KARENA NONA "BRIDGERTON"

KARENA NONA "BRIDGERTON"
bab 2


__ADS_3

RASANYA ADIL BILA mengatakan bahwa George Rokesby, putra sulung Earl of Manston dan saat ini dikenal oleh kalangan terhormat sebagai Viscount Kennard, adalah pria berwatak tenang. Ia memiliki tangan yang mantap, pikiran yang sangat logis, dan cara menyipitkan mata sedemikian rupa yang memastikan keinginannya dipenuhi dengan efisiensi dingin, hasratnya disambut dengan senang hati, dan—ini bagian terpenting—semua berlangsung sesuai jadwal yang ia tentukan.


Rasanya juga adil bila mengatakan andai saja Miss Sybilla Bridgerton tahu betapa nyarisnya George mencekik lehernya, dia akan terlihat jauh lebih takut kepada sang viscount daripada kegelapan yang mulai berkumpul.


“Itu sungguh disayangkan,” kata Billie, menjulurkan kepala ke bawah melihat ke arah tangga.


George tidak mengatakan apa-apa. Menurutnya itu yang terbaik.


“Aku tahu apa yang kaupikirkan,” kata gadis itu.


George mengertakkan rahang cukup lama untuk mengatakan, “Aku tidak yakin kau tahu.”


“Kau sedang mencoba memutuskan siapa di antara kami yang ingin kaulempar dari atap ini. Aku atau kucing itu.”


Billie lebih mendekati kebenaran daripada yang diduga.


“Aku hanya mencoba membantu,” lanjutnya.


“Aku tahu.” Dikatakan dengan nada yang bukan dimaksudkan untuk memancing percakapan lebih lanjut.


Namun Billie terus berbicara. “Kalau aku tidak menyambarmu, kau pasti sudah jatuh.”


“Aku tahu.”


Billie menggigit bibir bawah, dan untuk sesaat yang penuh berkat George mengira Billie akan mengakhiri pembicaraan.


Kemudian gadis itu berkata. “Itu kakimu, kau tahu.”


George menelengkan kepala sedikit. Hanya cukup untuk mengindikasikan bahwa ia mendengarkan. “Apa?”


“Kakimu.” Billie mengedikkan kepala ke arah kaki yang dipertanyakan. “Kau menendang tangga itu.”


George berhenti pura-pura mengabaikan gadis itu. “Kau tidak bisa menyalahkanku untuk hal ini,” ia mendesis.


“Tidak, tentu saja tidak,” sahut Billie cepat-cepat, akhirnya menunjukkan sedikit insting untuk melindungi diri sendiri. “Aku hanya bermaksud mengatakan—bahwa kau—”


George menyipitkan mata.


“Lupakan,” gumam gadis itu. Dia membiarkan dagunya beristirahat di lututnya yang ditekuk dan memandang ke hamparan tanah lapang. Bukan berarti ada yang bisa dilihat. Satu-satunya hal yang bergerak adalah angin, menyatakan kehadirannya lewat daun-daun di pepohonan yang berdesir ringan.


“Kurasa kita punya waktu satu jam lagi sebelum matahari terbenam,” gumam Billie. “Mungkin dua.”


“Kita tidak akan berada di sini saat langit sudah gelap,” sahut George.


Billie menatapnya, kemudian menunduk ke arah tangga. Kemudian kembali kepadanya dengan ekspresi yang membuat George ingin meninggalkan gadis itu dalam kegelapan.


Namun ia tidak melakukannya. Karena tampaknya ia tidak bisa. Dua puluh tujuh tahun adalah waktu yang lama untuk ajaran sikap sebagai pria terhormat tertanam di otaknya, dan ia tidak akan pernah bisa bersikap begitu kejam kepada wanita. Bahkan kepada gadis itu.


“Andrew seharusnya tiba tak sampai tiga puluh menit lagi,” katanya.


“Apa?” Billie tampak lega, kemudian jengkel. “Kenapa kau tidak mengatakannya? Aku tak percaya kau membiarkanku mengira kita akan terdampar di sini semalaman.”


George menoleh ke arah gadis itu. Ke arah Billie Bridgerton, kutukan dalam hidupnya sejak kelahiran gadis itu 23 tahun yang lalu. Billie memelototi seolah George melakukan penghinaan besar, pipinya merah padam, bibirnya mengerut seperti mawar yang murka.


Dengan nada tegas dan dingin George berkata, “Satu menit telah berlalu sejak tangga jatuh ke tanah hingga saat ini, ketika kata-kata ini keluar dari mulutku. Katakan padaku, selama analisismu yang menjelaskan gerakan kakiku yang menyentuh tangga, kapan aku bisa menawarkan informasi ini?”


Sudut mulut gadis itu terangkat, namun itu bukan seringai yang jelas. Bukan seringai yang mengindikasikan sarkasme. Kalau itu orang lain, George akan mengira Billie malu, atau mungkin tersipu. Tapi ini Billie Bridgerton, dan dia tidak pernah malu. Dia hanya berbuat sesukanya tanpa memedulikan konsekuensi. Dia telah melakukannya seumur hidup, dan biasanya menyeret setengah klan Rokesby bersamanya.


Dan entah bagaimana semua orang selalu memaafkannya. Billie memiliki sesuatu dalam dirinya—bukan pesona—tapi kepercayaan diri gila dan sembrono yang membuat orang-orang menempel di sisinya. Keluarganya sendiri, keluarga George, seluruh desa—mereka semua memujanya. Senyumnya lebar, tawanya menular, dan demi Tuhan bagaimana mungkin George satu-satunya orang di Inggris yang sepertinya menyadari betapa berbahaya gadis itu bagi umat manusia?


Pergelangan kaki yang terkilir? Itu bukan yang pertama. Billie pernah mematahkan lengannya juga, dengan cara yang juga spektakuler. Saat itu umurnya delapan tahun, dan dia terjatuh dari kuda. Kuda yang belum sepenuhnya terlatih yang seharusnya tidak dia tunggangi, apalagi dia bawa melompati semak. Tulangnya sembuh dengan sempurna—tentu saja, Billie selalu memiliki keberuntungan seperti setan—dan dalam waktu beberapa bulan dia sudah kembali ke kebiasaan lamanya, dan tidak ada yang terpikir untuk memarahinya. Tidak saat dia menunggang kuda seperti laki-laki. Dalam celana panjang. Di atas kuda yang sama melewati semak terkutuk yang sama. Dan saat salah satu adik laki-laki George mengikuti dan membuat bahunya terlepas dari engsel…


Semua orang tertawa. Orangtua George—dan orangtua gadis itu—menggeleng-geleng dan tertawa, dan tak satu pun berpikir tindakan yang bijaksana adalah menarik Billie dari atas kuda, memakaikannya gaun, atau lebih baik lagi, mengepak barang-barangnya dan mengirimnya ke salah satu sekolah untuk gadis-gadis yang mengajarkan keterampilan dengan jarum dan tata krama.


Lengan Edward menggantung lepas dari sendinya. Sendinya! Dan suara yang dikeluarkan saat pengurus istal kuda mereka mendorong sendi itu kembali masuk…


George bergidik. Itu jenis suara yang dirasakan alih-alih didengar.


“Apa kau kedinginan?” tanya Billie.


George menggeleng. Meskipun mungkin Billie kedinginan. Jasnya jauh lebih tebal daripada milik gadis itu. “Apa kau kedinginan?”


“Tidak.”


Ia mengamati gadis itu lebih dekat. Billie jenis orang yang mencoba terlihat kuat dan menolak membiarkan George bersikap seperti yang seharusnya sebagai pria terhormat. “Apa kau akan memberitahuku kalau kau kedinginan?”


Gadis itu mengangkat sebelah tangannya seolah bersumpah. “Aku berjanji.”

__ADS_1


Itu cukup bagus untuk George. Billie tidak berbohong, dan dia tidak ingkar janji.


“Apa tadi Andrew ke desa bersamamu?” tanya Billie sambil menyipitkan mata ke arah kaki langit.


George mengangguk. “Kami ada urusan dengan pandai besi. Dia berhenti untuk mengobrol dengan pendeta setelahnya. Aku tidak ingin menunggu.”


“Tentu saja tidak,” gumam Billie.


Kepala George tersentak ke samping. “Apa maksudmu?”


Bibir Billie terbuka, kemudian membulat sejenak sebelum berkata, “Aku tidak tahu, sebenarnya.”


George merengut ke arah gadis itu, kemudian mengalihkan perhatian ke atap lagi, bukan berarti ada satu hal pun yang bisa ia lakukan saat ini. Tapi bukan sifatnya untuk duduk dan menunggu. Paling tidak ia bisa memeriksa dilema ini, menilai kembali, dan—


“Tidak ada yang bisa dilakukan,” kata Billie riang. “Tidak tanpa tangga.”


“Aku menyadarinya,” sahut George ketus.


“Kau melihat ke sana kemari,” Billie mengedikkan bahu, “seolah—”


“Aku tahu apa yang kulakukan,” bentak George.


Bibir gadis itu merapat bersamaan dengan kedua alisnya, yang terangkat dengan lengkungan Bridgerton yang menyebalkan itu, seolah berkata—Silakan, berpikirlah sesukamu. Aku tahu lebih baik.


Sejenak hening tanpa suara, kemudian, dengan suara yang lebih kecil daripada yang biasa George dengar dia gunakan, Billie bertanya, “Apa kau yakin Andrew akan melewati jalan ini?”


George mengangguk. Ia dan adiknya berjalan ke desa dari Crake House—bukan cara bepergian yang biasa untuk mereka, tapi Andrew, yang baru-baru ini diangkat menjadi letnan dalam Angkatan Laut Kerajaan, mematahkan lengan saat melakukan aksi bodoh di pesisir Portugal dan dikirim pulang untuk memulihkan diri. Berjalan lebih mudah untuknya daripada menunggang kuda, dan hari itu sangat cerah yang tak biasa di bulan Maret.


“Dia berjalan kaki,” kata George. “Bagaimana dia bisa pulang kalau tidak lewat sini?” ada banyak jalan setapak di daerah ini, tapi semuanya menambahkan satu setengah kilometer ke dalam perjalanan pulang.


Billie menelengkan kepala, menatap jauh ke tanah lapang. “Kecuali seseorang menawarinya tumpangan.”


Perlahan-lahan George menoleh ke arah gadis itu, terperangah mendengar tidak adanya… sesuatu dalam nada suaranya. Tidak ada nada superior, tidak ada argumen, bahkan tidak sedikit pun nada cemas. Hanya nada apa adanya yang janggal—Hmmm, ini bencana yang mungkin bisa terjadi.


“Well, dia bisa saja mendapat tawaran itu,” kata Billie sambil mengedikkan bahu. “Semua orang menyukai Andrew.”


Itu benar, Andrew memiliki pesona riang dan sikap tak peduli yang membuatnya disayang banyak orang, mulai dari pendeta di desa sampai pelayan bar di kedai minum. Kalau seseorang hendak pergi ke arah yang sama dengannya, mereka akan menawarinya tumpangan.


“Dia akan berjalan,” kata George tegas. “Dia membutuhkan olahraga.”


Air muka Billie berubah ragu. “Andrew?”


“Untuk lengan yang patah?” dengusan Billie berubah menjadi tawa terkikik.


George meliriknya. “Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain?”


“Selalu.”


Mau tak mau George tersenyum. Sulit untuk tersinggung, terutama ketika ia menghabiskan pekan kemarin menikmati—tidak, mendorong—frustrasi yang dirasakan adiknya.


Billie dengan hati-hati mengubah posisi, menekuk kedua kaki supaya bisa menyandarkan dagu ke lutut.


“Hati-hati dengan kakimu,” kata George, nyaris tanpa berpikir.


Billie mengangguk, dan bersama-sama mereka menghabiskan waktu dalam keheningan. George menatap lurus ke depan, namun bisa merasakan setiap gerakan yang Billie buat di sisinya. Gadis itu menyapu helaian rambut yang terurai dari mata, kemudian meluruskan sebelah lengan ke depan, sikunya berbunyi seperti kursi kayu tua. Kemudian, dengan kegigihan yang dia tunjukkan dalam seluruh aspek kehidupannya, Billie berputar kembali ke percakapan mereka sebelumnya dan berkata, “Tetap saja, dia bisa saja mendapatkan tumpangan.”


Senyum George hampir terulas. “Bisa saja.”


Billie terdiam selama beberapa detik lagi, kemudian berkata, “Kelihatannya hujan tidak akan turun.”


George mendongak, langit ditutupi awan, tapi tidak terlalu tebal. Awan-awannya terlalu pucat untuk menyimpan banyak air.


“Dan tentunya orang-orang akan mencari kita.”


George membiarkan dirinya menyeringai. “Paling tidak, aku akan dicari.”


Billie menyikutnya. Keras. Cukup keras untuk membuat George tertawa.


“Kau manusia yang sangat menjengkelkan, George Rokesby.” Tapi Billie tersenyum lebar saat mengatakannya.


George tertawa lagi, terkejut betapa ia menikmati getaran senang ringan di dadanya. Ia tidak yakin dirinya dan Billie bisa dianggap teman—mereka terlalu sering beradu pendapat untuk berteman—tapi Billie terasa akrab. Itu tidak selalu menjadi hal yang baik, tapi saat ini…


Ya.


“Well, kurasa tidak ada orang lain yang lebih kupilih menemaniku terdampar di atap,” Billie mengumumkan.


George menoleh ke arahnya. “Wah, Miss Bridgerton, apa itu pujian?”

__ADS_1


“Kau tak tahu?”


“Darimu?” ia membalas.


Billie mengulas senyum simpul yang menggemaskan. “Kurasa aku pantas menerimanya. Tapi, kau tahu, kau sangat bisa diandalkan.”


“Bisa diandalkan,” ulang George.


Billie mengangguk. “Sangat.”


George merasa wajahnya merengut, meskipun ia sama sekali tak tahu apa alasannya.


“Kalau pergelangan kakiku tidak sakit, aku yakin aku bisa menemukan jalan turun,” lanjut Billie riang.


George mengamati dengan ekspresi skeptis yang tampak jelas. Di samping kenyataan ini sama sekali tidak berhubungan dengan dirinya yang bisa diandalkan… “Bukankah tadi kau mengatakan jaraknya terlalu jauh untuk melompat?”


“Well, ya,” sahut gadis itu, mengibaskan tangan dengan ringan di depan wajah, “tapi aku pasti akan memikirkan sesuatu.”


“Tentu saja,” jawab George, sebagian besar karena ia tidak memiliki energi untuk mengatakan hal lain.


“Intinya,” lanjut Billie, “selama aku berada di sini bersamamu…”


Wajah gadis itu tiba-tiba berubah pucat. George tidak pernah, sama sekali tidak pernah melihat Billie Bridgerton dengan ekspresi seperti itu.


Dia ketakutan setengah mati.


“Ada apa?” tuntut George.


Billie menoleh. “Kau tidak berpikir…”


George menunggu, tapi sepertinya Billie tak mampu berkata-kata. “Apa?”


Wajah pucat Billie terlihat menghijau. “Kau tidak berpikir seseorang akan mengira kau… kita…” Dia menelan ludah. “Kalau kita menghilang… bersama-sama?”


Seluruh dunia George tiba-tiba goyah. “Astaga, tidak,” katanya. Dengan segera.


“Aku tahu,” Billie menyetujui. Dengan serta-merta. “Maksudku, kau. Dan aku. Itu menggelikan.”


“Tak masuk akal.”


“Siapa pun yang mengenal kita…”


“Tahu kita tak akan pernah…”


“Meskipun begitu…” Kali ini kata-kata Billie tidak sekedar terputus, tapi tenggelam menjadi bisikan putus asa.


George melihatnya dengan sorot tak sabar. “Apa?”


“Kalau Andrew tidak datang seperti yang diharapkan… dan ada yang mencarimu… dan ada yang mencariku…” Gadis itu mendongak menatap George, matanya tampak besar dan ketakutan. “Pada akhirnya seseorang akan menyadari kita berdua tidak ada.”


“Maksudmu?” tanya George ketus.


Billie menoleh dan menatapnya. “Hanya saja bagaimana orang tidak akan berasumsi…”


“Karena mereka punya otak di kepala mereka,” balas George ketus. “Tidak ada yang akan berpikir aku sengaja berada di sini denganmu.”


Billie terhuyung ke belakang. “Oh, well, terima kasih.”


“Apa kau mencoba mengatakan kau berharap ada yang berpikir seperti itu?” balas George.


“Tidak!”


George memutar bola mata. Wanita. Meskipun begitu, ini Billie. Gadis paling tidak mirip wanita yang ia kenal.


Billie mengembuskan napas panjang, menenangkan diri. “Terlepas dari apa pendapatmu tentangku, George…”


Bagaimana gadis itu bisa membuat namanya terdengar seperti hinaan?


“…aku memiliki reputasi yang harus kupikirkan. Dan meskipun keluargaku mengenalku cukup baik, dan”—ada nada enggan terdengar dalam suara Billie—”kurasa cukup memercayaimu untuk mengetahui hilangnya kita di saat bersamaan tidak berarti apa-apa…”


Suara Billie perlahan-lahan menghilang, dan dia menggigit bibir, tampak tak nyaman, dan, kalau harus jujur, samar-samar terlihat mual.


“Yang lain mungkin tidak sebaik itu,” George menyelesaikan kalimat itu.


Billie menoleh ke arahnya sejenak, kemudian berkata. “Benar.”


“Kalau kita tidak ditemukan sampai besok pagi…” kata George, lebih kepada diri sendiri.

__ADS_1


Billie menyelesaikan kalimatnya yang mengerikan. “Kau harus menikahiku


__ADS_2