KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 13


__ADS_3

PADA PUKUL SATU siang keesokan harinya, George teringat mengapa ia membenci pesta-pesta rumah. Atau lebih tepatnya, ia ingat bahwa ia membenci pesta-pesta rumah.


Atau mungkin George hanya tidak menyukai pesta di rumah yang ini. Antara gadis-gadis Fortescue-Endicott yang tergila-gila kepada Northwick, Lord Reggie yang bergigi seputih salju, dan Ned Berbrooke yang tanpa sengaja menumpahkan minuman keras ke sepatu botnya semalam, George sudah siap untuk merangkak kembali ke Crake House.


Jaraknya tak sampai lima kilometer. Ia bisa melakukannya.


Ia sudah melewatkan makan siang—satu-satunya cara untuk menghindari Lady Alexandra, yang sepertinya memutuskan George adalah hal terbaik setelah Northwick—dan sekarang suasana hati George buruk. Ia kelaparan dan lelah, dua setan yang dijamin bisa menurunkan watak seseorang menjadi anak berumur tiga tahun yang bersungut-sungut.


Tidur semalam terasa…


Tidak memuaskan.


Ya, sepertinya itu kata yang paling sesuai. Sangat tidak mencukupi, tapi sesuai.


Keluarga Bridgerton meletakkan semua anggota keluarga Rokesby di bagian sayap yang diperuntukkan untuk keluarga, dan George duduk di kursi empuk di samping perapian, mendengarkan suara-suara yang biasa terdengar saat keluarga mengakhiri harinya—para pelayan mengurus para wanita, pintu terbuka dan menutup…


Seharusnya ini tidak penting. Suara-suaranya sama seperti suara-suara yang didengar di Crake. Tapi entah bagaimana, di sini di Aubrey Hall rasanya terlalu intim, hampir seperti ia sedang menguping.


Dengan setiap suara-suara lembut yang membuat kantuk datang, imajinasi George melayang. Ia tahu ia tak bisa mendengar Billie bergerak; kamar tidur gadis itu di seberang koridor dan tiga pintu dari ujung. Tapi rasanya seolah ia bisa mendengarnya. Dalam keheningan malam ia merasakan kaki Billie dengan ringan melangkah di seberang karpetnya. Ia merasakan bisikan napas Billie saat meniup lilin. Dan ketika gadis itu naik ke tempat tidurnya, George yakin bisa mendengar bunyi desiran seprainya.


Billie pernah berkata dia akan tertidur dengan segera—tapi kemudian apa? Apa dia gelisah dalam tidurnya? Apa dia berguling-guling ke sana kemari, menendang selimut, menendang seprai ke dasar tempat tidur dengan kakinya?


Atau apakah dia akan terbaring diam, menyamping manis dengan kedua tangan diselipkan ke bawah pipi?


George berani bertaruh wanita itu suka bergerak ke sana kemari; lagi pula, ini Billie. Dia menghabiskan seluruh masa kecilnya dengan selalu bergerak. Kenapa gadis itu akan tidur dengan cara lain? Dan kalau dia berbagi tempat tidur dengan seseorang…


Brendi sebelum tidurnya berubah menjadi tiga gelas, tetapi ketika akhirnya George meletakkan kepala ke bantal, ia butuh waktu berjam-jam untuk tidur. Kemudian ketika berhasil tidur, ia memimpikan gadis itu.


Dan mimpinya… Oh, mimpinya.


George bergidik, ingatan itu membanjiri dirinya lagi. Kalau ia pernah menganggap Billie sebagai adik perempuan…


Ia jelas tidak berpikir seperti itu sekarang.


Mimpinya dimulai di perpustakaan, dalam cahaya remang-remang rembulan, dan ia tidak tahu apa yang Billie kenakan—tapi pakaiannya tidak seperti yang pernah ia lihat di diri Billie sebelumnya. Itu pasti gaun tidur… putih dan tipis. Dengan setiap embusan angin, pakaian itu membentuk tubuh Billie, menunjukkan lekukan-lekukan ranum sempurna yang didesain untuk pas di kedua tangan George.


Tak peduli mereka sedang berada di perpustakaan, dan tidak ada alasan logis untuk angin yang berembus.


Itu mimpinya, dan saat itu angin bertiup, kemudian itu menjadi tidak penting karena ketika George menggenggam tangan Billie dan menyentaknya mendekat tiba-tiba mereka berada di kamar tidurnya. Bukan di sini di Aubrey Hall, tapi di Crake, dengan tempat tidur mahoni bertiang empat, kasur persegi besar, dengan ruang untuk berbagai macam kegiatan liar.


Billie tidak berkata apa-apa, yang harus George akui sama sekali tidak seperti Billie, namun ini memang hanya mimpi. Tetapi ketika gadis itu tersenyum, senyumannya murni senyuman Billie—lebar dan bebas—dan ketika George membaringkan gadis itu di tempat tidur, mata mereka bertemu, dan rasanya seolah Billie terlahir untuk momen itu.


Seolah George terlahir untuk momen itu.


Kedua tangan George membuka lipatan gaun gadis itu, dan Billie melengkungkan tubuh memamerkan payudara yang sempurna.


Ini gila. Ini kegilaan. Seharusnya George tidak tahu seperti apa payudara Billie. Seharusnya ia bahkan tak bisa membayangkannya.


Tapi ia bisa, dan dalam mimpinya, ia memuja payudara Billie. Ia menunduk dan merayu payudara gadis itu, menggoda dan merayu sampai Billie mengerang penuh kenikmatan.


Namun itu tidak berhenti di sana. Ia menyelipkan kedua tangan ke antara kaki Billie, lalu mendorong kaki Billie terbuka, ibu jarinya begitu dekat dengan pusat tubuh Billie.


Kemudian ia membelai… semakin dekat… semakin dekat… sampai ia tahu penyatuan tubuh mereka berdua tak dapat dielakkan. Billie akan menjadi miliknya, dan penyatuan itu akan luar biasa. Pakaiannya melebur, dan ia memosisikan tubuh di atas Billie…


Lalu ia terbangun.


Sialan.


Ia terbangun.


Hidup begitu tak adil.


Keesokan paginya adalah kompetisi memanah untuk wanita, dan kalau George merasakan sedikit ironi saat menontonnya, tentunya ia bisa dimaafkan. Di sanalah Billie dengan benda kaku dan tajam, dan di sisi lain George, masih dengan benda kaku dan tajam, dan harus dikatakan: hanya salah satu dari mereka yang bersenang-senang.


Butuh satu jam penuh dengan pikiran-pikiran yang sangat dingin sebelum George bisa bergerak dari posisi duduk dengan kaki disilangkan hati-hati di kursi yang dipersiapkan di pinggir lapangan. Semua pria lain telah berdiri di satu titik untuk memeriksa target, tapi tidak begitu dengan George. Ia tersenyum, tertawa, dan ia membuat komentar omong kosong tentang menikmati sinar matahari. Dan ini menggelikan, karena satu titik biru yang ada di langit hanya sebesar ibu jarinya.


Karena amat menginginkan waktu untuk menyepi, ia segera pergi ke perpustakaan setelah turnamen. Tidak ada orang di pesta yang menurutnya terlihat suka membaca; tentunya ia bisa menemukan sedikit kedamaian dan keheningan di sana.


Dan ia menemukannya, selama sepuluh menit sebelum Billie dan Andrew datang melewati pintu sambil bertengkar.


“George!” seru Billie, terpincang-pinang ke arahnya. Dia terlihat bersinar-sinar berkat istirahat yang cukup.


Dia tak pernah mengalami kesulitan tidur, pikir George jengkel. Dia mungkin memimpikan bunga-bunga mawar dan pelangi.


“Orang yang kuharap akan kutemukan,” kata Billie sambil tersenyum.


“Kata-kata untuk melancarkan teror ke dalam hatinya,” komentar Andrew dengan nada malas.


Benar sekali, pikir George, meskipun bukan untuk alasan yang Andrew duga.


“Stop.” Billie merengut ke arah Andrew sebelum menoleh kembali kepada George. “Kami membutuhkanmu untuk menyelesaikan masalah.”


“Kalau ini soal siapa yang bisa memanjat pohon lebih cepat, itu Billie,” kata George yakin. “Kalau ini soal siapa yang bisa menembak paling akurat, itu Andrew.”


“Tidak dua-duanya,” jawab Billie dengan dahi sedikit berkerut. “Tapi ada hubungannya dengan Pall Mall.”


“Kalau begitu semoga Tuhan menolong kita semua,” George menggerutu, bangkit dan berjalan ke pintu. Ia sudah pernah bermain Pall Mall dengan adiknya dan Billie; itu olahraga kejam dan haus darah yang melibatkan bola kayu, palu berat, dan risiko konstan terluka berat di kepala. Jelas bukan permainan yang tepat untuk pesta rumah Lady Bridgerton yang jinak.


“Andrew menuduhku curang,” kata Billie.

__ADS_1


“Kapan?” tanya George, terkejut dan bingung. Sejauh yang ia tahu, seluruh pagi diisi dengan turnamen memanah wanita. Billie menang, bukan berarti siapa pun dari keluarga Rokesby dan Bridgerton terkejut mengetahuinya.


“April yang lalu,” jawab Billie.


“Dan kau berdebat soal itu sekarang?”


“Ini soal prinsip,” kata Andrew.


George melihat ke arah Billie. “Apa kau curang?”


“Tentu saja tidak! Aku tidak perlu curang untuk mengalahkan Andrew. Edward mungkin,” aku Billie dengan kedipan mata, “tapi bukan Andrew.”


“Itu berlebihan, Billie,” omel Andrew.


“Tapi benar,” balas Billie.


“Aku pergi,” kata George. Tidak ada yang mendengar, tapi sepertinya sopan bila ia mengumumkan kepergiannya. Lagi pula, ia tidak yakin apakah berada di ruangan yang sama dengan Billie saat ini merupakan ide bagus. Denyut nadinya perlahan-lahan mulai melaju dan ia tahu ia tidak mau berada di dekat gadis itu saat denyut nadinya mencapai puncak.


Di sinilah kehancuran berada, benaknya berteriak. Untunglah kedua kakinya tidak melawan, dan ia berhasil melangkah sampai ke pintu sebelum Billie berkata, “Oh, jangan pergi. Keadaan baru akan berubah menjadi menarik.”


George berhasil tersenyum kecil namun lelah saat berbalik. “Denganmu keadaannya selalu berubah menjadi menarik.”


“Menurutmu begitu?” tanya Billie senang.


Andrew memberi Billie tatapan tak percaya. “Itu bukan pujian, Billie.”


Billie melihat ke arah George.


“Aku tidak tahu apa itu,” akunya.


Billie cuma tertawa kecil, kemudian mengedikkan kepala ke arah Andrew. “Aku akan menantangnya.”


George tidak bodoh—oh, ia jelas tidak bodoh—tapi ia tak bisa menghentikan diri dari membalikkan badan dan ternganga ke arah Billie.


“Kau menantangku?” ulang Andrew.


“Duel palu saat fajar tiba,” kata Billie dengan bergaya. Kemudian dia mengedikkan bahu. “Atau sore. Aku lebih suka menghindar dari bangun pagi, tidakkah menurutmu begitu?”


Andrew mengangkat sebelah alis. “Kau menantang pria bertangan satu untuk memainkan Pall Mall?”


“Aku menantangmu.”


Andrew mencondongkan badan ke depan, mata birunya berkilat-kilat. “Aku masih akan mengalahkanmu, kau tahu.”


“George!” seru Billie.


Sialan. Ia hampir berhasil meloloskan diri. “Ya?” gumamnya, lalu menjulurkan kepala kembali melewati ambang pintu.


“Tidak, kau tidak membutuhkanku. Kau membutuhkan pengasuh. Kau hampir tak bisa berjalan.”


“Aku bisa berjalan dengan baik.” Dengan terpincang-pincang Billie berjalan beberapa langkah. “Lihat? Aku bahkan tidak merasakannya.”


George menoleh ke arah Andrew, bukan berarti mengharapkan adiknya menunjukkan sesuatu yang mendekati akal sehat.


“Lenganku patah,” kata Andrew, yang George rasa dimaksudkan sebagai penjelasan. Atau alasan.


“Kau *****. Kalian berdua.”


“Dua orang ***** yang membutuhkan lebih banyak pemain,” sahut Billie. “Permainan tidak bisa dimulai dengan dua pemain.”


Secara teknis itu benar. Set Pall Mall dimaksudkan untuk dimainkan dengan enam pemain, minimal empat kalau terpaksa. Tetapi George sudah pernah terlibat dalam keadaan seperti ini; mereka pemain pembantu untuk pemain utama yang kejam dan tragis, Andrew dan Billie. Bagi mereka berdua, arti permainan itu lebih untuk memastikan lawan mereka tidak menang daripada memenanginya. George hanya diharapkan untuk menggerakkan bola di tengah percekcokan mereka.


“Kau masih tidak memiliki cukup pemain,” kata George.


“Georgiana!” seru Billie.


“Georgiana?” ulang Andrew. “Kau tahu ibumu tidak mengizinkannya bermain.”


“Demi Tuhan, dia sudah tidak sakit selama bertahun-tahun. Sudah waktunya kita berhenti memanjakannya.”


Saat itulah Georgiana datang dari tikungan. “Berhenti berteriak, Billie. Kau akan memberi Mama serangan jantung, lalu akulah yang harus mengurusnya.”


“Kami akan bermain Pall Mall,” Billie memberitahu.


“Oh. Itu menyenangkan. Aku akan—” kata-kata Georgiana terhenti, dan mata birunya membelalak. “Tunggu, aku boleh ikut bermain?”


“Tentu saja,” sahut Billie, nyaris tak peduli. “Kau seorang Bridgerton.”


“Oh, brilian!” Georgiana melompat ke udara. “Bisakah aku memainkan warna oranye? Bukan, hijau. Aku ingin hijau.”


“Apa saja yang kau mau,” kata Andrew.


Georgiana menoleh kepada George. “Apa kau juga akan ikut bermain?”


“Kurasa harus.”


“Jangan terdengar begitu pasrah,” kata Billie. “Kau akan bersenang-senang. Kau tahu itu.”


“Kita masih membutuhkan pemain lain,” kata Andrew.

__ADS_1


“Mungkin Sir Reggie?” tanya Georgiana.


“Tidak!” George langsung menjawab.


Tiga kepala berpaling ke arahnya.


Setelah ditinjau kembali, mungkin penolakannya sedikit terlalu kuat.


“Menurutku dia bukan tipe pria yang menikmati permainan sekasar itu,” kata George sambil mengedikkan bahu asal-asalan. Ia melirik ke arah kuku jari-jarinya karena tak mungkin melihat mata yang lain saat berkata, “Giginya, kau tahu.”


“Giginya?” ulang Billie.


George tidak perlu melihat wajah Billie untuk tahu gadis itu menatapnya seolah takut ia sudah gila.


“Kurasa dia memang punya senyum yang sangat elegan,” kata Billie, rupanya siap mengakui poin tersebut. “Dan kurasa kita memang menanggalkan salah satu gigi Edward di musim panas itu.” Billie menoleh ke arah Andrew. “Apa kau ingat? Kurasa saat itu umurnya enam tahun.”


“Tepat sekali,” kata George, meskipun sebenarnya ia tak ingat insiden tersebut. Pasti itu gigi susu; Edward bukan Sir Reginald McVie, tapi sejauh yang George tahu, senyum adiknya penuh gigi.


“Kita tidak bisa mengajak Mary,” Billie melanjutkan. “Dia menghabiskan seluruh pagi membungkuk di atas pispot untuk buang air.”


“Aku benar-benar tidak perlu tahu soal itu,” cetus Andrew.


Billie mengabaikannya. “Lagi pula, Felix tidak akan mengizinkannya.”


“Kalau begitu ajak Felix,” George menyarankan.


“Itu tidak akan adil untuk Mary.”


Andrew memutar bola mata. “Siapa yang peduli?”


Billie bersedekap. “Kalau dia tidak bisa main, Felix juga tidak.”


“Lady Frederica pergi ke desa dengan ibu dan sepupunya,” kata Georgiana. “Tapi aku melihat Lady Alexandra di ruang duduk. Sepertinya dia tidak sedang melakukan sesuatu yang penting.”


George tidak tertarik menghabiskan siang mendengarkan lebih banyak cerita tentang Lord Northwick, tetapi setelah penolakan berapi-apinya untuk Sir Reginald, menurutnya ia tidak bisa mengajukan penolakan lain yang masuk akal. “Lady Alexandra akan menjadi tambahan yang bagus untuk permainan itu,” katanya diplomatis. “Dengan syarat, tentu saja, dia ingin ikut bermain.”


“Oh, dia pasti mau,” sahut Billie dengan nada muram.


Georgiana tampak bingung.


Billie menoleh kepada adik perempuannya, namun dia menyentakkan kepala ke arah George. “Katakan padanya Lord Kennard akan ikut bermain. Dia akan datang dengan sangat antusias.”


“Oh, demi Tuhan, Billie,” gerutu George.


Billie mengeluarkan suara gusar yang menandakan dirinya merasa benar. “Dia mengobrol denganmu sepanjang malam!”


“Dia duduk di sebelahku,” balas George. “Dia tak bisa melakukan hal lain.”


“Tidak benar. Saudara Felix duduk di sebelah kirinya. Dia cukup enak diajak bicara. Wanita itu bisa saja berbicara dengannya mengenai banyak hal.”


Andrew melangkah ke antara mereka. “Apa kalian berdua akan menyerang satu sama lain seperti kekasih yang cemburu atau kita akan bermain?”


Billie melotot.


George melotot.


Andrew tampak puas dengan diri sendiri.


“Kau idiot,” kata Billie kepadanya sebelum membalikkan badan ke arah Georgiana. “Kurasa pemainnya harus Lady Alexandra. Panggil dia dan siapa saja yang bisa kautemukan. Seorang pria kalau mungkin supaya jumlahnya sebanding.”


Georgiana mengangguk “Tapi bukan Sir Reginald?”


“George terlalu mengkhawatirkan giginya.”


Andrew mengeluarkan suara seperti tersedak.


Yang terhenti saat George menyikut rusuknya.


“Bagaimana kalau aku menemuimu di sini?” tanya Georgiana.


Billie memikirkannya sejenak, kemudian berkata, “Tidak, akan lebih cepat kalau kami menemuimu di halaman barat.” Dia berbalik ke arah George dan Andrew. “Aku akan mengatur agar set gawangnya dikeluarkan.”


Dia dan Georgiana keluar dari ruangan, meninggalkan George hanya berdua dengan adiknya.


“Giginya, ya?” gumam Andrew.


George melotot ke arahnya.


Andrew mencondongkan badan mendekat, cukup dekat untuk bersikap menyebalkan. “Aku bertaruh kesehatan mulutnya sangat bagus.”


“Diam.”


Andrew tertawa, kemudian mendekat dengan apa yang jelas dia maksudkan sebagai ekspresi cemas. “Ada sesuatu di…” Dia memberi isyarat ke giginya.


George memutar bola mata dan mendorong melewati Andrew.


Andrew segera menegakkan badan, mengejar, kemudian mendahuluinya, sambil melemparkan seringai dari balik bahu saat berlari melintasi aula. “Wanita memang suka senyum yang memesona.”


Aku akan membunuh adikku, George memutuskan sambil mengikuti Andrew keluar. Dan ia akan menggunakan palu dari kayu.

__ADS_1


JANGAN LUPA SEPERTI BIASANYA!!


__ADS_2