.”
Mungkin seharusnya ia tidak mencoba. Atap itu begitu miring sehingga Billie membutuhkan kedua kakinya untuk mendapatkan keseimbangan, dan kaki kirinya hampir tak bisa digunakan saat ini. Namun ia mencoba, karena ia tak suka menunjukkan kelemahan di hadapan pria ini, atau mungkin ia mencoba hanya karena bukan sifat dasarnya untuk tidak mencoba—apa saja—atau mungkin ia memang tidak memikirkannya sejak awal, tapi Billie berdiri, dan terhuyung, dan terduduk.
Tapi tidak sebelum pekik kesakitan tertahan menyembur keluar dari mulutnya.
George langsung meninggalkan tangga dan sampai di atas atap. “Dasar bodoh,” dia menggerutu, namun ada nada sayang dalam suaranya, atau paling tidak sebanyak rasa sayang yang pernah dia tunjukkan. “Boleh kulihat?”
Dengan enggan, Billie menjulurkan kakinya ke arah pria itu. Ia sudah melepaskan sepatu.
George menyentuh dengan sikap klinis, menangkup tumit Billie di satu tangan seraya mencoba mengetahui batas gerakannya dengan tangan yang satu lagi. “Apa rasa sakitnya di sini?” dia bertanya, dan menekan bagian luar pergelangan kaki Billie dengan ringan.
Billie mendesis kesakitan sebelum sempat menghentikan dirinya dan mengangguk.
George pindah ke bagian lain. “Di sini?”
Billie mengangguk lagi. “Tapi tidak terlalu.”
“Bagaimana dengan—”
Sambaran rasa sakit menusuk kaki Billie, begitu intens sehingga rasanya seperti disetrum. Tanpa berpikir, ia menarik kakinya dari kedua tangan pria itu.
“Kuanggap jawabannya ya,” ujar George sambil mengernyit. “Tapi kurasa kakimu tidak patah.”
“Tentu saja tidak patah,” sambar Billie ketus. Dan itu sebenarnya menggelikan karena tidak ada tentu saja dalam hal itu. Namun George Rokesby selalu memunculkan sisi terburuk dalam dirinya, dan kakinya yang sakit tidak menolongnya, sialan.
“Keseleo,” kata George, mengabaikan ledakan kecilnya.
“Aku tahu.” Dengan marah. Lagi. Billie membenci dirinya sendiri saat ini.
George tersenyum ramah. “Tentu saja kau tahu.”
Billie ingin membunuhnya.
“Aku akan turun lebih dulu.” George mengumumkan. “Dengan begitu kalau kau tersandung aku akan bisa menghentikanmu sebelum kau jatuh.”
Billie mengangguk. Itu rencana bagus, satu-satunya rencana, sebenarnya, dan ia bodoh kalau mendebatnya hanya karena George yang mengusulkannya. Bahkan kalau itu memang dorongan hatinya yang pertama.
“Siap?” pria itu bertanya.
Billie mengangguk sekali lagi. “Kau tidak khawatir aku akan menendangmu jatuh dari tangga?”
“Tidak.”
Tidak ada penjelasan. Hanya tidak. Seolah memikirkan pertanyaan itu saja sudah menggelikan.
Billie mengangkat kepala dengan tajam. George tampak begitu kokoh. Dan kuat. Dan bisa diandalkan. Dia selalu bisa diandalkan, Billie menyadari. Hanya saja biasanya ia terlalu sibuk jengkel dengan pria itu sehingga tidak menyadarinya.
Perlahan-lahan pria itu beringsut ke pinggir atap, dan memutar badan agar bisa meletakkan satu kaki di puncak tangga.
“Jangan lupakan kucingnya,” perintah Billie.
“Kucingnya,” ulang George, dan memberi Billie tatapan kau pasti bercanda.
“Aku tidak akan meninggalkannya setelah semua ini.”
George mengenakkan gigi, dan menggumamkan sesuatu yang sangat kasar, dan meraih kucing itu.
Yang menggigitnya.
“Sia—”
Billie beringsut sedikit ke belakang. George terlihat seperti siap mencabut kepala seseorang, dan posisi Billie lebih dekat daripada kucing itu.
“Kucing itu bisa membusuk di neraka,” geram George.
“Setuju,” sahut Billie dengan sangat cepat.
George mengerjap mendengar persetujuannya yang secepat kilat. Billie mencoba tersenyum dan berakhir dengan kedikan bahu. Ia memiliki dua saudara laki-laki kandung dan tiga lagi yang mungkin saja menjadi saudaranya di rumah Rokesby. Empat jika ia mengikutsertakan George, dan ia tidak yakin bisa melakukannya.
Intinya, ia memahami laki-laki, dan ia tahu kapan harus menutup mulut.
Lagi pula, ia sudah muak dengan binatang terkutuk itu. Jangan pernah katakan Billie Bridgerton memiliki hati lembut. Ia telah mencoba menyelamatkan binatang kotor itu karena itu hal yang benar, kemudian mencoba menyelamatkannya lagi, meski hanya karena sepertinya ia menyia-nyiakan usaha sebelumnya bila tidak melakukannya, tapi sekarang…
Billie menatap binatang itu tajam. “Kau sendirian sekarang.”
“Aku akan turun lebih dulu,” George bergerak ke tangga. “Aku ingin kau selalu tepat berada di depanku. Dengan begitu kalau kau tersandung—”
“Kita berdua akan jatuh?”
“Aku akan menangkapmu,” sahut George ketus.
Billie hanya bercanda, namun sepertinya bukan hal yang bijaksana bila ia menjelaskan.
George berbalik dan mulai bergerak turun, namun saat dia bergerak meletakkan kaki di anak tangga paling atas, kucing itu, yang rupanya tidak suka diabaikan, mengeong keras dan melesat melewati kakinya. George terhuyung ke belakang, kedua lengannya berputar-putar menahan keseimbangan.
Billie tidak berpikir. Ia tidak memikirkan kakinya, atau keseimbangannya, atau apa pun. Ia hanya melompat ke depan dan menyambar pria itu, menariknya ke tempat aman.
“Tangga itu!” ia memekik.
Tapi sudah terlambat. Bersama-sama mereka melihat tangga itu berputar-putar, kemudian jatuh ke bawah dengan keanggunan penari balet yang kikuk
__ADS_1